Poker Face

Poker Face
Part 27


__ADS_3

Di luar rumah besar itu terparkir rapi tiga mobil di perkarangannya. Hanya seorang pria yang sedari tadi di sana. Berlindung dari guyuran hujan dan memberanikan diri sendirian di dalam mobil dengan suasana yang cukup menegangkan.


 


Mendengarkan beberapa kilatan yang bersamaan dengan sesekali tak sengaja mendengar suara tembakan dan teriakan. Bahkan matanya menangkap kilatan yang menghancurkan kaca rumah yang ada didepannya.


 


Sudah cukup lama pria itu menunggu, keluarlah atasannya dan sekumpulan orang yang mengikutinya. Mereka pun masuk kedalam mabil masing-masing sama seperti saat mereka datang.


 


“ayo kita pergi ke markas.” Ucap Billy pada sekretarisnya yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka.


 


“baik tuan.”


 


Dengan perlahan pria itu mengendarai mobilnya dibawah hujan deras menuju mansion yang mereka sebut


markas itu.


 


“ah sial!” umpat pria yang berada di kursi penumpang.


 


“maaf tuan?”


 


“ah, bukan apa-apa.”


 


“apakah rencananya berhasil?”


 


“tentu saja. hanya saja gadis kecil itu tidak ada disana. Entah dimana rubah kecil itu. Sial!”


 


“dia hanya anak kecil tuan.” Ucap sekretarisnya itu yang menenangkan atasannya dan diam-diam menghela nafas lega.


 


‘aku harus menghubungi Tommy.’ Batin pria itu.


 


Tak perlu waktu yang lama mobil itu pun telah terparkir di pekarangan mansion megah itu.


 


“kau bisa pulang sekarang. Kau sudah cukup bekerja keras sampai saat ini. Tunggu saja kabar baiknya.” Ucap


atasannya itu sesaat sebelum melangkahkan kakinya keluar dari mobil itu, sekilas pula tergambar senyuman sinis di wajahnya namun tak dihiraukan.


 


Dengan sigap mobil itupun berputar arah dan menuju kearah lainnya.


 


Kini duda beranak satu itu tengah menggendong putra kesayangnnya yang terlelap menuju kamarnya.


 


“selamat malam Johan, papi mencintaimu begitu juga mamimu.” Ucap pria itu sembari mencium lembut kening


anaknya dan melirik kearah foto seorang wanita muda yang berbingkai manis di nakas.


 


Pria itu pun mengambil ponsel di saku setelannya dan menekan layar mencari sebuah nomor.


 


“halo Tommy. Aku ingin mengatakan sesuatu.”


 


Beberapa hari kemudian…


 


‘pembunuhan dan perampokan disalah satu keluarga yang terjadi pada beberapa hari lalu akhirnya menemukan pelakunya. Tersangka dan beberapa orang lainnya telah dinyatakan sebagai pelaku pembunuhan sekaligus perampokan. Sang tersangka memiliki motif balas dendam sebagai asisten pribadi yang selalu dilakukan secara semena-mena. Pada kasus ini korban terdiri dari sepasang suami istri dan delapan orang pelayan rumah tangga yang berju,lah sepuluh orang. Tersangka juga diduga dengan kasus penculikan, karena diketahui oleh pihak polisi bahwa tersangka utama membawa putri dari pasangan suami istri tersebut untuk menjadi sandera. Kini pelaku telah dijatuhi hukuman pidana namun masih mengajukan banding karena diketahui pula adanya tersangka lain yang belum diketahui oleh kepolisian. Sekian berita yang dapat saya sampaikan..’


 


Televisi itu menyiarkan berita yang sudah  tak asing bagi Alviano. Bagaiman tidak, dialah yang juga ikut menjalankan rencana ini. Namun kini, dirinya seperti dikhianati, karena tanpa sepengetahuannya dan diluar rencana, sahabat karibnya sendiri dibuat menjadi kambing hitam oleh atasannya itu yang tak lain adalah pelaku sesungguhnya.


 


‘sialan! Para pria brengsek itu menipuku!’ batin Alviano berteriak keras.


 


Kring…


 


“halo tuan.” Sapa Alviano yang telah mengangkat panggilan yang tertera jelas di layar ponselnya nama atasannya.


 


“susul kami di persidangan.” Jawab pria dibalik ponsel itu singkat dan kemudian mengakhiri panggilan itu secara


sepihak.


 


Dengan sigap sekretaris itu pun melajukan mobilnya kearah tempat yang sudah ditandai untuk menjumput atasannya itu. Pria itu sampai sebelum persidangan berakhir. Atau bisa dibilang hampir berakhir.


 


“dengan ini saya nyatakan. Tommy Hermawan dinyatakan bersalah dan akan dijatuhi hukuman mati.”


