
Wajah Leo sangat dingin menemani suasana malam itu yang juga sangat dingin. Matanya menatap tajam kearah jalanan yang terlalu ramai. Laju mobilnya berada di kecepatan rata-rata.
Hanya butuh waktu 15 menit ia sampai di tempat tujuan, yang tak lain adalah restoran untuk makan malamnya bersama Johan. Leo duduk dibangku yang sudah ia pesan.
Leo melihat jam yang melingkar manis di tangannya menunjukkan pukul setengah 8 malam. Dia berharap tidak memerlukan waktu yang lama untuk dia berada disini.
Tujuannya untuk makan bersama dengan Johan bukanlah sebagai ucapan terima kasih. Atau bisa dibilang itu hanya kedok. Tapi dia ingin menggali informasi dari Johan secara langsung.
Tak lama ia menunggu orang yang ia tunggu telah ada didepannya.
“maaf pak Leo, sudah lama menunggunya?” tanya laki-laki muda itu dan mengambil posisi duduk didepan Leo.
Wajah tampan keduanya membuat pengunjung lain terutama wanita menunjukkan perhatian kearah mereka berdua. Dan beberapa dari mereka pun ada yang berfikiran tak tahu arah.
“o ya pak Johan silahkan ingin pesan apa?” ucap Leo kepada orang yang ada didepannya itu yang ditunggu oleh
pelayan yang memegang kertas dan pena.
“jangan panggil saya ‘pak’, pak Leo kan lebih tua dari saya. Panggil saja Johan.” Jawab Johan sembari tersenyum
manis kepada Leo dan Leo pun membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manis.
Tanpa sadar pelayan yang menunggu mereka tiba-tiba blushing melihat kedua laki-laki didepannya terlihat tampan
dan seperti saling menggoda satu sama lain.
Sedikit perbincangan terjadi antara pelayan dan kedua laki-laki tampan itu. Pesanan pun sudah di catat. Si pelayan pergi meninggalkan mereka berdua di meja itu.
“sepertinya akhir-akhir ini kau sangat sibuk?” tanya Leo kepada Johan yang sedang meminum segelas air putihnya.
“ah, benarkah? Tidak juga. Hanya beberapa pekerjaan saja. memangnya kenapa?” jawab Johan sedikit menampakkan kegugupannya.
“ah tidak, hanya saja akhir-akhir ini setiap kali saya membaca Koran, saya melihat namamu di akhir berita. Bukankah itu berati kau yang menginput berita?” ucap Leo yang nampak serius.
Tatapan matanya sangat tajam, Johan yang merasa dirinya ingin dimangsa hanya mampu bersikap manis dengan
tersenyum.
“apakah benar? Berarti pak Leo suka sekali membaca beritaku.” Lagi-lagi Johan membalasnya dengan senyuman.
‘yang benar saja, pria ini terus tersenyum. Tidak pegalkah bibir itu?’ batinnya bertanya-tanya.
“iya aku suka sekali membaca beritamu. Aku menulisnya berdasarkan fakta yang ada dan bukti yang konkrit.”
“tentu saja itulah tugasku.”
“tapi aku penasaran bagaimana kau mendapatkan bukti dan informasi sekonkrit itu.” Ucap Leo yang lagi-lagi membuat Johan nampak gugup tapi hal itu dapat disembunyikan oleh Johan secara baik-baik.
“apalagi saat berita mengenai Billy Pramono yang diduga kasus bunuh diri. Tapi diartikelmu berjuduk ‘pembunuhan’, kau juga menjelaskan beberapa hal yang menurutmu janggal. Bagaimana bisa kau dapatkan informasi itu?” tanya Leo yang tak henti-hentinya.
Johan mengangkat jari telunjuknya didepan bibirnya.
“sebenarnya para reporter juga mempunyai jurus rahasia untuk mengumpulkan informasi mereka Pak.” Ucapnya
sembari mengedipkan sebelah matanya.
Para pengunjung lain yang sedari tadi melihat tingkah keduanya tanpa mendengar pembicaraannya itu, menganggap mereka seperti sepasang kekasih yang saking menggoda.
Beberapa sorot mata terus memperhatikan mereka berdua dan beberapa orang membicarakan mereka. Namun baik
Leo ataupun Johan, tidak ada yang memperdulikannya.
“benarkah?” ucap Leo dengan senyuman yang terlukis diwajahnya seiring dengan pelayan yang mengantarkan
makanan pesanan mereka di meja.
“silahkan dinikmati tuan.” Ucap pelayan itu dan pergi meninggalkan mereka berdua.
