
Perlahan mata Leo terbuka. Hidungnya menangkap aroma wangi dari sebuah makanan. Seketika tubuhnya terduduk saking kagetnya mencium aroma yang tak pernah ada di apartemen itu sebelumnya.
Leo pun menoleh kearah sisi ranjang yang sudah tak ada lagi Eliza disana. Ia pun dengan sigap berlari kearah pintu kamarnya. Ia buka knop pintu itu dan melihat Eliza yang tengah menyiapkan makanan di meja.
Leo pun menarik nafas lega karena ada Eliza disana. Tangannya pun memeluk pinggang Eliza yang tetap menyiapkan makanan dari belakang.
“sudah bangun?” tanya Eliza yang masih tetap fokus dengan makanan didepannya.
“apa kau memasak?” tanya Leo terheran saat matanya benar-benar menangkap makanan didepannya.
“are you kidding? There’s nothing in your kitchen.” Jawab Eliza yang mulai menghadap Leo saat ini hingga tak ada
jarak lagi diantara mereka.
“I see. Lalu, kamu pesan?” pertanyaan Leo itu hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Eliza dan kecupan
manis dari bibirnya.
“oke, sekarang mandi dulu nanti baru makan. Sarapan sekaligus makan siang.” Ucap Eliza yang melepaskan rangkulan Leo dan memberikan senyum diakhir kalimatnya.
“oke beb.” Jawab Leo sembari mencium lembut kening Eliza dan pergi untuk membersihkan diri.
Setelah Leo membersihkan dirinya dan mengganti pakainnya. Mereka berdua pun segera menghabiskan makanan yang sudah disiapkan.
Satu jam lamanya yang Leo dan Eliza butuhkan untuk sampai di rumah Johan. Disana sudah ada beberapa orang
yang menunggu mereka termasuk Eza yang menunggu dengan wajah kesal.
“ada apa denganmu?” tanya Leo yang melihat wajah Eza begitu kesal.
“lihat kelakuan adikmu, benar-benar membuatku kesal saja.” jawab Eza dengan mendengus kesal.
“kenapa?” tanya Eliza yang penasaran dan melihat kedalam. Matanya menangkap situasi yang langsung ia mengerti.
“ah, saat dia bilang brankas, aku fikir sebuah brankas kecil biasa. Tapi ini.. bahkan tak hanya ukurannya yang
abnormal. Kunci yang ia gunakan juga cukup banyak dan rumit. Seperti orang gila.” Jelas Eza pada Leo yang seperti masih meminta penjelasan meskipun ia sudah melihat Eliza terkekeh saat melihat kedalam.
Leo pun melihat situasi yang dimaksud Eza. Benar saja.. brankas yang dimaksud Johan tidaklah seperti brankas
yang dibayangkan sebelumnya.
Sebuah kotak besi sebesar lemari baju, dengan dua gembok yang mengunci dibagian atas dan bawah kotak. Di bagian tengah kunci ada sebuah tombol angka untuk sandi. Dan di bagian atas dan bawah dari kunci itu ada kunci lainnya dengan layar sebelebar 7 inci.
“astaga anak itu.” Gumam Leo saat melihat brankas yang dimaksud Johan dirumahnya.
Eliza hanya megeleng-gelengkan kepalanya melihat semua itu. Bahkan sesekali ia mengerutkan dahinya saat
melihat anak buah Eza yang mondar-mandir kebingungan.
“apa yang kalian lakukan?” tanya Eliza yang benar-benar bingung dengan tingkah orang disana termasuk adiknya
sendiri, Luqman.
“kami mencari kunci gembok itu.” Jawab seorang petugas sembari menunjuk kedua gembok yang juga mengunci brankas itu.
“kalian tidak merusaknya saja?” tanya Eliza dengan polos sembari mendekat kearah brankas dan melihat gembok
yang membuat orang kebingungan.
“kau bercanda. Bagaimana jika yang dikatakan Johan benar. Mungkin saja ketika kita merusaknya, isi didalamnya
akan benar-benar hancur dan tak bersisa.” Jelas Eza.
“hmm.. kita bisa membuka tiga sandi ini bukan. Dan kedua gemboknya di rusak saja.” ucap Eliza dengan nada
santai sembari menyentuh gembok yang ia rasa aneh.
“ayolah, kami hanya takut jika ada sesuatu diluar dugaan terjadi.” Ucap Eza.
“coba kalian cari di atas brankas ini.” Ucap Eliza spontan saat memerintahkan seseorang melihat diatas brankas
yang tingginya berselisih 3 jengkal dari tinggi badan Eliza.
“ada apa disana?” tanya Leo saat seorang petugas mengambil kursi dan melihat yang ada di atas brankas itu.
“kunci gemboknya. Di gembok ada tulisan ‘on top’, jadi kufikir dia meletakkan kunci itu disana.” Jelas Eliza sembari menanti petugas yang melihat keatas brankas.
“ketemu!” seru petugas itu sembari memegang kunci ditangannya.
