Poker Face

Poker Face
Part 32


__ADS_3

Eliza menghela nafas berat. Dadanya sedikit terasa sesak karena gaun putih yang ia kenakan sedikit menekan dadanya. Berkali-kali Eliza menarik nafas panjang dan menghepaskan dari mulutnya agar kegugupannya hilang.


 


“gugup kak?” tanya Louisa sembari menggenggam lembut tangan Eliza dan hanya diangguki kepala Eliza.


 


Tangan kanannya menggenggam erat buket bunga mawar putih yang indah. Dan kedua manik coklat keemasan itu pun mentap cemas pada wanita yang ada didepannya.


 


“santai kak..” ucap Louisa yang terdengar meledek dan terkekeh di akhir kalimatnya membuat Eliza mendengus


kesal.


 


“huft, awas saja kau.” Celetuk Eliza yang masih saja gugup karena tak lama lagi dirinya akan berubah status.


 


Sedangkan di luar gedung pernikahan, tampak Leo dengan tuxedo yang melekat ditubuhnya dan tatanan rambut yang rapi dan pas diwajahnya membuat pesonanya melonjak tajam bak saham perusahan yang untung besar.


 


Tak kalah gugup dengan Eliza yang berada di dalam ruangan sana. Leo yang sedari tersenyum menyambut tamu juga nampak sangat gugup. Sesekali ia menarik nafas panjang dan menghembuskan lewat hidungnya agar tidak ada yang menyadari bahwa dia gugup.


 


“haha, kakak gugup ya?” ledek Luqman sembari berbisik yang sedari tadi berdiri disebelah mempelai pria itu.


 


“diam kamu!” sentak Leo yang juga berbisik dan menyembunyikan rasa gugupnya sedari tadi.


 


Para tamu undangan datang satu persatu. Baik dari tamu pihak perempuan maupun laki-laki, bahkan wanita yang


terakhir kali Leo tinggal dengan air matanya, sekarang datang sembari memberikan senyuman diwajahnya.


 


“selamat ya pak. Saya fikir pak Leo tidak bisa menikah.” Ucap Clara asal yang disusul dengan tatapan tajam Leo.


 


“maksud kamu?”


 


“hehe, maaf pak. Saya bertahun-tahun ngejar pak Leo berasa seperti memindahkan Monas ke Aceh. Berat. Sudah berat, tidak mungkin pula.” Jelas wanita yang memakai gaun peach yang cukup tertutup tak mengekspos bentuk tubuh dan bagian yang lain kecuali leher jenjangnya sembari memamerkan kalung indahnya.


 


“kau memakainya juga?” ucap Leo sembari melirik sejenak kalung yang ada dileher Clara.


 


Sejenak wanita itu menyentuhnya dan tersenyum tulus untuk pertama kalinya.


 


“iya pak. Saya ikuti saran Pak Leo saja.” ucap Clara yang membuat Leo menghela nafas lega.


 


Bangku untuk para tamu telah terisi penuh. Bahkan mereka pun sudah tidak sabar lagi menunggu momen sakral antara Leo dan Eliza yang menjadi alasan mereka datang kesana.


 


“ayo kita mulai saja.” ucap Renaldi kepada Leo dan Panji yang berada di ambang pintu menuju altar pernikahan.


 


Panji menyusul putri kesayangan yang masih berada didalam ruangan.


 


“ayah.” Panggil Eliza lirih saat melihat ayahnya berdiri di ambang pintu untuk menyusulnya.


 


Eliza yang menyadari bahwa itulah saatnya pergi, segera beranjak dari tempat duduknya. Ia menghampiri ayahnya dengan tatapan sayu yang hampir meneteskan air matanya.


 


“sayang, ayah mencintaimu seperti anakku sendiri.” Ucap Panji kepada putri angkatnya itu sembari mengecup


keningnya lembut.


 


“iya ayah. Terima kasih sudah menjadi ayahku. Mungkin sekarang ayah dan ibuku disana juga berterima kasih.”


Jawab Eliza yang sudah tak tahan menahan air matanya jatuh.


