
Sudah sepekan Leo dan Eliza pulang dari bulan madu mereka. Dan dalam kurun waktu itu ada sesuatu yang berubah dari sikap Leo pada Eliza.
Ketika Leo merasa lelah setelah pulang dari tempatnya bekerja dia akan kesal dan tidur dengan cepat. Seperti dua hari setelah kepulangan mereka dari Amerika. Leo bahkan tidak pulang kerumah karena Eliza mengeluh bahwa Leo selalu pergi untuk sidang.
“sayang, hari ini pulang jam berapa?” tanya Eliza yang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
“hm, entahlah. hari ini sibuk.” Jawab Loe dengan mata yang fokus pada Koran yang ada di hadapannya.
“sayang, kamu kok aneh sih. Masih baca Koran segala.” Ucap Eliza yang melihat heran Leo yang setiap pagi pasti membaca Koran.
“memangnya kenapa? Ada masalah?” tanya Leo dengan ketus.
Eliza semakin heran dengan Leo. Selama ini, suaminya itu tak pernah menjawab pertanyaannya dengan ketus. Sekalipun Leo sedang kesal ia akan menjawab semua pertanyaan Eliza dengan lembut. Tapi saat beberapa hari terakhir sikap Leo sangat dingin pada Eliza sama seperti yang lainnya.
“bisa tidak kau pulang lebih awal?” tanya Eliza yang membuat Leo sedikit geram.
“kenapa sih, kau selalu berbicara? Kau menggangguku!” seru Leo yang akhirnya beranjak pergi dari meja makan dan menyalakan mobilnya serta pergi entah kemana.
Eliza yang tak percaya pada apa yang terjadi barusan, hanya terdiam. Dan tanpa seizing darinya, air matanya pun
membasahi pipinya.
Wanita itu pun mengakhiri kegiatannya pada pagi hari itu dan memutuskan pergi ke rumah sakit untuk bekerja agar, melupakan yang terjadi.
Sedangkan Leo yang kini telah sampai di ruangannya merasa menyesal karena meninggalkan Eliza sendirian dirumah. Ia bahkan heran dengan dirinya, kenapa emosinya berubah-ubah.
Ia pun tak ingin memikirkannya lagi. Leo mengambil setumpuk kasus yang ada dimejanya. Ia pun hanya membaca dan membolak-balik kertas tanpa mengerti apa yang ia baca.
“agh! Sial!” geram Leo yang seketika pun pergi meninggalkan ruangannya.
Clara yang bingung dengan tingkah Leo pun meraih ponsel yang ada disisi mejanya.
Kring…
Eliza merogoh kantong jasnya saat ponselnya berbunyi.
“halo, ada apa Clara?” ucap Eliza pada wanita yang ada dibalik ponselnya.
“maaf Dok. Saya ingin bertanya?”
“ada apa?”
“apa terjadi sesuatu?”
“kenapa?”
“sepertinya pak Leo sedang dalam kondisi yang kurang baik.”
__ADS_1
“apa dia sakit? Tidak enak badan?” tanya Eliza yang panik.
“saya tidak tahu dok. Beliau keluar begitu saja, padahal beliau baru saja sampai.” Jelas Clara.
“baiklah, terima kasih atas infonya.”
“iya dok.”
Panggilan itupun segera berakhir. Eliza yang sedari tadi berada di ruangan dr. Sarah untuk merajuk dengannya itupun hanya menatap layar ponselnya.
“ada apa denganmu sekarang?” tanya Sarah yang hanya terheran melihat Eliza terdiam.
“kau barusan menangis dan merajuk. Kenapa sekarang terdiam?” tanya Sarah sekali lagi sambil menutup laporan pasien yang sedari tadi dibacanya.
Saat Eliza berangkat ke rumah sakit. Dia tidak masuk kedalam ruangannya, tapi dia langsung menemui Sarah. Wanita yang seumuran dengan Leo dan masih melajang.
Sarah adalah salah satu orang terdektanya di tempat kerjanya itu, selain ayahnya dan asistennya sendiri. Setiap kali Eliza ingin bercerita dan mencurahkan isi hatinya, dia berlari kearah Sarah.
Eliza sudah menganggap bahwa Sarah adalah kakaknya selain sebagai rekan kerjanya. Dia termasuk seorang yang baik, meskipun penyakitnya sebagai psikopat terkadang kambuh.
Beberapa bulan terakhir ini Eliza terus menerus menemui Sarah sekedar meminta nasehat dan masukan mengenai
kondisinya yang sampai waktu itu belum mengandung.
“hiks…hikss….” Eliza lagi-lagi mengeluarkan air matanya.
Sarah hanya menghela nafas beratnya dan mengusap wajah tanpa make-up nya itu sedikit frustasi.
“hei, sudahlah. Hentikan.” Ucap Sarah yang membuat Eliza semakin keras menangis.
“oh, ayolah. Aku bosan mendengarmu menangis.” Ucap Sarah yang mulai frustasi.