 


Tok..tok..tok


 


Ucapan terakhir hakim itu dan disusul ketukan palu itu membuat tubuh Alviano membeku diambang pintu. Ia mendengar dengan telinganya sendiri keputusan itu.


 


Dimatanya juga kini menangkap wajah atasannya yang berada di sana sebagai tersangka yang dinyatakan tidak


bersalah. Wajah mereka tampak bahagia.


 


Kerumunan orang pun berpergian dari ruangan itu. Hanya tersisa beberapa orang. Bahkan kini dengan jelas tergambar sudah beberapa sosok anak kecil yang sedang menangis.


 


Ia hampir tak kuat menahan air matanya jatuh. Alviano mengingat dengan jelas saat dia dan Johan ditinggal oleh

__ADS_1


wanita tercintanya setelah melahirkan.


 


“Alvian! Cepatlah kemari!” seru Billy untuk memanggil Alviano yang tengah termenung di ambang pintu ruangan itu.


 


“baik tuan.” Jawabnya yang segera menyusul atasannya itu.


 


“SUAMIKU BUKANLAH SEORANG PEMBUNUH DAN PENCULIK!!!!!” suara seorang wanita yang mengehentikan langkah Alviano saking terkejutnya.


 


Wanita itu tak lain adalah istri dari sahabat karibnya. Kini tangis anak laki-lakinya pecah. Tapi bagaimanapun dia tidak dapat ikut campur mengenai hal itu agar aman.


 


Pria itu bersama atasannya dan pria lainnya kembali ketempat biasanya berkumpul. Mobil-mobil itu sudah tertata


rapi di perkarangan yang luas.


 


Beberapa cangkir teh di bawa oleh sekretaris itu menuju meja tempat berkumpul para pria tadi.


 


“silahkan tuan.” Ucap pria itu sembari meletakkan satu persatu gelas teh itu di atas meja.


 


“hei, bukankah kita seharusnya merayakan dengan segelas wine, atau sejenisnya.” Ucap Lucas saat melihat yang


didepannya adalah segelas teh.


 


“sudahlah. Minum saja, ini adalah teh yang dibeli istriku di Inggris.” Ucap Billy yang menghirup arona teh yang


nikmat.


 


“ah, istrimu memang ya.”


 


Mereka merayakan keberhasilan mereka. Tapi tak sampai disitu, rencana mereka terus berlanjut. Mereka pun berhasil mensiasati saham yang akan mereka ambil.


 


Suka cita mereka bertambah. Mereka pun berfikir bahwa renca yang mereka lakukan tidak sia-sia.


 


Suatu hari…


 


“hei, Billy apa kau yakin akan membagi saham menjadi 6?”


 


“untuk apa?”


 


“bukankah kau juga akan memberikan bagian pada sekretarismu itu?”


 


 


“setia? Bukankah kau juga akan segera menyingkirkannya?”


 


“hei, bicaralah sedikit pelan. Bagaimana jika dia mendengarnya.” Bisik Lucas yang mengisyaratkan pada yang lain untuk tenang.


 


‘aku sudah mendengarnya brengsek!’ batin seorang pria yang berdiri sedari tadi di balik pintu.


 


Pria itu pergi dari mansion besar itu menuju rumahnya. Dirinya bisa dibilang hancur dan merasa terhina. Ia sudah mengkhianati sahabatnya karena egonya dan kini dia juga telah dikhianati oleh orang yang menganggapnya orang kepercayaan.


 


Seorang anak kecil yang tertidur pulas di atasa ranjang, setidaknya membuat hati pria itu sedikit tenang. Tubuh mungil itu ia peluk dengan hangat untuk menghilangkan penatnya.


 


“aku sudah menyimpan segala bukti di brankas. Hanya tinggal menunggu waktu mereka akan tahu akibatnya!” geram pria itu yang perlahan juga ikut terlelap sembari memeluk anaknya.


 


Matahari pun kini sudah mulai masuk kedalam sela-sela jendela yang tertutup. Tubuh mungil yang tertidur di sebelah ayahnya itu sudah terbangun terlebih dulu.


 


“papi! Papi! Ayo bangun.” Ucap anak kecil itu sembari mengoyang-goyang tubuh ayahnya.


 


“iya, iya papi sudah bangun.” Jawab sang ayah yang sudah terduduk namun masih memejamkan matanya dengan rapat.


 


Mereka melakukan ritual pagi mereka seperti biasa. Dan sama dengan hari lainnya sang ayah menitipkan putra


kesayangannya itu di sana. Meskipun ia tak menyadari sama  sekali bahwa saat itu adalah terakhir kalinya ia melihat anak semata wayangnya.


 


Ia melajukan mobilnya dengan cepat seperti biasa. Kelajuan hampir dibatas normal. Ia diburu oleh atasannya seperti biasanya. Tanpa ia sadari itu akan mempeburuk keadaanya.


