Poker Face

Poker Face
Part 21


__ADS_3

“hmmm….hmmm…hm..hmm”


 


Perlahan mata Eliza terbuka. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali untuk memastikan kesadarannya kembali.


Kepalanya terasa pusing saat mendengar suara seorang pria yang bersenandung merdu di luar ruangan itu.


 


Tubuhnya ia paksa bangkit. Ia terbaring di sebuah ranjang dalam ruangan. ia melihat kondisinya yang kini masih terbalut lengkap dengan jas dokternya.


 


Krekk..


 


Pintu kamar itu terbuka. Muncullah sosok laki-laki muda yang cukup membuat mata Eliza membulat.


 


“apa kakak sudah bangun?” gumam laki-laki itu sembari masuk kedalam ruangan.


 


“Johan.” Suara paraunya terdengar oleh pria yang membawa semangkuk bubur diatas nampan oleh tangannya.


 


“ternyata kakakku sudah bangun?!!” serunya sembari tersenyum manis.


 


Johan berjalan mendekati Eliza yang kini tengah tercengang melihat laki-laki muda itu. Johan meletakkan buburnya di atas nakas.


 


Mata Eliza menatap lekat Johan. Dan Johan hanya memberikan senyuman indahnya pada wanita yang ia kagumi itu.


 


“ada apa kakak?” tanya Johan yang terus menerus tersenyum seperti orang bahagia. Sedangkan Eliza terus mengernyitkan dahinya seraya tak percaya akan situasi yang dia alami.


 


“kakak? Kau kenapa? Haus? Kepalamu sakit? Atau kau ingin sesuatu?” tanya Johan yang mulai panik dan khawatir.


 


Eliza menggeleng dengan lembut. “tidak aku tidak apa. Dimana aku?”


 


“ini kontrakanku kak.” Jawab Johan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


 


“kenapa aku ada disini?” tanya Eliza untuk memastikan.


 


“kau masuk ke ruangan pria tua itu sebelum aku keluar, jadi kakak ku bius dan ku bawa kemari. Maaf.” Jawab laki-laki itu dengan polosnya.


 


Terbesit tawa geli di hati Eliza melihat tingkah konyol laki-laki yang ada didepannya.


 


“seorang pembunuh kenapa masih ingin memberi makan sanderanya?” tanya Eliza dengan nada meledek.


 


“enak saja. kau bukan sandera ku tau!!” jawab Johan yang sedikit tegas, namun karena baby facenya malah membuat itu terasa lucu.


 


“kau ingin membunuhku?”


 


“mana mungkin! Aku bukan psikopat gila. Seperti ini juga aku memiliki seorang pacar loh.” Jawab Johan yang memamerkan dirinya sembari mendengus kesal.


 


“benarkah? Lalu kenapa kau membawaku kesini?” tanya Eliza yang kini berani menahan tawanya.


 


“aku bingung setelah membiusmu. Jadi ku bawa saja kesini. Hehehe.” Jawaban yang benar-benar lucu, membuat Eliza tak bisa menahan tawanya lagi.


 


“kenapa kakak tertawa?” tanya Johan bingung.


 


“kau lucu. Tapi benarkah kau yang membunuh para pria tua itu?” tanya Eliza tanpa ada rasa ragu.


 


“iya. Aku yang membunuh mereka semua. Tidak! Tidak semua. Huh, andai saja pria tua yang satu itu tidak ditangkap dulu.”


 


“Hendra Wijaya?”


 


“iya. Tapi sudahlah, biarkan dia mendekam dipenjara. Lagi pula sebentar lagi akan dihukum mati.” Jawab Johan


dengan santainya.


 


‘bukannya kau yang akan dihukum mati jika tertangkap?’ batin Eliza yang bertanya-tanya tentang tingkah aneh laki-laki yang umurnya sama dengan adiknya, Luqman.


 


“kenapa kau yakin sekali?” tanya Eliza pada laki-laki yang ada didepannya itu.


 


“dia akan diadili. Ngomong-ngomong, kakak tidak laparkah?” tanya Johan sembari memberikan semangkuk bubur yang ada di nakas. Tercium aroma sedap di hidung Eliza.


