Poker Face

Poker Face
Part 20


__ADS_3

Leo kembali berjalan menuju keruangan Eliza. Lorong yang ia lewati saat itu sedikit sepi. Bahkan bisa dibilang benar-benar sepi.


 


Tok..tok..tok..


 


Hening. Tidak ada jawaban dari dalam. Leo memutar knop pintu itu. Matanya bahkan tak dapat menemukan orang yang dia cari di diruangan itu.


 


‘kemana dia?’ batinnya bertanya-tanya.


 


Leo berjalan kearah perawat yang jaga, dia bertanya kemana Eliza pergi. Tapi hasilnya  juga nihil. Tidak ada yang tahu kemana dia pergi.


 


“apa sudah pulang?” tanya Leo pada diri sendiri.


 


Hatinya entah mengapa mulai gelisah. Kaki namun tetap melangkah mengelilingi rumah sakit untuk mencari keberadaan Eliza.


 


Flashback


 


“apa yang ingin kau bicarakan paman?” tanya Leo sembari terus mengikuti langkah pria paruh baya itu dari belakang.


 


“bukan hal yang penting. Tapi…” pria paruh baya itu berhenti di taman rumah sakit dan menatap bunga lily yang


ada didepannya.


 


“bisakah aku mempercayakan Eliza kepadamu?” tanya pria paruh baya itu yang sejenak membuat waktu terhenti bagi Leo. Dia menatap bingung dan takjub pada pria paruh baya yang kini tersenyum didepannya.


 


“ma..maksud paman?” tanya Leo yang masih terus menatap takjub.


 


“aku sudah merawat Eliza selama 20 tahun. Meskipun kami sebagai keluarga angkatnya telah memberikan kasih sayang. Begitu juga Eliza yang juga menyayangi kami. Tapi tetap saja dimatanya masih ada cinta yang kurang.” Jelas pria paruh baya itu dengan tatapan yang sendu.


 


“jadi?”


 


“jadi, bisakah kamu melengkapi cinta yang ada dihatinya?”


 


Leo terdiam seribu bahasa. Entah kenapa untuk kali ini Leo ragu mengungkapkan perasaannya pada Eliza. Padahal di malam itu Leo sudah bilang bahwa dia mencintai Eliza, dan Eliza juga sebaliknya.


 


“ada apa?” tanya pria paruh baya itu pada Leo yang sedari tadi hanya memandanginya dalam diam tak berekspresi.


 


“paman, saya…”


 


“selama ini saya selalu bertekad untuk membuat Eliza selalu bahagia. Jangan sampai dia ditinggalkan lagi. Dan saya yakin kamu juga mampu membuat Eliza bahagia. Iya kan?” lanjut pria paruh baya itu tanpa ragu dan senyum yang selalu tergambar di wajahnya yang mulai berkerut.


 


Leo tetap diam. Jantungnya berdetak lebih kencang lagi. Dalam benaknya kini ada Eliza. Dan dalam bayangnya ia nampak wajah Eliza yang tengah tersenyum saat bersamanya.


 


‘iya! Aku sangat mencintai Eliza! Bukan karena kita senasib. Bukan! Aku benar-benar mencintainya! Cinta. Iya. Cinta!’ batin Leo yang sangat mantap.


 


“iya, paman. Tenang saja. aku akan membuat Eliza bahagia. Aku akan membuat Eliza tidak kehilangan cintanya lagi. Dan aku juga akan membuat Eliza terus ada bersamaku.” Jawab Leo yang sangat mantap membuat pria paruh baya itu mengeluarkan tangis haru sejenak.


 


Hanya angin, rerumputan, langit, bunga, dan burung yang berkicauan menjadi saksi bisu atas pernyataan Leo saat


itu. Dan tentunya Tuhan sudah menakdirkannya.


 


End Flashback


 


Kaki besar itu terus melangkah mencari Eliza di setiap sudut rumah sakit. Ruangannya sendiri, ruangan ayahnya, lobby rumah sakit, taman, ruang otopsi, kamar mayat, dan kamar mandi. Kamar mandi?


 


Bahkan, Leo rela menanyakan pada perawat diruangan mana pasien Eliza dirawat. Pikirnya Eliza mungkin berada

__ADS_1


disana. Tapi hasilnya nihil.


 


“suster, saya ingin bertanya. Pasien dr. Eliza ada dikamar nomor berapa?” tanya Leo dengan terburu-buru.


 


“maaf pak. Dr. Eliza tidak memiliki pasien siapapun. Kalaupun ada pasti, di kamar mayat.” Jawab perawat itu dengan nada yang kebingungan.


 


‘astaga. Aku lupa kalau Eliza ahli forensik.” Bantinnya sembari mengacak rambutnya frustasi.


 


“bahkan ponselnya mati.” Gumam Leo sembari memegang ponselnya selepas menghubungi Eliza yang lagi-lagi dijawab oleh operator.


