
Ketika seorang pria mengatakan “saya terima nikahnya” pada suatu akad nikah, itu artinya dia juga mengatakan bahwa saya siap menerima tanggung jawab untuk melayani istri saya, mencintai dan melindunginya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Shara memandang pantulan dirinya pada cermin, balutan gaun pengantin putih tampak elegan melekat di tubuhnya.
Perasaannya kini begitu campur aduk, antara bahagia juga gugup. Akhirnya, hari pernikahan tiba. Hari dimana Shara akan segera menjalani profesi barunya, yaitu seorang istri.
Shara menunggu kedatangan Sakha beserta keluarganya di dalam kamar, karena memang Shara akan di izinkan menemui Sakha setelah ijab qobul selesai dilaksanakan.
"Ya Allah, lancarkan dan mudahkanlah segala urusanku, janganlah Engkau persulit." Shara berdo'a.
Di ruang tengah, telah riuh orang-orang yang menunggu kedatangan mempelai pria.
Riasan rumah begitu terlihat menawan, perpaduan silver dan gold menghiasi seisi ruangan.
***
Di perjalanan menuju rumah Shara, Sakha begitu tampak gugup. Sesekali ia juga memejamkan matanya, berusaha terus mengatur nafasnya.
"Nak, kau kenapa?" tanya Ibu Salma.
"Ah, tidak apa, Bu. Aku hanya gugup," jawab Sakha terbata-bata.
Ibu dan Ayah Sakha tersenyum, ia paham dengan perasaan putranya saat ini.
"Banyak-banyak beristigfar, Kha." Ayah Sakha menyarankan.
Sakha hanya mengangguk, ia mengikuti saran Ayahnya dan mulai beristigfar dalam hatinya selama di perjalanan.
"*Robbisyrohli shodri, wayassirli amri, wahlul uqdatam mil lisani, yafqohu qouli".
Artinya:
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku*”.
***
Tibalah Sakha di rumah Shara, ia turun dari mobilnya. Semua keluarga yang mengantarkannya termasuk Bima, kini berjejer di belakangnya. Sakha di apit oleh kedua orang tuanya, ia memunculkan raut wajah setenang mungkin.
Shara menatap calon suaminya di jendela kamarnya, ujung bibirnya tersenyum.
Perlahan langkah Sakha kini mulai memasuki rumah Shara, tampak sebuah meja yang akan di gunakan untuk mengucapkan ijab qobul.
Sakha di temani sang ayah, kini duduk di kursi yang telah disediakan. Di hadapannya telah duduk dengan tegap Abi dari Shara juga penghulu.
"Apa sudah siap semuanya?" tanya Bapak penghulu.
"Sudah, Pak. Silahkan di mulai saja ijab qobul nya," pinta Abi Shara.
Bapak penghulu itu mengangguk, dan segera memulai prosesi akad nikah itu.
"Bismillahirrohmanirrohim, Ananda Sakha Sakti Pratama Bin Bapak Burhan Pratama, Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Qaishara Kirana Binti Bapak Fadlan dengan maskawin berupa seperangkat alat salat dan emas dua puluh delapan gram, tunai.” Ucap Bapak Penghulu dengan lugas sembari mengeratkan jabatan tangannya pada Sakha.
Sakha menarik nafasnya, dan mulai mengucapkan ijab qobul.
__ADS_1
“Saya terima nikah dan kawinnya Qaishara Kirana Binti Bapak Fadlan dengan maskawin tersebut tunai.” Sakha mengucapkan dengan lantang juga satu tarikan nafas.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya Bapak penghulu kepada para saksi.
"Sah," jawab para Saksi.
"Alhamdulillah," sahut semua orang yang menyaksikan prosesi sakral tersebut, tak terkecuali Shara yang juga mendengar ucapan lantang Sakha di dalam kamarnya.
“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.”
"Selamat, Nak Sakha." Bapak Penghulu menjabat tangan Sakha.
"Terima kasih, Pak." Sakha menyambut dengan senyum bahagia.
"Sakha, selamat. Kau telah menjadi seorang suami sekarang," ucap Ayah Sakha sembari memeluk erat putranya itu di susul oleh Ibu Salma yang juga begitu terharu menatap putranya.
Tiba saatnya mempelai wanita keluar dari kamarnya, dan menemui suaminya. Sakha terpaku menatap kecantikan istrinya, ia begitu bersyukur karena Allah telah mendengar doanya.
Shara berdiri tepat di hadapan suaminya, ia meraih tangan kanan Sakha dan mencium punggung tangan suaminya itu. Sakha segera menyentuh ubun-ubun kepala sang istri dengan tangan kirinya, ia pun melafalkan doa pada istrinya.
“Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.”
Sakha mulai mengecup kening wanita yang kini telah sah menjadi istrinya, ia begitu bahagia begitupun Shara.
Sakha melingkarkan cincin indah pada jari manis istrinya, dan Shara juga melakukan hal yang sama pada suaminya.
Acara akad nikah telah selesai, kini para tamu juga keluarga besar saling menyalami pasangan pengantin baru itu untuk memberi selamat.
"Ara, selamat sayang. Semoga rumah tangga kalian selalu di limpahi keberkahan," ucap kedua orang tua Shara.
Suasana begitu haru, lantunan shalawat mengiringi acara resepsi.
"Kha, selamat. Semoga rumah tanggamu sakinah, mawwadah, warrahmah," ucap Bima sembari merangkul sahabatnya itu.
"Aamiin, terima kasih. Segeralah menyusul," goda Sakha pada Bima.
"Doakan aku makannya, kalau bisa carikan juga calon untukku, mungkin Shara punya teman yang masih single," ujar Bima sembari terkekeh.
Mereka kini tertawa bersama, kebahagiaan begitu terasa saat ini.
Dari kejauhan, tampak seorang wanita yang tengah berjalan mendekati Sakha juga Shara.
Mereka terhentak menatap wanita yang sangat dikenali, sebisa mungkin Sakha juga Shara menampakkan raut wajah yang ramah.
"Selamat untuk kalian, semoga selalu bahagia." Airin berucap dengan suara gemetar.
"Terima kasih sudah menyempatkan datang, Rin." Sakha berkata dengan terbata.
Shara yang sedari tadi tertunduk, kini mengangkat wajahnya ketika Airin meraih tangannya.
"Selamat, kau beruntung menjadi istri Sakha." Airin menatap lekat mata Shara.
"Aamiin, terima kasih." Shara tak banyak berkata.
Bima mencoba mencairkan suasana canggung yang tercipta diantara mereka, ia mencoba mengajak Airin untuk menikmati hidangan yang di sediakan.
__ADS_1
"Rin. Kita kesana, yuk," ajak Bima.
Airin hanya mengangguk, ia berjalan mengikuti langkah Bima.
Shara menatap istrinya yang kini tertunduk, ia tak mau merusak suasana bahagianya dengan Shara.
"Ra, kau baik-baik saja?" tanya Sakha.
Shara beralih menatap wajah suaminya, seketika ia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"InsyaAllah, aku baik-baik saja."
Resepsi berjalan dengan sangat lancar, hingga semua acara selesai dilaksanakan.
Kedua orang tua Sakha pamit pulang, sebelum pergi mereka kembali memeluk putranya.
"Kami pulang," pamit Ayah Sakha.
"Kenapa buru-buru? menginap saja disini," pinta Abi Shara.
"Tidak usah, Pak. Kami ingin segera sampai ke rumah," jawab Ayah Sakha.
"Sakha, Ayah dan Ibu pulang, yah?" pamit Pak Burhan pada putranya.
"Hati-hati, Yah, Bu," ucap Sakha.
"Iya, Assalamuallaikum."
"Wa'allaikumussalam," jawab Sakha juga Shara.
Kini mereka mengantarkan orang tua Sakha, hingga kendaraan mereka meninggalkan kediaman Shara.
***
Malam hari selesai makan malam, Sakha juga Shara kembali ke kamar mereka.
"Dek, Mas berangkat ke mesjid dulu, yah. Kau juga segera salat isya," ucap Sakha.
Shara terdiam ketika mendengar panggilan baru yang Sakha berikan untuk mereka, ia masih merasakan canggung.
"Kenapa diam?" tanya Sakha dengan lembut.
"Eh, tidak apa-apa. Iya, setelah Mas pergi, aku langsung salat," sahut Shara dengan gemetar.
Sakha tersenyum melihat tingkah manis istrinya, ia tak menyangka kini dapat sedekat ini dengan Shara.
"Yasudah, Mas pergi dulu. Assalamuallaikum," ucap Sakha sembari mengecup kening Shara.
Shara membulatkan matanya, ia semakin merasa gugup karena ulah Sakha.
"Wa'allaikumussalam," jawab Shara dengan gugup.
Sakha kembali tersenyum ia sangat menyukai tingkah istrinya ketika sedang gugup, setelah itu ia pergi meninggalkan istrinya yang masih mematung di tempatnya.
"Astagfirulloh, kenapa pipiku panas sekali rasanya," ucap Shara sembari menyentuh kedua pipinya yang memerah.
__ADS_1