Poker Face

Poker Face
Part 13


__ADS_3

pesan author : harap bijak dalam membaca yaa... Terimakasih....


_____


 


“aghhhh!!!!! Aku bisa gila!!”


Clara mengguling-guling badannya di atas kasur dengan layar laptop yang masih menyala. Setelah mendapat panggilannya ia seperti orang frustasi, dia harus mencari data seseorang yang tidak tahu itu siapa.


 


“agh! Dasar jaksa gila! Menyuruhku seenaknya! Tampan sih iya! Tapi kejam!” umpat Clara sekenanya pada atasannya itu.


 


“bagaimana jika atasanmu mendengarnya, sayang?” seorang laki-laki sudah berdiri dibelakang wanita itu.


 


“Johan?! Kau sudah pulang?” Clara berdiri dan menghampiri seorang laki-laki yang baru beberapa hari lalu menjadi


kekasihnya.


 


“tentu saja, aku sudah merindukanmu.” Johan mengecup lembut bibir Clara. “apa yang kau lakukan?”


lanjutnya.


 


“atasanku menyuruhku mencari informasi mengenai seseorang.” Jawab Clara melepas pelukannya dan kembali


menghadap layar laptopnya.


 


“kau tahukan atasanku itu. Dia orang yang kau temukan dompetnya dan kau cari-cari itu.” Lanjut Clara dengan


menengus kesal.


 


“siapa yang kau cari?”


 


“Johan Vincent.”


 


Johan hanya tersenyum. Mengingat wajah laki-laki itu yang menunjukkan ketidak perdulian pada dirinya beberapa


jam yang lalu.


 


“ngomong-ngomong kau sudah makan malam?” tanya Clara.


 


“sudah. Tapi aku masih lapar.”


 


“kau ingin makan sesuatu?” tanya Clara yang dijawab dengan gelengan pelan oleh Johan.


 


“tidak. Aku ingin memakanmu.”


 


***


 


Tingtong…tingtong…


 


“astaga. Siapa yang malam-malam begini datang.” Keluh Eliza yang terbangun mendengar suara bel apartemennya terus berbunyi. Ia melihat jam dinakas sebelah tempat tidurnya menunjukkan pukul 10 malam.


 


Ia berjalan gontai menuju pintu kamarnya dan menyalakan lampu kamarnya. Ia mencari kemeja putih yang tergantung untuk menutupi sebagian tubuhnya yang hanya ditutupi tank top hitamnya.


 


Ia membuka pintu kamarnya dan kini menuju pintu depan tanpa memperdulikan celana tidur yang mengekspos


pahanya yang mulus.


 


“orang gila!! Aku lelah, ingin tidur, malah mengangguku!!” gumam Eliza yang terus berjalan gontai.


 


“siapa sih?!!!!” Eliza dengan cepat membuka pintunya.


 


Matanya terbelalak kaget melihat Leo ada di depan apartemennya bersama dengan sepasang suami istri yang tak lain adalah tetangganya. Ketiga orang yang ada disana juga tidak kalah kaget melihat Eliza yang keluar dengan pakaian seperti itu.


 


“astaga Eliza!” ucap wanita yang ada di depannya kaget.


 


“maaf kak Amel, aku baru saja bangun tidur.”


 


“kau sudah tidur?” tanya Leo yang tak dapat mengalihkan pandangan dari belahan yang ada dibalik tank top hitam


itu.


 


“kenapa kau disini?” tanya Eliza dengan nada yang masih lemas karena separuh nyawanya belum kumpul.


 


“dia sudah disini seperempat jam lalu. Dia terus-terusan menekan bel dan memanggil namamu. Kau mengenalnya?” tanya seorang pria yang menjadi tetangganya itu.


 


“iya kak Angga aku mengenalnya. Tenang saja.” jawab Eliza dengan senyumnya setengah sadar.


 

__ADS_1


Amel yang tahu kelakuan Eliza itu hanya menggeleng pelan sembari menggandeng suaminya.


