PRANIKAH

PRANIKAH
Ridho Orang Tua adalah Ridho Allah


__ADS_3

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: رِضَا الرَّبِّ فِى الرِّضَا الْوَالِدَيْنِ وَ سَخْطُهُ فِى سَخْطِهِمَا  – الطبراني


Artinya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda,”Ridha Rabb terletak pada ridha kedua orang tua dan murka-Nya terletak pada kemurkaan keduanya.” (Riwayat Ath Thabarani, dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi)


💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮


Selesai menghubungi Shara, dan mendapat alamat rumahnya Sakha segera menemui kedua orang tuanya. Ia berniat untuk menyampaikan maksudnya, untuk mengkhitbah Shara.


Terlihat ayah Sakha yang tengah menonton acara televisi, di temani oleh sang ibu yang juga tengah menemani ayahnya.


Sakha perlahan duduk di sofa samping orang tuanya, dengan perasaan gugup ia berusaha mengutarakan maksudnya.


"Ayah, Ibu. Ada yang ingin Sakha bicarakan," ujar Sakha.


"Soal apa?" Tanya ayahnya.


"Bismillah, begini, Yah, Bu. Aku ingin Ayah dan Ibu mengkhitbahkan seorang wanita untukku," ujar Sakha dengan gugup.


Kedua orang tua Sakha terkejut dengan ujaran anaknya itu, mengapa tiba-tiba Sakha meminta mereka untuk melamar seorang wanita untuknya.


"Siapa wanita itu? Apa dia yang kemarin datang ke rumah?" Tanya ayahnya lagi.


Sakha menggeleng, "bukan, Yah. Namanya Shara," sahut Sakha.


"Sejak kapan kau mengenalnya?" Tanya ibu Sakha.


"Saat aku berada di Bandung, aku bertemu dengannya. Selama disana kami berteman dan mengenal satu sama lain," ujar Sakha.


"Seminggu? Hanya dalam waktu seminggu kau memangnya sudah merasa yakin untuk menjadikannya istrimu?" Tanya ayah Sakha dengan tegas, ia tidak ingin anaknya hanya memiliki niat karena rasa suka yang berlangsung singkat.


"Aku yakin, Yah. Dia wanita baik, bukan hanya pada rupanya, dia pun memiliki akhlak yang lebih baik, insyaAllah." Sakha mencoba meyakinkan kedua orang tuanya.


Sejenak kedua orang tuanya saling bertukar pandang, mencoba untuk memikirkan terlebih dulu keinginan anaknya.


"Ya sudah, jika memang kau sudah yakin." Ayah Sakha akhirnya menyetujui keinginannya.


"Ayah dan Ibu merestui?" Tanya Sakha antusias.


Kedua orang tua Sakha mengangguk, mereka juga merasa senang karena Sakha menemukan wanita yang mampu membuatnya yakin untuk menjadikannya istri.


"Alhamdulillah, terima kasih, Yah, Bu." Sakha bersimpuh di depan kedua orang tuanya.


"Sama-sama, semoga Allah meridhoi rencana kita. Sudah, berdirilah," sahut ayah Sakha.


Sakha memeluk kedua orang tuanya, ia merasa sangat bahagia.


Jika Allah meridhoi, Shara akan menjadi wanita yang mengisi hari-harinya. Sakha berharap apa yang di ingininya adalah apa yang memang Allah takdirkan untuknya.


***


Di tempat lain, Shara pun berniat untuk menyampaikan niat baik Sakha kepada orang tuanya.


Ia merasa ragu, namun Shara tak mengurungkan nitanya sama sekali. Ia berjalan mendekati kedua orang tuanya yang tengah berada di ruang keluarga.

__ADS_1


"Umi, Abi, ada yang ingin Ara sampaikan," ucap Shara dengan nada rendah.


"Apa itu, Ra? Kemarilah, duduk bersama Umi dan Abi," pinta kedua orang tua Shara.


Shara pun menurut, ia duduk di tengah-tengah Umi dan Abinya.


"Mau bicara apa?" Tanya Umi Merry lembut.


"Begini, Umi, Abi. Ada seorang pria yang berniat melamar Ara," ujar Shara dengan hati-hati.


"Siapa dia?" Tanya Abi.


"Namanya Sakha, Abi." Shara menunduk, ia merasa takut jika orang tuanya tidak menyetujui.


"Siapa pria itu? Apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" Tanya Abi lagi.


Shara mengangguk pelan, "kami mengenal selama satu minggu di Bandung, Abi."


Mendengar itu, Merry teringat akan seseuatu.


"Apa ini yang katamu kenangan?" Tanya Umi Merry.


Shara tersenyum tipis, ia begitu gugup saat ini hingga keringat dingin membasahi telapak tangannya.


