
“hei, kalian ini, masih pagi.” Ucap pria yang baru saja memasuki mansion itu.
“ini sudah siang, Billy. Darimana saja kau?!” tanya salah satu dari mereka.
“ini gara-gara sekretaris tak tahu diri ini. Dia yang membuatku terlambat!” pria itu terduduk sembari mendengus kesal.
“kenapa kau selalu emosi Billy, mungkin ada alasan dibalik itu kan, iya kan Alvian?” tanya seorang bernama Kevin kepada pria yang sedari tadi hanya pasrah dibenta oleh atasannya.
“maaf tuan tadi saya harus mengantarkan anak saya ke tempat penitipan.” Jawab sekretaris itu pasrah.
“lihatlah duda ini, sepagi ini anaknya harus diantarkan ke tempat penitipan. Kau tak kasihan pada sekretarismu?” kini tanya seorang bernama Hendra.
“untuk apa aku kasihan. Ini sudah tugas seekor anjing mengikuti majikannya bukan?” ucap Billy dengan nada
angkuhnya.
“tak hilang juga rasa angkuhmu itu Billy.” Serangan dari seorang bernama Rizky.
Para empat pria disana terus-menerus menyerang seorang atasan yang tak berperikemanusiaan itu.
“dia sekretarisku. Jadi terserah aku memperlakukannya seperti apa.” Celetuk pria yang sedari tadi do berondong
kata-kata hujatan dari para temannya.
“tapi bagaimana pun Alvian juga berperan dengan sangat baik dalam rencana yang akan kita lakukan bukan?” balas salah satu diantara mereka.
“benar sekali. Oh ya Alvian jika kau ingin seorang wanita, aku akan membantumu untuk menghubungi salah satu
wanita yang tadi sangat menikmati wine yang ia minum.
“terima kasih Tn. Alvano. Mungkin lain kali.” Jawab pria yang sedari tadi hanya terus menunduk mendengarkan
percakapan mereka.
“hahaha, ada-ada saja kau Lucas. Mana mungkin wanitamu bisa menjadi pendamping hidup. Mereka hanya sibuk mencari uang untuk hidup.” Ucap salah satu diantara mereka.
“sudah! Hentikan omong kosong ini. Kita harus mempercepat rencana kita.”
“apa maksudmu Bil, kenapa terlalu terburu-buru? Bukankah kau bilang perlahan tapi pasti.”
“jika kita melakukannya terlalu perlahan, ini tidak akan selesai.”
“kenapa? Ada sesuatu kah?” tanya salah satu diantara mereka saat melihat wajah Billy yang nampak panik dan
serius.
“mereka akan pergi ke Milan lusa. Dan setauku si Romano sialan itu, akan pergi dalam jangka waktu yang lama.
Tidak hanya berlibur.” Jelasnya.
“benarkah?” tanya Lucas yang kini ikutan panik.
__ADS_1
“maaf tuan, tapi saya mendengarnya sendiri dari asisten pribadi Tn. Romano. Saat ini mereka sedang mempersiapkan kepergiannya.” Jelas Alviano sembari menunduk dengan rasa segan.
“oke, kalau begitu bagaimana rencana kita?” tanya Kevin sembari menuangkan wine ke gelasnya untuk kesekian
kalinya.
“hmm.. secepatnya.” Gumam Billy yang tetap saja didengar oleh yang lain.
“apa maksudmu secepatnya?”
“secepatnya kita habisi dia.”
Sedangkan di mansion Romano…
“tuan, saya sudah urus semua keperluan yang anda dan keluarga butuhkan.” Ucap Tommy sembari menunduk
kepalanya segan.
“terima kasih, Tom.” Jawab pria tampan dibalik mejanya sembari melihat beberapa berkas yang ada di tangannya.
“maaf tuan jika saya lancang. Saya ingin mengatakan sesuatu.”
“katakanlah.”
“tolong tuan jangan pergi ke Milan.”
“ampuni saya, Tuan. Saya hanya memiliki firasat buruk.”
“firasat buruk apa? Keluarga saya? Atau Ocean group?” tanya pria itu yang kini berjalan kearah asistennya yang
sedari tadi berdiri didepan meja kerjanya.
