Poker Face

Poker Face
Part 15


__ADS_3

“hei, hei, kalian sungguh tak percaya padaku.” Ucap Leo yang sedang berada di ruang interogasi kepada seorang


petugas.


 


Flashback


 


Leo membuka matanya dari mimpi indahnya. Ia bermimpi memiliki keluarga indah bersama Eliza, bahkan kedua orang tua mereka juga hadir dan menemani mereka berdua. Leo hanya tersenyum mengingat itu, mungkin itu benar-benar hanya mimpi.


 


Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa membangunkan Eliza yang nampak tertidur lelap. Leo


mengambil jasnya dan memakainya.


 


Jam dinding di kamar Eliza menunjukkan pukul 7 pagi. Leo bersiap untuk pergi. Dia menghampiri Eliza yang masih memejamkan matanya.


 


“tidurmu nyenyak sekali sayang. Aku pergi dulu. I love you.” Bisik Leo agar tidak menganggu tidur Eliza. Ia pun mencium kening Eliza dengan lembut.


 


Leo keluar dari apartemen Eliza dan menuju lift untuk pergi ke garasi dimana ia memarkirkan mobilnya di parkiran bawah tanah apartemen Eliza.


 


Belum sampai Leo di depan mobilnya. Dirinya sudah dicegat oleh sekumpulan orang yang tak  asing baginya. Mereka adalah orang-orang yang ada di satu tim bersamanya. Ya.. dari kepolisian.


 


“ada apa? Kalian mencariku?” tanya Leo yang masih santai.


 


“pak Leo kau kami tangkap karena diduga melakukan tindakan percobaan pembunuhan kepada Lucas Alvano.” Ucap salah satu petugas.


 


“astaga. Lucu sekali bercandamu tuan.” Ucap Leo yang tak lama pergelangan tangannya sudah diborgol.


 


‘ah, ponselku tertinggal. Ah sudahlah, biarkan.’ Batin Leo sembari memutar matanya malas dan mengikuti dua orang yang menangkapnya.


 


End Flashback


 


“eghem. Aku sudah ada disini selama hampir 3 jam. Kau tidak lelah hanya memandangiku.” Ucap Leo yang dengan


santai duduk di ruang interogasi itu bersama seorang petugas.


 


“maaf tuan. Ini sudah seharusnya kami lakukan. Kami sedang menyelidiki gerak gerikmu semalam melalui kamera


pengawas lainnya.” Jawab petugas itu.


 


“aku sudah mengatakan berulang-ulang bahwa aku pergi keapartemen Eliza dan bermalam disana.” Balas Leo yang tiba-tiba seorang laki-laki masuk ke ruangan itu tiba-tiba.


 


“yang benar saja kau bermalam di apatemen kak Eliza!! Hah?!!” bentak Luqman yang diikuti Louisa dari belakang.


 


“kau sudah menemukan buktinya, aku sudah mengatakan yang sebenarnya tadi.” Balas Leo dengan nada santai.


Tiba-tiba Luqman mencengkram kuat kemeja Leo.


 


“katakan apa yang kau lakukan semalam?!!!” gertak Luqman.


 


“Luqman kau tahu, ini termasuk tidak sopan. Apalagi aku calon kakak iparmu.”


 


“apa?!! Kak El mana mungkin ingin menikahimu?!!!”


 


“tanya saja pada kakakmu.” Jawaban Leo yang terlalu santai membuat Luqman geram, apalagi saat Leo membual


tentang Eliza.


 


“aku semalam makan malam dengan Johan. Setelah itu, aku keluar dari sana dan pukul 9 lewat 10 menit. Dan ya..


aku memang menemui si Lucas. Tapi aku pun hanya datang dan tidak duduk bahkan.” Penjelasan Leo membuat Luqman melepaskan cengkramannya.


 


“aku disana tidak sampai 20 menit, aku bahkan meninggalkan pria tua itu masih tersungkur di lantai.” Lanjut Leo.


 


“sedangkan apa tadi kalian bilang, paramedis menemukannya terduduk dan pingsan di kursi dan terdapat dua


cangkir kopi? Aku bahkan tidak disuguhkan kopi disana.”


 


“lalu kau benar ke apartemen kak El. Kenapa kau disana?” tanya Luqman yang sudah mulai tenang.


 


“iya dia ada disana bersamaku. Aku memasang kamera cctv didepan pintu apartemenku. Kau bisa melihatnya di ponselku.” Ucap wanita yang tiba-tiba muncul di balik pintu ruangan itu, yang tak lain adalah Eliza.


 


“tidak. Untuk kali ini aku tidak percaya pada kakak. Mungkin saja kalian bersengkokol. Iya kan? Kalian juga termasuk dua tersangka.” Jawab Luqman yang disusul dengan nafas berat Eliza.


