Poker Face

Poker Face
Part 7


__ADS_3

Dor… dor… dor…


Kletak…


Tar…


 


‘tembakan. Barang hancur. Kaca pecah. Ayah, ibu, kalian dimana?’ gadis kecil itu menangis sendu sembari menutup telinga mungilnya di balik selimut hangatnya.


 


“Liza pergilah!! Jangan disini!! Pergi!!” teriak ibunya yang menjauh dalam gelap dengan air mata yang bercucuran.


 


“ibu ?!! jangan pergi!! Aku takut!!” balasnya dengan mengangat kedua tangannya seraya ingin mengejar namun tak sampai.


 


“Liza ku jaga dirimu baik-baik…” suara lembut itu mulai menjauh meninggalkan gadis kecil itu sendirian dalam gelap.


 


“ayah… jangan tinggalkan Eliza.. ibu kau jangan pergi… ayah, ibu, Eliza takut…”


 


“hei gadis kecil, akhirnya aku menemukanmu. Hahaha” sekumpulan laki-laki besar dengan membawa senjata di tangan mereka tertawa melihat Eliza yang lemah tak berdaya.


 


Seorang diantaranya mengangkat senapan laras panjang yang ada ditangannya itu. Bibir senapan itu kini tepat di kepala gadis kecil yang tak bisa lagi menahan tangis dan ketakutan.


 


Dor…


 


“shit!!” teriak Eliza terbangun dari tidurnya. Leo yang hanya terfokus pada jalanan macet itu terkejut melihat Eliza yang bercucuran keringat dengan wajah pucat.


 


“ada apa? Mimpi buruk?” tanya Leo sembari menyingkirkan air matanya yang keluar di pipi Eliza lembut. Leo menyadari sejenak apa yang ada di benak Eliza. Ketakutan.


 


“tenang saja ada aku.” Peluk Leo hangat yang dibalas oleh Eliza dengan erat. Pelukan itu semakin erat selama beberapa menit hingga pecah pun keheningan saat Eliza sadar saat ini sedang berada di jalanan yang macet.


 


“sudah lama kah?” tanya Eliza yang kembali duduk dan membersihkan beberapa keringat dan air mata yang masih tertinggal di wajahnya.


 


“sudah satu jam lebih.”


 


“lihatah karena keangkuhanmu kita jadi terjebak macet.”


 


“tak apa aku juga menikmatinya, asal ada kau disampingku.”


 


“omong kosong.”


 


“jika kau masih mengantuk, tidur saja lagi. Aku sudah puas tidur selama 5 jam sewaktu pingsan.”


 


“apakah kau tahu dimana apartemenku?” tanya Eliza yang dijawab dengan gelengan halus dari Leo dan membuatnya semakin kesal.


 


“hahaha, bercanda mana mungkin aku tidak tahu tentangmu. Tapi jika kau tertidur disini, mungkin aku akan membawamu ke apartemenku.” Senyum iblis Leo kembali, membuat Eliza semakin tak tahu harus berbuat apa.


 


“kenapa harus apartemenmu?”


 


“apakah kau tak ingin melanjutkan yang tadi.” Ucapan Leo itu diiringi dengan senyuman iblisnya membuat Eliza nampak tertegun sejenak. Seketika pipinya mereno saat mengingat apa yang terjadi di rumah sakit tadi.


 


“apa kau lupa? Bahkan tadi kau sangat nakal, menggigitku berkali-kali.” Lanjut Leo.


 


“ah sudah hentikan!!” bentak Eliza nampak malu sembari menutup wajahnya yang sudah panas.


 


“kau malu? Kau tak ingat, bahkan 8 tahun lalu kita melakukan hal yang lebih dari tadi.” Ucap Leo sekenanya dengan menahan tawa melihat tingkah Eliza. Sedangkan Eliza kembali tertegun dan malu.


 


Flashback


 


Brom.. brom..


 


Mobil sport hitam keluaran terbaru berhenti di parkiran sebuah club malam mewah yang ramai dan dentuman


suara musiknya hingga keluar.


 


Seorang pria dengan setelan santai tapi mewah keluar dari mobil itu dengan senyuman di wajah tampannya itu


membuat parawanita yang melihat seketika terpesona dan dibawanya melayang.


 


“sir Leo.” Pria menoleh saat mendengar seseorang memanggil suaranya. Ia pun menghampiri laki-laki yang baru saja memanggil dirinya.


 


“sudah sedari tadi?” tanyanya.


 


“lumayan. Kau mau pilih salah satu?” ujar laki-laki yang sedari tadi duduk sembari meminum segelas whiskeynya yang  dengan senang hati menawarkan beberapa wanita yang ada di sampingnya kepada rekan bisnisnya itu.


