
“Liza sayang… kau sudah menyiapkan barang yang ingin kau bawa?” tanya seorang wanita yang memasuki kamar putrinya.
“ibu….aku bingung. Ingin membawa Tn. Beruang atau Tn. Gajah.”serunya sembari memegang dua boneka yang berbeda di kedua tangannya.
Di kamar merah muda itu terlihat seorang gadis kecil yang sedang merengek karena bingung akan memilih salah satu bonekanya. Sang ibu hanya tersenyum sembari mengelus lembut kepala anaknya itu.
Sedangkan dibalik pintu bercat putih itu seorang pria bersama para pelayan rumah disana hanya terkekeh melihat
tingkah lucu dari anak majikannya itu.
“ah, sayang. Bagaimana kalau kita meminta pendapat paman Tommy?” ucap sang ibu seperti menunjukkan adanya lampu menyala diatas kepalanya.
Pria yang sedari tadi terkekeh seketika berhenti dengan wajah pucat saat namanya disebut. Perlahan langkahnya
mundur, karena tak ingin direpotkan dengan anak atasannya itu.
“hei, Tommy kau ingin pergi kemana?!” tegur wanita yang melirik kearah luar ruangan itu.
Suara wanita itu seketika berubah menjadi sangat tegas tidak seperti saat memanja putrinya. Pria yang awalnya
ingin kaburpun mengurungkan niatnya, dan dengan pasrah masuk kedalam kamar bernuansa merah muda itu.
“paman Tommy… aku harus memilih yang mana…hiks..” ucap gadis kecil itu dengan menahan ingusnya yang ingin
keluar.
“ah, baiklah tuan putri. Sepertinya anda sangat menyukai warna merah muda. Kenapa anda tidak membawa Tn.
Beruang yang berwarna merah muda ini saja?” ucap sang asisten itu dengan senyum hangatnya.
“tap..tapi, Tn. Gajah juga sangat imut.. aku tidak bisa meninggalkannya sendirian.”
“hmm, baiklah. Sepertinya koper anda masih bisa menampung 2 boneka lagi. Jadi..”
“jadi?”
“anda bisa membawa keduanya.” Jawab pria itu sembari menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Sedangkan orang
yang medengar jawabannya hanya tersenyum saat sang tuan putri mereka juga sudah tersenyum.
“benarkah?! Wah, terima kasih paman!!” seru gadis kecil yang langsung memeluk Tommy.
Tenyata sudah beberapa menit lalu. Sang ayah sudah mengintip putrinya yang lucu itu di balik pintu bersama
pelayan yang lain.
“tu..tuan?!” ucap seorang pelayan pria separuh baya yang gugup saat menyadari keberadaan majikannya berdiri di
dekatnya sembari tersenyum menawan.
Tak salah senyum menawan dari seorang tuan rumah itu membuat para pelayan wanita pun terkesima dengan wajah tampannya.
“suamiku, kau membuat para pelayan tak lepas memandangimu.” Ucap sang istri yang juga baru menyadari suaminya ada di luar kamar anak mereka.
“hahaha, benarkah?” tanya pria itu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“ayah!!!!!!” seru sang gadis kecil yang kemudian berlari kearah ayahnya sembari membawa boneka beruangnya.
Bukk..
“aduh..” gumam sang ayah sembari mengelus hidungnya yang ditabrak oleh boneka beruang putrinya saat bersiap
menangkap tubuh mungil putrinya.
“ayah? Apa ayah tidak apa-apa?” tanya anak itu khawatir.
“ayah tidak apa-apa sayang..”
“huh, Tn. Beruang nakal. Aku tak jadi membawanya.” Seru gadis kecil itu yang kemudian melepaskan beoneka
beruangnya.
“hei, hei, putri ayah kenapa berkata seperti itu. Paman Tommy kan sudah memberitahumu boleh membawa Tn. Beruang dan Tn. Gajah bersamamu.” Ucap ayahnya semabari mengelus lembut kepala anaknnya itu.
“tidak mau! Dia jahat pada ayah. Aku hanya akan membawa Tn. Gajah. Wleekkk.” Seru gadis kecil itu yang dengan polosnya menjulurkan lidahnya seraya meledek sang boneka beruang yang tergeletak dilantai.
__ADS_1
Pria itu pun mengambil boneka beruang yang paling disukai anaknya itu. Ia pun melakukan tindakan yang membuat orang yang melihatnya heran dan terbengong ria.
“lihatlah, Tn. Beruang sudah meminta maaf dan ayah juga sudah baikan.” Ucap pria itu yang melakukan salaman
pada boneka itu dan tersenyum pada putrinya.
“benarkah?”
“iya, sekarang kau tak perlu memarahinya lagi. Sepertinya Tn. Beruang juga sangat ingin ikut bersama tuan putri dan sahabatnya Tn. Gajah.”
“baiklah, kalau begitu aku akan membawanya.” Ucap gadis kecil yang kembali memeluk boneka beruang merah muda kesayangnnya itu.
