
“sudah puas?” tanya Eliza dengan menyentuh bibirnya yang mulai kebas dan sedikit perih karena balas dendam Leo pada dirinya.
“emmm, untuk hari ini mungkin sudah. Lain kali aku akan sakit lagi dan meminta lebih darimu.” Jawab Leo dengan menunjukkan senyum iblisnya.
“iya, lain kali jika kau sakit aku tidak akan menjengukmu.” Ucap Eliza sembari turun dari pangkuan Leo dan merapikan semua yang berantakan.
“sebenarnya ada sesuatu yang ingin kutanya kan.” Ucap Leo membuka topik pembicaraan setelah beberapa lama mereka terdiam.
“mengenai obat itu?”
Leo terkejut bagaimana Eliza tahu apa yang ingin ia tanyakan. Tapi ia mulai sadar, mungkin selama ia pingsan Luqman atau Louisa memberitahunya.
“sebenarnya aku tak memberitahumu soal hasil otopsi itu, agar kau berhenti memikirkan kasus ini, yang semakin dicari semakin tak ada ujung.” Lanjut Eliza sembari duduk disampingku.
Ia pun mulai menjelaskan mengenai obat itu. Sebuah obat bius temuan terbaru. Dan obat itu pun tak seharusnya di pakai untuk manusia, atau bisa dibilang obat itu dalah obat bius yang sering dipakai oleh para pemburu hutan akhir akhir ini dengan dosis rendah.
“bagaimana pun bukannya obat itu seharusnya tidak sembarang orang yang memiliknya bukan?” pertanyaan itu hanya dijawab dengan kedua bahu Eliza yang terangkat.
“sebenarnya siapa pun bisa memilikinya. Namun yang dipasaran memiliki dosis rendah dan yang membeli hanyalah para pemburu. Tapi dosis yang aku temukan terlalu besar. Jadi mungkin saja…” penjelasan Eliza berhenti saat pintu bagian luar diketuk.
Tok.. tok...
Pintu itu pun terbuka. Eliza menatap lekat pintu itu untuk melihat siapa yang masuk. Sedangkan Leo hanya mengerutkan dahinya saat ia melihat jam dinding menunjukkan pukul 9 malam ‘siapa yang datang selarut ini?’ batinnya.
“maaf permisi.” Seorang laki-laki muda berumur 20-an tersenyum pada mereka berdua.
“siapa anda?” tanya Eliza ragu karena melihat penampilannya yang nampak seperti reporter lengkap dengan kalung tanda pengenalnya yang tak terlalu ia perhatikan, namun lain halnya dengan Leo yang sangat teliti memperhatikannya.
“perkenalkan saya Johan, apa benar anda tuan Leonardo Henry? Saya menemukan dompet anda.”
“dompet?” Eliza melirik kearah orang yang sedang berpikir sembari melihat dompet yang dibawa oleh lelaki bernama Johan itu.
“astaga, aku lupa. Dompetku hilang beberapa hari lalu sayang. Terima kasih tuan, telah menemukannya.” Ucap Leo pada Eliza yang nampak heran dengan tingkah laku Leo itu yang selalu menganggap diri mereka seorang pasangan didepan orang lain. Leo pun menerima dompetnya yang nampak masih utuh itu.
“maaf tuan, saya datang selarut ini hanya untuk mengantarkan dompet tuan.”
“tak apa. Kami yang seharusnya meminta maaf karena merepotkanmu karena kecerobohan orang bodoh satu ini.”
Jawab Eliza sekenanya sembari meledek Leo yang akhirnya terpancing.
“tidak nyonya. Sebenarnya saya ingin mengantarkannya sedari pagi tadi tapi saya disibukkan dengan berita mengenai Hen Group dan Pram Group jadi baru sempat mengantarkannya sekarang.”
“kenapa kau sibuk dengan berita itu?”
“saya reporter nyonya.”
Jawaban yang singkat sekaligus meyakini dugaannya tadi. Tapi kini Eliza cukup risih dengan panggilan ‘nyonya’ yang terus diulang oleh pria itu dan membuat Leo tersenyum bahagia.
__ADS_1
“hati-hati jantungmu copot karena terlalu bahagia.” Ucap Eliza ketus dengan menatap Leo yang terus tersenyum itu
dengan tajam.
“berkat kartu nama yang ada di dompet itu aku jadi tahu kantor anda. Tadi aku menuju kesana, namun sekretaris
anda bilang bahwa anda menuju kantor polisi. Saat aku ada dikantor polisi, petugas disana bilang anda di rumah sakit. Untung saja aku bisa menemukan anda disini?”
“hahaha, terima kasih yaa, maaf merepotkanmu.” Jawab Eliza yang sedikit kasihan dengan orang itu.
Kringg…
“maaf permisi.” Laki-laki itu mengangkat panggilan ponsel dari atasannya itu dengan melangkah menjauhi Eliza
dan Leo.
“kau dengar tadi, dia harus berkeliling mencarimu hanya untuk mengembalikkan dompet ini.” Bisik Eliza.
“I know babe.”
“setidaknya berilah dia hadiah mungkin, jika kau benar-benar berterima kasih.”
Laki-laki itu sudah menutup poselnya, dan kini ia melihat sebuah pemandangan yang sangat indah. Sepasang
insan yang sedang bertengkar karena masalah sepele tanpa menghiraukan seorangpun disana. Ia menahan tawa bahagianya dan itu disadari oleh mereka berdua.
“ada apa pak Johan?” tanya Leo heran pada orang yang sedari tadi memperhatikan mereka itu.
dengan tersenyum indah.
