
Brak…
“Eliza!!!”
“kakak!!!”
Seorang pria paruh baya dan seorang pria muda dengan tiba-tiba memasuki kamar inap Eliza.
“ayah? Luqman? Bisa tenang sedikit?” ucap Eliza yang masih terbaring lemas di ranjang rumah sakit.
Leo yang duduk di kursi samping ranjang Eliza, hanya mampu bergeleng karena terheran melihat mertuanya dan anaknya terlalu mengkhawatirkan Eliza.
“apa yang terjadi denganmu? Kudengar kau sudah 2 hari ada di rumah sakit?” tanya Panji yang khawatirkan akan putrinya itu.
“tak apa paman. Dr. Andra bilang., Eliza butuh istirahat saja. maafkan aku yang baru menyadarinya.” Jawab Leo sembari mengelus lembut punggung tangan Eliza.
“sudahlah, aku juga tidak tahu kalau aku sedang hamil.” Ucap Eliza yang mengembangkan senyumnya di akhir
kalimat.
“lalu kenapa sampai harus dibawa kerumah sakit segala? Apa kau terlalu kelelahan?” tanya Panji yang masih sangat khawatir.
Eliza dan Leo hanya saling menatap. Leo sedikit merasa bersalah, meskipun itu sudah berlalu beberapa hari. Sedangkan Eliza hanya mengode untuk tidak mengatakan apapun dengan senyumnya.
“tidak apa-apa kok ayah, aku memang kelelahan.” Ucap Eliza yang diakhir tawa kecil di akhir kalimat.
“baiklah kalau begitu. Ayah kembali keruangan dulu? Leo, bisa ikut denganku. Biarkan Eliza ditemani oleh Luqman.” Ucap Panji sembari melangkahkan kakinya keluar setelah mengecup kening Eliza lembut.
“iya Ayah.” Jawab Eliza.
Kedua pria itu pergi dan tak lupa menutup rapat ruang inap itu. Dan Luqman pun dengan sigap duduk di tempat yang tadi diduduki oleh Leo.
“kakak, kau baik-baik saja?” tanya Luqman dengan mata yang berbinar menahan tangis melihat kakaknya yang biasa semangat, kini harus terbaring lemah di ruang rawat inap.
“iya adikku sayang, kakakmu ini baik-baik saja.” jawab Eliza dengan senyum dan sembari mencubit lembut pipi
chubby Luqman.
“jangan sakit ya.” Ucap Luqman yang kini telah meletakkan kepalanya di atas perut Eliza yang masih nampak datar dengan tidak terlalu menekan, seraya seperti mendengar isi perut Eliza.
“apa yang kau lakukan?” tanya Eliza yang terheran dengan tingkah Luqman yang menekan nekan perutnya halus
dengan jari telunjuknya.
“aku.. aku mencoba membangunkan anak yang ada di perutmu kak. Tapi sepertinya mereka tidak bergerak.” Jawab
Luqman polos sembari terus menekan-nekan perut Eliza dengan telunjuknya dan sesekali berusaha menguping.
“astaga Luqman. Berapa umurmu? Kau seperti anak kecil. Usia kehamilanku masih 5 minggu, jadi masih sebesar
biji gandum.” Ucap Eliza menjelaskan pada Luqman.
__ADS_1
“sekecil itu ponakanku?” ucap Luqman dengan wajah polosnya yang terkejut.
Eliza yang melihat tingkah adiknya itu hanya menggeleng dan terkekeh geli. Sesaat rasa lemah Eliza berganti dengan rasa sedikit riang berkat kehadiran Luqman.
Tak butuh memerlukan waktu yang lama, Leo pun akhirnya memasuki ruangan itu kembali dengan wajah yang pasrah.
“ada apa? Ayah mengatakan sesuatu?” tanya Eliza yang melihat wajah Leo nampak tak mengenakan hati.
“tak apa. Hanya ada suatu hal yang perlu ku sampaikan.” Ucap Leo yang duduk ditepi ranjang dekat kaki Eliza
sembari tersenyum diakhir kalimatnya.
“apa?”
“ayah meminta kita untuk tinggal di rumah Siregar.”
“tidak.” Jawab Eliza dengan cepat saat mendengar pernyataan Leo, dan tentu saja membuat terkejut kedua pria yang ada bersamanya.
