
Hai! I am Back!
Maafkan Author ya yang lama tidak update..
Author kehilangan seribu satu kata nih...
semoga para readers tetap suka ya membaca..
jangan lupa untuk like & commentnya, semua masukan pasti diterima..
Selamat Membaca<3
___
20 tahun lalu….
Krek…
Suara pintu tua bercat coklat itu nampak memekikkan telinga. Tapi sekeras apapun seorang pria beranak satu itu
tetap tertidur pulas meskipun kini anak laki-lakinya yang berusia 5 tahun telah naik keatas ranjangnya.
“papi!! Papi bangun!! Dah siang tau!!” seru anak kecil itu dengan suara khasnya yang masih anak-anak. Tangan mungilnya pun mengoyang-goyangkan tubuh ayahnya yang lebih besar darinya.
“hmmm…hm.” Pria yang tertidur itu hanya melirik sebentar ke wajah anak kesayangan, selepas itu kembali memejamkan matanya.
“papi, papi bangun! Apa perlu Johan ambilin air?” tanya anak kecil itu dengan menggebungkan pipinya yang sudah chubby.
“iya, iya, ini papi bangun.” Jawab ayahnya yang kini sudah mengambil posisi duduk namun matanya masih terpejam, dan nyawanya masih melayang entah kemana.
Kring…
“pi, ada telefon.”
“hmm?”
Pria itu mengambilnya ponsel yang ada di nakas. Tanpa melihat nama yang ada di layar ponselnya dan tanpa membuka matanya. Ia langsung mengangkat panggilan itu.
“halo.” Suara parau khas orang bangun tidur.
“halo, halo. Kamu dimana, hah?!”
Pria itu terkejut mendengar suara itu. Matanya langsung terbuka dan melihat kembali layar ponselnya.
“eh maaf Pak Billy. Ada apa Pak? Saya ada di rumah.” Jawab pria itu sembari merapihkan tempat tidurnya.
“kamu datang ketempat biasa.” Pinta pria yang ada diseberang telefon dengan nada arogan.
“maaf Pak. Bukannya saya ingin membangkang. Tapi, hari ini bapak beri saya hari libur. Hari ini ulang tahun anak saya Pak.” Jawab pria itu dengan khawatir pria yang menjadi bosnya itu akan marah.
“sudah! Turuti saja! atau mau saya pecat?!”
“iy..iya Pak, maaf saya datang. Pukul berapa Pak?” jawab pria itu yang mau tak mau harus menuruti perintah itu.
“kamu jemput saya di rumah pukul 10 nanti. Mengerti?!”
“baik pak sa..”
Tut…
Panggilan itu terputus dengan sepihak. Pria itu hanya mampu menghela nafas berat. Ia melihat anak laki-laki tengah berdiri di hadapannya yang dijaraki oleh ranjang besar.
Nampak dari mata anak itu rasa kecewa, karena tahu ayahnya akan pergi bekerja di hari ulang tahunnya.
“papi??” gumam anak itu yang sudah mulai ingin manangis.
“maafin papi ya Johan.” Ucap pria itu yang mulai memeluk anaknya agar tidak menangis.
“sekarang kita sarapan yuk. Nanti papi anterin kamu main sama teman-teman yang lain.” Anak kecil itu hanya mengangguk kecil sembari mengusap air mata yang ada di ujung matanya.
Tangan pria yang kekar itu mengangkat tubuh kecil anak laki-lakinya. Mereka menuju kearah dapur. Dengan sigap sang single parent itu membuat sarapan untuk dirinya dan juga anak laki-laki kesayangannya.
Tak butuh waktu lama bagi duda satu anak itu untuk membuat sebuah telur mata sapi. Dengan lahap anak laki-laki
itu menyantap sarapan buatan ayahnya.
“enak?” tanya pria itu pada anak yang sedang asik memakan makanan yang ada di piring kecilnya.
Dengan kuat dan rasa gembira anak itu mengangguk mengiyakan pertanyaan ayah tercintanya itu.
