Poker Face

Poker Face
Part 33


__ADS_3

Beberapa tas dan koper berserakan di lantai kamar. Eliza yang sedari tadi tengah sibuk membereskan pakaian untuk honeymoon-nya tengah mengambil nafas sejenak sembari berbaring di kasurnya yang berlapis spray abu-abu itu.


 


“ish, hari minggu gini kok ada sidang segala sih.” Ucap Eliza kesal sembari menatap langit-langit kamarnya. Lebih tepatnya kamarnya dan Leo.


 


Mereka tidak tinggal dirumah keluarga Siregar ataupun Chandra. Tapi mereka pindah kerumah Hermawan yang sudah bertahun-tahun ditinggal, namun tetap saja terawat baik.


 


Mengingat kasus yang sudah selesai itu, para ayah angkat Eliza dan Leo mengizinkan mereka untuk mengganti nama keluarga mereka seperti identitas awal. Jadi saat ini Eliza menjadi menantu di keluarga Hermawan sekaligus Chandra.


 


Untuk rumah keluarga Romano, sudah sejak lama itu dijual. Tapi tidak untuk mansionnya. Eliza juga menyuruh beberapa orang untuk membersihkan mansion itu.


 


Eliza kini mendengus kesal dirumah sendirian. Mengingat Leo yang pergi kepersidangan yang sudah dijadwalkan.


 


“ah lapar.” Gumam Eliza yang langsung turun dan menuju kearah dapur untuk bersiap memasak karena memang


sudah waktunya makan siang.


 


Leo yang sudah sampai didepan pintu, masuk kedalam rumah tanpa disadari oleh Eliza yang tengah fokus memasak didapur. Ia mencium bau makanan yang membuat perutnya saat sidang kelaparan sekarang meronta-ronta.


 


“aduh, istriku masak apa ya?” gumamnya penasaran sembari berjalan kearah dapur.


 


Eliza yang masih belum sadar akan kehadiran Leo pun terus melanjutkan aktivitasnya. Dan dengan tiba-tiba, tanpa


ada izin dari sang pemilik, Leo memeluk tubuh Eliza dari belakang.


 


“eh, kapan pulang?” tanya Eliza yang sedikit terkejut saat seseorang memeluknya, namun dia sadar akan tangan


yang melingkar diperutnya.


 


“hm, barusan.” Jawab Leo yang wajahnya berada di pundak Eliza sembari mencium bau makanan yang bercampur


dengan aroma tubuh Eliza.


 


“jangan deket-deket aku bau. Banyak keringat.” Ucap Eliza sembari mengguncang pundaknya agar Leo menyingkir karena sadar saat ini Leo sedang mengendus-ngendus aroma tubuhnya yang membuat lehernya sedikit geli.


 


“wangi kok.” Ucap Leo yang terus melakukan aktivitasnya yang merindukan istriya itu.


 


“udah ah, ini sebentar lagi masak. Duduk saja. lapar kan?” ucap Eliza yang akhirnya dituruti oleh Leo.


 


Masakan yang ditunggu pun telah jadi. Mereka berdua menyatapnya dengan penuh hawa kelaparan. Bagaimana tidak, Eliza sedari pagi hanya memberesi barang-barang untuk mereka Honeymoon, sedangkan Leo terpaksa menghadiri sidang yang sudah dijadwalkan sebelumnya.


 


“sayang, kamu suda beresin barang-barangnya?” tanya Leo yang sudah selesai memakan makanannya. Eliza menjawab tanpa sepatah kata, hanya dengan isyarat tangan yang mengatakan ‘sedikit lagi’ sembari meneguk air putih yang sedang ia minum.


 


Flashback


 


Dibawah sinar rembulan yang membentuk bulat sempurna jendela kamar sengaja dibuka agar sinarnya masuk


kedalam.


 

__ADS_1


Parahnya  Leo dan Eliza lupa untuk mengecek token listrik hari itu. Mereka baru saja membawa barang-barang mereka ke rumah keluarga Hermawan. Setelah seminggu pernikahan mereka.


 


Semalaman mereka hanya bermodal cahaya bulan, tidak melakukan aktivitas dimalam hari didalam rumah. Kecuali didalam kamar, lebih tepatnya diatas ranjang mereka.


 


Kini hampir tengah malam, namun Eliza dan Leo tengah terjaga dengan tubuh polos keduanya yang hanya berbalut


selimut putih sembari mengatur nafas yang sedikit terengah-engah.


 


“sayang?” ucap Leo yang memeluk pundak Eliza.


 


“hm?” eliza memejamkan matanya karena lumayan lelah dengan bersandar di dada bidang Leo sebagai bantalnya.


 


“kita mau honeymoon?”


 


“boleh. Kemana?”tanya Eliza yang tetap memejamkan matanya.


 


“kamu inginnya kemana?” tanya Leo yang membuat Eliza membuka kedua matanya dan berfikir itulah adalah kesempatan yang bagus.


