
“dengan ini saya nyatakan bahwa tersangka kasus pembunuhan dan penculikan pada kasus 20 tahun lalu atas terdakwa Tommy Hermawan dinyatakan tidak bersalah.” Ucapan Hakim Agung yang tengah duduk membaca keputusan persidangan membuat Leo menghela nafas lega dibalik meja kerjanya itu di persidangan.
“dan sesuai keputusan dengan ini saya nyatakan terdakwa Hendra Wijaya selaku salah satu tersangka pembunuhan pada kasus pembantaian keluarga Romano dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati.”
Tok..tok…tok…
Jantung Eliza berdetak tak beraturan saat palu hakim itu diketuk. Betapa akhir yang membuatnya bahagia. Prianya berhasil membersihkan nama ayahnya sendiri dan menemukan pelaku pembunuh keluarganya.
Air mata haru pun tak tertahankan di mata Eliza. Ia menangis sesenggukan atas keputusan itu. Terakhir kali ia
menangis adalah 20 tahun di tempat yang sama. Dan kini terulang lagi, meskipun setelah ini ia tak akan pernah terulang lagi.
Luqman yang duduk disamping Eliza pun memeluk kakak tercintanya untuk menenangkan tangisan itu. Pria yang sudah dewasa itu pun, tak seperti 20 tahun hanya menepuk dan mengelus lembut tangan kakaknya. Sesekali Luqman mencium kening kakaknya lembut dan mengelus bahu kakaknya untuk meredakan tangisnya.
Leo yang merasa ini sudah berakhirpun merasa lega. Nafasnya tak lagi berat karena kasus ini. Nama ayahnya sudah bersih meskipun sudah terbilang terlambat melakukannya tapi inilah usaha terkahirnya. Peluh Leo hampir saja menetes jika ia tak buru-buru mendongakkan kepalanya menghadap langit-langit ruang persidangan itu.
Satu persatu para peserta siding pun keluar. Leo berdiri dan menghampiri Eliza yang masih terduduk dan menangis
disana. Ia kembali melihat mata sayu yang ia lihat pertama kali 20 tahun lalu.
Eliza yang nampak tangis bahagia itu segera berlari dan memeluk erat jaksa yang ada dihadapannya itu. Ia tak
berhenti menangis di dada pria itu. Dan Leo juga membalas pelukan itu tak kalah erat. Sesekali ia juga mencium kening dan mengelus lembut kepala Eliza.
Tak ada yang tidak merasakan keharuan disana. Melihat terangnya tragedi 20 tahun lalu yang memunculkan trauma tersendiri bagi Leo dan Eliza, begitu juga dengan Johan.
“sudahlah. Sekarang sudah selesai bukan?” bisik Leo pada Eliza yang terus menangis dipelukannya.
“jika kau seperti ini terus, jubahku akan basah karena ingusmu.” Lanjut Leo yang membuat Eliza mendengus kesal dalam tangisnya, dan sengaja mengusap kasar wajahnya didada Leo.
“aku tidak ingusan tau!” seru Eliza yang mulai mengangkat kepalanya sembari menghapus air matanya yang
tersisa diujung matanya.
Leo pun hanya tersenyum menyembunyikan air matanya dengan mengusap pipi Eliza lembut dan bersiap mencium bibir manis Eliza.
“eghem!” seru Panji dan Renaldi yang melihat tingkah kedua anak mereka, yang seketika membuat Leo menghentikan kegiatannya dan Eliza pun dengan sigap menoleh kearah suara itu.
“lakukanlah di tempat lain. Jangan disini.” Ucap Renaldi, ayah Leo dengan nada mengejeknya yang khas pria paruh
baya.
“tidak. Jangan lakukan sekarang! Lakukan di altar pernikahan saja.” ucap Panji, ayah Eliza tegas sembari menatap tajam kearah mereka berdua.
“ayolah paman, mereka juga sudah melakukan hal lebih dari sekedar berciuman.” Celoteh Eza yang juga mendapat
tatapan tajam dari Panji dan membuatnya terdiam.
“baiklah paman, aku akan menuruti perintahmu.” Ucap Leo yang tersenyum sedangkan Eliza hanya diam sembari
menggembungkan pipinya.
Pelukan Eliza dan Leo pun berakhir. Eliza dengan yang lainnya keluar dari gedung persidangan itu sedangkan Leo masih berada di ruangannya.
__ADS_1
“permisi pak.” Ucap Clara, sekretaris Leo sembari melangkah masuk menghampiri meja atasannya itu.
“ada apa?” tanya Leo sembari meletakkan kembali jubahnya.
“maaf pak, baru saja pihak kepolisian menelfon. Mereka bilang seseorang ingin bertemu denganmu.” Ucap Clara
sembari menunduk, tak ada niat dihatinya lagi untuk menggoda atasannya itu.
“siapa? Apakah mereka mengatakan siapa namanya?” tanya Leo yang mengambil ponselnya dan seperti bersiap ingin menelfon seseorang.
“Johan. Johan Vincent.” Ucap Clara setelah menghela nafas berat.