“terima kasih ayah!! Liza sayang ayah!” seru gadis kecil itu sembari memeluk ayahnya hangat.
“tentu saja. ayah juga sayang Liza.” Ucap ayahnya yang juga membalas pelukan putrinya itu.
Dalam suasana yang tampak bahagia itu, terselip rasa sendu yang membuat sang ibu menangis. Dan orang-orang yang melihatnya juga seperti kalimat perpisahan.
“baiklah. Sekarang Liza perlu menyiapkan barang lainnya bersama ibu. Ayah akan mengobrol dengan paman Tommy.” Ucap ayahnya yang mengelus lembut kepala putrinya dan beranjak pergi.
“baiklah.” Seru putrinya yang langsung berlari kearah pelukan ibunya yang sedari tadi ada di depan pintu
kamarnya.
Sedangkan di ruang kerja Tn. Romano…
“Tommy, kau membawa berkas yang ada di mansion kan?”
“iya tuan. Tapi maaf tuan apakah saya boleh bertanya?”
“katakan.”
“jarang sekali, bahkan sepertinya anda tidak pernah membawa berkas sepenting itu kerumah. Ada yang bisa saya
bantu?” tanya asisten itu sangat khawatir.
Ting..
Notifikasi yang teramat keras berbunyi dari ponsel pria yang tengah berdiri di belakang atasannya itu. Dengan sigap ia melihat layar ponselnya yang menyala.
“maaf tuan.”
“ada apa?”
“Tn. Alvano ingin melakukan panggilan video dengan anda.”
“hmm.. lakukan.” Jawab pria itu yang langsung duduk di kursi kerjanya.
Sang asisten dengan sigap menyalakan layar laptop yang akan digunakan atasannya itu untuk melakukan panggilan video.
“halo Richard…” sapa seseorang dari balik layar itu yang sangat jelas sembari mengangkat gelas winenya.
“halo Lucas.” Jawab pria itu dengan dinginnya.
“hei, dingin sekali dirimu. Hangatkanlah dengan segelas wine. Dan kita akan bersulang dari kejauhan.” Ucap orang itu dengan santai.
“jangan bercanda. Aku sudah berhenti minum. Dan pula untuk apa kita bersulang?”
“bukankah kau akan pergi berlibur. Setidaknya aku akan mengucap salam perpisahan.”
Pria itu menghela nafas berat sembari menahan sesak didada saat berbicara dengan orang yang ada di layar
laptopnya saat ini.
“sudahlah, lagipula aku hanya akan pergi beberapa bulan. Bukan selamanya.”
“benarkah?” tanya pria diseberang sana itu dengan senyum sinisnya yang penuh arti.
__ADS_1
“sudahlah.” Ucap pria ini yang sudah siap mengakhiri panggilan itu.
“hei tunggu dulu. Kalau begitu bisakah aku datang kerumahmu untuk mengucapakan salam perpisahan?”
“terserah.” Tanpa ragu-ragu lagi. Itu adalah kata terakhirnya di panggilan itu.
“tuan?” tegur asisten yang sedari tadi mendengarkan obrolan itu dengan tatapan yang sayu pada atasannya.
“ada apa? Sudahlah aku kan kemarin sudah bilang padamu, ini adalah takdir yang kubuat sendiri.”
Asisten itu hanya terdiam memandang bayang kakinya saat mendengar apa yang baru saja diucapkan atasannya
itu.
“kau bisa pulang Tommy. Jangan lupakan pesanku. Aku akan menguhubungi seseorang? Kau keluarlah.” Ucap pria itu dingin pada asistennya.
“baik tuan. Saya permisi.”
Asisten itu keluar meniggalkan atasannya didalam ruang kerja itu sendirian, dan bersiap menelfon seseorang. Namun, langkahnya tak berlanjut. Tubuhnya ia sandarkan di pintu coklat itu dan mendengar perbincangan atasannya itu bersama orang dibalik telfonnya.
“halo bro, whats up?”
“….”
“mungkin aku tidak bisa kesana lagi mulai saat ini.”
“….”
“entahlah, aku minta padamu untuk mengganti pemegang saham menjadi namamu mungkin.”
“…..”
“perusahan itu milik kakek. Kenapa kau tidak mau?”
“….”
“kau gila putriku masih anak-anak.”
“….”
“baiklah terserah pada dirimu. Kalau begitu kau akan kerepotan sekitar 20 tahun kedepan lagi pada perusahanku.”
“….”
“hahaha, itu terserah padamu. Maafkan aku.”
“….”
“maafkan aku yang selalu merepotkanmu. Dan mungkin kita tak akan bertemu lagi.”
“….”
“aku tidak bercanda. Kalau begitu sampai jumpa.”
“…”
Pria dibalik pintu itu meneteskan air matanya saat tahu dadanya semakin sesak setelah mendengar kata-kata yang
keluar dari atasannya itu.
“anda akan pergi tuan?”
***
__ADS_1