 


“tidak terima kasih, aku disini hanya berbisnis.”

__ADS_1


 


“ayolah sir Leo, jangan mentang-mentang dirimu jaksa sehingga tak ingin bermain dengan wanita.” Balas laki-laki itu sembari menyodorkan gelas whiskey beserta isinya pada pria itu.


 


“tenang saja, aku akan mencari wanitaku sendiri.” Jawab Leo dengan meminum isi gelas yang ada di tangannya sembari melirik gadis kecil kesayangannya yang tak sengaja terlihat disini.


 


“kenapa dia disini?” gumamnya disusul dengan senyuman iblis yang mewarnai wajahnya dengan mata yang menatap tajam pada seorang laki-laki muda yang tengah berbicara pada dua wanita itu dengan tertawa.


 


“sir Leo, sepertinya kau tertarik dengan dua wanita yang ada disana? Yang aman?” tanya laki-laki yang memperhatikan Leo sembari tangannya terus meraba tubuh wanita yang ada disampingnya.


 


“kau mengenalnya sir Matthew?”


 


“mereka bukan orangku, tapi jika kau mau aku akan membantu, ini tempatku.”


 


Senyum iblis Leo kembali merekah saat laki-laki itu memanggil laki-laki muda yang tertawa disamping dua wanita


tadi.


 


“Nathan!!”


 


“iya sir.” Jawab laki-laki itu meninggalkan dua wanita itu sendirian meminum minumannya.


 


“siapa mereka?”


 


“wanita bergaun hitam itu temanku, seorang ahli farmasi dan pembimbing di salah satu universitas di kota


ini.”


 


“yang satunya?” tanya Leo tanpa melepaskan pandangannya pada gadis itu. Seperti singa yang siap menerkam


mangsanya.


 


“dia anak bimbingnya, seorang mahasiswi kedokteran di salah satu universitas di Amerika.”


 


“Eliza…” gumamnya lirih, namun terdengar jelas oleh dua orang laki-laki yang kini melihat kearahnya.


 


“kau mengenalnya sir?” tanya laki-laki muda itu dekit heran dan khawatir.


 


“sir Matthew, mungkin kita akan urus bisnis kita lain kali. Aku ingin menemui wanitaku mala mini.” Ucap Leo


sembari berdiri dan memberikan senyuman menawannya.


 


 


“ada apa Nathan?” tanya laki-laki itu saat melihat pelayannya sedikit gelisah.


 


“sebenarnya aku tadi mengincarnya dan memberikan sedikit obat diminumannya.” Jawabnya sedikit gemetar di depan atasannya itu.


 


“tinggalkan dia. Gadis itu miliki sir Leo.” Ucapnya tegas seraya memberi tanda agar laki-laki muda itu pergi.


Kini Leo telah sampai diantara dua wanita itu. Senyumnya pun merekah.


 


“hai…” sapanya sembari memberi salam pada kedua wanita itu.


 


“halo tampan. Amanda.” Jawab seorang wanita yang memakai gaun hitam sembari menerima salam dari pria tampan yang ada di depannya.


 


“hai cantik, siapa namamu?” tanya Leo dengan mengambil posisi duduk diantara dua wanita itu. Sedangkan gadis yang ia ajak mengobrol hanya menutup mulutnya dengan mata yang menatap kebawah.


 


“dia Elizabeth. Dia sangat dingin.” Bisik wanita yang ada memberi tahu selepas itu membuka pesan yang


masuk dari ponselnya.


 


“hai Liza…” sapa Leo lembut. Mata Eliza terbelalak kaget mendengar orang itu menyebut namanya. Tidak ada orang lain yang memanggilnya seperti itu selain ayah dan ibunya. Bahkan ayah dan adik angkatnya memanggilnya ‘El’ seperti yang lain.


 


‘siapa dia? Apakah?’


 


“kakak…. Kelinci…” ucapnya lirih dengan menatap mata pria tampan yang ada di depannya, dan kemudian dibalas dengan senyuman di wajahnya.


 


“kau masih mengenalku…” jawab Leo dengan matanya yang sayu sembari mengelus lembut rambut gadis kecil


kesayangannya itu.


 


“El, aku harus pergi. Suamiku baru saja bilang bahwa anakku menangis. Aku harus pulang. Aku yakin kau bisa


pulang sendiri ke hotelmu. Iya kan? Aku pergi dulu.” Jelas Amanda yang langsung meninggalkan mereka berdua disana dan dibalas dengan anggukan dari Eliza.


 


Setidaknya Eliza sedikit merasa aman karena ada pria yang ia kenal disini. Seorang pria yang sudah berubah dari


bentuk mungilnya 12 tahun lalu.


