
“Pa, aku pulang.” Sapa Leo sembari membuka pintu rumahnya.
“kau sudah pulang.” Jawab seorang pria paruh baya sembari membaca Koran di ruang keluarga.
“hai paman Renaldi.” Sapa Eliza dan berlari seperti anak kecil dan memeluk pria paruh baya itu.
“oh hai El, kau juga ikut Leo.”
“aku menyalamatkan anakmu ini barusan.” Ucap Eliza dengan nada kesal sembari melirik kearah Leo yang hanya
memberikan senyuman di wajah tampannya itu.
“apa yang dia lakukan El?”
“hanya masalah kecil, Pa. tak perlu khawatir. Aku ingin membersihkan tubuhku dulu. Tidak nyaman.” Jawab Leo
yang berlalu kelantai atas begitu saja.
“apa dia melakukan hal aneh?” tanya pria itu pada wanita yang berdiri di depannya.
“tidak Paman, kau tidak perlu khawatir.”
“kalian berdua ini sama saja.”
“apa paman sudah makan.”
“belum. Asisten rumah tangga ini sedang libur. Asisten pribadiku juga tidak datang.” Jawabnya dengan menunjukkan wajah yang sedih.
“asisten pribadi?” tanya Eliza heran.
“Eliza, aku juga seorang CEO di perusahaanku sendiri, jadi tentu saja aku punya asisten pribadi. Dia juga sering kesini untuk memasak beberapa kali saat asisten rumah tangganku tidak ada.”
“seorang perempuan?”
“tidak laki-laki.”
“apa sekretaris cantik Leo itu juga sering datang?” tanya Eliza malu-malu.
“tidak. Untuk apa dia kemari.”
“oh, baguslah.” Gumam Eliza yang nampak lega dan pipinya mulai merona.
“apa kau cemburu?”
“tentu saja tidak! Apa yang kau bicarakan, Paman?!” jawab Eliza nampak gugup yang dibalas dengan senyum pria
separuh baya itu.
“ak..aku akan memasak. Kebetulan aku juga belum makan. Bolehkah aku meminjam dapurnya?” tanya Eliza sembari berjalan kearah dapur.
“tentu saja. kenapa tidak? Masaklah makanan yang enak ya..”
“tentu saja. aku akan memasak makanan yang enak.” Ucap Eliza yang berlalu menuju dapur.
__ADS_1
Sedangkan Leo kini sudah selesai mengguyur air ketubuhnya. Ia membalutkan handuk pada setengah badannya dan keluar dari kamar mandi itu. Baru saja ia keluar dari kamar mandi ia sudah dikejutkan oleh ayahnya yang duduk di atas ranjangnya.
“astaga!! Kenapa kau disini Pa? kau membuatku terkejut.” Ucap Leo yang tengah berada di depan pintu kamar
mandi.
“apa benar kau tidak terjadi apa-apa?” tanya pria itu nampak serius.
“iya, tidak ada yang penting.” Ucap Leo yang berjalan kearah lemari pakaiannya.
“lalu, kenapa Eza menelfonku, dia bilang kau ada disana. Diruang interogasi?”
“ah, itu. Itu hanya salah paham.” Jawab Leo singkat sembari memakai pakaiannya.
“aku pikir aku akan kesana. Tapi kau malah pulang bersama Eliza.”
“Eliza yang menyusulku.”
“kapan kau menikah?” tanya ayahnya itu tiba-tiba dengan nada yang berbeda kali ini, tidak serius lagi.
“astaga Pa. kenapa kau hari ini terus membuatku terkejut, hah?! Dan lagi kenapa kau menanyakan hal itu?”
“kenapa memang. Apa salah?”
“tidak sih.. tapi, kenapa kau menanyakan itu?”
“puluhan tahun sudah istriku meninggal. Aku jadi rindu pelukan seorang wanita.” Jawab sekenanya pria paruh
baya itu dengan nada meledek.
“hahaha, aku bercanda. Kau tahu sekarang aku hanya memilikimu. Meskipun kau anak angkatku, tapi aku ingin
melihatmu bahagia.”
“itu. Aku sudah membicarakannya dengan Eliza.” Ucap Leo sembari duduk di sofa kecil yang tepat berada di depan
ayahnya.
“benarkah?” tanya ayahnya yang mulai tertarik.
“iya. Setelah kasus ini selesai.” Jawab Leo singkat, pria paruh baya itu lalu berdiri dan melangkahkan kakinya
keluar.
“baiklah itu keputusanmu. Semoga kalian akan bahagia nantinya.” Ucap pria itu didepan pintu yang terbuka dan
memberikan senyuman terbaiknya sedangkan Leo hanya mengangguk.
“baiklah ayo turun. Menantuku sudah memasak untuk kita. Jangan sampai kau pingsan karena maagmu kambuh
seperti yang terakhir kali. Hahahaha” ledek pria itu sembari berlalu meninggalkan kamar anaknya itu.
“Papa, kau….”
Kring….
“halo. Ada apa Clara?”
__ADS_1
“pak Leo, maaf aku tidak bisa menemukan informasi yang kau minta. Aku tidak menemukan apa-apa lagi.”
Leo hanya mengernyitkan dahinya.
‘bukankah Liza bilang…’
“kau bercanda Clara. Kau mengirimku pesan dan e-mail mengenai informasi yang kau minta.”
“tidak Pak. Aku tidak mengirim apapun padamu.”
Leo kemudian mengecek ponselnya. Melihat pesan yang masuk dan e-mailnya. Benar apa yang dikatakan Eliza. Ada pesan dan e-mail dari sekretarisnya berupa file.
“tak usah banyak bicara. Aku sudah memastikan itu darimu.”
“demi tuhan, Pak. Aku tidak mengirim apapun padamu. Bahkan di ponsel atau Laptopku tidak ada e-mail atau pesan yang kukirim untukmu hari ini.” Jelas wanita yang ada diseberang telfon itu.
‘kenapa bisa?’ batin Leo yang mulai curiga akan seseorang, meskipun hal itu tidak mungkin. Tapi…
“Clara, apa kau bersama seseorang akhir-akhir ini, atau kemarin?” tanya Leo dengan nada seriusnya.
“iya.”
“siapa?” tanya Leo yang kini kecurigaannya bertambah.
“kekasihku.”
“Johan?” ucap Leo sekenannya untuk memastikan.
“kenapa kau tahu Pak?” tanya wanita diseberang sana yang membuat mata Leo membulat.
“kau tahu nama lengkap kekasihmu?” tanya Leo dengan nada paniknya.
“entah, aku belum bertanya. Tapi mungkin kau tahu. Dia yang menemukan dan mengembalikkan dompetmu Pak.”
Tut…
Leo mengakhiri panggilan itu dengan geram.
“Johan Vincent!!”
***
author ngesot dilantai....
terima kasih para readers yang dengan suka rela membaca..
jangan lupa yang tinggalkan jejakmu disini...
salam hangat
Nura Hashi
__ADS_1