Poker Face

Poker Face
Part 5


__ADS_3

“mama?! Mama dimana?” rintih anak kecil itu yang tengah duduk diruangan gelap itu.



“anak bodoh! Ibumu sudah meninggalkanmu!” seru pria dari tempat lain yang membuat anak laki-laki kecil itu menangis lebih keras lagi.



“mama! Aku merindukanmu… hu..hu..hu”



“DIAM!!”



Mata Leo terbuka ‘shit’ umpatnya dalam hati sambil memegang kepalanya yang terasa nyeri. Dirinya menyadari berada di salah satu ruang rumah sakit.



“apa ini?” tanyanya pada seorang wanita yang menunggunya bangun disamping tempat tidur.



“itu selang infuse. Apa kau bodoh?” jawab Eliza ketus, sudah lama ia menunggu pria itu bangun. Eliza pun mengambil semangkuk bubur yang ada di nakas. Leo pun mengambil posisi duduknya.



“sudah berapa lama?” tanya Leo singkat pada Eliza yang sudah bersiap menyuapinya makanan.



“hampir 5 jam. Sekarang sudah pukul 7 malam. Ini makan pagi, siang sekaligus makan malammu!” jawab Eliza ketus dengan sendok yang sudah ada didepan bibir Leo.



“suapi aku.” Ucap Leo dengan puppy eyes-nya membuat Eliza mengerutkan dahinya.



“apa maksudmu? Aku juga sudah berbaik hati ingin menyuapimu.” Jawab Eliza sembari menggoyangkan sendoknya yang sudah siap masuk ke mulut Leo.



Leo hanya menggeleng pelan dan tersenyum penuh makna.



“tidak. Aku ingin disuapi dengan ini.” Ucapnya dengan menyentuh halus bibir Eliza. Seketika mata Eliza melotot dan meletakkan sendok ke mangkuk bubur itu.



“apa kau gila??!” ucap Eliza lirih sembari memberi tanda pada Leo dengan melirik kearah sisi ranjang yang lain. Leo yang mengerti akan hal itu pun segera menoleh kearah sisi ranjang yang dimaksud.



“ayah.”


__ADS_1


Terlihat Renaldi dengan senyuman dan keriputnya tengah duduk di sofa rumah sakit yang berjarak 3 meter dari ranjang Leo bersama Luqman dan Louisa yang tanpa sengaja membekas rona merah di pipi mereka berdua setelah melihat tingkah Leo dan Eliza tadi.



“ah, mungkin aku akan keluar mencari udara segar. Haha.” Ucap Luqman yang bediri dan berjalan keluar dari ruangan itu tanpa melihat dua orang itu.



“aku juga, lebih baik keluar. Permisi.” Susul Louisa yang mulai salah tingkah. Leo dan Eliza hanya bingung


melihat tingkah kedua orang itu.



“sudahlah, kalian lanjutkan saja. Biar aku duduk disini lebih lama.” Ucap pria paruh baya yang terus tersenyum di


atas sofa itu sembari melipat kedua tangannya didada.



“apakah pekerjaanmu sudah selesai?”



“tentu saja belum. Tapi bagaimana mungkin aku meninggalkan anakku yang terbaring di rumah sakit karena maagnya kambuh. Haha.” Ledek pria baruh baya itu dengan tawanya yang khas, disusul dengan Eliza yang terkekeh di sebelah Leo, membuatnya geram oleh dua orang ini.



“ah, mungkin lebih baik aku pulang saja. Aku tak perlu khawatir denganmu. Biarlah kekasihmu yang


menemanimu.” Lanjut pria itu mengambil tas kerjanya di meja dan tersenyum kearah Eliza.




“baiklah aku pulang dulu, sampai jumpa…” pintu itu tertutup rapat. Kini hanya tinggal Leo dan Eliza diruangan


itu.



“kau menertawaiku tadi?!” ucap Leo dengan melirik Eliza yang tengah memandang pintu setelah kepergian Renaldi


ayah angkat Leo.



“hmm? Hemm” angguk Eliza dengan tersenyum. Ia pun kembali menyendok bubur dari mangkuk itu dan menyodorkan ke bibir Leo.



“aku kan sudah bilang. Suapi aku dengan mulutmu. Bukan dengan sendok.” Rajuk Leo seperti anak kecil.



“ayolah, jangan merajuk lagi. Kau sudah 30 tahun. Masih merajuk seperti anak kecil?”


__ADS_1


“30 tahun masih muda yaaa.. seperti 20-an. Setidaknya turuti saja permintaanku ini. Sudah 8 tahun aku tidak meminta apa pun. Lagipula ini sudah bukan jam kerjamu lagi kan?” ucap Leo sembari memegangi perutnya yang kini terasa mual.



“apa masih sakit?” tanya Eliza yang menyadari tangan Leo.



“tidak. Hanya mual.”



“itu karena kau tidak makan seharian. Ini minum dulu obatnya setelah itu makan. Jika kau menurutiku akan


menuruti kemauanmu.” Ucap Eliza dengan memberikan obat pada Leo dan pipinya pun mulai memerah karena malu dengan apa yang barusan ia katakan.



“benarkah? Aku harap kau tak berbohong.” Ucap Leo yang mempercayainya dan langsung meminum obat yang


diberikan. Setelah ia menelannya, Leo pun memberikan senyuman itu. Senyumam kebahagian yang penuh arti. Eliza pun melakukan apa yang diminta laki-laki itu.



Selama beberapa menit suapan bubur itu belum juga selesai. Bahkan Leo menarik tengkuk Eliza agar ‘suapannya’


lebih dalam lagi.



“aw!” teriak Leo sembari Eliza melepaskan ‘suapannya’ itu.



“apa kau ingin disuapi lagi?” tanya Eliza dengan tersenyum jahatnya.



“nakal sekali kau.” Jawab Leo sembari meraba bibirnya yang digigit oleh Eliza cukup kuat hingga terasa perih.



Leo terdiam sejenak memandang bibir Eliza yang menggoda dan kembali tersenyum penuh makna.



“baiklah. Suapi aku lagi. Aku tidak peduli kau melakukannya dengan lembut atau kasar.” Leo menarik pinggang


Eliza yang kini sudah berada di pangkuannya.



Satu kali… dua kali… tiga kali… dan seterusnya. Hingga akhirnya mereka menghabiskan waktu satu setengah jam


untuk meghabiskan satu mangkuk bubur putih itu.



__ADS_1



***


__ADS_2