
8 bulan telah berlalu, kini perut Eliza sudah benar-benar membuncit. Bahkan tak urung terkadang membuat Eliza meringis kesakitan saat bergerak, karena harus membawa tiga badan sekaligus.
Bagaimana tidak, selain membawa tubuhnya yang kini sedikit berisi harus ditambah pula dengan dua calon buah
hatinya yang ada diperutnya.
Selama menunggu berbulan-bulan itu, banyak kejadian yang membuat Eliza lupa bahwa dirinya sedang mengandung. Seperti halnya kelahiran anak Clara, membantu operasi cangkok hati, mengotpsi korban kecelakaan dan pembunuhan, melayat adik sahabatnya, bahkan Eliza hampir keguguran karena terjatuh dari tangga saat usia kehamilannya 5 bulan.
Tentu saja, itu semua membuat Leo gila. Ia hampir saja ingin mengikuti kemana pun Eliza pergi. Namun, istrinya
sendiri lah yang melarangnya.
“awhh, lucu sekali Reyhan” ucap Eliza yang sembari menggendong anak kecil berusia 6 bulan, yang tak lain adalah
anak Clara.
Selama beberapa minggu terakhir, Eliza jadi semakin sering mengunjungi rumah Clara hanya demi melihat Reyhan.
Itupun harus ditemani oleh Leo, karena suaminya itu takut sesuatu terjadi pada istrinya.
“sepertinya dr. Eliza sangat menyukai Reyhan.” Ucap Clara sembari tersenyum di pantry yang sedang mengaduk
dua gelas kopi dan satu gelas susu.
“aku tak hanya menyukainya, aku juga mencintainya.” Ucap Eliza sembari mencium berkali-kali pipi tembam milik
anak Johan itu.
Leo hanya mengeleng-geleng sembari terkekeh geli melihat tingkah istrinya yang sangat lucu menggendung seorang anak kecil padahal perutnya saja sedang mengisi.
“ngomong-ngomong, kapan dr. Eliza akan melahirkan?” tanya Clara sembari meletak tiga gelas minuman ke atas meja.
“dokter bilang, dia akan melahirkan akhir bulan ini.” Jawab Leo singkat dengan mata yang tak dapat luput dari istrinya.
“pantas saja anda meng-cancel semua pekerjaan anda, sampai dialihkan sementara. Pasti demi fokus menemani dr. Eliza bukan?” tanya Clara menggoda sepasang suami istri itu.
“tentu saja.” jawab Leo dengan mengembangkan senyumnya.
Sudah sangat lama Eliza dan Leo ada di rumah itu. Bahkan kini si Reyhan telah tertidur pulas. Eliza dan Leo pun
bergegas pamit pada Clara, karena hari juga semakin siang.
Ditengah jalan, mobil yang dikendarai Leo dan Eliza terjebak macet. Tak heran bagi Leo saat melihat istrinya tengah terus-menerus mengatur ulang posisi duduknya.
“kenapa? Tidak nyaman ya?” ucap Leo lembut sembari mengelus lembut kepala Eliza.
“hm, lumayan. Perutnya sedikit sakit, mungkin mereka sudah bangun jadi gerak terus.” Ucap Eliza sembari mengelus perutnya yang besar.
“ingin berbaring?” ucap Leo yang sudah sigap ingin merubah tempat duduk Eliza, namun dengan cepat Eliza menggelengkan kepalanya tanda tak setuju.
“tak apa, aku seperti ini saja. aku malah tak nyaman jika berbaring.” Jawab Eliza yang diakhiri dengan senyum manisnya sembari menuntun tangan Leo yang cukup besar ke perutnya.
Seketika mata Leo membelalak kaget karena tepat setelah telapak tangannya ia letakkan di perut istrinya, isi didalanya bergerak. Itu adalah pertama kali bagi Leo, dari sebelumnya setiap Eliza berkata bayi mereka menendang, Leo tak pernah mendapatinya ketika menyentuh perut Eliza.
“ternyata anakku nakal juga ya.” Gumam Leo sembari tersenyum dan terdengar oleh Eliza.
“ini anak kita.” Sahut Eliza.
“iya, anak kita.”
Sudah hampir satu jam, mereka berada di tengah kemacetan. Melihat situasinya, seperti terjadi kecelakaan di ujung jalan sana. Tapi melihat Eliza yang kini sudah tertidur lelap, membuat Leo tetap berada di dalam mobil dan fokus akan jalanan yang ramai.