 


“pukul berapa sekarang?”


 


“hmm… 8 malam.” Jawab Johan setelah memastikan melalui jam tangannya.


 

__ADS_1


“bisakah aku membersihkan tubuhku dulu. Setelah itu aku akan makan.” Pinta Eliza pada laki-laki itu.


 


“tentu saja boleh.” Jawab Johan dengan santainya sembari memberikan senyumannya.


 


‘astaga, anak ini. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi seorang pembunuh?’ batin Eliza yang bertanya-tanya.


 


Butuh waktu beberapa menit Eliza membersihkan tubuhnya. Ia pun keluar setelah ia rasa tubuhnya kembali nyaman.


 


Eliza melihat seorang laki-laki seumuran adiknya tengah duduk menonton televisi. Laki-laki itu tersenyum bahagia saat melihat berita tentang orang yang baru saja ia bunuh.


 


“kau bahagia?” tanya Eliza sembari duduk di sofa kecil yang ada disamping sofa tempat laki-laki itu.


 


“tentu saja aku senang.”


 


“ngomong-ngomong, makanlah kak. Buburnya sudah hampir dingin.” Lanjut Johan dengan mata yang tak lepas dari


layar televisi.


 


“baiklah.” Jawab Eliza sembari melahap makanan yang tak bisa ia tolak.


 


Tanpa ragu ia menelannya. Ia tak khawatir sama sekali jika ada racun didalamnya. Bagaimana pun, kini hatinya terbuka setelah mengobrol beberapa kali dengan Johan.


 


“bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Eliza yang sudah kembali dari dapur setelah membereskan sisa makannya tadi.


 


“tentu saja kak.”


 


“apa aku boleh pergi?” tanya Eliza dengan polosnya.


 


“tentu saja. tapi setelah kak Leo juga datang.” Jawab Johan dengan memberikan senyum manisnya.


 


“kenapa?”


 


“aku ingin bertemu kalian berdua.”


 


“boleh aku bertanya lagi?” pertanyaan Eliza itu dibalas anggukan oleh Johan.


 


 


“hmmm… balas dendam.”


 


“untuk siapa?”


 


“itu… rahasia.” Jawab Johan sembari memberi isyarat jari telunjuknya di depan bibirnya dan mata sebelahnya


yang mengedip.


 


Eliza hanya tersenyum dengan jawaban itu.


 


‘tak apa kau tak beri tahu. Tapi kenapa kau bodoh ingin melakukannya?’ batin Eliza yang terus merasa iba pada


laki-laki itu.


 


“aku masih penasaran.” Gumam Eliza yang terdengar oleh laki-laki yang tengah asik dengan tontonan di layar


televisinya.


 


“apa? Apa yang membuatmu penasaran?”


 


“bagaimana kau melakukan ini semua?”


 


“apa aku perlu menjelaskannya?”


 


“apa kau sebelumnya pernah membunuh seseorang?” tanya Eliza tanpa ragu yang dibalas dengan gelengan dari


kepala laki-laki itu.


 


“tidak. Bahkan saat aku terfikir untuk membuat kasus pembunuhan itu seperti bunuh diri, malah gagal. Yasudah, ahirnya secara terang-terangan aku membunuhnya.” Jelasnya.


 


“kau tidak takut?”


 


“apa yang harus aku takutkan. Rasa benci tak membuta pemiliknya memiliki rasa takut.” Eliza terdiam mendengar


jawaban itu. Jawaban yang tegas dan dengan jelas bahwa dia benar-benar memiliki rasa benci yang mendalam.


 


“tapi, kenapa kau membenci mereka, Johan?”

__ADS_1


 


“kakak, akan tahu.” Ucap Johan sembari berdiri dari tempat duduknya. Namun, belum ia berdiri tegak, ia merasakan perutnya sakit.


 


“agh!” serunya yang kembali duduk dan memegang perutnya yang terluka.


 


“ada apa? Kau terluka?” tanya Eliza sembari mendekat dan melihat noda darah dibaju Johan.


