
Kelak dirimu akan mengerti, bahwa memilih pasangan itu tidak hanya tentang cinta. Tapi tentang siapa yang akan menemani ibadahmu hingga menutup mata.
#_temanhijrahmu
🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋
Sakha memulai pencariannya, ia di temani Bima untuk mencari Shara. Berbagai jadwal seminar untuk daerah Bogor dan sekitarnya ia catat.
"Kita kemana dulu, nih?" Tanya Bima.
"Emm, kesini." Sakha menunjuk salah satu tempat yang sedang mengadakan acara seminar.
"Baiklah, ayo!" Bima masuk ke dalam mobilnya di ikuti oleh Sakha.
Mereka kini menuju tempat yang telah di setujui, mobil melaju dengan kecepatan sedang.
***
Sesampainya di tempat tujuan, Sakha dan Bima tak langsung turun dari mobilnya. Sejenak Bima memperhatikan tempat seminar yang kini berada di depannya.
"Mau coba di cek?" Tanyanya pada Sakha.
"Boleh."
Keduanya turun dari mobil, dan kini berjalan mendekat.
Bima berinisiatif untuk bertanya pada seorang penjaga keamanan di acara tersebut.
"Assalamuallaikum, permisi Pak saya ingin bertanya."
"Wa'allaikumussalam, iya ada apa Mas?" Jawab petugas itu.
"Pengisi seminar disini hanya mereka berdua, Pak? Ada pengisi lain tidak, Pak? Atau mungkin panitia bernama Shara?" ucap Bima.
"Iya, Mas. Hanya mereka berdua, untuk yang namanya Shara, saya kurang tahu, Mas." Petugas itu menjawab seadanya.
"Oh... Baiklah. Terima kasih, Pak."
Bima dan Sakha kembali ke mobilnya.
"Mau cari ke tempat lain?" Tanya Bima.
"Bolehlah," ucap Sakha.
Mereka kini melanjutkan pencarian Shara.
Dari kejauhan, turun seorang wanita dari taxi. Perempuan itu memakai jilbab, wajahnya bergitu teduh.
"Ra," teriak perempuan lain.
Perempuan berjilbab itu tersenyum, "sebentar."
Perempuan itu berjalan mendekati orang yang memanggilnya tadi.
"Assalamuallaikum, kamu apa kabar?" Tanya Amel.
"Wa'allaikumussalam. Alhamdulillah, kamu apa kabar Mel?" Tanya balik Shara.
"Baik, Ra. Masuk yu."
Shara mengangguk, kini mereka berdua masuk untuk mengikuti acara seminar.
Kalau Allah belum mentakdirkan untuk bertemu, sedekat apapun jarak kita tentu tidak akan terjadi atas kehendak-Nya.
***
Sakha sampai di tempat kedua, ia berharap bisa bertemu Shara disini.
Hal yang sama di lakukan keduanya, mereka memulai pencarian dengan bertanya pada orang di sekitar.
Lagi-lagi usahanya tidak membuahkan hasil, tak di dapati Shara disana.
Sakha terlihat kecewa, ia terduduk lesu di pinggiran trotoar.
Bima berusaha menghibur sahabatnya itu, memberi semangat agar Sakha tidak menyerah begitu saja.
"Kha, masih mau lanjut?" Tanyanya.
__ADS_1
Sakha menghela nafasnya, ia sedikit merasakan pesimis.
"Entahlah, mungkin Shara memang tidak di takdirkan untukku." Sakha berucap dengan pasrah.
"Ayolah, baru dua tempat. Masih ada satu tempat lagi, mungkin disana membuahkan hasil." Bima menyemangati.
Sakha mengangguk, "maaf, sudah merepotkanmu."
"Kau ini, santai saja."
Keduanya kini kembali masuk ke dalam mobil, melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat selanjutnya.
***
Di acara seminar yang di datangi oleh Shara.
"Ra, kapan nikah? Kamu tidak iri apa liat aku nih, udah mau dua aja." Tunjuk Amel pada perut buncitnya.
"Wah gemes, deh. Doa'akan saja, Mel." Shara mengelus perut temannya.
"Pasti. Oh iya, Adam tidak ikut?" Tanya Amel. Ia merasa heran karena tidak biasanya Shara pergi tanpa di temani oleh Adam.
"Sudah, jangan bahas dia." Shara merubah raut wajahnya.
"Hemm, iya deh maaf. Sabar, ya." Amel menepuk pelan lengan Shara. Ia tahu cerita tentang sikap Adam yang posesif pada Shara, meskipun dia hanya di percaya oleh orang tua Shara untuk menjaganya.
"Iya, Mel." Shara tersenyum.
Keduanya kini fokus mengikuti acara seminar.
***
Di tempat yang Sakha datangi, mereka berdua mulai kembali mencari Shara. Sakha dan Bima sejenak berteduh di bawah pohon samping mobilnya yang terparkir, sayup-sayup ia mendengar obrolan beberapa wanita yang tak sengaja berjalan di depan mereka
"Kurang satu, nih. Shara kemana sih?" Tanya salah satu wanita.
"Katanya dia mau ikut seminarnya Kak Alvin dan Kak Larissa." Wanita lainnya menjawab.
Mendengar nama itu, Sakha langsung berinisiatif untuk bertanya pada sekelompok wanita itu.
"Wa'allaikumussalam, ada apa Mas?" Sahut salah seorang di antara mereka, para wanita itu terlihat kebingungan.
"Maaf, Mbak. Tadi saya tidak sengaja mendengar ada yang menyebutkan nama Shara, kalau boleh saya tahu Shara siapa yah, Mbak?" Tanya Sakha, Bima yang juga keheranan, berjalan memdekati Sakha.