 


“hm, bagaimana kalau ke Amerika.” Ucap Eliza sembari mengangkat kepalanya dari bantal kesayangannya itu dan


menatap manic yang terkena sinar rembulan.


 


“kenapa ke Amerika?” tanya Leo heran setelah mendengar jawaban Eliza yang antusias.


 


 


“baiklah kalau begitu.” Jawaban singkat Leo membuat Eliza tersenyum bahagia.


 


End Flashback


 


Eliza sedang membersihkan alat-alat bekas mereka berdua makan. Leo yang sedari duduk di kursinya hanya memperhatikan istrinya yang berkutik didapur.


 


“kenapa?” tanya Eliza yang menyadari bahwa Leo terus menatapnya.


 


“tak apa. aku hanya merasa kau tetap cantik meskipun dilihat dari belakang.” Ucap Leo yang tidak dibalas oleh


Eliza yang masih terus fokus dengan pekerjaannya.


 


Leo jadi teringat akan Clara yang kini  perutnya sudah membuncit. Dia mengandung  anak Johan sudah hampir 7 bulan.


 


Usia pernikahan Leo dan Eliza sudah hampir 7 bulan. Tapi belum ada kabar mengenai kehamilan Eliza. Bahkan rencana honeymoon yang sudah direncakan diawal pernikahan mereka terpaksa diundur hingga besok.


 


“sayang, kau tahu? Tadi Clara masuk rumah sakit.” Ucap Leo yang membuat Eliza berhenti melakukan pekerjaannya dan membalik tubuhnya menghadap suaminya karena terkejut.


 


“bagaimana bisa? Apa yang terjadi? Apa dia baik-baik saja?” tanya Eliza secara beruntun, karena dia tahu bahwa anak yang dikandung oelh Clara adalah anak Johan.


 


“dia tidak apa-apa. Hanya keram perut. Aku tidak bersamanya, tapi orang yang kusuruh menemaninya sudah mengantarnya pulang dengan selamat.” Jelas Leo yang membuat Eliza sedikit tenang.

__ADS_1


 


“syukurlah.” Ucap Eliza sembari menyadarkan sebagian tubuhnya di pinggiran washtafel tempat ia mencuci piring.


 


“aku ingin bertanya? Tapi kau jangam tersingung.” Ucap Leo yang agak sedikit ragu.


 


“ada apa?” tanya Eliza yang penasaran dengan pertanyaan suaminya itu.


 


“apakah kau tidak ada tanda-tanda?” tanya Leo yang sedikit berhati-hati.


 


“ah itu. Entahlah.” ucap Eliza lirih sembari memberikan senyuman diakhir katanya.


 


Eliza tahu bahwa kini Leo sangat menantikan kabar gembira itu. Begitu juga dengan dirinya.


 


Delapan tahun lalu, Eliza khawatir dia akan hamil saat telah melakukan hubungan badan dengan Leo. Tapi ternyata


itu tidak terjadi, karena beberapa hari setelahnya ia datang bulan.


 


Begitu juga dengan hari-hari lain sebelum mereka menikah. Tanpa perlu Eliza meminum apapun atau melakukan apapun, dengan sendirinya setelah mereka melakukan hubungan itu beberapa hari setelahnya Eliza lagi-lagi akan datang bulan.


 


Eliza berfikir bahwa kebetulan itu termasuk keberuntungan baginya. Tapi setelah mereka menikah pun, hal itu


terjadi. Mungkin saja kebetulan itu terus berlanjut.


 


Tapi dalam 2 bulan terakhir setelah 7 bulan lamanya mereka menikah. Eliza terlambat datang bulan. Namun, tidak ada tanda-tanda yang istimewa. Dan tentu saja, Eliza berfikir bahwa dia mungkin hanya terlambat datang bulan saja.


 


“kau tak ingin mengganti pakaianmu itu. Atau kau akan pergi lagi?” tanya Eliza yang nampak terlihat risih dengan pakaian Leo yang masih memakai jas lengkapnya.


 


“ah iya, maaf. Aku akan berganti pakaian.” Ucap Leo yang segera beranjak dari tempat tidurnya.


 


“oh ya sayang, hati-hati melangkah. Dikamar masih sedikit berantakan!” seru Eliza saat Leo melangkah menaiki tangga.


 


“baik sayang!” balas Leo yang terus melangkahkan kakinya.


 


Tanpa sadar Eliza meneteskan air matanya saat mengelus perut ratanya.


 


‘iya, kenapa? Apakah aku kurang pantas menjadi seorang ibu?’ tanya Eliza pada diriya sendiri dalam hati.


 


Awalnya Eliza berfikir bahwa dirinya tak mungkin memiliki seorang anak, namun temannya, dr. Sarah, mengatkan tidak ada yang salah dengan tubuh Eliza. Dia baik-baik saja dan normal, hanya butuh waktu yang tepat.


 


“iya, tentu saja. mungkin hanya belum tepat waktunya. Tenang saja Eliza kau akan melahirkan seorang anak yang


lucu.” Ucap Eliza yang menyemangati dirinya sendiri.


 


 


 


***

__ADS_1


__ADS_2