 

__ADS_1


“kenapa kau disini?” tanya Eliza.


 


“ada sedikit urusan.” Jawab Leo singkat. Tangannya beralih mengelus pipi Eliza yang lembut, namun tak lama ia


dibuat kahwatir.


 


“Liza, pipimu panas. Kau tidak sedang demam kan?” tanya Leo panik yang hanya dijawab dengan gelengan kepala.


 


“kau tidak alergi alcohol bukan? Kau baik-baik saja? sejak kapan?” tanya Leo bertubi-tubi dengan memegang kedua


bahu Eliza yang tak tertutup kain, karena lengan bajunya yang sedikit kebawah.


 


“tidak, aku tidak alergi. Tap aku juga tidak merasa baik-baik saja. Tubuhku panas. Dan terasa aneh. Kak, sepertinya aku…” ucap Eliza dengan nafas yang memburu dan wajahnya yang mulai memerah.


 


‘sial.’ Batin Leo. Ia dengan sigap menggendong Eliza masuk kedalam mobilnya.


 


Loe membawa gadis itu ke dalam hotel tempat ia menginap selama beberapa hari. Tujuannya adalah kamar mandi


untuk menyalakan air dingin agar tubuh Eliza tak kepanasan lagi. Namun terlambat, gerakan Eliza lebih cepat dan agresif dibanding Leo. Tentu saja, dengan senang hati Leo melayaninya.


 


Dan…


 


Ya sudah… terjadilah malam itu. Malam dimana Leo merenggut habis malam pertama wanitanya.


 


End Flashback


 


Mata Eliza terbuka perlahan, didepannya kini tepat sebuah jendela besar yang menghadap kearah timur. Dengan jelas kini ia melihat matahari terbit. Ia melirik dua ponsel yang ada di nakas dan jam meja yang menunjukkan pukul 6 pagi.


 


“selamat pagi sayang…” sapaan pria yang tengah duduk di sebelahnya membuat Eliza terperanjat kaget dan


mengambil posisi duduk.


 


Ia pun sadar bahwa tubuhnya tidak memakai sehalai kainpun kecuali selimut putih yang menutupi tubuh polosnya. Dan Eliza mengingat apa yang terjadi semalam, dan apa yang ia lakukan bersama Leo. Ia pun tak ambil pusing.


 


“ini apartemenmu.” Ucap Eliza sembari melihat ruangan yang hampir terlihat sangat polos.


 


“aku kesini jika ingin, sisanya aku pulang kerumah karena ayah sendirian di rumah.” Jelasnya yang mengerti akan pemikiran Eliza dengan mata yang tetap fokus pada tumpukan kertas yang ada di tangannya.


 


“aku baru mengetahui ada seorang jaksa yang memiliki kebiasaan membaca kasusnya di atas kasur, bahkan dengan tidak memakai bajunya.” Senyum Eliza sembari mendekatkan tubuhnya dan memeluk Leo dari samping.


 


Leo meletakkan kertas yang tangannya. Mengabil nafas dalam dan mengatur detak jantungnya. Apalagi saat dengan jelas sesuatu milik Eliza menyentuh dadanya yang bidang.


 


“kau semakin jahat Liza.”


 


“haha memangnya kau saja yang bisa melakukannya. Aku juga bisa.” Tawa iblis Eliza mulai menampakkan wujudnya.


 


“apa yang semalam kurang? Kau ingin lagi?” tanya Leo yang juga mulai megeluarkan senyuman dan tanduk iblisnya.


 


“tidak, terima kasih. Kita sudah melakukannya 3 kali semalam. Sekarang aku kurang tidur, lelah dan lapar.” Ucap Eliza sembari menjauhkan tubuhnya dari Leo yang sudah ingin memangsanya. Ia hanya ingin menggodanya saja.


 


“tidak apa-apa didapurku. Nanti kita akan makan diluar.”


 


Kring….


 


“halo” Ucap Leo dengan seseorang dibalik telfon itu.


 


“…”


 


“apa kau bilang?! Aku akan kesana.”


 


Leo menutup telfonya. Ia menatap dalam Eliza yang sedang bersiap ingin pergi membersihkan tubuhnya.


 


“kita bersiap sekarang.”


 


“sepagi ini?” tanya Eliza heran sembari mengikuti kearah Leo berjalan.


 


“iya sayang.” Jawab Leo dengan mengecup kening Eliza sejenak.


 


“ada apa?” tanya Eliza mulai serius. Langkah Leo terhenti.


 


“satu nyawa lagi telah terbayar.” Jawab Leo dengan wajahnya yang nampak serius. Membuat tubuh Eliza bergetar.


 


 

__ADS_1


 


***


__ADS_2