 


Hati Leo seperti terganggu semenjak berbincang dengan Panji mengenai Eliza. Dia merasa bahwa mulai saat itu harus terus berada bersama Eliza.


 


Leo baru pertama kali merasakannya. Padahal selama 8 tahun terakhir ini, tidak pernah merasa terlalu khawatir. Bahkan firasat buruk pun bermunculan di fikirannya.


 


Langkah kakinya kembali tertuju pada ruangan Eliza tadi. Tapi masih sama. Leo pun menuju keruangan ayah Eliza.


Namun belum sampai, ia melihat seorang perawat yang berlari berlawanan arah dengannya. Dan pria paruh baya itu keluar dengan terburu-buru.


 


“paman! Ada apa Paman?!” tanya Leo panik.


 


“Lucas. Kondisinya semakin parah. Tiba-tiba saja kejang-kejang diruangannya dan sekarang kondisinya sangat tidak stabil.” Jelas pria paruh baya itu dan langsung berlari sekuat tenaganya.


 


Leo pun ikut berlari menuju ruangan itu. Betapa terkejutnya dia melihat tubuh pria tua seperti terbakar. Detak jantung yang terekam juga tidak stabil.


 


“dr. Sarah? Apa yang terjadi?” tanya pria paruh baya itu segera masuk kedalam ruangan itu yang sudah ada beberapa.


 


“dr. Panji, tiba-tiba pasien kejang-kejang.” Jawab seorang perawat.


 


“dokter, detak jantungnya semakin melemah.” Ucap perawat yang lain.


 


 


“halo kak Eza.”


 


“ada apa Leo?” jawab seorang pria dari balik ponselnya.


 


“ke rumah sakit sekarang.” Perintahnya tegas dan langsung menutup panggilan secara sepihak.


 


Leo hanya terdiam menunggu kepastian dari dalam ruangan itu. Tapi fikirannya yang masih teringat tentang Eliza membuat dirinya semakin tak tenang.


 


“dok, detak jantungnya berhenti!!” suara panik perawat yang terdengar hingga keluar ruangan itu membuat Leo seperti patung.


 


Beberapa menit sudah, kini Leo tengah terduduk didepan ruangan VIP itu. Yang ada dipikirannya saat ini bercampur aduk. Antara keberadaan Eliza dan masalah kasus ini.


 


‘semakin tak ada ujungnya.’ Umpat Leo dalam hatinya yang masih gelisah.


 


“Leo!!” seru seorang pria yang berlari kearahnya bersama beberapa orang di belakangnya.


 


“kak Eza?!”


 


“ada apa?” tanya Eza dengan nafas yang masih memburu.


 


“kondisinya semakin buruk. Firasatku sekarang tidak enak.” Jelas Leo dengan nada yang khawatir.


 


“kakak khawatir Lucas mati?!” tanya Luqman yang masih bisa bercanda.

__ADS_1


 


“bukan! Pria tua itu ingin mati, mati saja! Eliza.”


 


“ada apa dengan kak El?”


 


“coba apa kamu bisa hubungi dia?”


 


“kenapa kau tidak menghubunginya sendiri?” tanya Eza yang cukup bingung.


 


“tidak aktif.”


 


Luqman mencoba memanggil kakaknya, namun hasilnya nihil. Tidak ada jawaban.


 


“bagaimana?” tanya Leo setelah melihat Luqman menjauhkan ponselnya dari telinganya.


 


Luqman hanya menggeleng lemah membuat Leo semakin gundah.


 


“shit!!”


 


“tenanglah. Kapan terakhir kalian bertemu?” tanya Eza berusaha menenangkannya.


 


“sekitar 45 menit yang lalu?” ucap Leo sembari mengingat-ingat kapan ia meniggalkan ruangan Eliza.


 


“Louisa, periksa cctv rumah sakit.” Perintah Eza yang dengan sigap dijawab oleh Louisa yang diikuti beberapa


orang.


 


Krekk…


 


Pintu ruangan itu terbuka. Seseorang dengan jas putihnya itu keluar dengan wajah yang menunjukkan keputus


asaan.


 


“sudah tidak tertolong.” Ucap wanita dengan jas putih itu.


 


“apa maksudnya paman?!” tanya Leo untuk memastikan.


 


“waktu kematian 14.23” jawab pria paruh baya itu singkat.


 


Luqman yang dengan sigap langsung mencatat apa yang barusan ayahnya bilang.


 


“kalian bisa menotopsinya jika mau. Sepertinya dia diracuni untuk kedua kalinya.” Jawaban dari dokter wanita itu membuat orang yang mendengarnya kecuali pria paruh baya yang disampingnya terkejut.


 


“siapkan surat perintahnya.” Pinta Eza dengan tegas dan dengan sigap beberapa anak buahnya langsung bergegas


pergi.


 


“panggil Eliza untuk ke ruang otopsi.” Ucap pria paruh baya itu.


 


“Eliza tidak ada di sini paman.”


 


“apa maksudmu?”


 


“dia menghilang.”


 


 

__ADS_1


 


***


__ADS_2