
“dimana surat perintahnya?” tanya dokter itu pada wanita yang sedari tadi menghalangi orang-orang itu.
“hei, wanita gila!” ucap seorang pria yang berada di belakang Eliza, namun tidak dihiraukan.
“sedang diperjalan, dibawa oleh Luqman” jawab wanita itu.
“lihatlah, suratnya saja tidak ada bagaimana kau akan melakukan otopsi, hah?! Kalian gila ya!” ucap pria lainnya yang terus berisik.
“hei, manusia-manusia tampan, bisakah kalian berhenti mengoceh” ucap Eliza pada kelima orang yang terus menerus berbicara.
“Louisa” panggil Eliza pada wanita yang tadi mengobrol dengannya. “iya dok”
“bolehkah aku mengataimu?” pertanyaan yang hanya dijawab dengan raut wajah bingung dari wanita itu.
“bagaimana bisa kau mempercayakan surat itu pada si bodoh itu hah??” lanjutnya.
“sudahlah El, dia juga adikmu. Kau hanya perlu selesaikan yang disini.” Ucap pria separuh baya yang sedari tadi disana yang tak lain adalah ayah angkatnya.
“hai kakakku yang paling cantik… kubawakan surat ini padamu.” Senyuman yang dibuatnya manis pada wajah laki-lai yang baru datang itu membuat Eliza memutar bola matanya malas.
“lama sekali kau?” tanya Louisa pada Luqman.
“maaf, aku menjemput seseorang tadi. Jadi jangan salahkan aku terus.” Jawabnya dengan wajah memelas.
Eliza merebut surat yang ada di tangan adiknya itu. Memastikan benar jasad siapa yang akan ia periksa dan mengapa orang-orang itu terus menerus mengoceh. Matanya terbelalak seketika melihat nama yang tertera disana.
__ADS_1
“Billy Pramono..” gumamnya membaca nama itu, dan dengan sigap ia menatap ayahnya yang berdiri melihat anaknya sayu. Adiknya pun langsung merebut apa yang dipegang kakaknya itu tanpa adanya perlawanan.
“sudahlah biar ayah saja kak”
“tidak, aku akan melakukannya”
“hei nona, jika kau melangkah masuk kedalam ruangan itu, dan dengan tanganmu menyentuh bosku. Maka nyawamu akan terancam.” Ucap salah satu pria yang sedari tadi sudah siap mengambil pistolnya.
“berisik….” Gumam Eliza yang tengah mengambil ancang-ancang memukul wajah pria itu. Namun belum pula Eliza memutar tubuhnya, pria itu datang.
“jika kau berani menyentuh wanitaku, maka nyawamu yang hilang.”
Langkah berat dengan sepatu kulit yang hitam pekat, jas abu-abu yang melekat pas ditubuhnya dan potongan rambut rapih yang enak dipandang dengan wajah tampannya, membuat semua wanita yang melihat terpesona. Terkecuali Eliza yang cukup berterima kasih karena dirinya tak perlu repot mengotori tangannya.
“apa kau gila? Kenapa kau disini?” tanya Eliza dengan memberikan tatapan tersinisnya yang hanya dibalas oleh senyum manis dari pemilik wajah tampan itu.
“beraninya kau!!” geram salah satu dari kelima orang yang kini telah menemukan sasaran untuk ia pukul.
Semua mata orang disana membulat melihat kepalan tangan laki-laki berbaju hitam siap mendarat di wajah pria tampan yang baru saja datang. Namun, dengan sigap dan reflek yang cepat tangan kekar itu menghadap laju kepalan itu hingga hanya mendarat di telapak tangannya.
“kurang aja-“
Ucapan laki-laki itu terputus sesaat sebelum tubuhnya dibanting kuat oleh pria yang ingin dipukulnya tadi. Tubuh laki-laki itu tersungkur ke lantai. Orang disana hanya melihat dengan heran. Bahkan Eliza hanya tersenyum ‘oke, baiklah, setidaknya kau menyelamatkan dirimu sendiri’ dalam batinnya. Keempat orang yang lain melihatnya geram dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
__ADS_1
“sudah cukup!! Kalian tahu ini rumah sakit?!” bentak ayah Eliza yang tak lain termasuk kepala bidang sekaligus dokter senior disana.
“ayolah ayah, tak apa, ini akan menjadi tontonan yang seru.” Ucap Eliza santai sembari memasukkan keduan tangannya kedalam saku jas putihnya itu. Semua orang hanya menatap Eliza dengan wajah bingung apa yang dikatakan wanita itu barusan.
“hei, jika kalian terus seperti ini, aku tak segan meminta surat penangkapan untuk kalian karena menganggu proses penylidikan.” Ucap Luqman dengan percaya diri.
“penyelidikan apa, hah?! Bos kami sudah jelas bunuh diri karena istrinya selingkuh, kenapa harus diselidiki lagi, hah?! Buang-buang waktu saja.” jawab seorang laki-laki yang tadi sudah siap menyerang. Jawabannya itu membuat Eliza terkejut.
“hei, jaga mulutmu. Dan asal kau tahu saja, bosmu itu tidaklah bunuh diri, tapi seseoranglah yang mengambil nyawanya bersama malaikat maut. Jadi duduk manis lah dan menunggu kami mengambil data dari jasad bosmu itu.” Bisik pria itu pada laki-laki yang sedari tadi terus berteriak. Seakaan meghipnotis, kelima orang itu akhirnya terpaksa menurut.
“Leo, kenapa kau tak lanjutkan saja, memukul mereka atau mengusir mereka mungkin?” ucap Eliza menggoda pria yang memunggunginya.
“sudahlah El, lakukan tugasmu.”
Wajah Eliza berubah cemberut karena jawaban Leo padannya. Ia pun berjalan memasuki ruangan bersama dua orang asistennya, termasuk Lisa.
Dihadapan Eliza kini jelas jasad laki-laki separuh baya itu. Sedangkan diruangan sebelah dibalik kaca transparan, Leo dengan jelas melihat punggung wanitanya yang kini berhadapan dengan jasad itu.
‘kenapa kau mendahuluiku menyentuhnya, hah?!’ batin Eliza dengan geram.
‘kau bodoh, harusnya biar aku saja yang menghabisinya’ batin Leo yang juga berteriak.
Mereka saling memaki satu sama lain. Padahal keduanya hanya tahu setelah semuanya terjadi.
__ADS_1
***