
Pesawat mereka akhirnya mendarat di daratan kota New York. Mereka pun keluar dari bandara dan telah disusul oleh supir yang diperintahkan paman Eliza, yang tak lain adalah Albert.
Eliza merasa bahagia melihat matahari dilangit yang sama seperti dirumah, hanya saja daratannya berbeda.
“maaf nona, apakah anda ingin keperusahan dulu atau..” tanya sang supir yang belum selesai.
“tidak. Untuk apa aku ke perusahaan. Menyusahkan.” Jawab Eliza sangat cepat membuat Leo tertawa sendiri melihat tingkah istrinya yang tak ingin menginjakkan kaki di perusahan ayahnya sendiri.
Selama 20 tahun, paman Eliza menjaga saham yang berada di Milan demi menuruti permintaan terakhir ayahnya.
Namun tak hanya itu, Albert juga akhirnya mengembangkan sahamnya kebeberapa Negara yang cukup maju, hingga sekarang anak-anak Albert yang berjumlah 6 orang laki-laki dan 3 orang perempuan, menyebar kebeberapa Negara untuk membantunya mengurus saham itu.
Semua saham itu atas nama Eliza. Keluarga Albert melakukannya karena merasa itu semua dalah hutang budi. Ayah Eliza, Richard, sebenarnya adalah anak tunggal dari keluarga Romano. Dan satu-satunya ahli waris pada saham kakeknya.
Dan saat umur ayahnya berusia 13 tahun, ia menemukan pamannya itu, Albert, tengah dipukuli oleh beberapa warga karena dituduh mencuri. Albert adalah anak sebatang kara yang tak memiliki rumah.
Dengan susah payah Richard memohon pada orang tuanya agar Albert tinggal dirumahnya. Dan akhirnya karena
orang tuanya mengingat sikap Richard yang memiliki kelakuan yang baik. Ia pun menuruti untuk mengangkat Albert sebagai anak angkat.
Saat umur ayah Eliza menginjak 20 tahun. Beliau memutuskan pergi ke Negara orang karena kedua orang tuanya telah tiada. Saat itulah ia bertemu dengan ibu Eliza. Dan mereka membentuk suatu kerja sama, hingga terbentuklah Ocean Group. Sedangkan sahamnya yang ada di Negara asalanya ia berikan pada Albert.
Karena ia sadar diri selama ini. Albert tak mengambil banyak keuntungan. Ia hanya menganggap itu semua balas
budinya atas kebaikan Richard dan keluarga Romano selama ini. Bahkan ia juga mengajarkan hal yang sama pada anak-anaknya.
Di Amerika perusahaan itu di pegang oleh anak perempuan Albert. Setelah pernikahannya Eliza dibujuk untuk terjun ke dunia bisnis, namun ia masih menolak dan berfikir ulang.
“nona, tapi Ms. Cleo ingin menemui anda.” Ucap supir itu menyebut nama saudara perempuan Eliza yang membuatnya menghela nafasnya berat.
“baiklah kalau begitu.” Jawab Eliza terpaksa.
Mereka sampai didepan gedung pencakar langit disana. Ia melihat hingar bingarnya keadaan disana. Apalagi
saat ini adalah jam makan siang.
Para karyawan disana melihat Eliza dengan wajah cantik khas orang Asia yang meniru ibunya itu dengan keheranan. Tapi tidak dengan Leo yang memiliki tampang sedikit kebaratan menuruni kakeknya.
“lihatlah, para wanita disini terus memandangimu.” Ucap Eliza sinis sembari duduk manis di ruang tunggu tamu.
“kau cemburu?” tanya Leo dengan nada meledek yang hanya ditanggapi tatapan sinis oleh Eliza.
“nona maaf. Ms. Cleo bilang, anda bisa menunggunya di ruangannya, beliau sedang rapat.” Ucap supir yang tadi
mengantar mereka berdua.
“tidak, terima kasih. aku akan menunggunya disini saja.” ucap Eliza yang tetap menunjukkan sikap dinginnya.
