Poker Face

Poker Face
Part 14


__ADS_3

“gadis kecil kau sudah bangun?” ucap seorang wanita muda yang tengah duduk di pinggir ranjang hangat dengan


selimut merah jambu.


 


Rambut anak kecil itu berantakan. Ia terbangun dengan memakai pakaian yang cantik.


 


“bibi aku dimana?” tanya gadis itu kepada wanita yang ada didepannya.


 


“tenang saja cantik, kau baik-baik saja.” jawab wanita itu lembut sembari mengelus rambut gadis kecil itu.


 


“Eliza, ini rumah paman. Aku akan baik-baik saja disini. Dan ini istri paman.” Ucap seorang laki-laki yang ia kenal, yang tak lain adalah sekretaris ayahnya sendiri.


 


Ayah. Ia baru ingat. Dimana ayah dan ibunya? Kenapa bisa dia ada disini? Semua pertanyaan yang muncul


dikepalanya membuatnya pipinya basah.


 


“paman dimana ayahku?” tanya gadis itu dengan menangis. Wanita yang ada di depannya itu hanya bingung seperti tidak tahu apa-apa.


 


“mereka sudah berangkat. Bukankah mereka juga berpamitan padamu malam itu akan pergi diesok paginya?” gadis kecil itu hanya mengangguk lemah dan mengusap air matanya.


 


“baiklah, mungkin kau sudah lapar. Ayo turun bibi akan menyiapkan sarapan untuk kalian.” Ucap wanita itu dengan senyuman indahnya.


 


“terima kasih bibi istri paman.” Ucap gadis kecil itu polos dan membuat pasangan suami istri itu hanya tersenyum


bahagia.


 


Gadis kecil itu turun dari kamarnya dengan menggunakan gaun merah muda kesukaannya. Ia mendengar


percakapan dua orang dari dapur yang menghentikan langkahnya.


 


“apa benar Tn. Romano dan Ny. Romano sedang berlibur?” tanya sang istri dengan nada khawatir, sedangkan si suami hanya terdiam seribu bahasa.


 


“sudahlah, kau rawat dia saja baik-baik.” Bibir laki-laki itu mulai bergerak sedangkan wanita yang didepannya terus menjawab.


 


Obrolan mereka sangat pelan dan lembut, namun dengan jelas seperti perselisihan antara suami dan istri.


 


Gadis kecil melihat kearah sekitar. Ia melihat dibalik pintu kaca seorang anak laki-laki yang sedang duduk di teras dan menggedong seekor kelinci.


 


Ia pun berlari menuruni tangga dan mendekati anak laki-laki itu. Tepat didepan anak laki-laki itu dia berhenti dengan terheran dengan apa yang dilakukan anak laki-laki itu sedari tadi.


 


“hai adik kecil.” Sapa anak laki-laki itu dengan tersenyum dan tangan yang masih mengelus kelinci yang ada


digendongannya.


 


“apa kau lebih tua dariku?” tanya gadis itu heran dan dijawab dengan anggukan kecil dari anak laki-laki itu yang


terus fokus mengelus kelincinya.


 


“siapa namamu?” anak laki-laki itu mendonggakkan kepalanya dan melihat mata gadis itu lekat.


 


“namaku Elizabeth.” Jawab gadis kecil itu yang kemudian duduk disamping anak laki-laki itu.


 


“nama kakak siapa?” tanya Eliza sembari tersenyum lebar melihat anak laki-laki itu.


 


Anak laki-laki hanya terdiam dan tersenyum. Eliza pun mulia heran dibuatnya. Tak lama anak laki-laki itu pun memandang Eliza, dan kedua tangannya menyodorkan kelinci kecil yang ada ditangannya kepada Eliza.


 


“ini. Apa kau ingin menggendongnya?” tanya anak laki-laki itu yang melihat Eliza hanya melongo didepannya. Eliza pun membalasnya dengan anggukan yang sangat senang.

__ADS_1


 


“apa kau suka?” tanya anak laki-laki itu.


 


“iya, aku suka.”


 


“apa aku boleh memanggilmu Liza?”


 


“tentu saja, ayah dan ibuku juga memanggilku Liza.”


 


“cantik sekali.”


 


“iya, kelinci ini cantik sekali.”


 


“bukan.” Anak laki-laki itu menggeleng, membuat Eliza bingung menatapnya.


 


“bukan kelinci itu yang cantik tapi kau.” Ucap anak laki-laki itu tersenyum indah pada Eliza.


 


“terima kasih kakak kelinci.” Eliza pun membalas senyumnya.


