
Ruangan yang awalnya hanyalah ruang kosong, kini berubah menjadi ruangan penuh dengan meja dan beberapa tumpukan kertas.
“selamat malam semuanya.” Sapa Eza pada bawahannya yang tengah mempersiapkan ruangannya.
“malam pak!” seru mereka bersamaan.
“ini Leonardo, mungkin kalian semua sudah kenal. Dia jaksa yang beberapa kali datang kesini. Dan saya harap kita bisa bekerja sama.”
“baik pak. Silahkan duduk pak Leo.” Sapa seorang petugas laki-laki yang menurut Leo tak asing, karena memang hampir setiap kasus Leo harus berhubungan dengan kantor polisi.
“terima kasih.” Jawab Leo dengan senyum biasanya yang membuat wajahnya semakin tampan yang tak heran membuat 2 petugas polisi perempuan disana selain Louisa merasa terpesona.
“tampan sekali.” Bisik salah satu petugas itu dengan teman wanitanya yang dijawab dengan anggukan.
“dia sudah memiliki kekasih.” Bisik Louisa di antara dua rekan wanitanya itu dan mereka terkejut tak percaya serta disusul dengan rasa kecewa.
“oke!! Sekarang semua duduk. Ini tim sudah disetujui oleh kepala kepolisian dan dipimpin langsung oleh saya. Kita mulai saja. Luqman jelaskan.” Perintah ketua operasi ini yang tak lain adalah Eza.
“baik pak. Jadi operasi ini kita akan menyelediki kasus 5 pendiri perusahan ternama. Perusahaan ini didirikan oleh 5 orang petinggi dari Ocean Group yang sudah bangkrut 20 tahun lamanya.” Jelas Luqman yang kemudian disusul oleh seorang petugas yang duduk tepat disebelah Leo dengan mengangkat tangannya.
“maaf pak, izin bertanya. Bukannya kita akan membahas menganai kasus sebelumnya? Apa hubungan dengan yang dijelaskan barusan?” tanya laki-laki itu.
“20 tahun lalu.” Eza mengeluarkan berkas kasus yang cukup membuat Leo terkejut, ia hanya diam saat melihat berkas itu yang tak lain adalah berkas mengenai pembantain satu keluarga.
Keluarga ‘Romano’, adalah korban pembantaian itu. 10 orang korban, terdiri dari tuan Romano, istrinya dan 8 pembantunya. Sedangkan anaknya selamat, Elizabeth Mary Romano, yang kini terpaksa harus mengganti marganya menjadi Siregar, dan menjadi anak angkat Panji Siregar. Pelaku pembunuhan terdiri dari 5 orang pria.
Sedangkan pelaku yang harus terkena hukuman ada Tommy Hermawan, sekretaris sekaligus asisten pribadi keluarga Romano. Yang tak lain adalah ayah kandung Leonardo Henry Hermawan. Namun, setelah Tommy didakwa
bersalah, istrinya pergi dan meninggal karena kecelakaan. Dan anaknya diangkat oleh seorang jaksa yang menangani kasus itu, Renaldi Chandra.
Akhir dari kasus itu adalah terdakwa pembantaian itu, Tommy Hermawan, harus dihukum mati. Selama 14 tahun, kasus ini di tutup, dan kini dibuka lagi untuk diselidiki kebenarannya.
__ADS_1
“…. Jadi ada kemungkinan bahwa kasus ini adalah kasus balas dendam. Karena dari beberapa kali penyelidikan adanya keikut sertaan para 5 petinggi itu.” Jelas Luqman yang teramat panjang, hingga hampir kehabisan
nafas.
“siapa 5 petinggi itu?” lagi-lagi tanya petugas yang duduk di samping Leo itu.
“Billy Pramono, Rizky Adiyata, Hendra Wijaya, Kevin Lauren, dan Lucas Alvano. Mereka awalnya bekerja di perusahaan Ocean Group, tapi setelah terjadi pembantaian itu. Seketika saham turun dan mereka membuat
bisnis mereka sendiri. Dan kini menjadi peruasahaan yang cukup terkenal dibidangnya.” Jelas Eza yang terus duduk menatap berkas itu.