“maaf tuan, saya rasa semuanya.” Jawab Tommy sembari melihat langkah atasannya yang sudah duduk di sofa kecil yang ada di ruangan itu.
“duduklah.” Perintah pria itu sembari menunjuk kursi yang ada di depannya. Asistennya yang penurut itu pun melakukan apa yang diperintahkan atasannya.
“katakan, apa yang kau khawatirkan?” tanya pria itu yang bersikap tenang dan membuat asistennya pun nyaman untuk berbicara.
“mungkin tuan sudah tahu, bahwa hubungan anda dengan Billy Pramono tidak baik. Tapi anda tetap membuatnya
menjadi seorang calon pengganti anda di Ocean Group.”
“itu aku sudah tahu. Lagi pula itu pilihanku. Eliza masih 8 tahun masih ada 10 tahun lebih untuk menjadikannya
seorang yang bisa memimpin perusahaan kan?”
“tapi tuan, semenjak anda membiarkan Tn. Pramono berada di posisi itu, saya melihat dia jadi seenaknya.”
“apa maksudmu seenaknya?”
__ADS_1
“sepertinya dia ingin merebut Ocean Group dari anda.” Ucap Tommy dengan serius namun malah membuat pria yang ada dihadapannya tertawa terbahak-bahak.
“tuan?” gumam Tommy yang heran melihat atasannya itu.
“astaga Tommy. Jika itu yang kau bicarakan aku sudah tahu. Bahkan sebelum aku mengangkat Billy menjadi wakilku, aku juga sudah tahu. Dan aku sengaja melakukannya.”
“tapi mengapa tuan?”
“entahlah. mungkin takdir yang kubuat sendiri.” Jawab sang atasan sembari memberikan senyum tenangnya.
“maaf tuan, tapi sudah beberapa tahun Tn. Pramono dekat dengan 4 dewan direksi kepercayaan anda. Dan beberapa bulan ini juga mereka sudah mendapatkan dukungan dari beberapa dewan direksi yang lain.”
“lalu?”
“bagaimana jika Ocean group benar-benar akan menghilang?” ucap asisten itu yang langsung panik.
“Tommy, untuk inilah aku pergi ke Milan. Selama ini aku juga memimpin perusahaan kakekku disana. Perusahan kecil yang siap berkembang. Sepupuku yang menjadi tangan kananku disana. Tapi kau tahu kan pemegang saham perusahan itu adalah aku. Jadi tanpa Ocean group aku pun mampu.” Jelas pria itu sembari menyangga dagunya dengan tangan yang bersandar di lengan sofa.
“tapi tuan, saya takut mereka bisa saja melakukan yang lebih dari yang tuan duga.” Ucap Tommy yang benar-benar khawatir sembari menundukkan kepalanya.
“jika benar itu akan terjadi, maka aku hanya akan percaya padamu bukan?”
“baik tuan.”
“oh ya, aku lupa bertanya padamu? Sepertinya asisten Billy juga sering mendekatimu. Apa maunya?”
“maksud tuan, Vincent? Mungkin dia juga membantu rencana Tn. Pramono.” Jelas asisten itu yang tanpa dibalas sama sekali oleh atasannya, kecuali sebuah senyuman sinis yang penuh makna.
“tuan, apakah saya harus…”
“tidak. Tidak ada yang perlu kau lakukan.” Ucap pria itu dan langsung berdiri dari tempatnya duduk.
“maaf tuan.” Jawab asistennya yang juga ikut berdiri sembari menundukkan kepalanya.
“siapkan mobil. Saya akan pulang. Rindu dengan istriku dan gadis kecilku.” Ucap pria itu yang berjalan kearah
meja kerjanya.
“baik tuan. Saya permisi meyiapkan mobil.”
Asisten itu meninggalkan atasannya di ruangan itu sendirian. Pria itu mengambil jas yang bertengger manis di kursi kerjanya. Matanya kini menangkap gambar gadis kecil yang manis tengah tersenyum yang dibingkai dengan indah.
“tenang saja sayang. Kau akan baik-baik saja.”
***
__ADS_1