Poker Face

Poker Face
Part 17


__ADS_3

Nafas pria paruh baya yang tengah berbaring di salah satu ranjang rumah sakit itu nampak tersengal-sengal. Pria itu dibantu dengan alat bantu pernafasan, bahkan elektrokardiogram membantu aktivitas jantungnya diawasi.


 


Ruangan itu hening, hanya terdengar suara alat rekam jantung pria itu yang terus berbunyi. Dari kaca tembus pandang di pintu ruangan itulah, Eliza menatap tajam pria tua yang tengah terbaring dan tersiksa.


 


‘seberapa lama kau akan bertahan, hah?!’ batin Eliza menantang.


 


“bagaimana bisa ini terjadi?” tanya seorang pria paruh baya yang menggunakan jas dokternya, tak lain adalah ayahnya sendiri.


 


“entahlah Yah. Belum ada laporan apapun. Dr. Sarah terpaksa membersihkan racun di lambungnya yang ternyata cepat mengendap. Dan itu masih ada di lab, dan butuh waktu untuk kita tahu racun apa itu.” Jelas Eliza tanpa melepaskan pandangannya.


 


“kemarin aku dengar Leo ditangkap?” tanya pria itu sembari duduk di bangku panjang yang ada di depan ruangan itu.


 


“iya, tapi itu salah paham. Kemarin Leo menginap di apartemenku. Dan…” Eliza menatap ayahnya ragu, karena terlalu malu.


 


“iya ayah tahu. Luqman menceritakannya.” Eliza menghela nafas lega karena dia tak perlu lagi bercerita.


 


“maafkan aku Yah.” Ucap Eliza sembari duduk disamping ayahnya dan memeluknya.


 


“sudah, tidak ada yang perlu kau sesali. Kau juga anakku, aku berharap kau juga bahagia.”


 


“iya ayah, terima kasih.”


 


Suasana sendu menemani diri anak dan ayah itu.


 

__ADS_1


“permisi.” Suara seorang pria yang memecahkan keheningan anatara anak dan ayah itu.


 


“iya, ada yang bisa dibantu?” ucap pria paruh baya yang beranjak dari tempat duduknya dan berdiri menghadap kearah pria berbadan besar berpakaian rapi yang barusan menyapanya.


 


“maaf dok, saya kesini untuk mengantarkan pakaian dan makanan untuk Tn. Lauren.”


 


“maaf, atas perintah siapa ini?”


 


“ini perintah Ny. Lauren.”


 


“apa? Dimana dia sekarang?” tanya Eliza yang terheran kenapa seorang pelayan yang mengantarkannya bukan istrinya sendiri.


 


“Nyonya sedang berlibur di Singapura. Beliau akan pulang besok lusa.”


 


 


“maaf dokter, tapi ini perintah Nyonya.”


 


“bilang pada Ny. Lauren. Jika dia akan pulang besok lusa, maka dia akan menemui mayat suaminya!!” bentak Eliza yang kemudian berlalu meninggalkan ayahnya dan pria itu disana.


 


“maaf Tn. Dia anakku, memang begitu.”


 


“tidak apa-apa.” Ucap pria itu sembari tersenyum.


 


“tapi maaf  Tn. Mungkin yang dikatakan putriku benar. Dilihat dari gejala yang ada sepertinya Tn. Lauren tidak baik-baik saja.”

__ADS_1


 


“maksud dokter?” tanya pria itu dengan nada yang heran.


 


“beliau menunjukkan gejala dari racun yang memang berbahaya, dan lagi sepertinya penawar racun yang kami berikan tidak berguna di tubuhnya. Belum lagi setelah operasi Tn. Lauren juga belum sadarkan diri.” Jawab pria paruh baya yang memakai jas dokter itu dengan jelas.


 


“baiklah dok, saya akan menghubungi Ny. Lauren. Dan ini kartu nama saya.” Ucap pria itu sembari memberikan kartu namanya.


 


“kau asisten pribadinya?” tanya ayah Eliza itu sedikit terkejut.


 


“iya.”


 


“apa kau sudah pergi menemui pihak polisi?”


 


“untuk apa?”


 


“mungkin keteranganmu akan membantu mereka menyelidiki orang yang meracuni atasanmu itu.” Jelas pria paruh


baya itu.


 


“baiklah dok. Saya akan mengikuti saranmu. Saya permisi.” Pria itu pamit dengan sungkan sembari membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat. Begitu pun dokter Panji yang juga membalasnya dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.


“astaga, bagaimana bisa para pria bejat itu memiliki orang yang baik juga disekelilingnya.” Gumam pria paruh baya


itu sembari memperhatikan pria yang baru saja pergi dari hadapannya.


 


 


 

__ADS_1


***


__ADS_2