“kita makan dulu.” Ucap Leo mempersilahkan Johan makan, dan hanya dibalas anggukan kepala.
‘apa dia tidak mengingatku?’ batin Johan bertanya pada dirinya sendiri sembari menatap Leo yang sudah menyuapkan makanan kemulutnya, dia pun mulai mengambil sendoknya dan segera menyantap hidangan yang ada di depannya.
Mereka berdua terus menyantap makanan masing-masing dengan lahap tanpa sepatah kata pun. Bunyi alat makan dan bisingnya orang berbicara meramikan telinga berdua.
Leo menghentikan kegiatannya, karena makanan yang ia santap sudah habis tak tersisa. Dia sangat lapar. Ya.. sangat lapar, bahkan ia ingin mencari makanan lagi setelah ini.
Leo pun mengambil ponselnya dan membuka aplikasi chat nya dan mencari kontak Eliza.
My Liza
__ADS_1
‘sayang…kau masih bangun?’
Nihil. Tidak ada jawaban. Leo kembali meletakkan ponselnya. Ia menatap laki-laki yang ada didepannya yang
kini sudah selesai dengan makannya dan menatapnya dengan senyuman di wajahnya.
“apa rencanamu setelah ini pak Leo?” tanya Johan pada Leo yang kini sedang meminum isi gelasnya.
“entahlah. pulang? Kau?” Leo balik bertanya kepada laki-laki yang ada didepannya.
“aku juga akan kembali pulang. Menemui kekasihku.” Jawabnya ringan dengan tertawa renyah.
“hooo, ternyata kau sudah memiliki kekasih. Baru? Apa dia mirip dengan Eliza seperti yang kau harapkan?”
canda Leo.
“iya, aku baru bertemu dengannya dan langsung menyukainya. Dia tidak mirip seperti kak Eliza yang baik dan
cantik tapi aku nyaman.”
‘kak Eliza?’ batin Leo bertanya kenapa dengan mudahnya Johan memanggil Eliza dengan sebutan ‘kak’.
“ngomong-ngomong, aku masih penasaran. Sudah berapa lama kau bekerja di profesi ini?” tanya Leo dengan
menutupi keseriusannya sembari tersenyum ramah.
“wah, ternyata kau ingin melanjutkan pembicaraan yang tadi?” tanya Johan yang dijawab dengan senyuman
dan bahu Leo yang sedikit terangkat.
“aku sudah bekerja selama 3 bulan mungkin? Belum lama. Tapi aku sangat menyukainya.” Jelas Johan dengan
santainya.
“oh benarkah?” tanya Leo meyakinkan.
“iya aku disini sudah mencoba berbagai pekerjaan, seperti cleaning service, tukang parkir, penjual Koran, tukang ojek, dan ya… lumayan masih banyak lagi.” Jawab Johan sekenanya sembari tertawa mengenang masa lalunya.
“tunggu. Apakah kau tidak kuliah?” tanya Leo penasaran.
“tidak. Aku tinggal di panti asuhan saat umurku 5 tahun. Dan aku mulai mencari kerja dari umur 17 tahun. Selain pendidikan di dalam pantai itu, aku tidak mendapatkan pendidikan lainnya. Dan kurasa pendidikan yang aku terima sudah cukup.”
“kau tahu panti asuhan Puja Laksana.” Leo mengangguk menandakan dirinya mengiyakan pernyataan Johan.
“disanalah aku tinggal.” Sejenak Johan diam, tapi setelah itu matanya berubah.
“jika tidak karena orang-orang bejat itu!! Ayahku pasti masih hidup!” ucap Johan sembari mengahantam meja sekerasnya, membuat pengunjung lain memerhatikannya.
Leo hanya terdiam. ‘mungkin cukup untuk hari ini.’ Batinnya saat melihat kegeraman Johan karena terus dibuat
untuk mengingat masa lalunya.
“ah, maafkan aku pak Leo.” Ucap Johan yang kembali mereda amarahnya. Dia tertunduk malu.
“tidak apa-apa, aku tidak masalah. Itu wajar. Masa lalu ku juga tidak terlalu baik. Aku seharusnya meminta maaf karena membuatmu mengingatnya.” Jawab Leo yang ditemani dengan senyum dari bibir manisnya.
“tapi kau bertemu dan memiliki orang-orang baik disekitarmu.” Gumam Johan.
“kau bilang sesuatu?” tanya Leo memastikan bahwa apa yang ia dengar dari bibir Johan tidak salah.
