Poker Face

Poker Face
Part 1


__ADS_3

Dalam ruang putih yang sunyi dan tercium antiseptic yang cukup menyengat, hanya terdengar suara detakan jam dan beberapa langkah kaki dari luar ruangan. Disanalah seorang wanita dengan rambut hitam sebahunya itu duduk. Matanya yang terfokus pada buku didepannya mengisyaratkan dirinya tidak boleh diganganggu sama sekali.



Ruangan ini tidak seperti ruangan dokter lainnya, yang terkesan rapih, bersih, dan nyaman. Tapi ruangan ini jauh dari kata nyaman dan rapih. Selain meja, kursi, dan satu unit computer, buku-buku berserakan disetiap sudut ruangan. Bahkan orang lain enggan masuk keruangan itu. Namun bagi sang pemelik ruangan menurutnya hal ini sudah cukup nyaman.



Satu-satunya tempat yang terbilang cukup rapih di ruangan itu ialah meja yang ia gunakan saat ini. Hanya terisi satu unit computer, buku yang ia baca, kedua tangan yang membolak-balikan lembar buku, kotak makan siangnya, tas, dan papan namanya.



Iya.. papan namanya yang berkali-kali ia buang kekotak sampah. Benda yang hanya memiliki panjang 40 cm, lebar, 5cm, dan tinggi 10 cm, itu menurutnya menganggu pemandangan. Lagipula namanya telah terpampang nyata di pintu ruangan itu ‘dr. Elizabeth Mary Siregar’. Apakah kurang?



Tok.. tok..



“masuk”



“dok, ada pasien”



“gak disuruh kesini?” jawab wanita itu dengan melepas kacamata yang sedari tadi bertengger manis di pangkal hidungnya serta senyuman yang mengejek asistennya.



“dokter…. Jangan bercanda lah, kalo pasien dokter Eliza yang kesini, bisa-bisa saya mati berdiri” ucap wanita berkucir poni itu didepan pintu yang enggan masuk keruangan. -bingung melangkahnya-



“Lisa.. Lisa.. pake bilang pasien segala sih kamu, ya saya ladenin” wanita itu kini beranjak dari bangkunya, mengambil jasnya dan pergi dari ruangan itu.



“hehehe, maaf dok, biar keren gitu, dokter lain kan biasanya didatengin pasien. Lah dokter dari awal saya kenal sampai sekarang didatenginnya mayat”



“gak lucu Lisa!”



“maaf dok”



Senyumannya tersungging diwajah cantik itu, melihat asistennya yang bahkan lebih tua darinya dua tahun begitu polos. Tiga tahun sudah wanita itu bekerja di rumah sakit negeri sebagai dokter forensik. Berkat ayah angkatnya yang selalu mengajarkannya, Eliza berhasil menjadi gadis yang memiliki kehidupan yang lebih baik setelah kejadian dua puluh tahun yang menimpa keluarganya.


__ADS_1


Menjadi salah satu dokter forensik diumurnya yang ke 25, menjadikannya seorang wanita yang diidamkan banyak pria. Selain wajahnya yang cantik, tubuhnya yang indah, perawakan yang ia bawa juga baik. Namun itu semua menutupi jati diri Eliza sebenarnya yang ia sebunyikan baik-baik dilubuk hatinya yang paling dalam.



Flashback



Pintu ruang persidangan dibuka, beberapa orang telah keluar. Seorang gadis kecil tengah terisak dibangkunya dengan seorang anak laki-laki yang lebih muda darinya dengan tangan polosnya mengusap lembut kepala kakaknya itu.



“Leo, kamu jadi anak yang baik yaa, jaga ibu kamu, dan jangan pernah lupain ayah kamu” ucap laki-laki separuh baya pada anak laki-laki yang sedari tadi hanya melihat Eliza menangis tersedu. Melihat anak gadis itu menangis membuat hatinya terpukul, dan bertanya-tanya, apakah benar bahwa ayahnya yang membuat anak itu menangis?



“paman….” Suara anak itu sedikit parau karena menahan tangis.



“sudah… ayahmu tak bersalah. Percayalah. Kalau kamu tak percaya, cepatlah dewasa dan cari tahu sendiri. Paman tak suka melihat laki-laki cengeng. Mengerti”



“pak Panji…” wanita separuh baya dengan pakaian seadanya. Nampak seperti nyonya besar yang suaminya telah jatuh miskin.



“nyonya To..”




“tapi, bagaimanapun juga dia adalah suami anda sampai sekarang”



“SUAMIKU BUKANLAH SEORANG PEMBUNUH DAN PENCULIK!!!!!” teriakan wanita itu membuat Eliza berhenti menangis seketika dan Leo yang terkejut dibuatnya serta beberapa orang yang masih ada juga dibuat terkejut seperti halnya Renaldi, seorang jaksa pada persidangan itu yang kini telah berdiri dibelakang wanita itu.



“sudah cukup nyonya! Apakah kau tidak kasihan pada anakmu sendiri?” bentak jaksa itu sambil mengguncang tubuh wanita itu seraya menyadarkannya.



“ma..ma...” mata sayu tergambar pada wajah Leo, seorang anak kecil yang berumur sepuluh tahun yang tengah memandang ibunya.



“dia bukan anakku lagi. Anak laki-laki itu bukanlah anakku lagi” ucap wanita itu seperti orang gila. “dan anak perempuan itu… jauhkanlah dia dari anak ini. Jangan sampai anak ini dekat-dekat dengannya. Aku tak ingin ia bernasib sama seperti kedua orang tuanya”



“terima kasih nyonya atas perhatianmu. Meskipun jiwamu kini terguncang. Tapi kau masih memiliki sedikit belas kasih pada anak itu. Tapi ketahuilah bahwa suami sebenarnya tidak bersalah, dia dijadikan kambing hitam. Jadi tolong jangan siksa dirimu dan anakmu. Maafkan aku yang kalah dari persidangan ini tak menyelamatkan suamimu”

__ADS_1



“cukup tuan, bagaimanapun juga laki-laki bejat itu bersalah dan sebentar lagi akan mati. Tak ada yang tersisa” air mata wanita itu terus membanjiri wajahnya hingga tangan kecil dari anak laki-laki mengagapai bawah roknya. “mama…”



“jangan panggil aku mama. KAU BUKAN ANAKKU!!!” wanita itu lari keluar ruangan meninggalkan orang-orang disana tanpa tujuan.



End Flashback



Senyum tipis tersungging di wajah dokter cantik itu. Pantaskah kita panggil dia dokter? Atau ahli forensik? (lebih nyaman dokter sebenarnya)



Langkah dokter itu mulai perlahan saat matanya menagkap pemandangan yang jarang terlihat oleh dirinya. Keramaian di rumah sakit itu. Membuatnya terus berkedip seraya tak percaya, bahkan hingga ia mengerutkan keningnya.



“kenapa ini?”



“itu dok, ada yang ribut soal otopsi” ujar salah satu pria yang memakai seragam putih itu.



“mereka keluarganya?”



Pertanyaan yang hanya dijawab oleh gelengan kepala dari para perawatnya.



“kalo bukan kenapa ribut? Mengganggu”



“hei!! Cepat serahkan jasad bos kami! Tak perlu ada otopsi segala! Kami tidak butuh!”



“hei!! Minggir!! Kau mengahalangi jalan!” balas Eliza sambil menggulung lengan bajunya.



Seraya bos mafia, setelah Eliza mengambil alih keadaan seluruh orang yang ada disana perlahan pergi. Mempercayai bahkan kondisi disana akan baik-baik saja.



__ADS_1


***


__ADS_2