Poker Face

Poker Face
Part 19


__ADS_3

Tok…tok…tok..


 


Pintu ruangan itu dibuka tanpaada izin dari sang pemilik. Sedangkan yang didalam, mereka melirik tajam sembari membenahi baju mereka untuk kedua kalinya.


 


“ayah.” Sapa Eliza yang sedikit terkejut melihat ayahnya yang tengah berdiri dan membuka pintu itu.


 


“oh hai Paman.” Ucap Leo dengan nada yang sangat riang sembari melipat kedua tangannya di atas meja dan


tersenyum manis.


 


“oh hai Leo. Kenapa kau bisa ada disini?” ucap pria paruh baya itu yang mulai memasuki ruangan.


 


“aku hanya ingin menemui Eliza saja.” jawab Leo sekenanya.


 


“kau tidak ingin menemuiku.” Tanya pria paruh baya itu dengan nada yang sedikit meledek pasangan itu.


 


“tadinya… tapi ku fikir kau sibuk paman jadi aku kesini. Hehehe” jawab Leo dengan jurus seribu bahasanya yang


hanya membuat Eliza menggelengkan kepala dan ayahnya tertawa geli.


 


“alasan saja.”


 


“ngomong-ngomong, kenapa ayah repot-repot kesini? Apa ada sesuatu?” tanya Eliza.


 


“hmm… ayah menunggumu di ruangan, tapi kau tidak datang.”


 


Eliza seketika bingung dengan perkataan ayahnya yang sedikit menggantung.


 


‘tunggu. Jangan-jangan…’


 


“apa ayah juga memasang cctv diruanganku?!” tanya Eliza yang sedikit panik saat mengingat kejadian beberapa


hari lalu. Leo yang masih lupa-lupa ingat pun hanya mengernyitkan dahinya.


 


“tidak. Untuk apa?” tanya pria paruh baya itu sedikit heran dengan yang dimaksud putrinya itu.


 


“tidak. Hanya saja…” jawab Eliza sedikit gugup disusul dengan Leo yang hanya menggaruk kepalanya meskipun tidak gatal karena sudah ingat apa yang barusan mereka lakukan.


 


“kalian melakukan sesuatu?” tanya pria paruh baya itu sudah serius. Leo hanya mampu menelan ludahnya. Bagaimana pun dihadapannya saat ini adalah calon mertuanya, jika salah bicara bisa-bisa belum jadi menantu sudah dipecat terlebih dahulu.


 


“iya.” Jawab Eliza dengan wajah santainya yang membuat Leo panik.


 


“berbincang. Kami berbincang. Sebentar.” Jawab Eliza yang tak kalah lihai, kali ini dia menggunakan kemampuan poker face-nya seperti tidak terjadi apa-apa.


 


‘wah, pintar sekali mulutnya.’ Batin Leo sembari menatap Eliza dan tersenyum kaku.


 


“kalian melakukannya di rumah sakit juga?!!” ucap ayahnya yang tak percaya pada penjelasan Eliza.


 


“apa? Melakukan apa paman?” tanya Leo dengan polosnya.


 


“kalian melakukan beberapa hal, seperti yang kalian lakukan beberapa malam lalu di apartemennya Eliza, kan?!”


jawab pria paruh baya itu yang kini panik.


 


“tidak! Ah, ayah hanya mengada-ada.” Jawab Eliza demi menenangkan ayahnya sembari memeluk lengannya


manja.


 


‘maafkan aku paman. Kami malah melakukannya lebih.’ Batin Leo yang hanya tersenyum pada calon mertuanya itu.


 


“benarkah?”


 


“iya, bagaimana mungkin aku melakukannya disini.” Ucap Eliza yang sangat yakin.


 


 

__ADS_1


“baiklah kalau begitu.” Ayahnya langsung percaya membuat Leo sangat kagum dengan kata-kata manis yang keluar dari mulut Eliza itu.


 


‘wah, benar-benar ajaib.’ Batin Leo.


 


‘maafkan putrimu ini ayah!!! T_T’ batin Eliza yang menangis darah.


 


“apa yang ayah ingin bicarakan?” tanya Eliza yang mulai mengalihkan topik pembicaraannya.


 


“kau sudah dapat hasil lab racun itu?”


 


“sudah.”


 


“sudah kau baca?”


 


“belum.” Jawab Eliza sembari menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tidak gatal.


 


‘bagaimana mungkin aku membacanya sembari melakukannya.’ Batin Eliza.


 


“kami terlalu asik mengobrol paman, jadi lupa dengan berkas itu. Maaf.” Ucap Leo yang kali ini mengeluarkan


kata-kata manis dari mulutnya.


 


“mulut kalian terlalu manis.” Ucap pria paruh baya itu yang sebenarnya sudah tahu sedari tadi bahwa mereka berdua hanya berbohong.


 


“sudahlah. Leo ada yang aku bicarkan diluar.” Lanjut pria paruh baya itu sembari berjalan keluar.


 


“baiklah paman. Aku pergi.” Ucap Leo sembari mengikuti pria paruh baya itu keluar ruangan.


 


Eliza yang tak ingin tahu urusan pria itu hanya duduk kembali di kursinya yang kini mala panas. Ia pun kembali


mengucir rambutnya yang benar-benar masih terasa gerah. Keringatnya pun masih ada dilehernya.


