Poker Face

Poker Face
Part 28


__ADS_3

Diruang gelap itu, Johan tengah terduduk dengan tangan yang masih terborgol. Wajahnya menunduk, matanya terpejam seraya tertidur. Sedangkan di ruangan sebelah tengah tertidur pulas Eliza di bahu Leo.


 


Jarum jam terus berdetak, sudah hampir pagi seluruh orang yang berada disana hanya menunggu Johan mengucapkan sepatah kata. Namun hasilnya nihil.


 


Flashback


 


22.30 WIB


 


“katakan, apa maksudmu menculik Eliza?” tanya Eza dengan lembut pada pria yang tengah terduduk sembari menatap kedua tangan yang berada di atas meja.


 


“kau akan diam saja?” tanyanya lagi.


 


“apa kau yang meracuni Tn. Alvano?!”


 


“apa kau pelaku yang melakukan balas dendam?!”


 


Pertanyaan itu tak ada yang terjawab, Eza yang mulai gerampun hanya mampu mengeraskan rahangnya. Karena dia yakin, sekeras apapun ia bertanya, pria yang ada di hadapannya itu tidak akan membuka mulutnya sama sekali.


 


“apa maumu?” tanya Eza selepas menghela nafas berat dan duduk tepat dihadapan Johan.


 


Pria yang sedari tadi menundukkan kepalanya itu pun mulai mengangkat kepalanya dan menatap wajah orang yang


berbicara padanya sedari tadi.


 


“sungguh?” tanya Johan dengan puppy eyesnya. Eza yang hanya terheran, ‘bagaimana mungkin orang yang ingin di interogasi bisa sesantai ini?’ batin Eza.


 


“katakan!” pinta Eza yang hanya mampu menahan lelahnya.


 


“aku ingin berbicara dengan kak Leo dan kak Eliza. Harus mereka berdua.” Ucap Johan dengan tegas sembari membuat senyum diakhir kalimatnya.


 


Eza pun bergegas keluar dari ruangan itu agar emosinya tidak meledak-ledak. Ia biarkan pria itu sendirian. Eza pun membuka ruangan disebelahnya.


 


Dengan niat awal ingin mengatakan sesuatu pada kedua orang yang ditunggu Johan, terpaksa Eza urungkan niat itu saat melihat Eliza yang sudah terlelap disebelah Leo.


 


“sejak kapan?” tanya Eza yang terbengong melihat wajah Eliza saat tidur.


 


“sejak kau masuk keruangan itu.” Jawab Leo yang juga memejamkan matanya.


 


“pulanglah.” Ucap Eza dingin dan menatap Johan yang berada di ruangan sebelah melalui kaca besar yang menghalangi antar ruangnya.


 


“aku akan berbicara padanya.”


 


“dia memintamu dan Eliza secara bersamaan. Jika hanya dirimu saja mungkin dia juga tidak akan bicara.” Jelas Eza yang menoleh kearah Leo sembari menahan suaranya agar tidak membangunkan Eliza.


 


“kalau begitu, kutunggu Eliza bangun.”


 


Eza kemudian pergi setelah mendengar jawaban Leo. Eza yang sudah tak tahan melihat pria yang baru saja ia tangkap itu tak mengatakan sepatah katapun, memerintahkan anak buahnya untuk membuat Johan berbicara.


 


Dari ruang sebelah, Leo hanya mampu melihat Johan dipaksa untuk berbicara, sedangkan dia tak mampu bergerak sama sekali dan hanya menunggu Eliza bangun.


 


End Flashback


 


Jam yang menunjukkan pukul setengah 4 pagi itu terus menerus berjalan tanpa henti. Arloji Leo pun yang baru saja ia lihat, sama dengan jam dinding yang ada di hadapannya.


 


Perlahan mata Eliza terbuka. Ia mengerjapkan matanya sesaat untuk memastikan matanya mampu terbuka seutuhnya sembari mengangkat kepalanya yang berada di bahu Leo.


 


Leo yang menyadari Eliza sudah terbangun pun menggerakkan bahunya yang terasa keram.


 


“kau sudah bangun?” tanya Leo sembari mengelus kepala Eliza lembut yang dibalas anggukan oleh Eliza.


 


“apa kita masih dikantor polisi?” tanya Eliza polos sembari menengok kekanan dan kekiri.


 


“iya.” Jawab Leo singkat yang membuat Eliza terheran dan merasa bersalah karena tidur di bahu Leo.

__ADS_1


 


“maaf, apa aku terlalu berat?” tanya Eliza yang memelas karena takut melihat wajah Leo marah.