“ayah setelah ini, apa kita akan jalan-jalan?” tanya anak kecil itu dengan nada gembiranya, namun dalam hitungan
detik pun wajahnya kembali murung karena mengingat panggilan yang diterima ayahnya tadi.
__ADS_1
“apa kita pergi ketempat biasanya?” lanjutnya bertanya pada ayahnya yang kini hanya memandang sendu anaknya.
“kita ketempat biasanya ya… kapan-kapan kita pergi jalan-jalan. Oke.” Ucap sang ayah sembari mengelus lembut kepala anaknya.
“janji?”
“iya.”
“oke!” seru anak itu dengan tertawa riang.
Kedua ayah dan anak itu pun menyelesaikan ritual pagi mereka bersama. Mereka pun bersiap dan sudah ada di dalam mobilnya.
“papi?!”
“iya.” Jawab pria itu singkat sembari fokus menyetir.
“papi tahu tidak? Kemarin, Johan bertemu kakak cantik!” ucap anak kecil itu antusias.
“oh ya? Terus?”
“tapi kakaknya tidak memiliki teman.” Ucap anak kecil itu yang berubah murung.
“apa Johan jadi teman kakak cantik itu?”
Anak kecil itu mengangguk kuat dengan mata yang tertuju lurus kedepan.
“iya. Johan hanya merasa kakak itu mirip Johan. Tidak ada saudara ataupun teman.”
“masa sih? Johan kan ada papi.”
“tapi papi terus bekerja.” Jawab anak kecil itu murung.
“tenang saja, papi pasti bakal luangin waktu buat Johan kok. Oke.”
“oke!” jawab anak itu riang.
“tapi papi tahu tidak? Johan tahu loh nama kakak cantik itu.” Ucap anak kecil itu seraya membanggakan dirinya.
“Elizabeth. Cantikkan? Bahkan Johan boleh memanggilnya kak Liza.”
Anak kecil itu nampak riang dan antusias tanpa disadari bahwa tubuh ayahnya bergetar.
Dalam perjalan itu, sepasang ayah dan anak itu terus mengobrol. Dan pada akhirnya sampai lah mereka di tempat
tujuan.
Anak kecil itu turun dari mobil itu dibantu oleh sang ayah. Tempat yang sangat ramai oleh anak-anak kecil dari
usia 3 sampai 10 tahun. Bahkan tak jarang ada orang tua teruatama ibu dari anak-anak disana juga meramaikan tempat itu.
Pria itu berjalan menuju seorang wanita muda yang memakai seragam pengasuh.
“permisi Ms. Resti.” Sapa pria itu.
“Tn. Vincent? Oh Hai Johan.” Sapa wanita muda itu sembari melambaikan tangannya pada anak kecil yang kini berusaha turun dari gendongan ayahnya itu.
“Ms. Resti!!” seru anak itu yang kemudian berlari serta memeluk wanita yang menyapanya tadi.
“maaf Ms. Resti, saya titip Johan seperti biasanya.”
“tentu saja. Tn. Vincent boleh membawa Johan masuk.”
“baik. Terima kasih Ms. Resti.” Ucap pria itu yang dibalas dengan senyuman sang pengasuh.
Ayah dan anak itu masuk kedalam gedung yang tak kalah ramai seperti halaman depan. Setiap ruang bermain dan
belajar sangat ramai oleh anak-anak.
“Alviano?!” seru seorang pria lain yang membuat duda beranak satu itu menoleh mencari sumber suara.
“Tommy?” tanya pria itu heran.
“kenapa kau ada disini?”
“seharusnya aku yang bertanya padamu. Aku seorang duda, aku akan bekerja jadi aku menitipkan Johan disini.”
__ADS_1
“oh ya?” ucap Tommy sembari berjongkok dan tersenyum pada anak kecil itu serta mengelus kepalanya.
“hai paman!” sapa anak kecil itu yang nampak bahagia. Sedangkan dibalik pria asing itu terlihat anak yang memiliki wajah acuh tak acuh yang pasti lebih tua darinya.
“ini anakmu Tommy?”
“iya, ini Leonardo.”