Tak lama wanita dengan tubuh tinggi besar dan rambut yang berwarna kemerahan mengahampiri Eliza yang tengah
duduk santai di kursi empuk itu.
“kakak!!” teriak wanita itu yang membuat para karyawan lain melihat kearahnya.
“astaga, Cleo! Kau gila ya?! Kau tidak malu dengan para karyawanmu.” Ucap Eliza yang sudah dipeluk oleh wanita yang memiliki badan sedikit lebih besar darinya namun tak lebih besar dari tubuh Leo. Hanya wanita yang suka ke gym dan memiliki tubuh sedikit atletis.
__ADS_1
“tentu saja tidak. Buat apa aku malu. Aku merindakamu. Baru kali ini aku dapat menemuimu setelah sekian lama.” Jelasnya yang tak mau melepaskanku. Bahkan tenaga wanita yang setahun lebih muda dariku ini cukup kuat.
“oh hai kakak ipar, kau sehat?” tanya Cleo yang menyadari adanya Leo.
“hai, aku baik.” Jawab Leo yang menerima jabatan tangan Cleo.
“kenapa kalian disini? Tidak masuk keruanganku?” tanya wanita itu dengan melirik kearah supir yang membawa
kami.
“aku yang tidak mau. Kurasa kau akan membuatku duduk di kursi gila itu.” Ucap Eliza sembari membayangkan meja kerja dengan papan nama ‘CEO’ didepannya.
“hahaha, you got me sis. Okelah kalau begitu. Selanjutnya kalian akan pergi kemana?” tanya Cleo.
“kami akan kembali kehotel, setelah makan siang kami akan menemui sahabat lamaku yang ada disini.” Jelas
Eliza.
“apakah si model Amanda?” tanya Cleo yang membuat Eliza terkejut setelah mendengarnya.
“bagaimana kau tahu?”
“tentu saja. dia adalah model papan atas disini. Dengan senang hati kami bekerja sama dengannya. Bahkan
kontraknya baru habis 1 bulan lalu. Saat kami memasang foto pernikahanmu beberapa waktu lalu, dia melihatnya dan ternyata dia mengenalmu.” Jelas Cleo yang membuat Eliza sedikit kesal.
“jangan-jangan dia tidak bisa menghadiri acara pernikahanku karena terlalu sibuk bekerja dengan perusahaan ini?” dengus Eliza kesal.
“mungkin saja kak. Lagipula dia adalah model yang sangat dikagumi dimana-mana. Tak hanya dikota bahkan dibeberapa Negara.” Jawabnya.
“iya, berhati-hatilah. Jika ada sesuatu katakana saja padaku. Dan kakak ipar, tolong jaga kakakku ya.” Ucap Cleo sembari melambaikan telapak tangannya dari kejauhan.
“baiklah tentu saja.” jawab Leo yang juga ikut melambaikan tangan bersamaku untuk membalas Cleo.
Leo dan Eliza beristirahat sembari meregangkan badan mereka sejenak. Selepas menyantap makan siang, mereka
pun bergegas menemui seseorang yang sangat dirindukan Eliza.
Mobil yang mereka kendarai berhenti di parkiran sebuah studio foto sebuah majalah yang cukup terkenal dibeberapa Negara, salah satunya di Amerika.
Nampak dimata Eliza saat memasuki studio itu, seorang wanita yang tak jauh beda umurnya dengan dirinya. Wanita yang cukup cantik mengenakan gaun pengantin tengah berdiri di tengah kilatan cahaya kamera sembari mengikuti arahan sang fotografer.
“good Amanda! Perfect!” seru seorang pria yang menurunkan kameranya dan memberika isyarat pada wanita itu
untuk beristirahat.
Wanita itupun menghela nafas lega, karena kelelahannya akan terbayar dengan istirahat singkatnya.
“Amanda!!” seru Eliza yang masih menggandeng lengan Leo di ambang pintu studio.
“astaga, Eliza!!” seru wanita itu sembari berlari kearah Eliza dan tidak perduli dengan gaun yang ia gunakan dan
membuat asistennya kebingungan.