 


“jangan menangis. Nanti aku juga tak bisa menahannya.” Ucap pria paruh baya itu yang mengusap lembut pipi


putrinya. Louisa melihat keharuan itu, dan tanpa sengaja air matanya juga menetes.


 


“ayo kita pergi.” Ucap Panji sembari memberikan lengannya untuk digandeng oleh Eliza.


 


Eliza kini sudah berdiri di ambang pintu untuk menuju altar pernikahan. Matanya menangkap sosok pria yang


sudah ia tunggu sekian lama menjadi pendampingnya.


 


Pria itu tak lain adalah Leo. Ia memutar tubuhnya dan ia tatap Eliza dari kejauhan. Gaun putih yang Leo pilih sendiri dengan tidak terlalu banyak mengekspos bagian tubuh Eliza, melekat cantik ditubuh ramping itu.


 


Matanya tak berhenti menatap wanitanya itu saat berjalan kearahnya yang ditemani oleh ayahnya. Bahkan para


tamu undangan juga terpesona dengan sosok mempelai wanita.


 


Rambut sebahu Eliza diubah menjadi cepolan yang mungil namun terlihat rapi dan cantik dengan meniggalkan


beberapa anak rambut di pelipisnya. Bahkan leher jenjangnya terlihat cantik meskipun tanpa aksesoris apapun.


 


Kini tubuh Eliza dan Leo telah berdampingan. Mereka pun mengucapkan janji suci mereka didepan para saksi dan


tamu undangan. Bahkan terdengar suara tepuk tangan dan beberapa tangis haru setelah mereka berdua mengucapkan janji itu.


 


Tak luput dari rasa bahagia itu, peluh Eliza pun mengalir lembut dipipinya. Leo hanya tersenyum dan mengusap

__ADS_1


lembut pipi wanita yang kini sudah menjadi istrinya.


 


Leo masih seperti belum tersadar. Seorang gadis kecil yang dulu dia fikir adalah adiknya kini sudah berubah menjadi wanita dewasa dan berstatus menjadi istrinya.


 


Begitu juga dengan Eliza, saat ini ia menatap lekat kedua manik pria yang 20 tahun lalu masih ia panggil kakak. Dan kini menjadi seorang pria yang akan menemani sisa hidupnya dan pemimpin dalam rumah tangganya.


 


Setelah menyaksikan janji suci dua sejoli itu, para tamu undanganpun dipersilahkan untuk menyantap jamuan yang


telah disediakan.


 


Tak mewah, tapi tidak dibuat sederhana karena terlalu banyak tamu yang datang. Bahkan Albert, paman Eliza yang berada di Milan pun menyempatkan dirinya untuk hadir.


 


“Uncle!!” seru Eliza seperti anak kecil yang berlari dan memeluk pamannya itu.


 


Dengan mudah kini Eliza bergerak, karena dia telah mengganti pakaiannya dengan gaun yang lebih pendek namun tetap tertutup meskipun membentuk sebagian tubuhnya. Rambutnya pun sudah digerai seperti biasanya dan ditambah dengan hiasan rambut yang dipilih secara khusus oleh Leo.


 


“Eliza sayang, selamat atas pernikahanmu. Semoga kau bahagia. Pasti ayah dan ibumu juga turut bahagia disana.” Ucap istri pamannya itu sembari mengelus lembut pundak Eliza.


 


“iya, terima kasih Uncle, Aunty.” Ucap Eliza dengan senyum bahagianya sembari mendaratkan bibirnya di pipi wanita paruh baya itu yang kemudian dibalas dengan kecupan hangat di keningnya yang ia rindukan dari sosok ibu.


 


“buat Eliza bahagia Leo! Ingat itu!” tegur Panji yang tiba-tiba berdiri disamping pria yang telah mengganti tuxedonya dengan jas biasa yang senada dengan warna gaun Eliza.


 


Leo terkejut saat pria paruh baya itu tiba-tiba muncul disisinya saat dia masih memperhatikan senyum Eliza yang


nampak bahagia.


 


“tenang saja paman. Aku akan membuat Eliza bahagia. Itu pasti.” Jawab Leo yakin yang kemudian memandangi


Eliza lagi yang kini juga tengah tersenyum melihatnya dan ayah angkatnya.