“tidak. Oh ya, pak Leo bolehkah aku pergi terlebih dahulu, kekasihku pasti sudah menunggu dirumah?”
“tentu saja.” jawab Leo dengan senyuman terbaiknya. Johan pun segera bergegas pergi.
Leo yang masih menunggu pelayan mengantarkan bill-nya, ia menekan nomor diponselnya, setelah itu ia dekatkan ke telinganya.
Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan anda…
‘ah sial, kenapa operator yang menjawabnya.’ Batin Leo berteriak.
“apa kau sudah tidur?” gumam Leo sembari menatap layar ponselnya.
Disana terlihat sepasang anak kecil yang satu seorang gadis kecil berumur 8 tahun dan yang satu anak laki-laki kecil beusia 10 tahun. Mereka tampak bahagia sembari menggedong seekor kelinci yang imut. Foto itu salah satu kenangan Leo, dimana mulai waktu itu Eliza memanggilnya ‘kakak kelinci’. Leo selalu tertawa saat mengingat kenangan yang satu ini.
“ini pak, silahkan.” Ucap seorang pelayan yang telah mengantarkan kembali salah satu kartunya.
Kring…
__ADS_1
“halo.” Sapa Leo pada nomor yang tak ia ketahui itu secara tiba-tiba menelfonnya.
“apakah ini Leonardo Hermawan?” pertanyaan seseorang pria yang terdengar di seberang sana membuat langkahnya terhenti.
“ini siapa?” tanya Leo yang kini menampaknya wajah seriusnya.
“tolong datang ke alamat yang aku kirim. Kau akan tahu siapa aku.”
Tut..
“laki-laki tua sialan!! Itu pasti kau!!” hentak Leo yang sudah ada di depan mobilnya.
Ia pun membuka pesan yang dikirim oleh sebuah nomor yang tidak ia kenal. Ia memasuki mobilnya dengan sedikit
geram. Saat ia mengingat sesuatu ia kembali memencet tobil di layar ponselnya.
“halo Clara.”
“….”
“saya minta kamu cari informasi lebih lanjut dan teliti lagi tentang orang yang bernama Johan Vincent. Besok
saya lihat filenya.”
Tut..
Leo menutup paksa panggilan itu dan segera melajukan mobilnya. Ia tak ingin menunda waktunya bertemu dengan
salah satu pria tua itu dan ingin sekali menghajarnya.
Tak butuh waktu lama. Di restoran yang dijanjikan matanya menangkap seorang pria paruh baya tengah duduk
sendirian. Tak ada pengunjung satu pun saat itu di restoran ini.
“hei kau.” Ucap Leo yang menepuk pundak pria itu. Dia sudah mengepal tangannya dan bersiap melayangkan pukulan itu. Namun ia urungkan setelah melihat wajah pria tua itu.
“kkau.. kau Leonardo?”
“apa yang kau inginkan?”
“ddu..du..duduklah kita bicarakan baik-baik.”
“jika tidak ada yang penting aku pergi.”
“tunggu! Tidak jangan pergi. Tolong ampuni aku. Jangan bunuh aku. Aku mohon.” Ucap pria tua itu dengan
berlutut menyentuh betis Leo.
“apa maumu?” tanya Leo yang entah mengapa merasa iba pada pria tua itu.
“tolong ampuni aku. Aku.. aku.. aku akan mengakui semua kejahatanku. Dimana gadis itu?” Leo mengerutkan dahinya.
“maksudmu Elizabeth.”
“iya, dia. Katakan aku yang membunuh keluarganya. Hu..hu..hu” tangis pria ini semakin menjadi.
“apa yang kau takutkan?”
“aku takut kau membunuhku. Jadi..”
“jadi kau mengakui kesalahanmu agar aku tak balas dendam kepadamu.” Pria itu terdiam seribu bahasa.
“tuan kuberi tahu. Bukan aku atau Eliza yang melakukannya. Tapi terima kasih kau mengakuinya. Jika kau benar-benar ingin selamat, datanglah ke kantorku besok pagi.” Ucap Leo yang melepaskan cengkraman pria itu dan pergi meninggalkannya.
“tunggu! Benar kau akan membantuku?” tanya pria itu membuat langkah Leo terhenti.
“jika kau datang besok kekantorku. Jika tidak, tunggu saja ajalmu.” Jawab Leo yang kemudian pergi
meninggalkan pria tua separuh baya yang frustasi itu disana sendirian.
Tanpa disadari sepasang mata memerhatikan mereka dari luar.
“Lucas Alvano. Matilah kau!”
***
__ADS_1