“non Amanda! Kau jangan berlari! Hati-hati dengan gaunmu!” seru seorang wanita yang lebih muda berlari mengikuti model itu.
__ADS_1
“ah iya, aku lupa.” Ucap Amanda yang sudah menangkap tubuh Eliza dan berpelukan.
“astaga, kau membuat asistenmu kesulitan.” Ucap Eliza yang melihat wanita yang mengejar sahabatnya itu nampak sulit mengatur nafasnya.
“maaf, mungkin aku akan mengganti pakaianku dulu. Setelah itu kita bisa mengobrol.” Ucap Amanda yang dengan sigap berjalan menuju keruang ganti dan hanya diangguki oleh Eliza.
Tak butuh waktu yang lama, wanita tadi keluar dengan pakaian kasual berwarna hitam. Tanpa barang bermerek mahal dan riasan make-up lagi ditubuhnya.
Eliza nampak bahagia melihat sahabatnya itu. 6 tahun sudah mereka tak bertemu. Hanya sesekali saling bertukar kabar lewat media sosialnya. Sedangkan Leo yang sedari tadi diam hanya mampu ikut bahagia saat istrinya juga bahagia.
“baiklah, ayo kita pergi.” Ucap Amanda yang berjalan beriringan dengan sepasang suami istri itu.
“kau sudah makan siang Manda?” tanya Eliza yang kini menggandeng lengan Amanda dengan manja seperti dia
menggandeng lengan Leo.
‘baiklah, sekarang aku seperti orang ketiga.’ Batin Leo saat memperhatikan tangan Eliza yang sudah bergelayut
pada wanita yang ada disebelah istrinya.
Leo merasa seperti diduakan. Hampir harga dirinya jatuh, tapi ia sadar yang digandeng oleh Eliza adalah wanita. Jadi Leo masih bisa menahan dirinya dengan baik.
“aku tidak makan siang hari ini. Nanti malam aku harus memakai gaun untuk sebuah acara, jadi aku tak ingin merusak penampilanku.” Ucap Amanda yang mencari alasan, karena sebenarnya dia sudah makan siang sebelumnya dan dia juga tahu bahwa pasangan yang saat ini bersamanya juga sudah makan siang bersama.
“oh benarkah?” ucap Eliza pura-pura menerawang sembari menebak-nebak bahwa sahabatnya pasti berbohong.
“bagaimana kalau kita memakan cemilan saja. aku tahu tempat yang enak. Selama ini aku sering kesana.” Ucap Amanda penuh dengan semangat yang disusul dengan antusias Eliza.
“aku yakin, pasti tempat yang kau tuju adalah tempat yang ada difikiranku.” Ucap Eliza yakin.
“kenapa kau sangat yakin?”
“karena jika berhubungan dengan soal perut, kita punya selera yang sama.” Ucap Eliza yakin yang memecahkan
suasana, begitu juga Leo yang tak bisa menahan tawanya karena candaan Eliza.
“terserah kau saja. tapi ingat jangan mengumbar kemesraan dihadapanku nanti.” Ucap Amanda dengan tegas sembari melihat kearah pasangan itu.
“tenang saja, nona. Bagaimana caraku mengumbar kemesraan jika istriku saja sedang bermanja-manja denganmu.” Ucap Leo yang disusul dengan tawa oleh Eliza.
Mereka bertiga pun memasuki sebuah caffe yang tak lain adalah tempat favorit Eliza saat kuliah dulu disana.
Ketiganya memesan kudapan pilihan mereka.
Sembari menyantap makanan mereka. Mereka pun tertawa ria dan bercanda. Melepaskan kerinduan antara dua sahabat yang sudah lama tak bertemu.
“ohya, apakah aku sebentar lagi akan mempunyai seorang ponakan?” tanya Amanda yang membuat Leo hening sejenak menatap gelas coklat panasnya di meja.
“tenang saja. kau tunggulah kabar baiknya.” Jawab Eliza tenang sembari memberikan senyuman diakhir kalimatnya dan membuat Leo juga berani mengangkat wajahnya karena bahagia mendengar jawaban istrinya.
***
__ADS_1