 


Mata coklat keemasan itu lagi-lagi di tutup dengan lensa tipis yang bertengger manis dihidungnya. Dan dengan


 


“hmm… racun polonium?!” gumam Eliza dengan mata yang terus menatap kertas itu.


 


Krek…


 


“hai Eliza.” Seorang wanita berkucir poni dengan jas putihnya memasuki ruangan itu menghampiri Eliza.


 


“hai dr. Sarah.” Balas Eliza dengan tersenyum manis.


 


“jangan terlalu formal El.” Ucap wanita itu dengan nada yang dingin.


 


“baiklah.” Jawab Eliza sembari mengangkat kedua bahunya. Tanpa disadari wanita yang kini sudah berada di sampingnya sedang mengendus-endus bau tubuh Eliza.


 


“hei! Apa yang kau lakukan?” ucap Eliza yang langsung menjauh dari wanita itu.


 


“tidak. Aku hanya mencium bau pria.” Ucap wanita itu dengan santainya sembari mengangkat kedua bahunya.


 


‘wanita ini tidak waras.’ Batin Eliza yang menatap rekan dokternya itu heran.


 


“siapa yang datang?” tanya wanita itu penuh penasaran.


 


“ayahku.” Jawab Eliza yang singkat membuat wanita itu tertawa cukup.


 


“mana mungkin. Ayahmu tidak mungkin meninggalkan bau pria muda seperti ini.”


 


“kau psikopat!” umpat Eliza.


 


“kau sudah tau.”


 

__ADS_1


“apa yang ingin kau bicarakan?!” tanya Eliza dengan ketus yang mengalihkan perhatian wanita itu.


 


“baiklah. Kau sudah dapat hasil Labnya?”


 


“sudah.”


 


“bagus. Ada yang perlu ku beritahu.”


 


“apa?” tanya Eliza kepada wanita yang kini menyandar pada ujung mejanya,


 


“sebagian racun yang masuk sudah dicerna. Dan ada racun juga di aliran darahnya.”


 


“apa? Bagaimana mungkin? Bukankah hanya masuk lewat mulut?!!” tanya Eliza panik yang seketika berdiri dari tempat duduknya.


 


“tenanglah. Aku fikir juga aneh. Tapi, saat ku lihat terdapat bekas suntikan di lehernya. Mungkin orang yang ingin


meracuninya tidak tanggung-tanggung.” Penjelasan wanita itu cukup membuat Eliza terdiam.


 


“aku tadi melihat kondisinya. Cukup parah. Mungkin tidak lama lagi.” Wanita itu melangkah pergi meninggalkan Eliza sendirian dalam ruangan itu.


 


“itu bagus bukan? Sebentar lagi pria tua itu berakhir di meja kerjamu.” Lanjutnya sembari menoleh kearah Eliza


saat dirinya telah sampai di depan pintu.


 


“jangan bercanda. Dia mati keracunan, jadi tidak perlu di otopsi.” Jawab Eliza malas karena sudah mengerti maksud rekannya yang satu ini.


 


“ah, benarkah? Setidaknya kau pasti senang mencincang tubuhnya. Ya kan?” goda wanita itu.


 


“sudah sana pergi Sarah!! Dasar psikopat!!” bentak Eliza pada temannya itu yang sudah berada di ambang pintu dengan melempar salah satu buku yang diraihnya.


 


“baiklah, baiklah, sampai jumpa.” Wanita itu pun pergi.


 


Eliza terduduk lemas setelah mendengar penjelasan rekannya itu. Antara iba dan merasa puas saat tahu salah


pria yang membunuh keluarganya akan mati secara perlahan.


 


“aku harus melihatnya.” Gumam Eliza sembari beranjak dari tempat duduknya.


 


Eliza berjalan dilorong sepi itu. Sangat sepi bahkan tidak ada sama sekali orang yang berlalu lalang di lantai bagi pasien VIP. Lagi pula ini juga adalah jam makan siang.


 


Tinggal beberapa langkah lagi, Eliza sampai keruangan yang ia tuju. Tapi sesaat Eliza melihat pintu ruangan itu terbuka. Seharusnya tidak. Seorang perawat sekalipun saat masuk harus menutupnya kembali.


 


Firasat buruk pun menghampiri aura disekelilig Eliza. Sekuat tenaga ia berlari kearah ruangan itu. Ia masuk kedalam dengan tersengal-sengal. Dan kini ia mendapati tubuh pria tua itu sedang meronta di atas ranjangnya. Bahkan elektrokardiogram yang ada di sampingnya sudah berbunyi tak teratur.


 


“shit!!!” umpat Eliza.


 


Namun saat Eliza berniat mendekat kearah pria tua itu, tubuhnya di tangkap oleh sebuah tangan besar. Bahkan sebilah mata pisau sudah berada di lehernya saat ini yang dibawa oleh seseorang yang sebenarnya sudah berada sedari tadi didalam ruangan itu.


 


Bibir Eliza kelu. Jantungnya hampir berhenti berdetak. Bahkan darahnya seketika seperti berhenti mengalir, saat


seorang pria berbisik di telinganya.


 


“Don’t move, Sis. Or… You gonna be die…”


 


 


***


 


 


"Let's kill this Love...." (author nyanyi tanpa suara ya...)


ditunggu updetannya yang sabar.. wokai..


jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya..


like or comment nya...


 


salam hangat

__ADS_1


Nura Hashi


__ADS_2