 


“tunggu. Oh iya cctv!” seru Luqman membuat orang yang melihatnya terheran.


 


“ada apa?” tanya Eliza.


 


“ayah memasang cctv di ruang tamu apartemenmu. Berjaga-jaga, jika terjadi sesuatu.”

__ADS_1


 


“wow.” Balas Leo singkat sembari tersenyum.


 


“apa?!! Ruang tamu!!” jawab Eliza panik sedangkan Luqman berlari keluar ruangan itu.


 


‘astaga, semalamkan. Aku. Diruang tamu. Ah, bisa gila aku!!’ batin Eliza berteriak dan langsung mengejar Luqman.


Sedangkan Leo hanya tertawa geli melihat dua orang kakak beradik itu.


 


“ada apa pak, kenapa seperti ada yang lucu?” tanya petugas yang sedari tadi masih duduk didepan Leo.


 


“kalau kau ingin tau, lebih baik kita ikuti mereka.” Jawab Leo singkat.


 


Leo pun akhirnya keluar dari ruangan yang pengap itu. Biasanya dia duduk disana hanya beberapa menit dan itupun sebagai orang yang menginterogasi. Sekarang malah dia yang harus diinterogasi dan duduk berjam-jam.


 


Mereka sampai diruangan multimedia. Disana sudah ada Eliza yang tampak sedikit panik. Dan Luqman yang sudah siap dengan laptopnya. Sedangkan Eza dan Louisa dan beberapa orang tim yang juga ikut penasaran.


 


Leo yang baru saja datang langsung berdiri disebelah Eliza dan merasa seperti akan ada sebuah pertunjukkan.


 


“sepertinya akan seru.” Bisik Leo pada Eliza.


 


“aku malu…” gumam Eliza.


 


“kenapa malu?”


 


“apa kau tidak malu? Kau jaksa. Kau tidak malu melakukan hal seperti itu. Bahkan dilihat banyak orang? Astaga,


aku bisa gila.” Ucap Eliza yang kini malah berjongkok karena terlalu malu.


 


“hei, kau masuk ke apartemen pukul berapa?” tanya Luqman yang sedikit sinis.


 


“entahlah, intinya aku berdiri disana hampir 15 menit lebih.” Jawab Leo sembari mengawang-awang.


 


“dia masuk jam 10 malam.” Jawab Eliza singkat yang mulai bangkit dan membuang rasa malunya.


 


‘huh, jika tidak karena Leo. Lebih baik aku pulang saja.’ batinnya.


 


Dengan sigap Luqman yang mengotak-atik laptopnya itu melompat pada jam yang diucapkan kakaknya. Benar saja, mereka melihat Leo memasuki apartemen Eliza tepat seperti yang disampaikan kakaknya.


 


melongo melihatnya, Louisa yang mulai menutup mata karena tak sanggup dan terlalu malu, dan yang  lain hanya tertegun dan diam seribu bahasa, tapi tetap saja memeperhatikannya.


 


“waahhh..” gumam Eza sembari tersenyum dengan mata yang masih fokus pada adegan di rekaman itu.


 


“kkau..kau…” Luqman berdiri dari tempat duduknya dengan menatap tajam Leo seraya tak percaya apa yang barusan saja dia liat.


 


“kkau..apa yang kau lakukan pada kakakku, hah?!!” Luqman berjalan mendekat kearah Leo dan dengan sigap


mencengkram kerah Leo.


 


“Luqman, tunggu.” Ucap Eliza sembari memisahkan keduanya.


 


“jangan membelanya kak. Aku akan membuatnya masuk ke jeruji besi.” Gertak Luqman pada Leo, namun hanya dibalas senyuman oleh Leo dengan santainya.


 


“eh Luqman. Kau jangan bercanda. Lepaskan dia…” ucap Eliza yang terus berusaha memisahkan mereka berdua.


 


“sudahlah Luqman, mungkin dia berkata benar. Lagipula paramedis menemukan Lucas saat tengah malam. Dan mereka bilang baru saja di racuni…” Eza mendekat kearah Luqman dan Leo dan segera melepaskan cengkraman Luqman.


 


“sedangkan Leo datang jauh sebelum tengah malam. Jadi bukan dia pelakunya.” Lanjut Eza yang kemudian


Luqman mulai tenang.


 


“apa kalian tidak bisa mencarinya melalui cctv yang ada disana?!!” sentak Eliza pada Eza yang dari tadi sudah


menahan malu.


 


“tenang nona. Di restoran itu hanya ada cctv pada bagian luar. Dan sesaat setelah Leo masuk kedalam, rekamannya hilang entah kemana.” Jawab Eza sembari merangkul pundak Eliza seperti kawan akrab.


 


“tapi aku tidak memafkanmu kak. Apa yang kau lakukan pada kakakku, hah?!!!” ucap Luqman yang masih geram pada Leo.