"Abi tunggu kedatangan dia," ucap Abi dengan lantang.


Shara mengangkat wajahnya, benarkah apa yang Abinya katakan.


"Apa Abi meridhoi?" Tanya Shara.


Shara berkaca-kaca, ia begitu bahagia mendengar jawaban orang tuanya. Shara memeluk erat Abi dan Uminya, ia bersyukur memiliki orang tua yang begitu mengerti padanya.


"Terima kasih, Abi, Umi." Shara mengeratkan pelukannya.


"Semoga ini adalah takdir yang Allah siapkan untukku," ucap Shara dalam batinnya.


***


Malam hari, selepas salat isya. Bima hendak membeli nasi goreng, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Airin yang juga tengah membeli makanan yang sama.


"Loh, Airin?" Sapa Bima.


Airin menoleh, "Bim, kamu mau beli nasi goreng juga?" Tanya Airin.


"Iya, kamu apa kabar?" Tanya Bima.


"Begitulah," jawab Airin dengan raut wajah sendu.


Bima mengangguk, ia paham dengan perasaan yang tengah di rasakan Airin saat ini.


Setelah memesan nasi goreng, Bima dan Airin sejenak berbincang ringan.


"Bagaimana kabar Sakha?" Tanya Airin.

__ADS_1


"Baik, alhamdulillah." Bima menjawab seadanya.


Airin tersenyum tipis, ia berpikir mana mungkin Sakha akan merasakan kesedihan yang sama dengannya.


"Rin, kau baik-baik saja?" Tanya Bima saat melihat Airin tampak sedih.


"Tidak akan ada orang yang baik-baik saja ketika di tinggalkan, Bim." Airin berucap sembari mengusap air matanya yang telah menetes tanpa seizinnya.


"Aku mengerti, tetapi bukan berati orang yang meninggalkan juga merasa baik-baik saja, Rin." Bima mencoba untuk menenangkan Airin.


"Tapi tidak dengan Sakha, ia begitu mudah melepasku, Bim." Airin terisak.


Bima terdiam, ia hanya bisa menjadi penengah untuk mereka berdua.


"Jodoh itu tidak ada yang tahu, Rin. Jika memang Sakha adalah yang terbaik untukmu, maka dia akan jadi milikmu. Tetapi jika bukan, percayalah Allah telah menyiapkan apa yang memang kau butuhkan," tutur Bima.


Di tengah- tengah perbincangan Bima juga Airin, tiba-tiba saja ponsel Bima berdering. Panggilan dari Sakha.


"Assalamuallaikum, Kha. Kenapa?" Tanya Bima.


"Bim, aku sudah bisa menghubungi Shara," ujar Sakha di balik ponsel.


Sejenak Bima melirik ke arah Airin, sebelum kembali melanjutkan menjawab panggilan Sakha.


"Benarkah? Alhamdulillah, lalu?" Tanya Bima.


"InsyaAllah, besok aku akan menemuinya bersama orang tuaku." Sakha memberitahu kabar baik itu.


Bima terdiam, "kau serius, Kha?" Tanyanya terbata-bata.


"Iyalah, mana mungkin aku bercanda!" Seru Sakha.


"Alhamdulillah, semoga Allah melancarkan niat baikmu," ucap Bima tulus.


"Aamiin, terima kasih. Oh iya, kau sedang berada di luar?" Tanya Sakha saat mendengar kebisingan yang berasal dari suara kendaraan.


"Iya, aku sedang membeli makanan," jawab Bima.


"Oh ya sudah, aku tutup telefonnya. Assalamuallaikum," ucap Sakha.


"Wa'allaikumussalam," jawab Bima.


Panggilan pun terputus, Bima kembali memasukkam ponselnya ke dalam saku celana.


"Sakha bilang apa, Bim?" Tanya Airin.


"Emm, ini... Sakha hanya memberitahu kabar saja." Bima gelagapan menjawab pertanyaan Airin.


"Emm, kabar apa kalau boleh tahu?" Airin penasaran.


"Emm, Sakha bilang besok dia dan orang tuanya akan mengunjungi kediaman Shara," ucap Bima dengan terpaksa.


Airin terhentak, hatinya semakin hancur mendengar kabar itu. Air matanya semakin meleleh, namun ia sebisa mungkin menahan isakkannya.

__ADS_1


"Secepat itu kau mencari penggantiku, Kha? Apa aku benar-benar telah terhapus dari hatimu?" Kau jahat, kau sangat jahat padaku, Sakha." Airin membatin.


"Maafkan aku, Rin. Tapi kau lebih baik tahu, agar kau tidak semakin berharap pada Sakha." Bima pun membatin.


__ADS_2