
Sakha masih tak beranjak dari tempatnya, sembari tertunduk ia menunggu sang istri yang belum juga keluar dari kamar mandi.
Saat waktu menunjukkan pukul enam sore, terdengar azan maghrib berkumandang.
Suara pintu terdengar terbuka, Sakha sontak berdiri dan membalikkan tubuhnya. Ia menatap wajah istrinya, jejak tangisan tampak jelas disana.
"Dek, Mas minta maaf. Apa yang membuatmu bersikap seperti ini pada Mas?" tanya Sakha hati-hati.
Shara tak bersuara, ia menyodorkan sebuah benda pipih bergaris dua berwarna merah di tengah bagiannya pada Sakha.
Sakha menerima benda itu, alangkah terkejutnya ia dengan apa yang tampak pada benda itu.
"MasyaAllah, Dek." Sakha berhambur memeluk erat istrinya, Isakan bahagia terdengar lirih dibalik tubuh sang istri.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Terima kasih, Dek." Sakha masih mensyukuri rezeki yang Allah berikan pada keluarga kecilnya.
Shara pun ikut larut dalam kebahagiaan itu, sejenak ia melupakan kejadian yang dialaminya hari itu.
Sakha melepas pelukannya, ia kini mencium lembut kening istrinya.
"Kita shalat maghrib dulu, Mas." Shara melepas tangan Sakha yang tengah menangkup wajahnya.
"Iya, Mas ambil wudhu dulu."
Dengan perasaan bahagia, Sakha berlalu menuju kamar mandi dan berniat untuk mengambil air wudhu.
Tak lama Sakha keluar dari kamar mandi, alat shalat telah disediakan oleh Shara.
Mereka pun segera menunaikan ibadah shalat maghrib, dengan khusuk Sakha melantunkan tiap-tiap bacaan shalat.
Selesai mengucapkan salam, Sakha melanjutkannya dengan berdoa.
“*Allahummahfadz waladî mâ dâma fî bathni zaujatî wasyfihi anta asy-syâfi lâ syifâan lâ yughâdiru saqaman, Allahumma shawwirhu fî bathni zaujatî shûratan hasanatan watsabbit qolbahu îmânan bika wa bi-Rasûlika.
Allahumma akhrijhu mim bathni zaujatî waqta wilâdatihâ sahlan wa taslîman,Allahumma ij’alhu shahîhan kâmilan wa ‘âqilan hâdziqan ‘âmilan.
Allahumma thowwil ‘umrohu wa shahhih jasadahu wa hassin khuluqohu wa afshah lisânahu wa ahsin shautahu liqirooatil hadîtsi wal qur`ânil ‘adzîm bibarokati Muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam. Walhamdulillâhi Robbil ‘âlamîn.”
__ADS_1
“Ya Allah, jagalah anakku selama ia berada dalam perut istriku, sehatkan ia, sesungguhnya Engkau Yang Maha Menyehatkan, tak ada kesehatan kecuali kesehatan dari-Mu, kesehatan yang tak terganggu penyakit.
Ya Allah, bentuk ia yang ada di perut istriku dalam rupa yang baik, tetapkan dalam hatinya keimanan pada-Mu pada Rasul-Mu. Keluarkan dia dari perut istriku pada saat kelahirannya secara mudah dan selamat.
Ya Allah, jadikan ia utuh, sempurna, berakal, cerdas, banyak beramal. Panjangkan umurnya, sehatkan jasadnya, baguskan rupanya, dan fasihkan lisannya untuk membaca hadits dan Al-Qur’an Yang Agung, dengan berkah Nabi Muhammad SAW. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam*.”
Selesai berdoa, Sakha berbalik menghadap istrinya. Ia menyodorkan tangan kanan, dan Shara segera meraih juga mencium punggung tangan suaminya.
"Sehat terus sayang," ucap Sakha sembari mengelus pelan perut istrinya.
Shara begitu terharu mendapati sikap suaminya, air matanya kini kembali tumpah.