Sejenak telinga Leo mendengar suara nada dering ponsel Eliza. Namun ia tetap tak perduli, karena ia pikir itu adalah ponsel orang lain.
Namun, semakin lama suara itu terdengar jelas. Dengan perlahan Leo mengambil tas jinjing yang ada di pangkuan
Eliza. Dan benar saja, ponselnya tengah dipanggil oleh kontak yang tertulis ‘Sarah sis’.
“El, kau ada dimana?” tanya seorang wanita yang berada di balik ponsel itu tanpa menyadari bahwa Leo lah
yang tengah mendengar suaranya.
“ini aku. Kami ada di jalan pulang. Ada apa?” jawab Leo dingin sembari menjalankan mobilnya sedikit kedepan karena mobil yang didepannya juga telah maju seinjakan.
“apakah Eliza disana?”
“tentu saja. tapi dia sedang tidak bisa menjawab panggilanmu. Ada apa, katakan?”
“hm, ini lumayan penting. Katakan padanya untuk segera menghubungiku. Kutunggu sebelum jam 8 malam.” Ucap Sarah yang buru-buru mematikan panggilannya namun dicegah oleh Leo.
“eh, tunggu! Kau tahu bukan, Eliza sedang mengandung dan sebentar lagi akan melahirkan. Dia bahkan sudah mengambil cuti.” Jelas Leo dalam satu tarikan nafas namun dengan suara yang lumayan kecil agar tidak membangunkan Eliza.
“tenang saja. ini tak akan mengganggunya. Ini tentang peneletian kami. Aku hanya ingin meminta data akhir
yang ia buat.” Jelas Sarah yang kemudian hanya diangguki oleh Leo dan segera mengakhiri panggilan itu.
Leo mengembalikkan ponsel itu kedalam tas yang saat ini ada dipangkuannya. Ia mengelus lembut dahi Eliza dan
manatap wajah polos Eliza saat tidur.
Mereka berdua pun akhirnya telah sampai dirumah setelah menunggu berjam-jam lamanya ditengah kamacetan. Wajah Leo sudah tak karuan karena harus bersabar di dalam mobil. Ditambah lagi, kini ia harus menggendong tubuh Eliza yang bobotnya bertambah semenjak dirinya mengandung.
Sampai di atas ranjang, tubuh Eliza menggeliat. Meskipun begitu cukup membuat Leo menelan salivanya dengan
susah payah.
‘astaga Leo. Istrimu sedang mengandung.’ Pikir Leo sembari mengibaskan segala angannya mengingat perut Eliza yang sudah buncit.
__ADS_1
Leo pun mengambil posisi di sisi ranjang yang kosong di sebelah Eliza, dan segera tertidur lelap.
***
“aduh…” rintih Eliza saat terbangun dari tidurnya. Matanya menangkap jam dinding menunjuk pukul 7 dan suasana pun sudah berganti malam.
Ia melihat Leo yang tengah tertidur pulas sembari menggenggam tangannya karena tak berani memeluknya. Dengan perlahan Eliza melepaskan tangannya karena sudah tak tahan ingin pergi ke kamar mandi. Namun, sepelan apapun, Leo akhirnya sadar akan gerakan dari sang pemilik tangan.
“ingin pergi kemana?” tanya Leo dengan suara khas orang bangun tidur.
“kebelet.” Jawab Eliza lirih dengan tangan yang masih digenggam oleh Leo.
“ya sudah.” Jawab Leo santai tapi tak melepaskan genggamannya.
“apa maksudmu ‘ya sudah’? lepaskan tanganku, aku perlu kekamar mandi.” Ucap Eliza dengan cepat karena sudah tak tahan lagi ingin pergi ke kamar kecil.
“iya iya, baiklah sana pergi.” Ucap Leo yang terkekeh geli karena berhasil menggoda istrinya.
Dengan terpaksa, Leo pun membangkitkan tubuhnya dan mengambil posisi duduk dengan kaki yang sudah menyentuh lantai. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, namun tak lama Eliza pun keluar dengan wajah yang menahan rasa sakit.
“kamu kenapa sayang?” tanya Leo yang sudah panik melihat wajah Eliza yang kesakitan.
