Poker Face

Poker Face
Part 36


__ADS_3

Kring…


 


“halo kak?” sapa seorang pria dari seberang telefon.


 


“kau ada dimana Luqman?” tanya Leo yang berada di depan pintu rumah keluarga Siregar.


 


“aku ada di luar kota. Ada penyidikan mengenai kasus pembunuhan minggu lalu. Ada apa?”


 


“dimana paman Panji?”


 


“ayah sedang mengikuti seminar selama 4 hari jadi tidak akan pulang hingga lusa.”


 


“bailah.”


 


“ada apa? Terjadi sesuatu?”


 


“tidak. Aku hanya ingin berkunjung tapi rumah sepertinya kosong, jadi aku menelfonmu.” Jawab Leo sembari menutupi kekhawatiran dan alasan sebenarnya.


 


“baiklah kalau begitu. Aku tutup.”


 


Panggilan itu berakhir. Leo menghela nafas berat dan mengusap wajahnya kasar.  Ia menyesal karena sikapnya yang berubah menjadi temperamental akhir-akhir ini. Dan setiap kali ia meluapkan emosinya pasti yang menjadi korban adalah Eliza.


 


Dan hari ini ia benar-benar menyesal. Arloji di pergelangan tangannya menunjuk pukul 8. Bulan pun telah muncul. Ia sesekali mengumpat dirinya sendiri yang begitu saja mengusir Eliza.


 


Percuma Leo menelfon berkali-kali karena ponsel Eliza pun tidak dibawa. Bahkan istrinya itu pergi tanpa membawa


kendaraan.


 


“dimana kamu sayang? Maafkan aku…” gumam Leo yang sungguh menyesal.


 


Ia melajukan mobilnya secara perlahan sembari melihat kea rah jalan yang mungkin saja dilewati oleh Eliza.


Bahkan ia pun tak segan datang ke caffe atau restoran beberapa jam sebelumnya, dan betapa bodohnya dia, padahal Eliza saja tidak membawa apapun.


 


“astaga sayang. Dimana aku bisa menemuimu?”


 


Leo hampir frustasi dibuatnya. Ia bingung dan tak tahu harus mencarinya kemana lagi. Leo pun berinisiatif memanggil kontak yang ada di ponsel Eliza.


 


“halo El? Ada apa?” sapa seorang wanita dibalik ponsel itu.


 


“halo, apakah ini dr. Sarah?” ucap Leo memastikan seseorang yang bicara dengannya sama dengan nama yang


tertara.


 


“iya. Apakah ini Tn. Chandra?”


 


“iya. Ini saya. Apakah Eliza ada bersamamu?”


 


“maaf tuan jika Eliza bersamaku mungkin aku tidak akan menjawab panggilan ini. Carilah dia sendiri. Bicaralah


baik-baik dengannya.”


 


“aku juga akan melakukannya. Hanya saja aku tidak tahu dia ada dimana?!” seru Leo yang sudah benar-benar


frustasi.


 


“aku juga tidak tahu tuan. Tapi ku peringatkan kau. Jika terjadi sesuatu dengan Eliza akan ku buat kau menyusul

__ADS_1


kedua orangtuamu dan mertuamu.” Ucap wanita dibalik ponsel itu dengan tegas dan lugas setelah itu ia menutup panggilan itu sepihak.


 


Leo diam sejenak dan menghentikan mobilnya yang berada di tengah jalanan sepi. Ia melihat layar ponsel itu. Layar ponsel yang menunjukkan wajah bahagia Eliza dan dirinya saat resepsi pernikahan mereka.


 


“astaga! Apakah kau ada disana malam-malam begini?” sentak Leo yang langsung menginjak gasnya.


 


Ia menyusuri jalanan yang hampir sepi. Malam terus berjalan dan semakin malam. Leo menghentikan mobilnya di


perkiran pemakaman. Ia Leo menuju ke pemakaman.


 


Leo masuk kedalam barisan makam itu tanpa rasa takut. Hanya nyala lampu diponselnya dan bulan yang cukup terang dari langit yang menyinari jalannya. Ia menuju kearah pemakaman yang terakhir kali mereka berdua kunjungi.


 


Leo mendengar suara tangisan yang semakin mendekat. Ia sudah tak peduli lagi siapa yang menangis. Intinya dia


terus melangkah kearah tujuannya.


 


Saat ia sampai disana, ia melihat seorang wanita yang taka sing baginya. Wanita yang beberapa jam lalu keluar


dari rumahnya. Wanita itu sedang menangis sesenggukan, sendirian, sembari menenggelamkan wajahnya dilututnya dan terduduk lemas di antara nisan ayah dan ibunya.


 


“hiks…hiks…hiks…” Eliza terus menangis meskipun ia sadar ada seseorang yang kini berada di hadapannya, namun ia tak berani menoleh karena sadar dia ada dimana saat itu.


 


“sayang, ini aku. Maafkan aku ya.” Ucap Leo semabari berjongkok dan megelus lembut kepala Eliza.


 


Tangis Eliza semakin menjadi. Dalam fikiran Eliza saat ini adalah rasa bersalahnya yang membuat para penghuni


menyerupai suaminya yang ia rindukan saat ini.


 


“sayang, sudah jangan menangis lagi. Ini semua salahku. Tolonglah jangan menangis lagi.” Ucap Leo yang sudah


tak kuat mendengar tangisan Eliza dan kemudian ikut mengeluarkan air matanya sembari memeluk tubuh Eliza.


 


 


“sudah, ayo pulang. Aku tak ingin kau sedih lagi. Maafkan suamimu ini.” Ucap Leo yang berusaha tak menunjukkan kesedihannya dan menahan suarnya agar tak bergetar.