“wajahnya mirip denganmu.” Ucap Alviano sembari terus menggandeng tangan anak kesayangannya.
“apa yang kau lakukan disini?” lanjut duda beranak satu itu.
“kebetulan hari ini sekolah Leo libur. Ibunya harus mengurus kakeknya yang sakit. Sedangkan aku harus mengurus
kepergian Tn. Romano bersama keluarganya ke Milan, besok lusa.” Jelas Tommy.
“ah benarkah? Kudengar anak Tn. Romano juga sering disini?” tanya pria itu sembari menoleh kearah kekanan dan
kekiri.
“iya, aku juga yang sering mengantarnya. Tapi itu jika Nn. Eliza ingin saja. anak itu lebih senang menyendiri di kamarnya dari pada harus keluar dan bermain dengan teman sebayanya.”
“begitukah? Ngomong-ngomong, karena anakmu juga ada disini, mungkin anak kita bisa bermain bersama.” Ucap
Aliviano sembari tersenyum pada Leo dan anaknya sendiri.
“benarkah?” tanya anak kecil itu yang sangat antusias setelah mendengar ucapan ayahnya sembari melihat Leo
dengan mata yang berbinar-binar.
“tentu saja. Leo, jaga Johan baik-baik ya. Anggaplah dia adikmu.” Ucap Tommy pada anaknya yang terus
bersikap dingin itu.
“iya Pa, tentu saja.” jawab anak laki-laki berumur 10 tahun itu tanpa tersenyum sedikit pun.
“baiklah. Ayo kak kita pergi ketempat biasa aku main. Ayolah.” Seru anak kecil itu sembari menarik lengan Leo dan berlari menjauhi ayahnya dan teman ayahnya itu.
“pelan-pelan Johan, kau bisa saja jatuh.” Ucap anak laki-laki yang tidak keberatannya tubuhnya ditarik oleh anak
yang lebih muda dari dirinya.
Kedua pria yang melihat tingkah anaknya masing-masing hanya memberikan senyumannya sembari menahan tawa.
“baiklah aku pergi dulu. Aku sudah ditunggu oleh atasanku.” Ucap Alviano sembari melihat arloji hitam yang bertengger di pergelangan tangan kirinya.
“pak Billy?” tanya pria yang ada di hadapannya dan di jawab dengan anggukan singkat.
“aku pergi dulu Tommy. Sampai jumpa.”
Pria itu bergegas menuju rumah atasannya sebelum dirinya dipecat dan harus pergi kepinggir jalan untuk mencari
uang.
“hei! Dari mana saja kau, hah?!” ucap seorang pria dengan pakaian yang sudah rapi sembari melipat koran yang ia
baca.
“maaf Tuan saya baru saja mengantarkan anak saya ketempat penitipan.”
“sudahlah, buruan.” Ucap pria itu yang bergegas menuju mobil yang ada di depan pintu rumahnya.
Dengan sigap tangan sekretaris itu membuka pintu mobil penumpang untuk atasannya itu.
Mobil itu pun melaju dengan kecepatan terbaiknya dan hati-hati. Pria yang menyetir hanya fokus pada jalanan
ramai dan kestabilan mobil yang sedang ia kendarai. Sedangkan orang yang berada di kursi penumpang hanya fokus pada layar ponselnya yang terus menyala.
“Alvian, kau sudah ada perkembangan belum, hah?!” tanya atasannya tanpa ada penghalusan dalam setiap
kalimatnya.
“lumayan Pak, saya..”
“lumayan?! Apanya yang lumayan?!”
“ss.. saya sudah tahu kalau keluarga Romano akan berlibur besok lusa.”
“secepat itu? Kemana?”
“Milan.”
Mobil itu terparkir sudah di pelataran mansion yang megah. Di balik pintu besar berwarna hitam itu sudah ada empat orang lainnya yang duduk sembari meminum gelas wine masing-masing.
“hei, kalian ini, masih pagi.” Ucap pria yang baru saja memasuki mansion itu.
__ADS_1
“ini sudah siang, Billy. Darimana saja kau?!” tanya salah satu dari mereka.