Poker Face

Poker Face
Part 3


__ADS_3

Tok.. tok..



“masuk.”



“maaf pak, saya mengantarkan berkas kasus Billy, yang bapak minta.” Ujar seorang wanita yang memakai rok ketat selutut dengan belahannya sepaha yang mengekspos kakinya yang mulus, serta bluse putih dengan menunjukkan lehernya yang jenjang.



“iya terima kasih.” Ucap pria dengan kemeja hitam itu pahit dengan tidak melirik sama sekali kepada wanita


yang ada didepannya.



Wanita itu mendengus kesal sambil melihat papan nama yang ada di meja itu ‘Leonardo Henry Chandra, sulit sekali


kau didekati’ batinnya. Ia pun pergi dari ruangan itu, duduk diatas meja kerjanya dan kembali berkutat dengan berkas dan kamputernya.



Sedangkan jaksa yang sedari tadi berkutat dengan komputernya, matanya tak mampu memandang jauh dari layar.


Bahkan sekretaris cantik dan seksi itu pun tak membuat konsentrasinya buyar. Ia tak memperdulikannya, secantik apapun wanita yang mendekatinya, menurutnya tak lebih cantik dari wanitanya.



Ia memijat pelipisnya sejenak setelah e-mail yang ia ketik sedari tadi telah terkirim. Berkas yang ada di ujung meja itu pun ia ambil dan dibuka perlembarnya. Memahaminya perlahan dan… ia menyadari ada yang kurang.



“Clara.” Panggil Loe pada sekretarisnya yang langsung tersenyum dan menghampirinya masuk.



“iya pak. Ada apa?”



“dimana hasil otopsinya?”



“akan dikirim lewat e-mail pak, sekitar jam 10 nanti.”



“saya mau hardcopy-annya.”



“baik pak.”



Sekretaris itu pun terdiam disana sambil memandangi wajah tampan didepannya. Seorang jaksa dengan ketampanannya, kecerdasannya, kewibawaannya dan lengkap dengan tubuhnya yang indah meski tertutup dengan


kemejanya. Loe pun melirik kearah sekretarisnya yang sedari tadi memandanginya, yang malah membuat Leo merasa risih.



“yasudah sana, balik lagi kamu.” Perintahnya



“baik pak.” Jawaban sekretaris itu yang disusul dengan wajahnya yang cemberut.



‘cih, ternyata tak salah pria tampan itu masuk ke devisi ini. Sama seperti sifatnya. Hatinya terlalu dingin.’ Batin sekretaris itu kesal. Sedangkan di lobby firma hukum itu kini terlihat seorang pria menawan keluar dari lift di lantai lima. Semua mata seperti terhipnotis dengan ketampanannya. Ia pun berhenti didepan pintu yang menghubungkan suatu ruangan. ‘devisi kejahatan dan pembunuhan. Benar ini kan?’ batinnya yang kemudian mengetuk pintu.



Ia membuka pintu itu. Sekretaris wanita yang sedari tadi hanya menatap lurus atasannya dengan tatapan sinis melalui kaca transparan, kini menatap laki-laki yang baru saja memasuki ruangan dan membuatnya terpesona.



“hai Clara.” Sapa laki-laki itu.



“hai…” jawab sekretaris itu dengan senyumanannya dengan fikirannya pada wajah tampan itu.



“aku masuk yaaa…” ucap  laki-laki itu yang sudah masuk keruangan yang satunya lagi dan dibalas dengan anggukan oleh wanita itu.



Didalam sudah ada pria yang tak kalah tampannya sedang memegang kertas dari sekretarisnya barusan dan menatap dingin pada orang yang baru saja masuk kedalam ruangannya itu.

__ADS_1



“kenapa kesini Luqman?”



“hahaha, ingin saja.” tawanya geli sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.



“astaga Luq, sudah, katakan saja. kau pikir bisa berbohong dihadapku, hah?”



“iya, iya. Kak Leo. Mungkin kau tak perlu lagi memikirkan kasus ini. Ini murni bunuh diri.” Jelasnya serius.



“apa maksudmu?”



“mau bagaimana pun kami mencari bukti pembunuhan kemana pun tidak ada hasilnya. Semua buktinya mengarah pada kasus perselingkuhan istrinya, yang bahkan saat kejadian hingga sekarang beliau masih ada di Bali. Berlibur bersama temannya.” Jelasnya secara terperinci dan mengambil posisi duduk di sofa ruangan itu yang tak jauh dari meja Leo.