 


Mereka menghampiri Eliza beserta paman dan bibinya dan mengobrol disana.


 


Sedangkan disisi lain resepsi itu, Clara nampak dengan semangat melahap beberapa kudapan manis yang disediakan. Eza yang memperhatikan wanita itu hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala heran.


 


“aku tak pernah melihat seorang wanita seperti ini, kecuali istriku saat hamil. Dia bilang wanita hamil perlu banyak makan.” Ucap Eza yang tak mampu melepaskan pandangan dari Clara yang terus menyunyah makanan.


 


“mungkin apa yang dibilang istrimu ada benarnya.” Jawab Clara yang masih mengunyah makanan dimulutnya.


 


“maksudnya?” pertanyaan Eza yang penasaran membuat Clara berhenti mengunyah dan tersenyum sembari mengelus perut yang masih nampak rata.


 


 


“tunggu kau… jangan-jangan itu….” Ucap Eza tergagap karena tak mampu percaya dengan apa yang ia fikirkan.


 


“iya, ini anaknya. Tapi aku akan menjaganya, lagipula dia juga selama ini bersikap seperti pria yang baik.” Ucap


Clara yang tak melupakan senyumnya dan membuat Eza mengehla nafas lega.


 


“kak Elizaaa!!! Huwaaa!!!” teriakan.. tidak, lebih tepatnya tangisan Luqman membuat semua orang yang hadir


berhasil tercuri perhatiannya.


 


Luqman berlari kearah kakaknya dan merangkul erat sembari mengeluarkan air matanya yang membanjiri wajah


tampannya itu. Sang ayah dan Leo serta beberapa orang yang sudah mengerti sifat Luqman hanya mampu tersenyum dan bergeleng-geleng ria.


 


“astaga Luqman! Ada apa denganmu?! Bisakah kau bahagia?! Ini momen bahagia, jangan menangis. Kau tidak malu dengan Louisa yang masih tersenyum sejak tadi.” Ucap Eliza pada adiknya yang masih memeluknya erat dengan menangis sesenggukan sembari menunjuk wanita yang tersenyum bahagia memegangi buket bunga ditangannya.


 


itu terjadi karena beberapa waktu lalu. Saat sudah menjadi tradisi bahwa mempelai wanita akan melempar buket


bunganya, dan seseorang yang menerimanya berarti dia yang akan menyusul secepatnya. Dan seseorang yang beruntung itu adalah Louisa. Karena bahagianya, senyum Louisa tak bisa lepas dari wajahnya.


 


“bukan urusanku itu!!” bentak Luqman sembari membuang pandangan pada Louisa yang mendecih kesal pada Luqman.


 


“aku juga tidak peduli denganmu, bodoh! Wlekk..” ucap Louisa sembari menjulurkan lidahnya pada Luqman yang juga diladeni oleh Luqman.


 


“kak, kau tidak akan melupakanku kan? Iya kan?” rajuk Luqman seperti anak kecil.


 


“astaga Luqman. Kakak hanya menikah, hanya menjadi istri orang bukan berarti melupakan keluargaku sendiri.


Apalagi adik imutku yang satu ini.” Jawab Eliza sembari mencubiti pipi Luqman.


 


“sungguh?” tanya Luqman dengan puppy eyesnya.


 


“sungguh! Ayolah sekarang kita makan saja.” ucap Eliza sembari merangkul leher Luqman dan menariknya menuju


meja yang penuh dengan makanan.


 


“ayo!!” seru Luqman.


Leo dan beberapa orang lainnya hanya mampu tersenyum dan tertawa ria saat melihat tingkah kakak beradik itu.

__ADS_1


Bahkan tak mampu tertahankan saat Eza juga meledeki Luqman soal Eliza yang akan dibawa kabur oleh Leo dan tentunya membuat Luqman lagi-lagi menangis dan merajuk seperti anak kecil.


 


Pesta itu berlanjut hingga malam hari. Kini Eliza dan Leo berganti pakaian untuk kesekian kalinya. Dimalam hari


resepsi mereka berubah menjadi pesta dansa.


 


Para tamu undangan dipenuhi dengan teman Leo dan Eliza yang juga masing-masing membawa pasangan.


