Poker Face

Poker Face
EPILOG


__ADS_3

“ayahhh!!!!!!!”


 


BUKH!!!


 


“astaga! Fani! Kau tak apa-apa sayang?!” teriak Leo yang setengah berlari kerena melihat putrinya tersungkur mencium pelataran rumah.


 


“kenapa kau berlari?” tanya Eliza yang berjalan perlahan sembari membawa beban di perutnya yang sudah kembali


membuncit setelah 5 tahun berlalu.


 


“hehehe, tak apa Ayah, Fani baik-baik saja.” ucap gadis kecil itu sembari menunjukkan gigi depannya yang ompong yang baru saja tanggal.


 


“liahatlah dahimu memerah.” Ucap Eliza sembari mengusap lembut dahi putrinya itu.


 


“ayah! Ibu!! Lihatlah Reyhan dan bibi Clara sudah datang!” kini seruan putra mereka sembari menggandeng tangan


anak laki-laki yang taka sing lagi.


 


“kalian sudah datang.” Sapa Eliza pada Clara yang kini sudah memberikan salam pada Eliza.


 


“maafkan aku pak Leo. Sepertinya aku akan merepotkan kalian lagi.” Ucap Clara sembari melirik kearah Reyhan yang kini tengah mengobrol dengan kedua anak Leo dan Eliza.


 


“tenang saja. Reyhan juga sudah kami anggap anak kami sendiri.” Ucap Eliza sembari mengelus bahu Clara.


 


“makanya, segera lah cari suami Clara.” Ucap Leo sembarang dengan nada meledek.


 


“tolong pak. Ampun, jangan katakan itu lagi.” Ucap Clara yang kini sudah menyerah mencari pendamping hidup, kerena terakhir kalinya ia ditipu oleh seseorang yang akhirnya memaksanya keluar dari firma hukum dan perlu mencari pekerjaan lagi.


 


“kalau ada apa-apa, katakan pada kami. Jangan segan-segan.” Ucap Eliza.


 


“iya terima kasih dok. Kalau begitu aku pergi dulu.”


 


“sayang Mami pergi ya, baik-baiklah disini. Jangan merepotkan paman dan bibi, dan juga jaga baik-baik adikmu. Okeh.” Lanjut Clara yang kini berbicara pada Reyhan.


 


“tentu saja.” jawab pria kecil itu dengan nada imutnya.


 


“baiklah kalau begitu aku permisi.”


 


Eliza pun melambaikan tangan tak henti sebelum punggung Clara hilang dari pandangannya.


 


“baiklah anak-anak, sekarang kita masuk kedalam. Kita bermain didalam saja. okeh!” ucap Eliza sembari menggiring anak-anak manusia itu.


 


“okeh!!” seru mereka.


 

__ADS_1


“bibi, apakah adik kecil yang ada di perut bibi sebentar lagi akan lahir?” celetuk Reyhan dengan polosnya sembari


melepas sepatunya.


 


“tentu saja.”


 


“berarti Steve dan Stephani akan memiliki seorang adik?” tanya anak laki-laki itu.


 


“bukan seorang Rey, tapi sepasang.” Jawab Leo dengan senyum yang mengembang di akhir kalimatnya.


 


“kalau begitu apakah aku juga akan dilupakan saat mereka lahir?”


 


“mana mungkin sayang. Kau kan kakak Steve dan Stephani juga. Jadi mereka juga adalah adikmu.” Ucap Leo sembari menggendong bocah kecil itu.


 


“benarkah?”


 


“benar. Sekarang bermainlah bersama.”


 


“tentu.” Ucap anak laki-laki itu antusias.


 


Ketiga malaikat kecil itu pun bermain dengan riang. Semakin bertambah usia anak-anak itu, membuat Leo dan Eliza mengingat kembali masa-masa kecil mereka. Saat bahagia mereka, bahkan saat sedih mereka.


 


Bahkan wajah Johan kecil tergambar jelas di wajah Reyhan, yang jelas-jelas anak biologis dari Johan.


 


 


“disini masih ada versi kecilnya.” Ucap Leo yang mengelus lembut bahu Eliza.


 


“apa itu cinta?” tanya Eliza polos seperti remaja yang baru saja puber.


 


“yang jelas bukan makanan.” Jawab Leo dengan singkat.


 


“oh ayolah, aku sedang tidak bercanda.” Sahut Eliza sembari mencubit gemas pinggang Leo.


 


“sungguh, yang jelas. Cinta itu bisa membuatmu buta.


 


Buta akan segalanya. Buta akan rasa peduli, karena terlalu cinta dengan dunia. Dan bisa saja buta akan keadaan,


karena terlalu mencintai seseorang.


 


Seperti saat ini.” Jelas Leo sembari menatap lekat Eliza.


 


“apa maksudmu?” tanya Eliza yang langsung dibungkam bibirnya dengan Leo menggunakan bibir.


 


Eliza yang meyadari dirinya tengah berada di depan anak-anak mereka, berusaha melepas ciuman itu.

__ADS_1


 


“kau gila! Bagaimana jika anak-anak melihatnya!” gumam Eliza yang membuat Loe tersenyum.


 


“mereka sudah melihatnya.” Jawab Leo santai sembari member isyarat dengan bahu yang menunjuk kearah ketiga anak kecil yang dari tadi memperhatikan.


 


“apa yang ayah dan ibu lakukan?”ucap Stave dingin.


 


“kami sedang mengobrol sayang.” Jawab Eliza sembari memberikan senyum kakunya.


 


“bukankah itu terlalu dekat?” tanya Reyhan dengan polosnya.


 


“belum terlalu dekat. Bahkan bisa lebih dekat lagi.” Jawab Leo sekenanya yang membuat cubitan Eliza kembali melayang.


 


“sudahlah. Ooh iya Stave, apakah kau sudah memberi makan si Bunny?” tanya Eliza sembari melirik kearah halaman samping yang mana terdapat sebuah kandang kelinci kecil di sana.


 


“astaga, aku lupa. Ayo kita memberi makan Bunny.” Seru Stave dengan semangat dan dijawab dengan antusias Stephani dan Reyhan.


 


Ketiga anak itu pun dengan riang member makan kelinci kecil itu. Betapa bahagianya mereka sejenak saat bermain. Membuat ingatan Eliz juga kembali pada masa kecilnya di latar rumah itu.


 


“kau pintar mengusir mereka sayang.” Ucap Leo yang kini menelungkupkan wajahnya di tengkuk Eliza dan tangannya pun sudah melingkar di perut Eliza dari belakang.


 


“oh, ayolah Leo.” Ucap Eliza yang merasa risih dengan tingkah Leo yang menggodanya malah membuat suaminya itu terkekeh geli.


 


“terima kasih ya sayang.” Ucap Leo ditengah keheningan.


 


“untuk apa?”


 


“karena ada menemaniku.”


 


“bukannya harusnya aku yang berterima kasih?”


 


“mungkin Johan benar,


 


Setiap orang pasti memiliki alasan sendiri untuk melajutkan hidupnya. Dulu alasanku karena balas dendam ayahku. Sekarang alasanku adalah kamu.


 


Jadi terima kasih karena hadir di hidupku.”


 


Sesungguhnya tak ada rasa dendam yang terpendam. Yang ada hanyalah hukum alam yang tertunda. Dan jangan biarkan membuat rasa cinta itu menjadi buta. Karena kebutaan itulah yang membuatmu merasakan akibatnya.


 


 


 


-Fin-

__ADS_1


__ADS_2