Poker Face

Poker Face
Part 8


__ADS_3

Wiu…wiu…wiu…wiu…


 


Suara ambulan itu terus mendengung di telinga orang yang ada disana. Leo kini hanya berdiri di depan pintu ruang Presdir di salah satu gedung pencakar langit.


 


Terlihat jelas nama laki-laki tua paruh baya yang ada dipikirannya itu ‘Rizky Adiyata Laksmana. Kau sudah mati sebelum aku membalasmu?’ batin Leo yang masih terus bertanya-tanya siapa yang melakukan ini semua.


 


“kak Leo!” panggil Luqman sambil berlari mendekat kearah Leo dengan terburu-buru.


 


“Luqman, ada apa? Jangan bilang kalau kasus ini bukan pembunuhan lagi.”


 


“tidak kak, kali ini mungkin saja pembunuhan. Pak Eza baru saja mengatakannya padaku. Dan satu lagi, ada saksi yang melihat korban terakhir kali.”


 


“dimana?” Leo berjalan mengikuti Luqman dari belakang. Ia sempat melihat beberapa orang yang berada di dalam kantor itu sedang merapikan berkas dan melakukan pekerjaan seperti tidak terjadi apapun disana, padahal pimpinan mereka sudah meti karena terjun dari lantai 50. ‘orang bodoh dari mana mereka?’ batin Leo sembari menggelengkan kepalanya pelan.


 


“mereka adalah anak buah anaknya pak Rizky. Aku dengar perusahaan ini akan diambil alih oleh anak laki-lakinya secepatnya.” Jelas Luqman dengan terus berjalan.


 


Langkah mereka berdua terhenti di suatu ruangan. Seorang wanita duduk mematung disana. Terlihat pucat dan gugup.


 


“dia sekretaris pak Rizaky.” Bisik Luqman sembari melangkah mendekati wanita itu dan duduk didepannya.


 


Leo mengikuti langkah Luqman dari belakang dan kini sudah duduk tepat di depan wanita itu. Matanya terus memperhatikan wanita itu. Matanya seperti mengetahui sesuatu yang tak seharusnya orang tau.


 


“ada apa nona? Apa ada yang salah?” tanya Leo dengan menatap wanita itu tajam. Wanita itu sedikit terkejut dan ragu untuk menjawab hingga memilih untuk diam.


 


“kumohon kerja samanya.” Ucap Luqman memecahkan lamunan wanita itu.


 


“ji.. jika.. jika aku mengatakan yang.. yang sebenarnya. Apakah kalian akan melindungiku?” tanya wanita itu yang mulai membuka mulutnya dengan terbata-bata.


 


“itu tugas kami nona.” Anggukan Luqman mengiyakan permintaan wanita itu.


 


“pukul 4 pagi tadi ‘nomor tak dikenal’ memanggilku.”


 


Flashback


 


Krinngg….


 


“astaga, siapa yang menelfon sepagi ini.” Gumam wanita itu yang baru terbangun dari tidurnya dan enggan untuk menyingkirkan selimutnya.

__ADS_1


 


“halo ini siapa?” wanita itu menjawab panggilan itu, namun tak ada suara apapun dari balik telfon itu.


 


“kau tak ingin mengatakan apapun, hah?!!!” seru suara seseorang dari seberang sana yang bahkan wanita itu tidak mengenalinya.


 


“Sis.. Siska.. ini saya..” jawab seorang laki-laki paruh baya yang terdengar parau.


 


“Pak Rizky?!!!” wanita itu terperanjat kaget dan langsung bangun dari tempat tidurnya setelah mendengar suara atasannya itu dibalik telefon. Sejenak tak ada jawaban.


 


“cepat katakan!!!” teriak laki-laki itu sekali lagi.


 


“Siska. Kamu ingat e-mail yang saya kirim 5 tahun lalu?” wanita itu mengingat kembali 5 tahun lalu saat pertama kali bekerja bersama atasannya dan dikirimi sebuah e-mail yang bahkan tak boleh dibuka atau dihapus. Hanya boleh disimpan.


 


“iya pak saya ingat.”


 


“sekarang buka e-mailmu. Kirim e-mail yang aku kirimkan itu ke alamat e-mail yang aku kirim. Setelah kau kirim hapus semua e-mail yang ada di laptop dan komputermu di kantor. Segera dan tanpa terkecuali. Kau mengerti?”