 


“aku kan sudah bilang pada kalian, aku ini kekasihnya.” Jawab Leo.


 


“benar dia kekasihmu?” tanya Pria itu sekali lagi. Yang dijawab dengan anggukan kepala Eliza lemah.


 


“baiklah. Kita kembali saja sayang.” Ucap si suami yan dijawab dengan anggukan istrinya.


 


“El, jaga dirimu baik-baik ya.. aku dan suamiku kembali dulu.” Ucap si istri yang mengikuti si suami dari


belakang.


 


“baik kak Amel. Sampai jumpa.” Ucap Eliza yang mulai sadar sepenuhnya.


 


Leo kali ini menatapnya penuh nafsu. Ingin sekali mendorong masuk dan melahapnya habis. Tatapan Eliza pun


nampak menggoda.


 


Leo mengikuti Eliza masuk. Pintu depan dengan otomatis terkunci. Leo langsung memeluknya dari belakang dan Eliza menghentikan langkahnya di depan sofa ruang tamunya.


 


“kau mau apa? Kubuatkan?” tanya Eliza malas.


 


“aku mau kamu.” Jawab Leo sembari menghirup wangi tubuh Eliza dari tengkuknya yang hangat.


 


“aku baru bangun tidur Leo.”


 


“aku tahu.” Leo terduduk disofa dan ia tarik pergelangan tangan Eliza. Sehingga sekarang Eliza berada di


pangkuannya.


 


Leo belum melakukan apapun tapi Eliza sudah memeluknya seperti kelelahan.


 


“apa yang terjadi?” tanya Leo sembari mengelus lembut kepala Eliza.


 


“aku lelah. Ingin tidur.”


 


“pekerjaan hari ini begitu berat?” tanya Leo yang dijawab dengan anggukan kepala Eliza yang diletakkan dibahu Leo.


 


 


“sudahlah. Tapi aku harus bagaimana? Dia sudah sangat menginginkanmu, Liza?”


 


Eliza mengangkat kepalanya, kini nyawanya sudah terkumpul sempurna. Leo membuka resleting celananya dan


mengeluarkan miliknya yang sudah berdiri.


 


Dengan tiba-tiba tanpa ancang-ancang Eliza menyentuhnya dengan tangannya. Dan tentu saja, memainkannya. Leo dibuat kaget oleh apa yang dilakukan oleh Eliza itu. Tapi tak lama ia tersenyum bahagia, karena Eliza membuatnya sangat nyaman.


 


“Eliza… kau…hhh”


 


Ciuman panas pun terjadi. Tangan Eliza masih ada disana. Dia melumat bibir Leo terlebih dahulu, yang akhirnya dibalas oleh Leo tak kalah ganas.


 


Tangan kanan Leo menarik tengkuk Eliza agar ciumannya semakin dalam. Sedangkan tangan kirinya yang sudah berhasil melepas kemeja Eliza, kini meraba dibalik tank top hitam itu.


 


“Liza… aku mencintaimu..” gumam Leo di leher Eliza sembari memberikan tanda kepemilikannya


disana.


 


“benarkah?”


 


“bagaimana denganmu?”


 


“bagaimana jika aku mencintaimu?” pertanyaan Eliza membuat Leo mendongakkan wajahnya dari leher


jenjang itu.


 


“katakan yang benar Eliza.” Ucap Leo dengan menatap tajam. Tangan Eliza mulai merangkul tengkuk Leo dan bibirnya mengecup bibir Leo sejenak.


 


“iya, iya.. aku juga mencintaimu.” Leo bahagia mendengar jawaban Eliza, bibir mereka kembali


bertautan.


 


“apakah kau mau menikah denganku?” pertanyaan Leo yang secara tiba-tiba membuat Eliza terbelalak kaget.


 


“yang benar saja. kau sedang melamarku?” tanya Eliza tak percaya.

__ADS_1


 


“iya. Memang kenapa?” mendengar pernyataan Leo, Eliza berdiri.