 


“hah? Tidak.” Jawab Leo sembari menggeleng heran karena pertanyaan Eliza itu.


 


“tentu saja kau tidak berat. Hanya saja, aku fikir kita tak mungkin pulang sebelum bertemu dengan Johan. Tapi aku sangat lelah, jadi ayo secepatnya kita bertemu dengannya.” Jelas Leo yang kemudian beranjak dari tempat duduknya dan diikuti oleh Eliza.


 


“baiklah, tapi tunggu aku akan mencuci wajahku terlebih dahulu.” Jawab Eliza yang secepat mungkin pergi ke


kamar mandi.


 


Eliza kembali dengan secepat mungkin. Leo dan Eliza pun tak perlu menunggu waktu lama, mereka berdua pun segera menyelesaikan keperluan mereka.


 


“hei, Johan.” Sapa Leo yang duduk dihadapan Johan yang perlahan membuka matanya.


 


“kakak?” tanya Johan sembari mengerjapkan matanya yang sangat lelah dan menunjukkan wajahnya yang sedikit


memar.


 


“ada apa dengan wajahmu?” tanya Eliza yang juga ikut duduk di sebelah Leo.


 


Eza yang sudah menunggu Eliza dan Leo masuk kedalam pun tengah memperhatikan mereka bertiga.


 


“dia dipukul beberapa kali karena tak mau menjawab pertanyaan.” Jawab Leo dingin sembari menghela nafas panjang dan diam-diam lega tidak melihat mayat orang bodoh yang ada didepannya.


 


“ahahaha, ini bukan apa-apa. Tapi memang salahku yang sengaja tak menjawab.” Ucap Johan dengan nada yang sedikit bersalah setelah melihat wajah Eliza yang nampak khawatir.


 


“beruntung kau tak mati.” Ucap Eliza sembari mendengus kesal kepada Johan yang malah memberinya senyuman


sembari menunjukkan giginya yang rapi.


 


 


“apa yang ingin kau katakan?” tanya Leo yang mulai serius sembari menyangga dagunya dengan  tangan kanannya.


 


“sepertinya kami tak perlu menanyakan hal sama bukan? seperti yang dilakukan sebelumnya?” tanya Eliza yang


 


 


“hoo.. sepertinya kalian benar-benar pasangan yang serasi ya. Baiklah aku akan mengatakannya.” Ucap Johan dengan menunjukkan senyumnya sembari mendekatkan wajahnya kearah dua orang yang ada didepannya.


 


“pergilah kerumahku. Disana ada brankas yang isinya adalah semua jawaban atas pertanyaan kalian selama ini.


Kodenya terdiri dari 6 digit angka, dan itu adalah tanggal lahir kita bertiga.” Ucap Johan dengan lugas yang terdengar di speaker ruang sebelah.


 


“hanya itu?” gumam Eza yang sedari tadi memperhatikan mereka bertiga sembari mendengar percakapan mereka


dengan terheran ria.


 


“hanya itu?” tanya Leo yang disusul dengan gelengan kepala Eliza yang merasa ini semua tak ada gunanya.


 


“kau membuat semua orang menungguku bangun untuk memberitahu ini Johan?” tanya Eliza yang benar-benar


tak percaya.


 


Johan hanya tersenyum sembari mengangkat kedua bahunya.


 


“iya. Lagipula aku berpesan untuk kalian yang membukanya sendiri.” Lanjut Johan.


 


“bagaimana jika mereka? Mereka juga sedang mendengar saat ini.” Ucap Leo sembari menunjuk kaca besar yang


nampak pantulan mereka bertiga diruangan itu, namun nampak lain diruangan sebelahnya.


 


“boleh saja mereka ikut. Tapi percayalah padaku, jika bukan kalian yang menyentuh brankas itu. Isinya akan hangus, hanya tersisa hadiah yang aku tinggalkan saja.” ucap Johan sembari menyungingkan senyum indahnya.


 


“kau pasti hanya membual.” Ucap Eliza ketus.


 


“ayolah kak, percaya padaku. Aku memasukkan sandi dan pertanyaan dalam kuncinya. Dan aku hanya yakin kalau


kalian yang bisa menjawab.” Jelas Johan.


 


“intinya kami hanya berguna saat membuka kuncinya bukan. Tak ada hubungan soal siapa yang menyentuh brankas?” ucap Leo sembari memastikan pada pria yang kini menunjukkan wajah bodohnya dan menyeringai.

__ADS_1


 


“oke, baiklah.” Lanjut Leo yang berdiri dari tempat duduknya.


