Poker Face

Poker Face
Part 18


__ADS_3

Pesan Author : harap bijak dalam membaca... terima kasih   ^_^


----


Di dalam ruangan yang tak pernah rapi itu terlihat jelas sosok wanita yang tengah fokus membaca buku di mejanya. Rambut sebahunya yang sengaja ia kucir kebelakang, hingga anak rambut yang tak terkucir itu bergelayut manja di tengkuk dan pelipisnya.


 


Matanya yang berwarna coklat keemasan itu pun terbantu lensa yang cukup tipis untuk membaca. Matanya normal, hanya saja ia tak tahan jika harus melihat banyak tulisan yang berhimpitan, meskipun itu salah satu hobinya.


 


Tok..tok..


 


“masuk.” Bibir merah jambu berkat polesan lipbalm itu pun bergerak mengeluarkan suara.


 


“permisi dok, ada yang mencari anda.” Ucap seorang wanita sembari membuka pintu, yang tak lain adalah seorang


asisten dokter.


 


“siapa Lisa?” tanya wanita itu tanpa melepaskan pandangan dari buku yang ada didepannya.


 


“aku.” Leo yang muncul dari balik pintu itu.


 


“ah, kau. Ada apa?” tanya wanita itu yang hanya sejenak melihat wajah pria tampan itu.


 


“ayo kita mengobrol diluar.”


 


“masuklah jika kau hanya ingin menggodaku.” Ucap wanita itu sembari menyandarkan punggungnya di kursinya.


 


“ayolah, Eliza.” Pinta Leo.


 


“masuk.”


 


“Liza?!”


 


“iya Tuan.” Wanita yang ada di ujung pintu itu menyahut panggilan Leo yang membuat pria itu terheran, sedangkan Eliza hanya tertawa geli dikursinya.


 


“aku memanggil Liza, bukan Lisa.” Jawab Leo nampak dingin.


 


“oh maaf, tuan. Aku salah dengar.” Jawab wanita itu gugup.


 


“oh ya, Lisa. Bisakah kau ke laboratorium? Dan minta data hasil zat yang aku minta.” Ucap Eliza sembari melepaskan kacamatanya itu.


 


“zat apa dok?”


 


“mereka sudah tau.”


 


“baik dok. Saya permisi.”


 


Wanita itu pergi meninggalkan Leo yang masih berada di depan ruangan itu dengan pintu terbuka. Sedangkan Eliza


hanya duduk santai dan menyandar di kursinya.


 


“kau tak mau keluar juga?” tanya Leo yang heran dengan tingkah wanitanya itu.


 


“tidak. Aku nyaman disini. Jika ada yang dibicarakan masuklah keruanganku.” Jawab Eliza sekenanya.


 


“masuk?! Bagaimana mungkin?! Melangkah saja sepertinya sulit. Bahkan asistenmu saja tadi tidak masuk kedalam ruanganmu. Ayo keluar!”


 


“tidak. Masuk atau pergi!” bentak Eliza.


 


“jika kau pergi jangan lupa tutup pintunya.” Ucap Eliza tanpa menghiraukan Leo yang sudah masuk kedalam dan


menutup pintunya.

__ADS_1


 


“jika bukan karena ini ruanganmu aku tak akan masuk kesini.” Ucap Leo sembari menyingkirkan buku dengan kakinya untuk membuka jalan.


 


“hei! Jangan kasar dengan buku kesayanganku!” tegur Eliza.


 


“buku kesayangan? Kenapa berserakan disini? Tidak dibawa kerumah?”


 


“tidak. Ribet.”


 


“apartemen?” tanya Leo sembari terus berjalan mendekati Eliza.


 


“bagaimana jika aku pindah?” pertanyaan Eliza berhenti saat matanya menangkap mata pria yang kini sudah ada


didepannya.


 


“apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Eliza sembari menatap lekat mata pria itu.


 


“tidak ada. Aku hanya bosan. Aku ingin bertemu denganmu.” Ucap Leo dengan suara halusnya sembari menyentuh dagu Eliza.


 


“oh benarkah. Hanya ingin melihatku atau…” nada Eliza sedikit menggoda namun terhenti karena mengingat


tadi saat ia berbicara dengan ayahnya.


 


‘ah, apa yang aku katakan. Barusan aku meminta maaf pada ayah. Ah, sudahlah. Maafkan aku Yah.’ Batin Eliza


yang memikirkan obrolannya dengan ayahnya tadi.


 


“atau apa? Hmmm” pancing Leo.


 


“aku hari ini memakai rok. Mungkin mudah bagimu melakukannya.” Lanjut Eliza yang benar-benar menggoda.


 


‘maafkan aku ayah!!!’ seru Eliza dalam batinnya yang sungguh tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


 


cukup rapi itu.


 


“aku heran sayang, kenapa mejamu rapi tapi ruanganmu berantakan?”


 


“karena tak mungkin kita melakukannya dilantai bukan?” goda Eliza, yang membuat Leo tak mampu menahan


nafsunya lagi.