“tak apa, hanya rasanya seperti perutku sedikit kontraksi.” Jawab Eliza santai sembari berjalan mendekat kearah
Leo yang kini sudah dalam posisi berdiri.
“sungguh? Atau jangan-jangan kau akan melahirkan?”
“masih seminggu lagi sayang..”
‘meskipun bisa jadi sih, lahir di luar perkiraan.’ Batin Eliza mengingat kalimatnya yang belum selesai.
“sudah lah, bisa kita turun?” tanya Eliza yang mulai membuat Leo tenang dan percaya bahwa istrinya baik-baik
saja.
“kau lapar?”
“tidak. Aku ingin menonton televisi.” Jawab Eliza dan dengan segera mereka berdua turun dari kamar menuju ruang
keluarga.
Selama 15 menit sudah, mata mereka menatap layar televisi. Lengan Leo melingkar erat dibahu Eliza yang meletakkan kepalanya di dada bidang Leo.
Seketika rasa sakit kembali terasa oleh Eliza di perutnya. Secara diam-diam pun Eliza menahan rasa sakit yang ia pikir bukan apa-apa, agar Leo tak khawatir.
Namun lain halnya dengan Leo yang sudah menyadari bahwa keringat mulai bercucuran dari dahi Eliza.
“sakit….” Rintih Eliza yang akhirnya lepas dari bibirnya.
Tangan Eliza pun dengan reflek memegang perutnya yang buncit dan terasa sakit itu. Dan berhasil membuat Leo
kalang kabut.
“astaga, aku harus bagaimana.” Leo panik dan mencari ponselnya untuk menelfon seseorang.
“apa yang kau cari? Bisakah kau tenang?” ucap Eliza yang masih sempat menenangkan suaminya itu sembari menahan sakit yang luar biasa.
“tap…tapi kau kesakitan.”
“bawa saja aku kerumah sakit.” Ucap Eliza yang tanpa berpikir panjang lagi, Leo langsung menggendong tubuh Eliza.
Dengan sigap Leo langsung menyiapkan mobilnya. Dan dengan kelajuan yang tak terkira, dia mengendari satria roda empat itu seperti pembalap professional di jalan raya.
“hati-hati, saat ini kau membawa 4 nyawa.” Ucap Eliza mengingat Leo sembari menahan sakit di perutnya.
Kelajuan mobil yang dikendarai membuat tak mungkin menjadi mungkin. Hanya butuh waktu 5 menit saja untuk sampai rumah sakit, yang secara normalnya membutuhkan wktu 15 menit.
“astaga, apa yang terjadi?” tanya Sarah saat hendak masuk menuju lift setelah shift kerjanya dirumah sakit.
“istriku akan melahirkan!” ucap Leo sembari menggendong Eliza.
Dengan sigap para perawat pun mengambil bangsal dan meletakkan tubuh Eliza diatasnya. Serta dengan cepat
mereka membawa wanita hamil itu menuju ruang bersalin.
Leo yang masih panik itu pun berlari mengikuti kemana Eliza dibawa pergi, sebelum lengannya di tarik oleh Sarah.
“hei, tak semudah itu kau masuk keruangan ini.” Ucap Sarah yang menarik tubuh Leo tepat saat pintu ruang
bersalin ditutup.
“tapi aku kan suaminya.”
“sudah duduk lah. Tenang kan dirimu. Jika dokter nanti menyuruhmu masuk, baru kau bisa kedalam.”
Penjelasan Sarah pun membuat Leo terdiam dan duduk di kursi panjang yang tersedia. Sedangkan Sarah kini menggantikan Leo yang masih terlihat panik menghubungi ayah Eliza.
“halo dr. Panji. Anak mu akan melahirkan.”
“…”
__ADS_1
“iya, mereka sudah ada di rumah sakit. El juga sudah ada di dalam.”
“…”
“baiklah.”
Tak butuh waktu lama. Di tengah ketegangan menunggu kepastian dari dalam ruangan, dua pria paruh baya dan satu pria muda berlari mendekat ke arah Leo dan Sarah yang menunggu di depan ruang bersalin.
“kakak!!!” teriak Luqman sembari berlari seperti anak kecil.
“diam! Ini rumah sakit! Jangan teriak!” sentak Sarah yang akhirnya membuat ciut Luqman.
“maaf.”
