
Didalam ruangan yang sibuk itu fikiran Leo masih melayang akan kondisi Eliza saat ini. Tangannya tak henti-hentinya bekerja, dan matanya terus fokus melihat layar laptopnya.
Beberapa orang berlalu lalang, yang lain berkutat dengan seperangkat komputer mereka juga. Mereka semua fokus
mencari orang hilang. Tak lain adalah Eliza.
‘pasti Johan. Iya, ini pasti Johan.’ Batin Leo yang sudah benar-benar geram.
Tapi tak semudah itu ia menuduh seseorang. Sampai sekarang pun belum ada tanda-tanda Eliza. Bahkan sebanyak cctv itu pun belum terlihat sosok Eliza.
“apakah belum ketemu?!” tanya Eza yang tak kalah paniknya.
“belum pak!” jawab salah satu petugas.
“kalian mencarinya dimana saja, hah?!”
“kami sudah mencari di seluruh rumah sakit, dan seluruh rekaman cctv hari itu pun sudah kami periksa.”
“Leo! Sungguh kau terakhir melihatnya diruangannya?!”
“iya. Aku pergi bersama paman Panji keluar ruangan itu. Saat aku kembali sudah tidak ada.” Jawab Leo yang masih terus bingung akan keberadaan Eliza.
“tunggu. Apakah di lantai pasien VIP ada cctv?” tanya Leo yang baru terfikirkan tentang ruangan pria tua itu.
“tentu saja.”
“periksa dengan teliti. Mungkin saja Eliza ada disana.” Perintah Leo yang langsung dengan sigap dilaksanakan.
Beberapa menit kemudian…
“ketemu!! Aku menemukannya!” seru seorang petugas yang membuat lainnya berhenti melakukannya kegiatannya dan langsung mendekat tak kecuali Leo.
Mereka melihat rekaman itu sangat jelas. Eliza di gendong di punggung seorang pria. Sayang, pria itu memakai topi yang membuat wajahnya tak terlihat.
“ah, sial! Siapa dia?!” umpat Luqman.
Leo dengan teliti melihat pakaian laki-laki itu dari rekaman yang di pause. Bahkan dengan teliti ia juga memperhatikan kembali cara berjalan orang itu.
Rekaman itu terus diulang, dipercepat, dihentikan, dilanjutkan. Ingatan Leo hanya bisa menggambarkan satu
orang. Tak lain adalah Johan.
“ini Johan! Cari dimana alamat Johan Vincent!”
Semua orang bersigap mencari apa yang diperintahkan. Leo pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi
sekretarisnya.
“halo Clara.”
“iya pak?”
“kau tahu dimana kekasihmu tinggal?”
“tidak. Aku tidak tahu dimana alamatnya. Dia hanya berkata di tinggal di kontrakan kecil.”
Tut…
Dengan sepihak Leo mematikan ponselnya itu. Ia kemudia ingat tentang file yang ia terima beberapa hari lalu
dari sekretarisnya, bukan tapi dari Johan.
__ADS_1
“kak Eza. Coba kau lihat e-mail yang kukirimkan padamu beberapa hari lalu.” Ucap Leo pada Eza yang juga masih
sibuk dengan laptop yang ada di depannya.
“ada apa disana?”
“kalau tidak salah disana ada CV kerjanya. Kita bisa tahu alamat rumahnya.”
Dalam hitungan menit, mereka pun menemukan alamat yang mereka cari. Tak butuh waktu lama untuk mereka bersiap.
Degan sigap mereka turun dari kendaraan mereka saat telah samapai di tempat tujuan. Mereka sampai di komplek
perumahan.
Beberapa rumah yang bentuknya minimalis ada disana. Mereka memastikan alamat yang mereka pegang benar. Setiap rumah mereka telusuri.
Hingg di depan pintu rumah bercat putih. Mereka melihat alamat yang tertera ditangan mereka sama dengan yang ada di depan mata mereka saat ini.
Tak butuh menunggu waktu lama. Eza yang sudah geram pun mengedor pintu sekeras mungkin.
Dok…dok…dok…
“JOHAN!! JOHAN VINCENT!! BUKA PINTUNYA!!!”
“sialan!! Kami tahu kau didalam! Buka pintunya!!” teriakan Luqman yang tak kalah geram ingin segera menangkap Johan.
Didalam rumah itu hening. Tidak ada jawaban untuk beberapa detik. Tapi tak lama terdengar suara seorang pria dari
dalam.
“jika tidak ada Leonardo, aku tidak akan keluar!!” teriak seorang laki-laki yang berada tepat didepan pintu.