 


Sesekali Leo melirik istrinya itu yang seperti orang mencari sesuatu.


 


“apa yang kau cari?” tanya Leo heran.


 


“aku mencari sahabatku.” Jawab Eliza sembari menjijitkan kakinya dan mendongakkan wajahnya setinggi mungkin


agar dapat menemui wajah yang ia cari.


 


“sahabat?” gumam Leo.


 


Tak lama Eliza pun seperti menemukan sosok yang ia cari. Seorang pria dengan wajah yang tak kalah tampan


dan setelan jas yang sangat pas ditubuhnya itu datang menghampiri Eliza dengan senyum yang merekah.


 


“Reva!!!” seru Eliza sebari merentangkan kedua tangannya.


 


Pria itu memeluk Eliza dengan sigap dan mengangkat tubuh Eliza yang nampak enteng itu. Mata Leo terbelalak


melihat pemandangan itu. Dimana istrinya dipeluk oleh seorang pria yang dia tak tahu siapa, kecuali namanya yang baru disebut istrinya.


 


“apa kabarmu? Aku merindukanmu.” Ucap pria itu yang terus memeluk Eliza.


 


“aku juga. Oh iya sayang, ini Reva sahabatku yang kubilang tadi. Dan ini suamiku Leo.” Ucap Eliza yang tak


dengan mudah melupakan suaminya yang berdiri disebelahnya. Leo pun merasa lega karena Eliza tak melupakannya, selebih lagi setelah tahu pria yang kini berjabat tangannya adalah sahabat istrinya.


 


“oh ya Reva, kau tak bersama Amanda?” tanya Eliza yang sangat antusias.


 


“tidak. Aku datang sendiri.” Jawab Reva setelah menghela nafas panjangnya.


 


“kenapa? Kalian berpisah?”


 


“yah, itu cerita yang cukup panjang El. Lain kali akan ku ceritakan.” Jawab pria itu yang mencoba mengelak.


 


“baiklah. Nikmatilah pestanya.” Ucap Eliza sembari menepuk pundak sahabatnya itu dengan keras, sama seperti saat mereka masih duduk di bangku SMA.


 


Sejenak Eliza menampakkan wajah yang sedikit murung.


 


“ada apa? Ada yang salah?” tanya Leo sembari merangkul pundak istrinya.


 


“tidak. Hanya saja aku tadinya berharap bisa menemui Amanda.”


 


“sahabatmu?” Eliza hanya mengangguk lemah.


 


“Amanda? Bukankah dia di Texas?” tanya Leo sembari menerawang mengingat nama itu tak asing.


 


“Amanda yang kumaksud bukan Amanda yang kau tahu. Amanda yang di Texas adalah pembimbingku saat magang 8 tahun lalu. Amanda sahabatku adalah temanku SMA, tapi kalau tidak salah dia ada di Amerika.” Ucap Eliza yang membenarkan pikiran Leo sejenak yang hanya ber-oh ria.


 


“sudahlah. Kalau begitu jangan bersedih lagi. Mungkin dia terlalu sibuk jadi tidak bisa datang.” Ucap Leo sembari merangkul pinggang Eliza kini dengan posesif.


 


Eliza yang nampak heran dengan Leo pun hanya mengernyitkan dahinya.


 


“ada apa? Kau memelukku terlalu erat kurasa.” Ucap Eliza sedikit lirih namun terdengar jelas oleh Leo.


 


“biarlah. Aku melakukannya agar istriku tak direbut oleh orang lain. Apalagi dipeluk seperti barusan.” Ucap Leo


yang membuat Eliza terkekeh geli.


 


“kau cemburu?”


 


“tentu saja sayang. Kau istriku satu-satunya. Aku tak ingin kau pergi. Paham?” ucap Leo sembari menarik dagu


Eliza yang dibalas dengan anggukan dari Eliza yang mengisyaratkan bahwa dirinya mengerti.


 


Malam itu menjadi malam panjang. Malam yang menjadikan Leo dan Eliza seperti menjadi pemilik dunia ini untuk


semalam.


 


 


 

__ADS_1


***


__ADS_2