 


Dengan cepat Leo melahap bibir Eliza dengan ganas. Tangan Eliza bergelayut manja dileher Leo sembari membalas ciuman panas itu yang semakin menjadi-jadi. Bahkan Eliza sengaja membuka mulutnya agar dengan leluasa Leo menikmatinya semakin dalam.


 


Tangan Leo yang mahir juga tak kalah cepat. Dalam hitungan detik tangannya mampu menaikkan rok yang dipakai


Eliza dan menurunkan stockingnya. Dan dengan mahirnya, jemarinya masuk kedalam kain yang menutupi milik Eliza.


 


“ahhh… Leo.. jangan..hhh” suara Eliza yang lembut itu terdengar di telinga Leo.


 


“kenapa sayang? Aku suka.”


 


Terlampau cepat Leo melakukannya, namun terlalu lembut dan pelan. Pelan, karena sebelumnya Leo tak pernah


melakukan ini terlebih dahulu.


 


“hhh…Leo… jangan…aku..hhh”


 


“hm? Kenapa? Kau yang memulainya menggodaku.”


 


“ta…tapi..hhh…tidak begini…ak…aku..hhh..tidak tahan..hhh”


 


Eliza menggeleng kencang berusaha menahan suara yang akan keluar dari mulutnya.

__ADS_1


 


“kenapa? Kenapa kau perlu tahan. Keluarkan.” Ucap Leo.


 


Kini tangan kanan Leo dengan sigap melepas satu persatu kancing kemeja Eliza. Setelah itupun tak lama tangannya memainkan gundukan kenyal milik Eliza disana.


 


“ahhh.. Leo… kenapa kau seperti ini…aku..hhh…bisa gila..”


 


Leo membuat tanda kepemilikannya di leher jenjang Eliza. Perlahan turun hingga bibirnya menemui satu gundukan


lagi, dan segera menyantapnya.


 


Kegiatan itu mereka lakukan dengan perlahan. Leo yang sudah tak tahan mendengar suara Eliza, melepaskan jemarinya yang dibawah dan mendorong Eliza hingga terlentang diatas mejanya sendiri.


 


“kkau mau apa?” tanya Eliza bingung.


 


“melanjutkannya.” Ucap Leo dengan santainya sembari melepas kuciran rambut Eliza dan lanjut membuka gespernya.


 


“tunggu.” Cegah Eliza yang menahan tangan Leo melanjutkan aktivitasnya dan langsung kembali dalam posisi


duduk.


 


Perlahan dalam suasana hening, mereka berdua mendengar langkah kaki seorang wanita menuju ruangan itu. Dengan cepat mereka membereskan semua yang baru saja dilakukan.


 


“permisi dok.” Ucap wanita yang langsung membuka pintu ruangan itu dengan membawa kertas di tangannya.


 


Sedangkan kedua orang yang ada didalam, kini bertingkah seperti tidak ada yang terjadi. Kancing baju Eliza yang sudah dibenarkan semua kecuali kancing paling atas, alhasil mengekspos lehernya yang terdapat bekas kepemilikan yang dibuat Leo.


 


“maaf dok, apakah saya menganggu?” ucap wanita itu yang melihat Leo tengah duduk dikursi Eliza sembari memijat pelipisnya, dan Eliza yang berdiri menghadapnya di balik mejanya.


 


“tidak. Tentu saja tidak. Apa kau membawa datanya?” jawab Eliza tanpa menutupi apapun.


 


“iya. Ini dok.”


 


“Liza, bisakah kau duduk diatasku sekarang.” Ucap Leo tanpa ragu dan memperdulikan ada seseorang selain mereka berdua disana.


 


Eliza yang mendengar permintaan itu pun memutar bola matanya malas. Sedangkan wanita yang ada didepan Eliza tersipu malu, karena pada dasarnya dia sudah memiliki suami dan sedikit mengerti akan ucapan Leo tadi.


 


“jangan bercanda. Aku sedang serius.” Ucap Eliza pada Leo yang membuatnya mendengus kesal.


 


‘lagi-lagi tidak selesai.’ Batin Leo kesal.


 


“apa ada yang mereka katakan lagi?” tanya Eliza pada asistennya itu dan dijawab dengan gelengan kepalanya.


 


“permisi dok. Jika tidak ada yang diperlukan lagi.” Ucap wanita itu yang kemudian berlalu meninggalkan Eliza dan


Leo disana. Eliza mengerutkan dahinya melihat tingkah asistennya itu yang sudah pergi dari ruangannya.


 


“aneh.” Gumam Eliza sembari menggeleng pelan.


 


Seketika tangan Eliza ditarik oleh Leo yang membuat tubuhnya kini duduk di atas pangkuan Leo. Matanya terbelalak saat merasakan sesuatu yang keras dibawah sana.


 


“ayo lanjutkan.” Ucap Leo yang mendekat dikuping Eliza yang membuat geli.


 


“asal jangan mengotori ruanganku.” Jawab Eliza dingin.


 


“tidak akan.”


 


 


 

__ADS_1


***


__ADS_2