“di Bali? Belum pulang? Apa tak tahu bahwa suaminya telah mati?”



“buat apa peduli. Dia saja selingkuh. Mengetahui suaminya mati bukannya itu kabar gembira.”



“tapi itu juga gila.”



“intinya aku kesini ingin memberitahumu hal itu. Jadi berhentilah membuat dirimu kesulitan dengan kasus


ini.”



“kau yakin ini bukan pembunuhan??” tanya Leo menyakinkan karena melihat keraguan dimata Luqman.



“entahlah. Sejujurnya aku pun tidak yakin, karena dari hasil otopsi menunjukkan adanya sebuah perlawanan korban dan beberapa titik terkena pukulan benda tumpul. Serta bekas tali pada leher korban tidak sama dengan tali yang digunakan korban untuk gantung diri. Dan masih banyak lagi hal janggal lainnya.”



“tunggu, kau bilang hasil otopsi??”



“iya.”



“bukannya belum keluar?”



“sudah. Bahkan setelah kak Eliza selesai, ia memberikan salinannya pada Louisa. Kenapa?”



“aku belum dapat.”



Luqman mengangkat bahunya menandakan ia tak tahu. ‘ah sial!’ batin Leo. Mengingat ia bertemu dengan Eliza


kemarin dan belum menyapa, bahkan saat Eliza menggodanya ia menjawabnya ketus.



Braakkk



Pintu ruangan itu tiba-tiba dibuka dengan kasar, oleh tangan seorang wanita.



“Louisa??” tanya Luqman terheran melihat pacarnya terengah-engah dan berjalan mendekatinya.



“aku menemukan rekaman cctv korban dan seseorang disebuah rumah sakit 12 jam sebelum korban meninggal.”


__ADS_1


“12 jam?? Astaga, sejauh itu kau mencari.”



“pak Leo yang menyuruhku.”



“iya mungkin saja itu bisa menunjukkan kita ke bukti lain.” Ucap Leo yang mengambil jasnya dan memakainya.



“kau tidak membawa rekamannya??” tanya Luqman dengan tangan menengadah seperti meminta sesuatu.



Louisa memukul tangan Luqman. “tidak, pihak rumah sakit tidak mengizinkannya.”



“kenapa? Bukannya kau polisi??” tanya Leo sambil merapihkan pakaiannya.



“hahaha, aku tahu, mungkin karena tampangnya tak pantas jadi polisi, akhirnya mereka curiga.” Jawab Luqman


sembarang dengan nada mengejek, dan jari mungil Louisa mendarat dipinggang Luqman serta mencubitnya keras yang membuat Luqman pun meringis kesakitan.



“sudahlah, ayo kesana.” Ajak Louisa dengan wajah cemberut.



Luqman dan Leo saling pandang.Dengan jelas Leo menuduh Luqman yang jadi penyebabnya. Luqman pun mengejar Louisa yang sudah ada didepannya berjalan dengan cepat.



Sembari berjalan mengikuti kedua orang didepannya, Leo mengeluarkan ponsel dengan casing silver itu dari saku jasnya. Ia menekan beberapa kali dan menempelkan benda itu ketelinganya setelah berbunyi nada sambung.



“siapa?” jawab wanita diseberang sana ketus.



“kau dimana?”



“markas.”



“kau libur?”



“…”



“kau marah kepadaku? Dengar, aku minta maaf tidak menyapamu. Setelah ini aku akan kesana?”



“tak perlu. Setelah makan siang aku akan ke rumah sakit. Aku tahu kau akan kemana. Jadi tak perlu repot-repot.” Jawabannya yang kali ini membuat Leo tersenyum meskipun nadanya masih sedikit ketus padanya.



“oh iya, aku sarankan jika kau tak mampu lagi jangan dipaksakan. Kau mengejar bayangan yang sudah berlalu.” Ucapan Eliza membuat senyuman Leo semakin mengembang.



“tenang saja sayang, meskipun bayangan itu sudah berlalu, tapi cahaya belum memusnahkannya.”



Tutt



Panggilan itu dihentikan secara sepihak dari seberang sana. Senyum Leo yang tergambar diwajahnya setelah mendengar suara wanita yang ia rindukan selama 8 tahun terakhir.






***

__ADS_1


__ADS_2