“apakah dia baik-baik saja?” tanya Panji pada Leo yang masih duduk di kursinya.
“terakhir kali, aku yakin dia baik-baik saja.” jawab Leo.
“benarkah? Oh, astaga menantuku. Semoga kau baik-baik saja.” ucap Renaldi yang kini sangat panik karena pengalaman pertamanya menunggu seseorang melahirkan.
Tiba-tiba ditengah kepanikan itu, terdengar suara tangis bayi didalam. Yang sontak membuat orang-orang yang
berada di luar ruangan itu terkejut bahagia.
“keluarga dr. Eliza.” Panggil perawat yang tiba-tiba sudah disodorkan beberapa wajah saat membuka pintu ruangan itu.
“bagaimana keadannya?” tanya Panji antusias.
“bayi laki-laki dan ibunya baik-baik saja.”
“bisakah kita melihatnya?” tanya Renaldi yang juga ikut antusias.
“maaf tuan. Dr. Eliza harus istirahat terlebih dahulu, karena anak yang satunya belum keluar.”
“hah? Maksudnya?
“anakku kembar, ayah sekalian.” Jawab Leo yang sedari tadi berdiri di belakang kedua pria paruh baya itu.
“astaga, benarkah? Kalau begitu cepat selesaikan!” ucap Panji dan disahut dengan antusias Renaldi yang kemudian mendorong perawat tadi kembali masuk kedalam ruangan.
Perawat itu pun masuk sembari menggelengkan kepalanya heran, karena melihat tingkah kedua pria itu.
“hei, tunggu. Kalau begitu anak pertama ini akan menjadi calon dokter kan?” gumam Panji yang terdengar oleh
Renaldi.
“apa maksudmu calon dokter? Dia akan menjadi pengacara handal seperti ayah dan kakeknya.” Jawab Renaldi yang tak ingin kalah.
“siapa yang kau sebut kakek?” celetuk Panji yang juga tak ingin kalah.
‘sebenarnya, kakek sesungguhnya sudah tiada. Dan mereka ada pengusaha dan sekretaris. Jadi tak ada hubungan dengan dokter atau pengacara.’ Batin Leo ketika melihat kedua pria paruh baya itu bertengkar didepan ruangan bersalin itu.
Di tengah pertengkaran antara kedua orang tua itu, lagi-lagi terdengar tangis bayi yang kini terdengar lebih manis dan membuat lainnya pun terharu.
‘pasti perempuan. Iya kan?’ batin Leo sembari mengembangkan senyumnya.
“selamat tuan. Bayi perempuan sudah terlahir selamat.” Ucap perawat yang sebelumnya.
“aku akan mengambil kantong darahnya!!” teriak seorang perawat yang keluar dari ruangan bersalin itu dan berlari menuju entah kemana. Dan sontak membuat Leo kembali panik.
“tunggu! Bagaimana dengan istriku?” tanya Leo dengan wajah yang lumayan pucat.
“ibunya mengalami pendarahan. Tapi kondisi lainnya masih stabil. Jaid tuan tidak perlu khawatir.” Jelas perawat itu.
“sudah tenang saja.” ucap Sarah sembari menepuk bahu Leo.
“kami akan membawa bayinya ke ruangan sebelah. Jadi anda bisa melihatnya disana sembari menunggu sang ibu
membaik.” Jelas perawat itu dan diangguki oleh orang yang berada di sana.
Kelima orang yang sedari tadi menunggu kedatangan bayi itu pun hampir mengeluarkan tangis haru saat melihat dua bayi mungil tengah tertidur berjejer di sebuah tempat tidur kecil.
‘oh anakku.’ Batin Leo sembari menahan air matanya jatuh.
“awh, ponakanku…” rintih Luqman yang denga santainya mengeluarkan air matanya tanpa ragu.
Bahkan seorang psikopat yang tak kenal cinta pun menangis, siapa lagi kalau bukan Sarah.
“lihatlah para pengacara kecil ini.” Ucap Renaldi sembari memandang kedua bayi mungil itu.
“apa yang kau maksud pengacara? Mereka adalah dokter.” Jawab Panji.
“baiklah, baikalah. Mereka dokter dan pengacara. Adil bukan?” ucap Renaldi yang disusul dengan anggukan Panji.
‘ngomong-ngomong, itu kan anakku.’
__ADS_1
***