
“halo sayang.” Sapa Leo kepadaseseorang dibalik ponselnya.
“jangan panggil aku sayang.”
“oke Liza. Kau sudah makan siang?”
“sedang.” Jawab Eliza yang sangat singkat sembari menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya.
“dengan siapa?” tanya Leo yang penasaran.
“aku bersama ayah.”
“oke baiklah. Nikmati makan siangmu.”
Tut
Leo menutup ponselnya, dan segera menghabiskan makan siangnya. Diseberang sana Eliza hanya menggeleng kepalanya heran dengan tingkah Leo yang hampir setiap waktu menelfonnya.
“Leo?” tanya ayahnya yang tengah menyuapkan makanan ke mulutnya dan dijawab dengan anggukan oleh Eliza.
“dia sering menelfonmu sepertinya?”
“iya. Sampai aku meladeninya seperti orang gila.” Jawab Eliza sekenanya tanpa menghiraukan ayahnya yang kini
menahan tawa.
“kau tak ingin menikah dengannya?” tanya pria paruh baya itu yang membuat Eliza berhenti menyuapkan makanan kemulutnya bahkan berhenti mengunyah.
“apa maksud ayah?” tanya Eliza pelan dan hampir tersedak.
“kau sudah 28 tahun, kenapa kau tak menikah? Lagi pula bukankah kau dan Leo saling mencintai?”
Sedangkan Leo kini sudah menghabiskan makan siangnya di ruang kerjanya. Dan dihadapannya sedang duduk pria yang sedikit lebih tua darinya, tak lain adalah Eza.
“entahlah, aku juga belum tahu apakah dia juga mencintaiku.” Jawab Leo sekenanya atas pertanyaan Eza tentang
menikahi Eliza.
“kalaupun dia tidak mencintaimu.”
“maksudmu?”
“kalau Eliza tidak mencintaimu, apa yang kau lakukan?”
“aku akan membuatnya cinta padaku.” Jawaban Leo terlalu dingin hingga suasana disana seperti membeku.
“apa kau selalu dingin seperti ini? Apa kau tidak bisa hangat sedikit, hah?”
“aku hangat jika bersama Eliza. Selain itu tidak.” Ucap Leo yang kemudian diam beberapa saat sembari membolak-balik kertas yang ia pegang.
__ADS_1
“bagaiamana perkembangannya?” lanjut Leo yang sekarang menatap Eza yang masih berada di posisinya.
“berkat kau memberikan kartu nama itu, kami sudah menemukan posisi Johan dan sekarang sedang diawasi. Dan
informasi yang kau berikan juga lumayan membantu.” Jelas Eza membuat Leo hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.
“tapi, selain kita tahu bahwa Johan hidup di panti asuhan hingga 17 tahun, dan beberapa kali melakukan
tindakan criminal, kita tak tahu apa-apa lagi. Bahkan kita tak tahu bagaimana dia bisa bekerja di tempat kerjanya sekarang.” Lanjut Eza dengan nada yang sedikit menunjukkan rasa gelisah.
“benarkah?” tanya Leo sembari menunjukkan senyuman yang menandakan kebanggaan, Eza hanya meliriknya heran sembari mengerutkan dahinya.
“kenapa? Kau memiliki rencana?” tanya Eza dengan nada penasaran.
“emm… tidak.” Jawaban Leo yang sangat yakin itu hanya membuat Eza melongo, bisa-bisanya ia hampir tertipu
dengan pria satu ini.
“tapi, malam ini aku membuat jadwal bersamanya untuk makan malam.” Lanjut Leo dengan nada santainya.
“kalau begitu gali saja informasi dari dia.”
“iya… aku juga tahu.”
Ruangan itu sejenak hening. Hanya terdengar beberapa kali suara keyboard computer yang di tekan dan beberapa
lembar kertas yang dibolak-balik.
Kring…
menjawab panggilan dari anak buahnya.
Leo yang tak terlalu perduli kembali melakukan aktivitasnya. Tak lama Eza kembali dengan wajah yang cukup
serius dan lega. Ia duduk kembali di tempat sebelumnya dan mengambil nafas panjang.