 


Sedangkan dilain tempat. Beberapa orang pria hanya mampu tersenyum simpul mengingat rencana akhir mereka sudah berhasil.


 


“tuan, saya sudah melakukan sesuai perintah anda.” Ucap salah seorang pria sembari menundukkan kepalanya.


 


“bagus sekali.” Ucap Kevin dengan senyum simpulnya.


 


“apa yang kau lakukan?” tanya Billy yang terheran melihat tingkah rekannya itu.


 


“mungkin seharusnya kau segera mencari sekretaris baru. Karena sebentar lagi dia kesini hanya sekedar nama.” Jelas Kevin yang kemudian diiringi tawa para pria itu.


 


Dan dengan susah payah, di dalam mobil pria satu anak itu tengah berusaha mengendalikan setirnya. Tak butuh

__ADS_1


waktu lama lagi, ia pun mulai menyadari sesuatu yang salah terjadi pada mobilnya.


 


“ah sial! Remnya!” sentaknya terkejut saat menginjak rem yang bahkan tak berfungsi sama sekali.


 


BRUKK!!!


 


Dalam hitungan detik. Mobil itu akhirnya terguling dan hancur bersama sang pengendara.


 


‘mungkin inilah balasan yang setimpal.’


 


20 tahun kemudian….


 


“dok! Dokter! Dokter Eliza! Tunggu aku!” teriak seorang wanita yang mengejar wanita berjas putih yang berjalan


didepannya.


 


“sstt! Lisa, kau tahu ini dirumah sakit. Jangan berteriak!” tegur Eliza dengan mengisyaratkan tangannya yang diletakkan diatas bibirnya.


 


Seorang pria muda hanya terkekeh melihat kejadian yang ada di depannya dengan tetap fokus memaju mundurkan alat pelnya.


 


“maaf dok. Aku ingin mengakatan bahwa jenazahnya sudah dikremasi.” Jelas asisten dokter itu yang mulai dengan


nada lembutnya.


 


“baguslah. Dan kirimkan data hasil otopsi itu ke kepolisian jangan lupa.” Ucap Eliza yang hanya diangguki oleh asistennya dan beranjak pergi.


 


Tak asing lagi dengan dokter yang satu ini. Sang asisten pun tak ambil pusing. Ia melirik kearah pria yang menjadi cleaning service di rumah sakit itu yang sedari tadi memperhatikan perbincangan mereka berdua sembari tersenyum lembut.


 


“apa kau tadi menertawakan ku?” tanya wanita itu dengan hanya melirik kearah pria itu.


 


“tidak. Maaf kan aku.” Jawab pria itu yang sejenak menghentikan kegiatannya.


 


“ah, benarkah? Siapa namamu?” ucap wanita itu yang dengan sekejap percaya begitu saja pada bibir manis pria itu.


 


“aku Johan. Johan Vincent.” Jawab pria itu dengan senyum lembut dan menengadahkan tangannya untuk bersalaman.


 


Selang beberapa minggu..


 


“Johan! Kau jualah koran ini disana. Aku akan pergi kearah yang berlawanan.” Seru seorang pria dengan pakaian lusuh sembari membawa tumpukan korang di pelukannya dan berjalan kearah tempatnya mencari nafkah.


 


“baiklah.” Jawab Johan dengan menuruti perintah temannya itu.


 


Lampu merah pun menyala. Sesuai peraturan yang ada, beberapa kendaran pun berhenti.


 


“Koran! Koran! Korannya pak, bu!” teriak pria itu dengan sisa tenaganya, yang sudah sedari pagi tadi menjual Koran namun tak habis-habis.


 


“mas, korannya.” Seru seorang pria dengan setelan rapihnya dari dalam mobil.


 


“berapa pak?” tanyanya ramah.


 


“satu saja.”


 


“2 ribu rupiah pak.” Ucap sang penjual sembari memberikan barangnya dan menerima selembar uang dari tangan yang tak asing itu.


 


“Leo, Leo, jaman sekarang kenapa harus membaca Koran, hah?!” tanya seorang pria yang duduk dibalik kemudi mobil itu.


 


“diam kau, bukan urusanmu.” Bentak Leo pada pria itu.


 


“terima kasih, pak.” Sapa ramah Johan yang dibalas dengan senyum hangat Leo itu.


 


Lampu hijau kembali menyala. Mobil itu pun pelahan berjalan meninggalkan sosok itu sendirian. Namun, dihatinya sejenak merasakan kebahagian, saat tahu apa tujuan hidupnya.


 


 


 


***


 


mohon ditunggu updetan selanjutnya ya...


harap bersabar...


author juga bersabar dengan ujian yang ada...


hiks T_T


 


Salam Hangat


 


Nura Hashi

__ADS_1


__ADS_2