Leo hanya menyangga dagunya dengan tangan di atas meja, sembari mendengar dirinya yang sedari tadi dibicarakan dengan senyumanya yang terus merekah.
Sedangkan Luqman tengah sibuk menarik garis, menulis, bahkan menempelkan beberapa foto pada papan yang ada di depan. Saat beberapa foto ditempel cukup membuat orang yang mengetahui sesuatu tercengang.
“tunggu, bukannya foto itu adalah…” ucap seorang petugas wanita yang dari awal mencuri pandang pada Leo.
“itu aku dan Eliza.” Jawab Leo dengan santai membuat beberapa orang disana hanya terdiam dan nampak terkejut, kecuali Louisa, Luqman, dan Eza.
“hei, bukannya kau bilang aku dan Eliza tidak dengan mudah menjadi tersangka?” tegurnya pada Eza yang duduk disampingnya.
“kau sudah menyelidiki kasus itu secara teliti, jadi pasti informasimu cukup banyak.” Lanjutnya.
“tidak juga, aku belum menemukan bukti yang kuat. Jika sudah mungkin dari dulu saja kuangkat kasus ini kepersidangan lagi.” Jelas Leo.
“dan siapa laki-laki satunya itu?” tanya Louisa yang tengah menunjuk salah satu foto diantara 3 foto yang dipajang.
“dia Johan Vincent.”
Johan Vincent, anak tunggal dari keluarga Vincent. Ayahnya Alviano Vincent, sekretaris dari Billy Pramono. Setelah kasus 20 tahun lalu menemukan titik akhirnya, Alviano dinyatakan meninggal karena kecelakaan
lalu lintas.
Namun, dari bukti yang ada munjukkan kerusakan mesin mobil yang disengaja. Atau bisa dibilang ini adalah kasus pembunuhan berencana. Tapi hingga sekarang kasus itu belum menemukan titik akhir, bahkan hingga
__ADS_1
kasusnya ditutup.
“dia tersangka juga?”
“tentu saja. lagi-lagi ada beberapa data yang menyatakan keikut sertaan para ke-5 petinggi itu. Mungkin saja dia ingin balas dendam.” Jelas Luqman.
“sepertinya mudah ya ‘balas dendam’ itu.” Gumam Leo.
“kita bisa dengan mudah mengawasi Leo dan Eliza, karena dengan jelas kita mengenalnya. Tinggal bagaimana kita harus mencari keberadaan si Johan ini.” Ucap Eza yang kini mulai merubah posisinya dengan
berdiri.
“tunggu. Kita membiarkan dua tersangka kita ikut campur?” tanya seorang petugas pada ketuanya itu.
“iya, yang satu selalu mengotopsi korban kita, dan yang satu membantu mengumpulkan informasi?”
“bukannya itu sesuatu yang bermanfaat dan membantu kita.” Jawab Eza dengan mudahnya sembari mengangkat kedua bahunya.
“bagaimana jika mereka memalsukannya?” tanya seorang petugas wanita yan membuat Louisa, Luqman, dan Eza tertawa geli.
“hei, nona. Aku memang buruk soal wanita. Tapi jika ini soal data, menyentuhnya sembarang saja aku tak mau apalagi memalsukannya. Itu bukan tipeku.” Jawab Leo dengan nada menggodanya sembari memberikan kedipan
matanya.
“mengenai Johan, mungkin ini sedikit membantu. Aku akan mencari informasi tentangnya lagi.” Ucap Leo sembari melempar kartu nama Johan yang diberikan kepadanya beberapa waktu lalu.
“dia reporter? Dari mana kakak mendapatkannya?” tanya Luqman setelah melihat kartu nama itu.
“sewaktu aku di rumah sakit, dia datang untuk mengembalikan dompetku yang hilang.” Ucap Leo yang kini mulai serius. “mungkin ini takdir.” Tambah Leo.
“lalu apa yang kita lakukan, Pak?”
“tentu saja, mengikutinya.” Jawab Eza dengan senyum khasnya.
__ADS_1
***