 


“humph, tidak ada romantisnya sama sekali.” Eliza mengambil kemejanya yang ada di lantai dan beranjak pergi meninggalkan Leo di sofa itu sendirian.


 


“ayolah, setidaknya ini selesaikan dulu.” Ucap Leo merajuk.


 


Eliza pun menoleh ke belakang dan tertawa riang. “selesaikanlah sendiri di kamar mandi. Aku ingin tidur.” Eliza kembali berjalan kearah kamarnya dengan hati yang riang karena telah berhasil mengerjai Leo.


 


“kau hanya ingin menggodaku ya, hah?!” ucap Leo pada Eliza yang sudah masuk ke dalam kamar dengan tawanya yang khas.


 


Leo pun mau tak mau menyelesaikannya sendiri. Meskipun rasanya berbeda, tapi apalah daya dari pada harus menahannya dan menyiksanya sendiri.


 


Langkah kaki Leo tertuju pada kamar Eliza. Dia melihat Eliza tengah berbaring disana. Tubuh Eliza yang masih berbalut tank top hitam dan celana pendeknya, tidak menghapus ingatannya tentang tubuh Eliza yang polos.


 


‘tidak! Eliza pasti tidak mau melayaniku. Sudahlah lebih baik aku tidur.’ Batin Leo sembari menepis segala pikirannya.


 


“kau sudah selesai.” Ucap Eliza dengan suara seraknya sembari memejamkan mata.


 


“kau belum tidur.” Leo melepas jasnya dan diletakkan di atas sofa kecil dikamar itu. Ia pun mengambil posisi di sisi ranjang yang kosong. Tangannya yang mahir pun memeluk perut Eliza dari belakang.


 


“belum. Aku menunggumu.” Jawab Eliza yang membuat Leo semakin memeluknya erat.


 


“boleh aku tanya sesuatu?” ucap Leo sembari mengelus lembut perut rata Eliza.


 


“apa?”


 


“apa password apatemenmu?”


 


“2020, aku menggantinya setiap tahun. Kau mengertikan maksudku?”


 


“caramu terlalu unik untuk mengingat peristiwa itu.” Ucap Leo yang mulai menenggelamkan wajahnya di leher Eliza sembari terus mengelus perut rata Eliza.


 


“kenapa kau mengelus perutku. Kau tahu, itu sedikit geli?” tanya Eliza yang masih terpejam dan tidak menepis sama sekali tangan Leo yang terus berada diperutnya.


 


“aku heran. Kita sudah melakukannya berkali-kali, kenapa kau tidak hamil?” tanya Leo polos yang ditanggapi santai oleh Eliza.


 


“kau melakukannya saat tidak dimasa suburku. Jadi aku baik-baik saja. kenapa? Kau mengharapkan aku hamil?”


 


“iya. Aku ingin kau hamil anakku.”


 


“jangan bercanda. Selesaikan dulu kasus ini hingga tuntas. Setelah itu…” ucap Eliza yang terpotong dan mulai membuka matanya. Ia merasakan pipinya memanas.


 


“setelah itu?”


 


“kau boleh menikahiku.” Jangan Eliza singkat dan kembali memejamkan matanya.


 


“dan kau akan mengandung anakku bukan?” tanya Leo yang mengankat kepalanya seperti sangat bahagia.


 


“tentu saja.”


 


“berapa pun?”


 


“terserah kau.”


 


“baiklah sayang. Terima kasih. Aku akan menyelesaikan kasus ini seceptnya.” Ucap Leo dengan senyum bahagia yang tergambar diwajahnya. Eliza pun hanya tersenyum dengan  tingkah kekanakkan pria 30 tahun itu.


 


“good night, babe. Have a nice dream.”


 


“good night, I love you.”


 


“hmm.. I love you too.”


 


 


***


menunggu updetannya sedikit sabar yaa.. mungkin author akan update 2 atau bisa 3 part episode sekaligus. itupun kalo beruntung yaaa...


terima kasih Readers..

__ADS_1


salam hangat


Nura Hashi


__ADS_2