 


“Leo. Apa yang sedang kalian berdua lakukan?” tanya laki-laki yang barusan saja keluar dari arah dapur.


 


“papa.” Sapa anak laki-laki itu.


 


“paman. Lihat kakak kelinci memberikanku ini.” Jawab Eliza dengan nada lucunya dan dengan polosnya mengangkat kelinci kecil itu dengan kedua tangannya.


 


“wah, lucu sekali.” Ucap laki-laki itu mengusap lembut kepala  dua anak kecil yang ada di depannya.


 


 


“tentu saja, kenapa tidak? Ayo sini papa foto.” Laki-laki itupun mengambil ponselnya dan membuka kameranya.


 


“ayo senyum. 1..2..3..”


 


Cekrek….


 


Mata Eliza terbangun dari tidurnya. Senyum tergambar diwajahnya mengingat mimpi yang barusan ia alami.


 


Eliza menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Kedua kakinya kini menyentuh lantai, namun tubuhnya masih


terduduk di kasur.


 


“ah, mimpi indah.” Ucap Eliza sembari meregangkan kedua tangannya keatas.


 


Dia pun melirik kearah jam dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 8 pagi. Ia pun tak lupa melihat kesisi ranjang yang ada di sebelahnya yang ternyata sudah tidak ada orang.


 


“sudah pulang kah?”


 


Ting…


 


Sebuah notifikasi berbunyi dari salah satu ponsel di nakas. Iya, salah satu. Eliza melihat ponselnya, tapi tidak ada apa-apa. Ia pun mengambil ponsel yang satunya.


 


Ponsel itu milik Leo. Ia membuka layar ponsel yang tidak terkunci itu.


 

__ADS_1


“wah, berani sekali dia.” Gumam Eliza saat berhasil menyalakan ponsel itu.


 


Di layar itu ia melihat betapa bahagianya kedua anak kecil yang sedang menggendong seekor kelinci. Tak lain adalah Eliza dan Leo. Foto mereka saat 20 tahun yang lalu menjadi wallpaper ponsel Leo.


 


“dia ternyata masih punya.”


 


Eliza pun membuka aplikasi chat yang terdapat notifikasi hingga berbunyi tadi. Ia membaca secara sengaja. Dan


berniat memberitahu Leo dan mengembalikan nanti.


 


Ia pun bersiap untuk mandi. Melepaskan pakaiannya satu persatu hingga tidak ada sehelai kain pun yang tersisa di tubuhnya. Belum juga ia memulai ritual paginya. Ponselnya berdering.


 


“halo ayah.” Sapa Eliza pada seseorang diseberang sana.


 


“kau sedang apa?” tanya orang itu yang tak lain adalah ayah angkatnya Panji Siregar.


 


“aku sedang bersiap.”


 


“baiklah, lakukan dengan cepat. Ada yang perlu kau lakukan disini.”


 


Eliza pun menutup ponselnya setelah mengiyakan ucapan ayah kesayangannya itu.


 


Eliza sangat menyayangi ayah angkatnya seperti ayahnya sendiri. Bakan ia juga menyayangi adik angkatnya,


yang tak lain adalah Luqman. Mereka sangat dekat. Dan sangat menyayangi satu sama lain.


 


Mobil sport biru keluar dari sarangnya. Eliza mengendarainya tanpa ragu. Tanpa ia sadari bahwa sebenarnya


mobil Leo juga masih ada di parkiran apartemennya.


“ayah aku sudah sampai. Apa yang harus kulakukan?” tanya Eliza yang telah sampai di rumah sakit dengan jas putih kebanggaannya.


 


“kau lakukan otopsi.”


 


“siapa?”


 


“Kevin Lauren.”


 


Eliza tertegun mendengar nama itu. Tangannya lemas jatuh kebawah. Jantungnya kali ini berdetak cukup kencang.


 


‘kenapa? Ada apa lagi? Kenapa jadi begini? Seharusnya pria itu mati ditanganku. Sial!!’ Batin Eliza beradu.


 


“kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Eliza yang berupaya terlihat santai.


 


“dia mengalami kecelakan.  Mobilnya terguling di jurang.”


 


Simple. Kasus yang sangat simple. Kecelakaankah? Atau dengan sengaja kecelakaan itu dibuat?


 


Eliza memasukki ruangannya itu. Tentunya dengan seragam khusus seperti biasa. Tangan lentiknya sudah tertutup


rapat dengan sarung tangan karet dan sudah siap menyayat dada orang mati itu.


 


‘dengan senang hati tuan, aku melayanimu’


 


 


 

__ADS_1


***


__ADS_2