Loe urungkan niatnya untuk menelfon Eza. Ia kemudian memasukkan ponselnnya kesaku celana dan memakai jasnya yang bersandar di kursinya.
“baiklah kalau begitu aku pergi.” Ucap Leo yang kemudian beranjak pergi.
“tunggu pak! Maaf bisakah aku menitipkan sesuatu?” seru Clara yang menghentika langkah Leo diambang pintu.
“sesuatu?” tanya Leo yang terheran dengan wajah yang sedikit menoleh kearah Clara yang ada di belakangnya.
“saya menitipkan ini.” Ucap Clara sembari melepas kalung yang tergantung di leher jenjangnya.
Leo kini melihat jelas kalung itu. Liaontin pada kalung itu sama seperti berlian yang ada dicincin itu. Mungkin
saja itu sepasang.
sekali.
“dia bilang bahwa kalung ini sangat berharga sama seperti aku yanag berharga baginya. Tapi sekarang tidak
lagi, aku tidak lagi bersamanya.” Ucap Clara lemah dan hampir meneteskan air matanya.
“maka simpanlah. Itu milikmu. Kau aku fikir aku tidak tahu? Masing-masing dari kalian adalah orang pertama bagi
yang lain. Kau sebelumnya tak memiliki seorang kekasih begitu juga Johan. Apa kau menyesal mengenalnya?” jelas Leo yang membuat Clara tak lagi bisa menahan air matanya dan menggeleng dengan kuat.
“tap..tapi dia..”
“dia seorang pembunuh?” ucap Leo yang melanjutkan perkatan Clara yang terputus dan diangguki oleh Clara dengan rasa takut.
“jangan kau kira seorang pembunuh tidak memiliki hati nurani, dan tidak memiliki kesempatan untuk mencintai. Simpanlah, jaga baik-baik pemberiannya. Itu saranku. Gunakan untuk menghormatinya. Aku pergi.” Ucap Leo yang kemudian meninggalkan Sekretarisnya itu.
Kepergian itu membuat air mata wanita itu tak bisa tertahan lagi. Ia memakai kembali kalung itu dan mengenggam
erat sembari menciuminya lembut. Tak ada penyesalan sedikit pun tapi hanya ada kekecewaan.
Leo memarkirkan mobil di sebelah mobil Eliza yang lebih dulu sampai di sana. Ia masuk kedalam gedung yang sudah ada didepannya itu. Matanya menangkap seorang wanita yang tak asing lagi dimata dan hatinya.
Tangannya mendengkap bahu wanita itu. Terasa hawa dingin yang menyelimuti tubuh Eliza.
__ADS_1
“ada apa? Kenapa kau kesini?” tanya Leo meskipun dia sudah tahu jawabannya, dan jawabannya adalah sama dengan alasan ia datang kesana.
“Johan.” Ucap Eliza lirih dan nampak wajahnya sedikit pucat. Leo tak mengerti dengan kondisi seperti ini.
“kak Leo?!” seru Luqman yang berlari mendekati mereka berdua.
“Luqman, aku kesini karena…” pembicaran Leo tak terselesaikan karena matanya menatap sosok yang telah
tertutup kain hingga wajahnya dan dibawa dengan tandu saat ini.
“maaf kak. Kau tidak akan menemui Johan Vincent lagi. Atau mungkin saja kau bisa menemuinya untuk terakhir kali, tapi dia tak akan meresponmu.” Ucap Luqman sembari mengatur nafasnya.
“sejak kapan?” tanya Leo yang menyembunyikan rasa terkejutnya.
“2 jam lalu. Sipir menemukan tubuhnya didalam selnya. Dia..dia gantung diri.” Ucap Luqman yang sedikit terbata karena tak tega mengatakannya.
“lalu sekarang?”
“kita akan mengadakan upacara pemakamannya.” Jawab Luqman yang hanya diangguki oleh Leo.
“ayo Liza, kita juga harus pergi.” Ucap Leo pada Eliza.
“tunggu!” seru seorang petugas yang berlari mendekati Leo dan Eliza.
“kami menemukan ini diselnya.” Ucap pria itu sembari memberikan secarik kertas pada Leo, lebih tepatnya adalah
sebuah foto.
Eliza membaca tulisan yang ada di balik foto itu.
‘from Johan.
Aku pergi. Kalian jangan coba-coba menjemputku atau menyusulku. Aku akan mengawasi kalian. Blekkk…
To my lovely brother and sister.’
Leo melihat foto itu. Disana nampak Johan dengan senyumnya yang memegang kamera. Dan tak sengaja, berjarak dua meja di caffe itu terlihat pula Eliza dan Leo sedang tersenyum memandang satu sama lain.
‘foto kami bersama.’ Batin Leo saat melihat foto itu adalah foto pertama dan terkahir mereka bertiga.
Eliza mengalirkan air matanya sesaat melihat jelas foto yang ada di tangan Loe. Cengeng. Eliza menjadi cengeng
dalam satu hari.
“sudah jangan menangis lagi. Tak ada yang memintamu menangis.” Ucap Leo menenangkan Eliza sembari berjalan keluar gedung itu.
__ADS_1
***