 


Eliza yang lama-kelamaan berfikir, muncullah ketakutan dalam dirinya. Apalagi saat Leo mengakatan ‘pulang’. Saat ini Eliza masih benar-benar berada di hayalannya bahwa Leo tidak akan mencarinya. Ia pun berusaha untuk melepaskan pelukannya itu. Namun hampir sia-sia, tenaga orang yang memeluknya cukup kuat.


 


“lepas!! Lepaskan aku!! Aku tak ingin pulang!! Lepaskan aku hantu!!” teriak Eliza yang memberontak dalam pelukan Leo.


 


Leo yang terkejut akan sikap Eliza pun hampir kebingungan ditengah pemakaman itu.


 


“sayang ini aku. Aku suamimu.” Ucap Leo yang membuat Eliza tenang dan mendongakkan wajahnya.


 


“suamiku?” ucap Eliza dengan lirih yang kemudian berani mendongakkan wajahnya.


 


Betapa terkejutnya melihat suaminya ada disana. Tubuhnya pun langsung menyambar tubuh pria yang ada didepannya. Ia memeluk erat tubuh Leo dengan posesif.


 


“kita pulang sekarang.” Ucap Leo yang kemudian hanya diangguki oleh Eliza.


 


Mereka pun sampai dirumah tanpa sepatah katapun. Eliza juga terus menerus memeluk tubuh Leo. Begitu juga dengan Leo yang memeluk Eliza dengan posesif seraya tak ingin Eliza pergi lagi.


 


Saat pagi datang, Leo terbangun dengan badan yang pegal karena posisi mereka tak berubah saling berpelukan. Matanya menangkap seorang wanita yang dengan wajah polosnya masih tertidur.


 


Leo bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Eliza yang biarkan tertidur di ranjang itu tak ada tanda-tanda ingin bangun.


 


Selepas Leo membersihkan tubuhnya. Ia berniat untuk membangunkan Eliza agar segera memebersihkan tubuhnya. Mengingat semalam Eliza terduduk di tengah pemakaman.


 

__ADS_1


“sayang, Liza sayang, bangun. Ini sudah pagi.” Ucap Leo sembari mengelus lembut kepala Eliza.


 


Leo sedikit terheran dengan wanita yang tengah tertidur itu. Ia mendengar suara nafasnya sedikit melemah. Bahkan tubuh Eliza tak bergerak sedikit pun, tidak seperti biasanya.


 


Setiap mereka berdua terbangun, Eliza pasti akan terbangun terlebih dahulu. Ataupun jika Leo yang terbangun


terlebih dahulu Eliza akan segera sadar saat tahu bahwa sisi ranjangnya kosong.


 


Tapi kali ini berbeda, berkali-kali Leo memanggil namanya, tubuhnya tak menunjukkan respon. Wajah Eliza juga memucat, bibirnya membiru, bahkan matanya terus tertutup.


 


“ah sial!”


 


Leo yang sudah panik pun, segera mengangkat tubuh Eliza dan membawanya menuju rumah sakit. Disana Leo hanya cemas melihat tubuh Eliza yang tak bergeming, meskipun tubuhnya mulai membaik saat cairan infuse masuk melalui aliran darahnya.


 


“apa yang terjadi?” tanya Sarah yang begitu saja mengikuti Leo yang menggendong Eliza saat dirinya baru


memasuki rumah sakit.


 


“bagaimana dengan keadaannya dok?” tanya Leo yang sangat khawatir.


 


“dia hanya kelelahan dan sepertinya juga kelaparan. Hm, tidak ada yang serius, hanya saja mungkin tuan harus menjaga dr. Eliza dengan lebih baik lagi. Usia kandungannya masih terlalu muda. Jangan terlalu membuatnya kelelahan ataupun stress berlebih.” Jelas dr. Andra yang baru saja merawat Eliza dan cukup membuat terkejut dua orang yang ada dihadapannya.


 


“apa?!” seru Leo dan Sarah yang terkejut membuat dr. Andra juga terkejut karena pekikan suara kedua orang itu.


Sedangkan Eliza pun mulai tersadar.


 


“ada apa?” tanya Eliza dengan suara parau yang mulai membuka matanya.


 


“tidak ada apa-apa sayang.” Ucap Leo sembari menyembunyikan kebahagiannya yang takut terlalu berlebihan dan


mengingat kondisi Eliza yang masih lemah.


 


“maaf tuan, bisakah kita berbicara sebentar di ruangan saya.” Ucap dr. Andra yang dijawab dengan anggukan Leo.


 


“aku akan menjaganya.” Ucap Sarah dengan tegas dan hanya diangguki oleh Loe yang sedikit lega melihat istrinya


telah sadar.


 


“aku pergi dulu ya.” Ucap Leo dengan nada lembut yang dirindukan Eliza.


 


Leo pergi mengikuti dr. Andra menuju kedalam ruangannya. Sedangkan Eliza sedang bertanya-tanya pada dirinya


sendiri saat dia tahu bahwa dirinya sedang berada di UGD.


 


“kenapa aku ada disini?” tanya Eliza terheran.


 


“kau pingsan. Bahkan sangat mengerikan. Aliran darahmu bahkan tak lancar.” Jelas Sarah sembari duduk di sebelah ranjang Eliza dan mengembangkan senyum bahagianya mengingat perkataan dr. Andra barusan.


 


“kenapa kau bahagia melihatku sakit, hah?” ucap Eliza yang merasa risih karena senyuman Sarah.


 


“bagaimana aku tak bahagia. Adikku yang satu ini sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.” Ucap Sarah yang baru kali ini ia merasa bahagia.


 


“jangan bercanda. Apa yang kau katakan?”


 


“kau hamil El.”


 


 


 

__ADS_1


***


__ADS_2