Krek…
“kau ditangkap Johan.” Ucap Eza saat Johan telah keluar dari rumah itu yang disusul dengan anak buahnya yang
sigap memborgol tangannya.
Eliza yang sedari tadi berdiri di belakang Johan, kini menatap sayu Leo yang ada di sana. Dengan kecepatannya Leo pun menghampiri Eliza dan memeluknya seketika.
Eliza yang terkejut karena sikap Leo, hanya mampu tersenyum dan membalas pelukan hangat itu.
‘astaga. Kenapa salam satu malam aku dipeluk dua orang laki-laki?!’ batin Eliza yang masih dalam pelukan Leo.
“jangan membuatku khawatir lagi.” Ucap Leo yang masih memeluk Eliza dan menelungkupkan wajahnya di pundak Eliza yang hangat.
“iya, maaf telah membuatmu khawatir.”
“kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?”
“tidak. Tapi ngomong-ngomong apa kau akan terus memelukku? Mereka melihatnya.” Ucap Eliza di telinga Leo yang akhirnya melepaskan pelukannya. Dan benar semuanya melihat mereka berdua termasuk Johan yang sudah terborgol, melihatnya sembari tersenyum manis.
“ada apa? Bukankah kalian harus membawanya?” ucap Leo yang merasa terganggu akan momennya itu.
“baiklah, baiklah, kami akan pergi. Kalian lanjutkan saja. tapi jangan lupa untuk ikut kami.” Jawab Eza yang kemudian beralih pergi membawa Johan.
“kakak! Jangan lupa janjimu, Oke?!” seru Johan yang berjalan memunggungi Eliza dan Leo.
“janji apa?” tanya Leo pada Eliza yang hanya tersenyum manis.
__ADS_1
“kakak!!!!! Kau tidak apa-apa kan??!!! Aku akan sedih jika kau terluka! Hiks..hikss..” seru Luqman yang langsung berlari kearah Eliza dan langsung memeluknya.
‘sekarang tiga.’ Batin Eliza dengan memutar bola matanya malas karena sikap Luqman yang terlalu berlebihan.
Selalu saja seperti ini. Sikap Luqman yang sangat menyayangi kakaknya itu, sangat berlebihan. Bahkan saat Eliza jatuh dari tangga saat SMA, Luqman yang terus menangis semalaman karena terlalu takut kakaknya tidak akan bisa berjalan lagi.
“aku tak apa, sungguh. Lihatlah aku baik-baik saja.” ucap Eliza yang memperlihatkan senyumnya pada Luqman.
“hiks.. haruskah aku mengurungmu agar kau tak hilang lagi?” tanya Luqman sembari menghapus air matanya.
“jangan bercanda, Luqman. Aku hanya kurang hati-hati. Sudahlah, kau harus pergi bukan?”
“iya, aku akan mengantarkan kakakmu pulang.” Ucap Leo.
“tidak. Jangan antar aku pulang dulu. Bawa Johan kerumah sakit dan aku kesana.” Pinta Eliza yang cukup jelas.
“apa kakak terluka?” tanya Luqman kembali panik.
“bukan aku. Tapi dia. Lukanya lumayan parah dan harus segera ditangani supaya tidak infeksi.” Jelas Eliza yang membuat orang yang menedengarnya terheran.
“untuk apa kau peduli?” tanya Louisa yang masih disana dan penasaran.
“sekarang dia juga adikku.” Eliza menunjukkan senyum santainya.
“tunggu. Jika dia juga adikmu, berarti kami kebar?” tanya Luqman polos, yang membuat beberapa orang disana
menepuk jidat.
“sudahlah bodoh. Ayo kita bicara pada pak Eza. Kami permisi.” Ucap Louisa sembari memukul tengkuk Luqman.
Louisa dan Luqman serta sisa orang lainnya meninggalkan Eliza dan Leo. Mereka berdua pun ikut keluar dari rumah itu dan masuk kedalam mobil yang Leo bawa.
“sungguh kau baik-baik saja?” tanya Leo yang sudah berada di dalam mobil.
“tentu saja. aku baik-baik saja.”
“maaf aku tidak menjagamu dengan baik.”
“tak apa. Terima kasih sudah datang.”
Eliza kembali memeluk Leo yang juga membalas pelukan itu. Mereka berbagi kehangatan saat udara malam hari itu menusuk.
‘aku tak akan melepaskanmu.’
‘aku tak ingin kehilanganmu.’
***
terima kasih readers sudah sabar menunggu updetan sampai sini..
jangan lupa untuk meniggalkan jejak yaa...
author punya pertanyaan.
"RASA CINTA ITU APA??"
yang tahu bisa comment ya
Salam Hangat
__ADS_1
Nura Hashi