 


“malam itu aku tidak melakukan apa-apa.” Jawab Leo dengan santai.


 


“sudahlah kalian berdua hentikan. Aku.. hump.” Eliza menutup mulutnya saat ia merasakan perutnya mual. Seketika mata seluruh orang yang disana terbelalak kaget dan tertuju pada Eliza.


 


Asam lambungnya naik. Dia belum makan sedari ia bangun tidur. Dan sekarang, perutnya mual.  Eza yang terkejut langsung melepaskan rangkulannya dan memegang kedua bahu Eliza.

__ADS_1


 


“El, kau.. apa kau?” tanya Eza ragu dan nampak panik, karena saat ini yang ia tatap adalah seorang wanita yang


ia kenal dan sudah dianggap sebagai adik karena hubungan keluarga mereka.


 


“kalian jangan…” tegur Eliza yang belum menyelesaikan kalimatnya namun sudah terpotong oleh orang lain.


 


“hei, kau harus tanggung jawab pada kakakku!! Jangan sampai aku punya ponakan yang tidak memiliki ayah!!”


bentak Luqman pada Leo.


 


“hei! Jangan bercanda! Aku masih datang bulan tau!!!” bentak Eliza yang sudah tak tahan dengan orang disekitarnya mengira ia hamil, dan cukup membuat yang lain melongo dan ada yang tertawa geli.


 


“jadi kau tidak hamil?” tanya Eza yang masih bingung.


 


“tidak pak! Bagaimana mungkin.” Ucap Eliza dengan tegas dan disusul dengan pelukan Eza yang merasa lega.


 


“ah, syukurlah adikku yang satu ini tidak apa-apa. Atau jika iya aku akan menggantung Leo di Monas.” Ucap Eza


sembari salah satu adik anggapnya (anggap ya.. bukan angkat).


 


Eza sangat senang menganggap orang yang lebih muda darinya sebagai adik, dan orang yang lebih tua sebagai


kakak. Sifat uniknya membuat anak buahnya merasa nyaman memiliki atasan sepertinya.


 


Apalagi Eza sudah mengenal Eliza karena keluarganya, ayahnya dan ayah kandung Eliza yang masih satu kakek.


 


“pak, jika kau menggantung Leo di Monas, dia akan mati.” Jawab Eliza yang nampak polos dan dibalas dengan


senyuman Eza yang sudah melepaskan pelukannya.


 


“lalu, kakak, apa kau baik-baik saja?” tanya Luqman dengan nada khawatir.


 


“tidak. Asam lambungku naik. Aku belum makan apapun. Aku saja baru selesai mengotopsi mayat seseorang.”


 


“siapa?”


 


“Kevin Lauren.” Jawaban Eliza membuat satu tim itu terkejut dan melihat kearahnya.


 


“jangan bercanda kau Eliza.” Ucap Eza sembari menggoyangkan kedua bahu Eliza.


 


“aku tidak bercanda. Bagaimana bisa kalian ketinggalan info ini?” tanya Eliza heran.


 


“kita harus mencari tahu!” seru Eza yang mulai serius pada seluruh anak buahnya yang ada disana dan dibalas


dengan sigap oleh mereka.


 


Tiba-tiba seorang petugas dari tim yang sama, berlari sekuat tenaga menemui atasannya.


 


“pak Eza!! Aku mendapat laporan dari departemen lalu lintas! Ada kecelakaan dan korban atas nama Kevin Lauren!” ucap petugas itu sembari mengatur nafasnya yang terengah-engah.


 


“TERLAMBAT!!!!” seru semua orang yang ada disana padanya.


 


“eh, benarkah?” ucap petugas itu dengan wajah bodohnya. Leo hanya menggeleng lembut dan tertawa dalam hati.


 


“aku sudah bebaskan? Aku akan pergi.” Ucap Leo pada Eza  yang tengah bersiap menyeldediki kasus kecelakaan itu.


“iya kau boleh pergi. Tapi jangan lupa kalau kami masih mengawasi kalian berdua.”


 


“tentu saja.” Leo menggandeng tangan Eliza dan beranjak keluar.


 


Leo terus menggandeng tangan Eliza cukup erat menuju kearah mobil Eliza diparkirkan.


 


“bisa kau lepas tanganku?”


 


“tidak.” Jawab Leo singkat.


 


“ini ponselmu. Tadi sekretarismu mengirim pesan, bahwa file yang kau minta sudah dikirim lewat e-mail.” Ucap Eliza sembari memberikan ponsel iru pada pemiliknya.


 


“apa ada e-mail masuk juga.”


 


“sepertinya iya. Ada notifikasi masuk sepertinya.”


 


“baiklah, terima kasih sayang.” Jawab Leo sembari mencium kening Eliza lembut.


 


 

__ADS_1


***


__ADS_2