 


“lepas bajumu sekarang!” perintah Eliza dengan tegas yang langsung dituruti oleh Johan.


 


Johan membuka baju yang ia kenakan sesuai perintah Eliza. Betapa terkejutnya Eliza melihat luka kecil seperti tusukan yang masih mengeluarkan darah segar.


 


“astaga! Apa yang kau lakukan, hah?!!” ucap Eliza yang mulai panik dan menutup luka itu agar pendarahannya


berhenti.


 


“luka ini aku dapat saat aku di jurang memastikan si tua Kevin itu mati. Aku malah tertusuk ranting disana.” Jelas Johan sembari menahan sakit.


 


“sakit?!” dengus Eliza yang sangat kesal pada orang yang terluka dan tidak memeperdulikannya.


 


“tentu saja. karena luka ini hari ini aku tidak bisa lari. Dan sekarang aku membawamu kerumahku.”


 


‘ah, karena itu kau lebih memilih membiusku dibanding harus lari.’ Batin Eliza yang menerawang.


 


“apa kau sudah ke klinik?” pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Eliza. Dengan jelas Eliza dapat melihat luka menganga itu, tapi dia masih saja bertanya.


 


“belum.” Wajah polos Johan membuat Eliza geram dan menjewer telinganya begitu saja.


 


“aaaakkhhh!! Ampun kak! Kenapa kau menjewerku?!!!” seru Johan meringis kesakitan saat telinganya ditarik keras


oleh Eliza.


 


“kau bodoh! Luka seperti ini kau biarkan. Bagaiman jika infeksi? Atau kau terus pendarahan? Kau ingin mati, hah?!” bentak Eliza yang malah membuat Johan tersenyum sendu.


 


“kenapa kau malah tersenyum?! Kau fikir lucu?!” Eliza yang terus marah-marah itu akhirnya terdiam saat tubuhnya dipeluk oleh tubuh laki-laki yang berbadan sedikit lebih besar dari yang ada didepannya.


 


“apa yang kau lakukan?” tanya Eliza yang heran dengan tingkah Johan.


 


“terima kasih kak, karena kau mengakhawatirkanku.”


 


Pundak Eliza seperti basah. Tidak. Bukan seperti lagi, tapi memang. Bahu Johan bergetar. Dia menangis. Tanga Eliza mengusap lembut kepala Johan yang masih memeluknya.


 


“sudahlah.” Ucap Eliza yang terus mengusap kepala Johan.


 


“terima kasih kak.” Jawab Johan yang melepaskan pelukannya dan mengusapa air matanya yang jelas terjatuh.


 


Seketika mata Eliza membulat saat melihat beberapa luka yang ada di tubuh Johan.


 


“ada apa dengan luka-luka ini?” tanya Eliza dengan mata yang tak lepas dari badan yang penuh luka itu.


 


“ah, ini luka yang aku dapatkan selama ini. Saat aku di panti asuhan aku sering dibully dan akhirnya mendapatkan luka ini.” Jelasnya pada Eliza yang terus terdiam.


 


“kak, bolehkah aku meminta satu permintaan?” tanya Johan dengan tatapannya yang sayu.


 


“katakan.”


 


“bisakah aku menjadi adikmu? Atau dirimu menganggapku adik saja, aku sudah senang.” Pinta Johan yang membuat hati Eliza bergetar melihat anak yang pikirannya seperti anak polos.


 


“tentu saja. aku akan mengingatmu sebagai adikku” jawab Eliza sembari tersenyum dan mencubit pipi adik barunya


itu. Adik yang berumur 20 tahunan, dan seorang pembunuh.


 


“janji?” tanya Johan seperti anak kecil dan dibalas dengan anggukan kepala Eliza.


 


Sejenak Johan merasakan kebahagian dihatinya, saat ada seseorang yang menganggapnya sebagai keluarga. Hanya saja, suara dibalik pintu itu, seperti memabangunkan mimpinya.


 


Dok…dok…dok…


 


“JOHAN!! JOHAN VINCENT!! BUKA PINTUNYA!!!”


 


 


***

__ADS_1


__ADS_2