 


“tunggu.” Eliza menghentiakan gerakan Leo yang sudah siap melangkah keluar dan Johan yang hendak menggaruk


kepalanya yang tidak gatal.


 


“benar-benar kau yang melakukan balas dendam, Johan?” tanya Eliza sembari mengernyitkan dahinya, mengingat saat dia pertama kali bertemu dengan Johan dan mengenalnya sebagai anak laki-laki yang imut dan ceria serta murah senyum.


 


“tentu saja.” jawab Johan yang tak lupa dengan senyumnya.


 


“kenapa?”


 


“karena inilah tujuan aku hidup. Jika bukan karena ini, mungkin aku akan ikut ayahku.” Jawab Johan santai.


 


“kenapa harus ikut ayahmu?”


 


“ayolah kak, aku sudah sangat lelah menunggumu sadari tadi, jadi bisakah aku istirahat.” Rajuk Johan yang meletakkan kepalanya di meja dengan posisi miring dan menggelembungkan pipinya seperti anak kecil yang marah.


 


“mungkin untuk beberapa saat aka nada yang menanyaimu lagi. Dan kuharap kau akan bersedia menjawab.” Ucap Leo dengan nada yang selalu dingin.


 


“cih, baiklah. Tapi aku akan menjawab yang aku inginkan saja. lagipula mereka juga sudah menuruti kemauanku untuk menemui kalian.” Jelasnya yang mulai mengangkat kepalanya tapi tetap merasa kesal.


 


“baiklah, kami pergi. Jaga dirimu baik-baik.” Ucap Leo yang pergi menuju pintu yang ada di belakang Johan sembari menepuk pundak Johan lembut.


 


“oh ya tentu saja. jangan lupa kak, titip salamku pada ayahku jika kalian menemuinya. Katakana ‘maaf  karena aku tidak bisa menemuinya lagi’ dan juga’terima kasih’” ucap Johan yang dikahiri dengan senyumannya dan dibalas


dengan deheman Leo yang menandakan setuju.


 


Eliza hanya menatap lekat mata pria yang masih duduk itu. Ia menghela nafas berat saat dibalas tatapannya dengan senyuman santai dari pria itu. Eliza pun pergi mengikuti langkah Leo sembari mengacak rambut Johan saat melewatinya tanpa sepatah katapun.


 


“kalian pulanglah.” Ucap Eza saat Eliza sudah ada di luar ruangan pengap itu.


 


“bagaimana dengan brankas itu?” tanya Leo yang mengambil jasnya dari tangan Eza.


 


“kami tidak terburu-buru. Kita akan bertemu di rumah Johan pukul 2 siang nanti. Kalian pulanglah dan beristirahat.pasti lelah.” Jelas Eza yang hanya diangguki oleh Eliza dan Leo.


 


Mereka pun berdua pulang menuju kearah apartemen Leo. Didalam mobil hanya kesenyuiannya yang menemani. Sudah tidak ada energi yang tersisa untuk berbincang, mereka terlalu lelah.


 


“kau sungguh membawaku kesini?” gumam Eliza yang terdengar oleh Leo saat menekan password apatemennya.


 


“itu tanggal lahirku.” Ucap Eliza saat melihat angka yang ditekan Leo adalah 2008.


 


“ohya? Aku lupa.” Ucap Leo yang kemudian menarik tangan Eliza masuk dan menuju kearah kamarnya.


 


“kau mau kemana?” seru Eliza sembari berusaha menahan langkahnya.


 


“aku sangat lelah. Ingin tidur. Kau juga harus tidur disampingku.” Jawab Leo yang kini sudah terbaring di kasurnya yang hampir tak pernah tersentuh saat terakhir kali mereka berdua kesana.


 


“kenapa harus?” tanya Eliza yang sudah duduk di tepi ranjang.


 


“karena jika aku tidur bersamamu pasti bermimpi indah. Sudahlah ayo tidur!” seru Leo yang dengan spontan menarik tubuh Eliza kesisi ranjang yang kosong.


 


“tapi aku sudah tertidur lama di kantor polisi.” Ucap Eliza yang kini sudah tenggelam didada bidang Leo.


 


“setidaknya temani aku tidur, seperti aku menemanimu tidur disana.” Ucap Leo yang tak mau melepaskan


pelukannya.


 


Dan sebagai tanda persetujuan, Eliza pun ahirnya membalas pelukan itu dan memejamkan matanya serta masuk


kedalam dunia mimpi.


 


 


 


***

__ADS_1


__ADS_2