Poker Face

Poker Face
Part 31


__ADS_3

Bintang bersinar dan tersebar indah dilangit pada malam itu. Eliza menatap langit dibalik kaca besar sebuah restoran yang terkenal di Milan.


 


Saat ini Eliza berada di Milan. Sudah sepekan setelah upacara pemakaman Johan, Eliza dan Leo pergi ke Milan. Alasan Eliza adalah untuk menemui pamannya yang waktu itu tertunda 20 tahun lamannya, sedangkan Leo hanya berlibur.


 


Eliza kini duduk sendirian. Dengan gaun merah muda yang indah dan melekat cantik ditubuhnya, membuat beberapa pengunjung baik wanita atau pria terpesona akan penampilannya.


 


Mata Eliza tetap terfokus pada langit Milan dan daratannya yang penuh dengan lampu kota yang menyala. Sangat indah.


 


Leo datang menggunakan jasnya yang nampak pas dan rapi ditubuh Leo. Ia duduk dihadapan Eliza kini. Menatap lekat wanita yang ada dihadapannya meskipun mata mereka belum bertemu.


 


Tak butuh waktu yang lama. Mata dengan manik coklat keemasan itupun melepaskan pandangannya dan menatap manik pria yang ada di depannya.


 


‘tampan.’ Batin Eliza saat melihat pria yang ada di hadapannya.


 


Dalam beberapa menit mereka hanya terdiam saling bertukar pandangan, tak ada yang membuka bibir mereka.


 


“apa ada yang salah?” tanya Leo memastikan dan memecahkan keheningan.


 


“tidak. Tidak ada.” Jawab Eliza singkat sembari memberikan senyum diakhir kalimatnya.


 


Tak lama setelah mereka berdua memesan makanan, pelayan datang menghampiri meja itu membawa nampan berisi pesanan mereka.


 


Lagi-lagi hening. Tak ada yang membuka mulutnya. Kali ini adalah momen pertama mereka selama ini tanpa sepatah katapun.


 

__ADS_1


Eliza sedikit terheran dengan pria yang ada dihadapannya, tak biasanya Leo akan terdiam seperti ini. Sedangkan Leo, sedang bersusah payah mengatur detak jantungnya yang tak karuan.


 


“kenapa kita kesini?” tanya Eliza sembari melipat tangannya ketika makanan yang sudah ia santap habis.


 


“karena aku ingin menikmati liburanku.” Ucap Leo asal.


 


“cih, lalu kenapa aku harus ikut.” Gumam Eliza yang merasa tak puas dengan jawaban Leo barusan.


 


“tentu saja harus.”


 


“lalu kenapa harus memakai gaun?”


 


“karena kau terlihat lebih cantik dengan itu.”


 


 


“bagaimana mungkin. Kau selalu cantik dimataku. Hanya saja, kurang romantis kurasa.”


 


“apanya yang romantis.”


 


“bukankah kau ingin sebuah lamaran yang romantis?” perkataan Leo benar-benar membuat Eliza hanya terbengong ria.


 


Leo bangkit dari kursinya dan berjongkok di hadapan Eliza yang tengah terduduk dan dibuat terkejut dengan tingkah Leo.


 


“will you marry me?” ucap Leo sembari membuka kotak beludru yang berisikan cincin putih yang lengkap dengan

__ADS_1


berliannya yang indah.


 


“apa yang kau lakukan? Aku malu, terlalu banyak orang.” Bisik Eliza dengan pipinya yang merona.


 


“hah? Memang apa salahnya. Langit dibelakangmu indah bukan? Apa kurang romantis?” tanya Leo dengan berpura-pura tidak mendengar ucapan Eliza barusan sembari mengatur deak jantungnya yang lagi-lagi tak bisa diajak kompromi.


 


“terima nona.”


 


“ayo terima saja.”


 


Para pengunjung lain yang melihat itu bersorak agar Eliza menerima lamaran Leo. Bahkan tak ingin kalah pelayan di restoran itupun ikut menyoraki mereka. Tentu saja Eliza menerimanya, tapi ini terlalu banyak orang.


 


“bagaimana?” tanya Leo dengan senyumnya yang tak dapat lagi diartikan. Eliza hanya mampu menghela nafasnya


sembari menahan agar tak terlalu bahagia.


 


“Yes, I will.” Seketika seluruh pengunjung pun bersorak gembira dan bertepuk tangan mendengar jawaban Eliza.


 


Leo yang tak kalah bahagia juga memeluk tubuh Eliza sangat erat. Dan meletakkan cincin itu dijari lentik Eliza.


 


Langit Milan saat itu menjadi saksi bisu kebahagian mereka berdua.


 


 


 


 

__ADS_1


***


__ADS_2