“kami bukanlah suami istri." Jawab Eliza dengan nada kesal.
“benarkah? Maaf. Tapi tuan Leo juga pasti sangat bahagia memiliki kekasih sepertimu nona. Baik dan perhatian.
Aku juga ingin memiliki kekasih yang baik dan perhatian.” Laki-laki itu terus mengucapkan kata-kata manis dengan menggaruk kepalanya yang jelas tidak gatal.
“akan ku do’akan kau juga memiliki kekasih seperti Eliza. Asal jangan kau merebutnya dariku. Hahahaha.”
Tawa kedua pria itu lepas begitu saja, sedangkan Eliza hanya memperhatikan keduanya. Baik Leo dan Johan memiliki kesamaan, yakni tertawa dibalik kesepian mereka.
“maaf tuan aku harus pamit, dan maaf sekali lagi karena mengganggu istirahat anda.”
“tidak apa-apa. Oh ya, dan satu lagi. Jangan panggil aku ‘tuan’ aku belum tua, dan aku tidak setua yang kau
kira.”
“anda memang tidak tua tuan, tapi kurasa tidak terlalu sopan jika tidak memanggil seorang jaksa dengan sebutan
‘pak’ saja.” jelas laki-laki yang tak terlalu mengejutkan mereka berdua, karena sudah bukan rahasia lagi bahwa lelaki itu melihat kartu nama Leo.
“tapi tetap saja tidak nyaman. Kau boleh memanggilku ‘pak’ jika pikirmu tidak sopan dengan memanggil namaku
secara langsung. Aku lebih tua 2 tahun dari Eliza dan mungkin hanya lebih tua beberapa tahun darimu, benarkan?”
__ADS_1
“iya maafkan saya pak. Kalau begitu saya permisi.”
“oh ya, bolehkan aku meminta kartu namamu?” tanya Leo menghentikan lagkah laki-laki itu.
“boleh pak.” Ia mengeluarkan kartunya dan memberikannya pada Eliza. “kau adalah orang pertama yang menerima
kartu nama saya, saya baru bekerja dan baru mendapatkan kartu nama ini.” Jelasnya dengan senyuman yang melekat di wajah oval itu dan dibalas dengan anggukan dan senyuman dari Leo dan Eliza.
“saya permisi.” Ucap laki-laki itu dengan melangkah keluar pintu ditemani dengan pandangan Leo yang luput dari
langkah laki-laki itu hingga keluar ruangan. Sedangkan Eliza, matanya terbelalak kaget melihat nama yang tertera di kartu nama itu.
“tunggu!!” seru Eliza yang kemudian berlari keluar ruangan dan melihat ke kanan dan ke kiri memastikan
orang yang baru keluar dari ruangan itu nampak di matanya. Namun hasilnya nihil. Eliza kembali dengan langkah gontai dan duduk dikursi sebelah ranjang Leo sembari menatap lekat kartu nama yang ada di tangannya.
“dia sudah menghilang?” tanya Leo yang tak heran dengan tingkah wanita itu.
“dia bukan orang yang aku pikirkan sekarang bukan? Aku hanya ingin memastikannya, tapi dia sudah tidak
ada.” Tatapan Eliza sangat dalam penuh mata. Akhirnya Leo melihat mata itu kembali selama 20 tahun lamanya. Mata yang mencari sebuah harapan. Leo mengusap lembut rambut wanita itu.
“maaf Eliza. Aku takut orang itu memang dia.”
“Johan Vincent? Dari keluarga Vincent? Dia?” tanya Eliza bertubi-tubi dan hanya dijawab dengan anggukan Leo.
“kau sudah tahu?”
“aku tadi melihat tanda pengenalnya, aku juga awalnya tidak mau tahu, tapi semakin dipandang lekat, wajahnya mirip sekali dengan ayahnya.” Jelas Leo.
“bagaimana dia bisa bertemu dengan kita? Apakah dia tahu kita siapa?”
“entahlah, mungkin takdir. Bagaimanapun sekarang kita sudah memiliki keluarga baru dan mengganti nama keluarga masing-masing bukan? Aku dengan Chandra dan kau dengan Siregar. Aku yakin tak ada yang mengenal lagi selain keluarga masing-masing.” Ucapan Leo berusaha membuat ketenangan pada diri Eliza. Dan dijawab dengan anggukan lemah dari Eliza, membuat Leo mengembangkan senyumnya melihat gadis kecilnya sudah
berubah menjadi wanita dewasa.
“aku ingin pulang.” Ucap Leo dengan puppy eyesnya yang membuat Eliza terheran dan memutar bola matanya
malas. ‘baru saja menenangkanku dengan kata-kata lembutnya, kini berubah menjadi anak kecil lagi. 'Astaga, apa aku salah memungut orang?’ batin Eliza dengan kesal.
“apa kau gila ya? Ini sudah malam.” Ucap Eliza dengan melipat kedua tangannya didada dan kembali dengan sifat Eliza dewasa.
“dengar ya, kau sudah mengataiku ‘gila’ dua kali malam ini.” Ucap Leo yang juga sedikit kesal.
“kau memang gila! Kau masih sakit tapi ingin pulang, dan sekarang juga sudah malam.”
“sudahlah ingin pulang, bantu aku dokter… ya..ya..ya..” rajuk Leo sperti anak kecil dengan menguncang lengan Eliza manja dan membuat Eliza memijat pelipisnya yang tidak terasa pusing.
“baiklah. Tunggu sebentar, aku akan keluar dan kembali lagi. Tunggu disini.” Leo mengangguk dengan senyuman yang merekah di wajahnya seiring langkah Eliza yang menjauh.
__ADS_1
***