"Shara teman kita, kenapa memangnya, Mas? Tanya wanita itu lagi.
"Kebetulan saya sedang mencari yang namanya Shara juga, Mbak. Barangkali orang yang saya cari saya dengan teman, Mbak." Sakha menuturkan.
"Oh iya, saya punya fotonya." Sakha membuka kameranya, ia berniat memperlihatkan foto Shara pada mereka.
"Ini, Mbak. Kenal tidak?" Tanya Sakha sembari menyodorkan kameranya.
"Lho, ini kan teman saya, Mas." Salah satu wanita menjawab.
"Benarkah? Alhamdulillah," Sakha terlihat senang, begitupun Bima.
"Kok Mas-nya punya foto teman saya?" Tanya wanita itu.
"Dia, teman saya juga, Mbak. Oh iya, apa sekarang Ara juga datang kesini?" Tanya Sakha antusias.
"Oh tidak, Mas. Shara datang ke seminar yang lain," jawab wanita itu.
"Seminar mana ya, Mbak?" Sakha penasaran.
"Seminar Kak Alvin dan Larissa." Wanita itu menjawab seadanya.
Bima dan Sakha saling pandang, mungkin sekarang mereka memiliki pemikiran yang sama.
"Mbak, boleh minta nomor ponsel Shara?" Bujuk Sakha.
"Emmm, boleh. Tapi Mas-nya orang baik-kan?" Wanita itu memastikan.
"InsyaAllah, Mbak. Yang pasti saya bukan orang jahat." Sakha meyakinkan.
"Baiklah."
Wanita itu memberikan nomor ponsel Shara oada Sakha, terlihat jelas raut bahagia pada wajah Sakha.
__ADS_1
"Terima kasih, Mbak. Saya permisi," ucap Sakha.
Sakha langsung menarik lengan Bima, ia setengah berlari menuju mobil.
"Kha, sabar. Coba hubungi dulu dia." Bima mengusulkan.
"Nanti saja, keburu Shara pulang, Bim." Sakha tergesa.
"Yasudahlah, terserah kau saja." Bima pasrah.
Kini mereka memutar balikkan arah mobilnya, kembali menuju tempat seminar yang pertama mereka datangi.
"Semoga hari ini aku bisa bertemu dengan Shara," ucap Sakha lirih.
Bima sejenak melirik ke arah sahabatnya itu.
"Bismillah, kha."
Sakha mengangguk, Bima melajukan mobilnya sedikit lebih kencang karena jarak untuk kembali ke tempat pertama lumayan lama.
***
Sesampainya di tempat pertama, Sakha bergegas turun dari mobil tanpa menunggu Bima terlebih dulu.
Acara seminar telah selesai, para peserta seminar juga tengah berlalu lalang meninggalkan tempat tersebut.
Sakha mengedarkan pandangannya, berharap ia dapat menemukam Shara.
"Kha, sudah selesai acaranya. Bagaimana ini?" Tanya Bima dengan nafas tersengal karena mengejar Sakha.
"Berpencar, Bim." Sakha kembali berlari meninggalkan sahabatnya itu.
"Astagfirulloh, dasar bucin. Mau berpencar bagaimana? Aku kan tidak ingat wajah Shara." Bima kebingungan.
Sakha terus mengedarkan pandangannya, mencari-cari sosok Shara.
"Ya Allah, dimana kamu, Ra?" Gumam Sakha.
"Ra, aku pulang duluan, yah."
Sakha terhentak, ia mendengar seseorang yang meyebut nama Shara. Sakha mencari sumber suara, tatapannya kini menangkap sosok yang di kenalnya.
"Shara," ucap Sakha lirih.
Ia berlari mendekati perempuan yang dicarinya, sembari memanggil nama Shara.
"Ara."
Shara terdiam, samar-samar ia seperti mendengar seseorang memanggil namanya. Namun Shara tak berniat mencari tahu, ia melanjutkan kembali langkahnya.
Sakha kembali memanggil Shara saat melihat Shara semakin menjauh.
"Ara. Shara!" Panggil Sakha.
Brukk.
Tanpa sengaja Sakha menabrak seorang wanita paruh baya, Membuatnya mau tidak mau harus menghentikan langkahnya untuk meminta maaf pada orang yang di tabraknya.
"Astagfirulloh, maaf, Bu." Sakha merasa bersalah.
Shara kembali menghentikan langkahnya, ia juga mengedarkan pandangannya. Ia mencari tahu dimana asal suara itu, namun yang ia lihat hanya gerombolan orang dan wanita paruh baya yang tengah berbicara dengan seorang pemuda. Tanpa Shara tahu, bahwa pemuda yang tengah berbicara dengan seorang nenek itu adalah Sakha. Sayangnya, tubuh Sakha membelakangi Shara, hingga ia tak dapat mengenali siapa pemuda itu.
Setelah berbicara dengan nenek itu, Sakha membalikkan tubuhnya. Raut wajahnya kembali berubah kecewa, ketika melihat Shara sudah tak ada di tempatnya.
Dari arah belakang Bima tengah berlari mendekati Sakha, dengan nafas yang terengah-engah.
"Kha, bagaimana? Ketemu?" Tanya Bima sembari mengatur nafasnya.
Sakha menggelengkan kepalanya, ia menghela nafasnya berat.
Bima dapat mengartikan ekspresi wajah sahabatnya itu, berulang kali ia juga berusaha untuk terus menyemangati sahabatnya itu.
Ikrimah –rahimahullah– pernah mengatakan,
ليس أحد إلا وهو يفرح ويحزن، ولكن اجعلوا الفرح شكراً والحزن صبر
“Setiap insan pasti pernah merasakan suka dan duka. Oleh karena itu, jadikanlah sukamu adalah syukur dan dukamu adalah sabar.”
__ADS_1