 


“baik pak.” Wanita melangkah kearah mejanya namun terhenti saat mendengar teriakan di balik ponselnya itu.


 


“sudah puas kau!!!!!” teriak pria paruh baya itu dengan sisa tenaganya.


 


 


“kau… kau… AAAAAGGGGHHHHHHHH!!!!”


 


“pak Rizky? Kau baik-baik saja?” tanya wanita itu panik setelah mendengar pekikan dari seberang sana.


 


“tidak baik-baik saja nona. Sekarang kau lakukan pekerjaanmu. Atau nasibmu akan sama seperti tuanmu.”


 


Dengan sigap wanita itu langsung menyalakan laptopnya dan mengirim e-mail yang dimaksud. Begitu juga dengan seluruh arsip serta pesan masuk dan keluar dari e-mailnya sudah musnah, bahkan sudah tidak ada di kontak


sampah.


 


“sudah saya lakukan tuan.” Ucap wanita itu gugup dengan tangan bergetar.


 


“bagus. Sekarang lakukan tugasmu selanjutkan. Aku akan menunggumu, secepatnya.” Laki-laki itu menutup telefonnya. Wanita itu langusung bersiap-siap pergi menuju kantornya.


 


Betapa terkejutnya dia, terakhir kali melihat atasannya dengan kondisi yang sangat tragis. Jatuh dari gedungnya sendiri dan tepat di depan pintu masuk.


Mata wanita itu menahan tangis dan tubuhnya bergetar ketakutan. Ia sendirian disana, dan tak ada orang sekalipun karena saat pukul 5 padi belum ada penjaga keamanan yang datang.

__ADS_1


 


Sesosok bayang laki-laki muncul dari lift, wanita itu melihat dari luar lobby yang sebelumnya berniat ingin keluar dan pulang saja.


 


“kau pikir bisa kabur, hah? Masuk!” laki-laki itu tidak menghiraukan ketakutan wanita yang kini sudah ada bersamanya didalam lift.


 


Tubuh wanita itu bergetar menggigil. Baru kali ini ia harus datang ke kantor sepagi itu membuat tubuhnya kedinginan.


 


“kau kedinginan?” tanya laki-laki itu melirik tajam kepada wanita itu yang hanya dibalas dengan anggukan kepalanya saja.


 


Laki-laki itu tersenyum penuh makna sembari mendekat kearah wanita itu yang hanya beberapa langkah darinya. Dia melepaskan jaketnya sedangkan wanita itu terus mundur saat laki-laki itu melangkah.


 


“sayang sekali wanita secantik dirimu harus kehilangan bosmu. Atau lebih tepatnya sekretaris cantik sepertimu harus memiliki bos seperti laki-laki tua bejat itu sangat disayangkan sekali.” Ujar laki-laki itu


yang terus mendekat.


 


Wanita itu tidak tahu apa maksud dari laki-laki itu. Yang ia tahu adalah kini dirinya sangat takut akan tatapan tajam lai-laki itu. Bahkan ia tidak bisa melihat wajahnya yang tertutup masker hitam.


 


“pakailah.” Laki-laki itu memakaikan jaketnya saat wanita yang ada didepannya sudah mulai berhenti menjauh dan dia tepat ada di depannya.


 


“jangan sampai kau mati kedinginan.” Ucapnya dingin.


 


Anehnya wanita itu tidak lagi merasakan ketakutan, yang ada hanya merasakan aura kesepian dari suara yang berubah dari laki-laki yang ada didepannya.


 


Namun, hal itu tak lama. Setelah lift terbuka, wanita itu ditarik kasar menuju meja kerjanya.


 


“cepat lakukan tugasmu. Setelah itu kita akan mulai permainannya.”


 


Wanita itu hanya mengangguk selagi dirinya merasa aman. Pikirnya hanya mengikuti perintah lebih aman dibanding harus membantah.


 


“sudah.”


 


“bagus.” Ucap laki-laki itu mengambil jaketnya kembali dari tubuh wanita itu dan mendekatkan wajahnya kearah  telinga wanita itu.


 


“sekarang terserah apa yang kau akan lakukan. Aku pergi. Jika kau tak ingin ikut permainannya, jangan cari gara-gara cukup beri tahu apa yang engkau tahu. Mengerti?” bisik laki-laki itu yang hanya dibalas dengan anggukan kepala dari wanita itu dan dia hanya melangkah pergi.


 


End Flashback


 


 

__ADS_1


 


***


__ADS_2