“bagus!” seru Eza yang kini menunjukkan wajah bahagianya.
“lalu bagaimana gembok yang satunya?” tanya Louisa sembari melihat gembok yang ada dibawah itu juga.
“ada sesuatu?” tanya Eliza.
“iya. ‘on the floor’ apakah kuncinya di lantai?” ucap Louisa sembari mengerutkan dahinya.
Yang lain sibuk melihat kearah bawah, siapa yang tahu. Bisa saja memang benar kunci itu ada di lantai. Seorang
__ADS_1
petugas tiba-tiba melangkahkan kakinya kearah belakang dan membuat ubin yang ia injak bergerak dan menimbulkan bunyi cukup keras.
Krek…
Seluruh orang yang mendengar itu menoleh. Luqman pun membuka perlahan membuka ubin yang posisinya tak lagi sejajar. Dan…
Yap, dia menemukan kunci gemboknya.
Dua gembok yang mengunci brankas itu pun terbuka. Begitu pula kunci sandi yang sudah diberitahukan oleh Johan. Kini tersisa dua kunci sandi yang dinyalakan oleh Eza.
Kunci sandi yang pertama, tombolnya terdiri atas alphabet lengkap dan layarnya menunjukkan sebuah kalimat
yang merupakan sebuah pernyataan.
“apa ini?” ucap Eza saat melihat layar itu.
“apa?” tanya petugas yang mendekati Eza dan melihat kunci itu.
“warna kesukaan wanita?” ucap petugas wanita yang berdiri di sebelah Eza.
“ada berapa digit?” tanya Luqman.
“sembilan.” Jawab Eza yang sudah menghitung digit garis pada layar itu.
“biru toska?” ucap salah satu petugas wanita sembari menerawang.
“hei, ini warna kesukaan wanita.” Balas seorang petugas yang lain.
“aku suka biru toska.” Jawab petugas wanita tadi dengan ketus.
“aku suka ungu.” Jawab Louisa yang menghentikan tatapan membunuh antar kedua rekannya itu.
“merah muda.” Jawab Eliza spontan yang membuat beberapa orang menoleh kearahnya.
“kenapa kau yakin sekali?” tanya seorang petugas lain yang terheran meskipun itu jawaban normal untuk pernyataan yang ada.
“Johan bilang, kuncinya ada hubungannya dengan kami. Dan aku suka warna merah muda.” Jelas Eliza yang kemudian disetujui oleh Eza yang menekan tombol yang ada disana.
Klek..
Kuncinya terbuka. Orang yang disana pun menghela nafas lega. Kini tersisa satu kunci lagi, tombolnya berupa
“apa lagi yang tertulis?” tanya Luqman.
“menuju lantai aku bermain.” Ucap seorang petugas yang membaca tulisan yang ada dilayar.
“lantai 3 nomor 28. 328.” Jawab Leo sembari menerawang mengingat.
“maksudnya?”
“saat kami kecil. Aku pernah diajak ketempat penitipan anak. Disana Johan juga sering bermain. Tempat yang
paling ia sukai ada di lantai 3 ruangan nomor 28. Kami juga bermain disana.” Jelas Leo yang sangat yakin.
Eza kembali menekan tombol itu sesuai yang dikatakan Leo.
Klek..
Kunci terakhir pun terbuka.
Seorang petugas yang badannya sedikit lebih besar itu memutar knop brankas besi yang cukup besar itu. Pintu
brankas itu terbuka.
“aku tak tahu harus mengatakan apa sekarang.” Gumam Eza saat melihat isi brankas itu.
Didalamnya penuh dengan tumpukan kertas yang tertata rapi. Kertas lama tapi masih rapi seperti dijaga dengan
baik.
Diantara berkas itu, salah satunya ada berkas pengalihan perusahan atas nama ‘Richard Dirro Romano kepada
Billy Pramono’. Bahkan disana masih banyak sekali berkas berupa data barang bukti kasus 20 tahun lalu.
Eza tertarik perhatiannya akan sebuah flashdisk yang ada di rak bagian brankas itu. Ia pun mengambilnya dan memberikan pada anak buahnya. Mata Eza juga menangkap sebuah kotak dengan ukuran yang tak terlalu besar terbungkus rapi.
“mungkin ini hadiah yang dimaksud Johan.” Ucap Eza yang berjalan mendekat kearah Leo dan Eliza yang tengah duduk di pelataran kecil rumah Johan itu.
“apa itu?” tanya Leo yang heran melihat kotak yang dibawa Eza.
“teruntuk kakak Elizabeth yang cantik dan kakak Leonardo yang keren. Hah, keren?!” decih Eza sembari membaca
tulisan yang tertera disampul kotak itu.
__ADS_1
“berisik!” seru Leo yang merampas kotak itu dan memberikannya kepada Eliza untuk dibuka.
Eliza membuka bungkusan kotak itu. Dan terlihat kotak bludru hitam berbentuk hati. Ia pun membuka dan dilihat
isinya. Seketika mata Eliza membulat dan menutup kembali secara tiba-tiba yang membuat Eza dan Leo terkejut.
