Poker Face

Poker Face
Part 9


__ADS_3

Leo menatap lekat bunga mawar yang mekar di taman rumah sakit itu sembari memikirnya cerita dari wanita itu. ‘sial, ada apa ini?’ batinnya yang mulai mengamuk.


 


Ia mengacak kasar rambutnya sendiri. Ia tidak bisa berfikir bagaimana ada seseorang yang membunuh orang-orang yang ia bunuh juga. ‘Siapa yang ingin balas dendam juga?’ batinnya terus bertanya-tanya.


 


“jangan biarkan perutmu kosong dan menjadi gila.” Seorang wanita datang diiringi aroma kopi yang khas dan tak lain adalah Eliza.


 


“kau baik sekali.” Ucap Leo sembari memberikan senyumannya.


 


“berisik.”


 


Mereka berdua duduk di taman itu sembari memakan roti isi yang dibeli Eliza di kantin rumah sakit serta mereka meminum kopi masing-masing tanpa bersuara sedikit pun.


 


“bagaimana otopsinya?” tanya Leo sembari berjalan mendekati Eliza selepas membuang sampah sisa makan mereka berdua.


 


“seperti itu. Jika ingin salinannya mintalah pada Louisa. Aku memberikan padanya.” Ucap Eliza yang masih meminum kopinya dengan santai.


 


“ada sesuatu yang ingin dikatakan?” tatapan Leo kini mengarah ke Eliza lurus dan tajam. Eliza menelam minumnya yang baru saja ia masukkan.


 


“kenapa serius sekali?”


 


“aku sedang tidak bercanda.”


 


“semua tidak ada yang istimewa selain beberapa patah tulang, tenggkorak pecah, beberapa luka dalam. Hanya saja, mungkin seseorang dengan sengaja mendorongnya jatuh, bukan?” kini Eliza menatap serius Leo. Tatapan tak kalah tajam. Mereka berdua saling mengintimidasi tanpa kata-kata.


 


“iya.”


 


“dan lagi-lagi sepertinya pria tua itu dibius dengan obat yang sama seperti sebelumnya. Sepertinya ia beberapa kali dipukuli dibagian wajah dan bagian tubuh lain, karena ada beberapa luka memar di wajah dan badan. Dan lagi mungkin ia dibius saat sedang meminum alkohol. Ada sedikit kandungan alkohol dalam darahnya.” Jelas Eliza, matanya telah melepaskan tatapan tajam itu dan melihat keseliling memandang bunga indah di taman itu.


 


“apa kau yang melakukannya?” tanya Leo dengan spontan dan membuat mata Eliza terbelalak kaget.


 


“kau cari mati, hah?! Apa yang kau tanya kan?” seru Eliza yang sudah terpancing emosinya sambil menarik kuat kerah kemeja Leo.


 


“mungkin kau sengaja membunuh karena ingin balas dendam orang tuamu.” Jawab Leo sekenanya tanpa menghiraukan kerahnya ditarik kuat oleh Eliza.


 


“ooohh, lalu bagaimana denganmu? Bukannya kau juga bisa saja balas dendam dengan mudah.” Tanya Eliza dengan mudahnya tanpa melepaskan kerah Leo.


 


“kau….”


 

__ADS_1


“sudah kalian berdua hentikan! Percuma kalian bertengkar! Aku melihat kalian berdua semalam.” Ucap seorang pria bertubuh besar dengan seragam rapi yang melekat ditubuhnya yang kini sudah berdiri di


depan mereka berdua.


 


“pak Eza apa maksudmu? Melihat kami?” tanya Leo sembari membenarkan kerahnya yang telah dilepas oleh Eliza.


 


“kau tak tahu Leo, aku tetangga apartemenmu yang baru pindah 3 bulan lalu.”


 


“benarkah?”


 


“heem. Dan kalian tahu, kalian sangat berisik semalam. Berapa ronde?” tanya seorang ketua tim dari kepolisian itu, yang tentunya membuat pipi Eliza berubah memerah dan Leo hanya terdiam membeku.


 


“hahahaha, bercanda.” Tawanya lepas sembari merangkul bahu Leo, dan seketika suasana disana berubah.