“ada apa kak? Tak seperti biasanya kau menolak.” Tanya Luqman yang menutupi rasa terkejutnya dengan penasaran.
“paman Panji yang memintanya langsung. Dia pikir ada baiknya jika tak hanya aku yang menjaga kesehatanmu.
Oke.” Ucap Leo meyakinkan istrinya itu.
Eliza nampak gelisah. Ia terus berpikir kenapa dengan yakin sebelumnya bilang ‘tidak’. Dirinya sangat merindukan kasih sayang ayahnya, namun difikirannya tak ingin kembali kerumah.
Senyum Leo dan Luqman pun melebar. Leo merasa lega karena istrinya setuju akan pendapatnya dan ayah angkatnya.
“berapa lama?” tanya Eliza dengan menunjukkan wajah yang sedikit kesal.
“sampai usia kehamilanmu 3 bulan. Bagaimana?”
“baikalah, terserah.”
“kalau begitu aku harus pergi. Ada banyak pekerjaan yang menungguku.” Ucap Luqman selepas melihat arlojinya
yang sidah menunjukkan jam kerjanya.
“hati-hatilah.”
Leo kini mengambil alih kursi yang baru saja ditinggalkan oleh Luqman. Ia kembali menatap dalam istrinya yang
nampak lelah di atas ranjang namun tetap cantik.
“ada apa?” tanya Eliza yang terheran dengan Leo yang terus menatapnya.
“kau cantik.” Ucap Leo sekenanya dengan memberika senyum diakhir kalimatnya.
__ADS_1
“jangan bercanda. Kau baik-baik saja kan?” ucap Eliza sembari menempelkan telapak tangannya di dahi Leo seraya mengecek suhu tubuhnya.
“sayang, aku tidak sakit.” Ucap Leo yang menurunkan tangan Eliza dan mulai menggenggamnya erat.
“sayang, maafkan aku ya. Mungkin saja aku tahu, aku tak akan sepertii waktu itu.” Lanjut Leo sembari mencium
punggung tangan Eliza.
“sudahlah. Itu sudah berlalu. Kau tidak bekerja?” tanya Eliza yang membuat Leo mendongakkan kepalanya.
“kenapa?” tanya Leo dengan polosnya.
“bukankah kau selalu pergi bekerja? Mungkin hari ini ada sidang atau mungkin kau harus memeriksa sebuah kasus.” Ucap Eliza jelas dan lugas dengan nada yang terdengar tegas.
“kau mengusirku?” ucap Leo dengan nada memelas.
“tidak, aku tidak mengusirmu. Hanya saja, bukankah kau sangat suka bekerja. Bahkan waktu itu, saat normalnya
orang lain berlibur, kau malah bekerja.” Jelas Eliza yang membuat Leo sedikit tersentuh.
“iya, maafkan aku. Tapi untuk hari ini aku tidak ingin pergi bekerja. Aku ingin bersama istriku yang cantik ini.” Ucap Leo yang sembari mengecup lembut punggung tangan Eliza dan membuat si empu tangan pun tersenyum manis.
“kalo begitu, bisakah aku meminta sesuatu?” tanya Eliza sedikit ragu.
“apa? Katakan saja, aku pasti akan menurutinya.” Ucap Leo yakin.
“aku ingin nasi goreng.” Jawab Eliza yang cukup membuat Leo sedikit melongo dengan apa yang barusan saja ia
dengar.
“baiklah sayang, aku akan pergi mencarinya.” Ucap Leo yang bangkit dan bersiap ingin pergi, namun sejenak
dicegah oleh tangan Eliza.
“ada lagi.” Ucap Eliza lirih dan membuat Loe hanya membuat ekspresi bertanya dan penasaran.
“aku ingin kau membeli nasi goreng yang penjualnya laki-laki diatas 40 tahun, sedikit gemuk, dan berkumis.” Jelas Eliza yang kali ini membuat Leo diam seribu bahasa.
‘astaga, permintaan macam apa itu?’ batin Leo yang sudah hampir tak bisa berfikir lagi.
“bisa ya?” tanya Eliza dengan puppy eyes unggulannya.
“iya sayang, aku akan mencarinya. Baik-baik kau disini ya.” Ucap Leo sembari mengecup kening Eliza lembut dan
bergegas pergi dari ruangan itu.
‘jadi ini yang namanya perempuan ngidam.’
***
__ADS_1