“ada apa?” tanya Eza heran.
“kau yang simpan.” Ucap Eliza memberikan kotak yang ia pegang sebelumnya kepada Leo sembari berdiri dan
kembali masuk kedalam rumah itu.
“apa ada yang salah?” gumam Leo sembari membuka kotak yang baru saja Eliza buka.
Betapa terkejut Leo dan Eza saat melihat isi kotak itu adalah cincin berlian yang indah, dan belum pernah mereka
lihat sebelumnya.
“astaga, cincin siapa ini? Kenapa dia memberikannya pada kami?” tanya Leo yang sangat terherannya.
“lihatlah didalam itu ada surat.” Ucap Eza yang menunjuk kearah kotak yang membungkus kotak bludru itu.
Leo membuka surat kecil itu dan membacanya.
‘dear my brother and my sister…
Kuberikan cincin ini untuk kalian berdua. Kuharap kak Eliza bisa memakainya dan kalian bisa menjaganya demi diriku. Ini adalah barang satu-satunya yang tersisa dari rumahku. Dan aku berjanji untuk menjaganya karena cincin ini juga milik mendiam ibuku. Tapi kurasa aku tak mampu menjaganya lagi. Jadi kuberikan ini sebagai hadiah kepada kalian, karena kalianlah alasanku untuk tetap bertahan dikehidupan yang Tuhan berikan. Semoga kalian tetap selalu bersama dan mengenangku sebagai adik kecil kalian.
Love
Johan’
“Eliza!” seru Leo yang kemudian berlari kedalam meninggalkan Eza yang kini dibuat kesal oleh dua orang itu.
“dasar anak-anak itu.” Gumam Eza sembari mendengus kesal.
Leo mencari Eliza didalam rumah itu dalam diam karena tak ingin membuat keributan saat paraanak buah Eza sedang membereskan berkas dan data serta barang bukti yang baru saja mereka dapat dari brankas dirumah itu.
Pria itu mencari hampir disetiap ruangan secara terpaksa.
“pak Leo? Mencari sesuatu?” tanya salah seorang petugas sembari mengangkut tumpukan kertas.
“ah, kau melihat Eliza?” tanya Leo dengan nafas yang memburu.
“hmm, kalau tidak salah, dokter Eliza memasuki ruangan yang disebelah sana.” Tunjuk petugas itu dengan isyarat
wajahnya dan gerakan kepalanya.
“oke terima kasih.”
Leo berjalan perlahan memastika bahwa Eliza benar-benar ada didalam ruangan yang barusan diberitahukan kepadanya. Seketika langkahnya berhenti saat melihat Eliza berdiri terpaku didepan dua buah potret yang berdampingan tertempel lekat didinding ruangan itu.
“kau tak apa?” tanya Leo yang dengan perlahan berjalan mendekat dan memeluk bahu Eliza dari belakang.
“tak apa. Aku hanya berfikir, sepertinya keluarga Vincent tak pernah berfoto keluarga. Foto mereka terpisah.” Ucap Eliza menunjuk kearah meja yang ada di depannya.
Di meja itu terlihat beberapa foto yang dibingkai dan ditata rapi sebagian adalah foto-foto Johan. Eliza menunjuk
kearah dua foto berbingkai.
Yang satu menunjukkan dua pasang suami istri yang baru saja menikah, lengkap dengan gaun pengantin yang dikenakan sang wanita. Serta foto yang satunya lagi menunjukkan seorang pria yang sama seperti sang suami difoto sebelumnya sedang menggendong anak laki-laki berusia 5 tahunan.
“tentu saja, mereka tak pernah berfoto bersama. Ny. Vincent meninggal saat melahirkan Johan.” Jawab Leo yang semakin erat memeluk Eliza yang kini menatap kosong foto itu.
“hai, paman Vincent.” Sapa Leo pada potret yang ada di dinding.
“anakmu menitip salam. Dia bilang maaf tak bisa menemuimu lagi, dan dia juga bilang terima kasih, mungkin karena telah membuatnya menemui dunia.” Lanjut Leo dan Eliza pun mendongak melihat potret itu juga.
“ayo kita keluar.” Ucap Eliza yang nampak sayu.
Mereka berdua keluar dari ruangan itu dan melihat Luqman serta beberapa petugas lain sedang memeberesakan berkas yang belum selesai sejak tadi.
“darimana kau kak? Ada apa didalam?” tanya Luqman saat melihat kakaknya yang keluar dari sebuah ruangan.
“ada barang milik Johan didalam, dan beberapa potret.” Jawab Eliza singkat dan jelas.
“bisakah kami melihat?” ucap Louisa yang bangkit dan disetujui oleh Leo dengan isyarat anggukan kepala dan
senyumannya.
Butuh waktu sekitar dua jam semuanya selesai. Mereka pun kembali menuju kantor sedangkan Eliza dan Leo
memilih untuk pulang kerumah mereka.
__ADS_1
***