“lalu aku harus bagaimana, hah?! Hiks..hikss…” seru Eliza yang juga geram dengan dirinya sendiri yang selalu menangis saat hatinya sedikit terluka. Padahal sebelumnya jika dia merasa tak enak hati, ia hanya cukup bekerja dan melupakannya.
Akhir-akhir ini tak hanya sikap Leo saja yang berubah. Bahkan Eliza juga nampak lebih manja, hanya saja ia tak
berani memanjakan dirinya pada Leo yang sudah bersikap dingin padanya. Eliza juga lebih sering menangis dan tidak seperti biasanya.
“katakan apa yang terjadi?” tanya Sarah dengan nada dinginnya seperti biasa namun penuh perhatian.
“Leo… Leo… dia bersikap dingin padaku? Setiap aku berbicara padanya, ia pasti tidak akan berkomtar banyak. Saat aku bertanya juga, dia hanya menjawab singkat. Dan saat aku sedikit menyinggungnya, dia langsung marah dan meninggalkanku pergi. Apa ada yang salah? Apa jangan-jangan dia tidak mencintaiku lagi? Hiks hiks….hikss….” jelas Eliza yang disusul dengan tangisan yang semakin keras.
“kau sedih?” tanya Sarah sembari mendekati Eliza yang duduk di sofa ruangannya.
“tentu saja. kau bodoh, hah?! Bagaimana aku tidak sedih. Yang bersikap dingin itu adalah suamiku!” jawab Eliza yang sedikit menaikkan nada suaranya sembari terus mengalirkan matanya.
__ADS_1
“ah sudah lah. Aku pergi!!” bentak Eliza yang kini mulai esala dengan situasinya. Sarah hanya mengehela nafas berat melihat tingkah kekanakan Eliza.
Eliza sampai dirumah pukul 4 sore. Saat pergi dari ruangan Sarah, dia tidak pergi pulang kerumah. Eliza menenangkan dirinya dengan pergi berjalan-jalan mengelilingi kota.
Saat Eliza memakirkan mobilnya di garasi, ia melihat mobil Leo juga ada disana. Seketika senyum di bibir Eliza merekah. Ia memasuki rumah yang pintunya tak terkunci itu.
“kau sudah pulang?” tanya Eliza saat memasuki rumah dan melihat Leo tengah duduk di ruang tamu sembari membaca bukunya.
Leo tak bersuara sama sekali. Eliza hanya berjalan mendekatinya, ia duduk disamping suaminya. Sedangkan Leo masih terus melihat fokus bukunya.
“ada apa denganmu?” tanya Eliza dengan nada lembut sembari menyandarkan kepalanya dibahu Leo.
“kau darimana?” tanya Leo dengan nada dingin tanpa melepaskan tatapannya dari buku yang ia baca.
“aku? Aku dari rumah sakit.”
“untuk apa?”
“untuk apa lagi kalau bukan bekerja.”
“kerja, kerja, kerja.. haruskah kau pergi bekerja?! Bukankah kau hanya seorang ahli otopsi?! Jika tidak ada sebuah kasus, kau tidak perlu pergi bekerja bukan?!” ucap Leo yang sedikit membentak membuat Eliza sedikit menjauh dari tubuh Leo.
Leo kini mulai geram. Ia melempar bukunya hingga mengenai vas yang ada di meja. Suara pecahan vas itu pun membuat Eliza terkejut kaget dan ditambah dengan wajah Leo yang merah karena marah.
“ke..kenapa kau marah?” tanya Eliza perlahan karena takut membuat Leo semakin marah.
“kenapa aku marah?! Aku marah karena kau setiap hari harus keluar. Setiap kali aku tanya, kau jawab ‘bekerja, bekerja’ terus saja kau bekerja. Apakah tak ada kegiatan lain?!” bentak Leo yang semakin menajadi.
“tapi kan memang begitu. Aku harus datang ke rumah sakit, karena aku merangkap sebagai asisten dokter bedah. Asisten dr. Sarah. Aku tak berbohong padamu. Suatu saat bisa saja dia membutuhkanku, jadi aku harus ada disana.” Jelas Eliza yang masih mempertahankan nadanya yang pelan.
“kalau begitu, sana pergi!! Bekerjalah dengan sesuka hati!” bentak Leo sembari mengusir Eliza dengan sedikit kasar. Eliza yang akhirnya sudah tak tahan pun mengeluarkan air matanya.
“kenapa kau mengusirku? Maafkan aku..” ucap Eliza lirih sembari berusaha memeluk Leo yang terus mendorongnya.
“pergi!!!” bentak Leo yang membuat Eliza tak lagi sanggup menahan dirinya disana.
Eliza melangkahkan kakinya keluar di sore hari. Tanpa membawa kendaraannya. Ia juga berlalu begitu saja meninggalkan semua barang-barangnya dirumah.
Sedangkan Leo, setelah Eliza pergi, ia hanya menatap kedua telapakannya sembari duduk dan menunduk di sofa
ruang tamu.
“apa yang barusan aku lakukan?”
***
__ADS_1