“ada apa?” tanya Leo tanpa melihat kearah pria yang tidak jauh didepannya.
“pesan yang dikirim oleh sekretaris pak Rizky, itu diterima oleh alamat e-mail yang sama yang mengirimi kita bukti penggelapan dana dan penipuan yang dilakukan pak Hendra.” Jelas Eza yang membuat Leo mengerutkan dahinya dan melepas berkas yang ada ditangannya.
“maksudmu? Apa yang sama? Bukti apa?” pertanyaan beruntun dari Leo itu benar-benar menandakan dirinya tidak
tahu apa-apa.
“apa kau pikir kami menangkap Hendra Wijaya dengan bukti yang kami cari sendiri?” pernyataan Eza membuat Leo
semakin bingung.
“waktu itu pihak kami menerima sebuah e-mail yang dengan jelas alamat pengirimnya. Dan kau tahu isinya apa?”
Leo menggeleng cepat sepeti anak kecil yang mendengarkan dongeng.
“isi dari e-mail itu adalah berkas bukti penggelapan dana dan penipuan yag dilakukan oleh Hendra Wijaya. Dan itu sangat lengkap, hingga tak ada data lain yang dapat menyanggahnya.” Jelas Eza yang kini mulai dipahami oleh Leo.
“dan alamat e-mail itu sama dengan penerima e-mail yang dikirim sekretaris Rizky Adiyata?” pertanyaan Leo untuk memastikan kebenaran situasi yang dibalas dengan anggukan Eza.
__ADS_1
“milik siapa alamat e-mail itu?” tanya Leo penasaran yang lagi-lagi hanya dijawab isyarat oleh Eza, hanya saja kali ini dia menggeleng mengartikan ketidak tahuannya.
“tunggu. Lalu bagaimana dengan pesan yang dikirim oleh sekretaris itu? Apa kau tahu?” tanya Leo lagi dengan terburu-buru.
“tidak. Filenya rusak. Dan itu cukup sulit mengembalikkannya.” Jawaban Eza terdengar sangat lemas menunjukkan
kekecewaannya.
“tolong. Usahakan untuk memperbaikinya. Itu akan mempermudah kita. Atau cari lebih dalam mengenai pemilik alamat itu.” Pinta Leo yang direspon oleh Eza yang langsung berdiri dan mengangguk.
“aku akan berusaha mencari keduanya. Aku pergi dulu.” Ucap Eza sembari meninggalkan ruangan itu dan Leo
sendirian.
Sesaat setelah melihat Eza meninggalkan ruangannya, ponsel Leo berbunyi dan meninggalkan notifikasi di aplikasi chat-nya. Ia pun membukanya dan melihat kontak Eliza yang mengiriminya pesan. Bibirnya tersenyum manis saat melihat pesan itu.
My Liza
‘ada perawat yang menanyakan
tentang dirimu… dan mengira
kau adalah kakakku…
katanya kau tampan…
SANGAT TAMPAN. Puas?!!’
Senyum Leo langsung melebar melihat pesan itu.
‘apa kau cemburu?’
Tak lama jawaban Leo langsung dibalas oleh Eliza
My Liza
‘buat apa aku cemburu.’
Senyumannya tak lepas dari wajah tampannya itu.
‘I love you babe’
Jawabannya tak mendapatkan balasan Eliza lagi. Tapi kali ini orang lain yang mengiriminya pesan, Johan.
Johan Vincent
‘pak Leo, apakah kita jadi
untuk janji makan malam
hari ini?’
‘tentu saja. kenapa tidak?’
‘baiklah kalau begitu sampai
jumpa nanti malam’
Leo menutup kembali ponselnya dan menatap lurus kearah layar monitor yang ada didepannya.
“Johan Vincent.” Gumam Leo sembari melihat dua buah foto, keduanya adalah dua orang yang berbeda tapi dengan wajah yang hampir sama. Alviano Vincent dan anak laki-lakinya, Johan Vincent.
__ADS_1
***