 


“tapi serius, kalian sangat berisik semalam.” Ucapnya kembali serius. Eliza mulai muak mendengarnya lagi.


 


“ah, sudahlah!!” Eliza pun beranjak pergi karena kesal.


 


“hei El, El, Eliza kau mau pergi kemana? Kemana perginya?” tanya pria itu pada Leo.


 


“entahlah, ini gara-garamu Pak, awas! Jangan sentuh aku, nanti orang salah paham.” Ucap Leo sembari melepaskan rangkulan pria itu.


 


 


“oh benarkah? Aku lupa?”


 


“apa kau bilang?! Seharusnya kau bersyukur aku datang, kalian jadi tak bertengkar lagi, kan? Lagi pula untuk apa kalian bertengkar.Kalian bukan termasuk daftar tersangka.”


 


“kenapa kau begitu yakin?”


 


“hanya dengan motif ‘balas dendam’ tak semudah itu untuk membuatmu menjadi tersangka. Dan satu lagi, sejak kapan kalian berdua pacaran?”


 


“sebegitu penasarannya kah dirimu?” tanya Leo sembari kembali duduk dan dijawab anggukan oleh pria yang jelas 5 tahun lebih tua dari dirinya itu.


 


“kami tidak berpacaran. Bahkan aku belum mengutarakan perasaanku.” Jawab Leo santai memandang lurus tanpa memerhatikan pria yang sudah ia anggap kakak itu duduk disampingnya.


 


“kau gila? Kalian berdua sudah berani berhubungan tapi tidak berpacaran.” Ucapnya panik.


 


“dia baik-baik saja. Lagi pula semalam bukanlah malam pertamanya.”


 

__ADS_1


“santai sekali kau. Lalu kapan malam pertamanya? Jangan bilang kau juga yang melakukannya!”


 


“penting sekali bagimu.” Ucapan Leo itu membuat geram Eza yang ada di sampingnya hingga menarik kerah Leo.


 


“jawab saja cepat!!” ucap pria itu.


 


“iya aku yang melakukannya, itu 8 tahun lalu.”


 


“kau sungguh gila Leo! Kau masih berfikir dia baik-baik saja. pantas saja ibumu tak menganggapmu sebagai anak lagi. Hahaha. Lain kali kau harus mengutarakan perasaanmu. Kau tahu? Sebelum tubuhmu di cincang oleh dokter Panji.”


 


“sudahlah kak berhenti membahas ini. Kau menemuiku bukan untuk ini kan?” tanya Leo yang disusul dengan genggaman Eza  yang mulai dilepas dari kerahnya.


 


“aku ingin membuat tim khusus untuk kasus ini. Aku takut ini akan berlanjut. Kau tahukan lima petinggi dari ocean group?”


 


“jangan tanya kak, mereka yang membunuh orang tuaku dan Eliza.”


 


“kau tahu, dalam 3 bulan terakhir secara mendadak kelima perusahaan yang terpecah dari perusahaan ayahnya Eliza mengalami penurunan saham drastis. Akhirnya pimpinan mereka tertekan.”


 


“berhubungan dengan kasus ini?” tanya Leo dengan nada yang cukup dingin.


 


“tak hanya ini, bahkan dua kasus sebelumnya.”


 


“siapa dibalik semua ini?”


 


“pertama kasus bunuh diri Billy Pramono, sekarang kematian Rizky Adiyata, sebelumnya bahkan kasus penggelapan dana Hendra Wijaya yang sekarang sudah didakwa 25 tahun penjara.” Jelasnya.


 


“hah apa? Hanya 25 tahun? Tak sekalian saja seumur hidup. Supaya pria tua itu menjadi tulang di penjara. Dan biarkan  pria tua yang lain tinggal menuju ajalnya.” Sentak Leo yang kini benar-benar mengutarakan kebenciannya.


 


“aku tahu kau sangat membenci mereka. Tapi aku bersyukur kau tidak bertindak bodoh. Seperti orang yang aku curigai.”


 


“kau mencurigai seseorang kak? Siapa?” tanya Leo yang dibuat kaget oleh pria itu.


 


“iya, seseorang. Aku akan memberitahuku jika kau ikut masuk kedalam tim ini.”


 


“ya, baiklah aku ikut.”


 


 


***

__ADS_1


__ADS_2