Sakha yang menyadari Shara tengah menangis, dengan cepat menghapus air mata istrinya.
"Dek, kenapa?" tanya Sakha dengan lembut.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Aku melihat Mas bersama Airin di mall tadi," Shara berucap dengan suara gemetar.
Sakha terdiam, nyatanya hal ini lah yang membuat istrinya gundah.
"Dek, dengarkan Mas. Sewaktu Mas memesan minuman untukmu, tanpa sengaja Mas melihat Airin yang terjatuh dan tidak sadarkan diri. Mas hanya ingin membantunya, dengan menyuruh beberapa orang untuk mengantarnya ke rumah sakit. Setelah itu Mas kembali ke tempat dimana kamu Mas tinggalkan, tetapi saat Mas kembali kamu sudah tidak ada disana. Sungguh, tidak ada hal lain yang terjadi antara Mas dengan Airin." Sakha berupaya untuk menjelaskan duduk perkaranya, ia sangat berharap istrinya dapat mempercayainya.
"Aku juga tidak sengaja bertemu dengan Airin di rumah sakit, dan Mas tahu apa yang dia katakan?" imbuh Shara.
"Apa yang dia katakan?" tanya Sakha penasaran.
"Dia masih mencintaimu, dan dia memintaku untuk rela berbagi dengannya." Shara tertunduk, hatinya begitu sakit ketika mengatakan hal itu.
"Apa?" Sakha terkejut dengan apa yang didengarnya.
"Mana bisa seperti itu! Dek, dengarkan Mas. Demi Allah, Mas tidak memiliki perasaan apapun pada Airin. Mas tidak pernah berniat untuk menduakan hati Mas," ucap Sakha.
"Aku paham, memang aku yang salah. Aku hadir di tengah-tengah kalian, Airin bahkan bisa berpikir bahwa aku telah merebut Mas darinya," sahut Shara.
"Tidak ada yang merebut siapa dari siapa! Semua sudah Allah rencanakan. Bahkan jatuh cinta padamu pun tidak pernah Mas rencanakan," seru Sakha.
Sakha meraih kedua tangan istrinya, ia menatap dalam mata sayu itu.
__ADS_1
"Jangan pernah memikirkan hal itu lagi, fokuslah pada janin yang ada dalam rahimmu saat ini. Pegang kata-kata Mas! Mas tidak akan pernah menduakan hati Mas."
Shara tersenyum tipis, ia kini memeluk dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Sakha.
"Mas sangat mencintaimu," ucap Sakha.
"Aku juga Mas," sahut Shara.
***
Selepas shalat isya, Shara hendak beristirahat. Namun, niatnya di urungkan karena sang suami yang mengajaknya untuk berbicara.
"Dek, boleh Mas bicara?" tanya Sakha.
"Apa Mas?" tanya balik Shara.
"Kalau Mas ajak kamu pindah, apa kamu mau?" tanya Sakha perlahan.
"Pindah, kemana?" tanya Shara.
"Emm, mungkin Mas mau cari rumah sewa untuk kita tinggal sementara." Sakha menunduk mengingat ia belum bisa memberikan rumah untuk mereka tinggal.
"Memangnya disini kenapa? Mas tidak betah?" tanya Shara penasaran.
"Bukan seperti itu, Mas hanya ingin belajar mandiri saja. Mas janji akan bekerja keras agar bisa secepatnya membuatkan rumah untuk kita," ujar Sakha.
Shara tersenyum tulus, "Mas, kemanapun kamu pergi aku akan ikut. Kita mulai semua dari nol," jawab Shara.
Sakha merasa lega dengan jawaban yang diberikan oleh istrinya, ia senang karena Shara dapat mengerti keinginannya.
"Terima kasih sudah mau menerima keadaan Mas, kamu benar-benar istri idaman. Doakan terus Mas, agar dimudahkan dalam mencari rezeki halal untuk keluarga kecil kita," ucap Sakha.
"Pasti, Mas. Tanpa diminta sekalipun, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, untuk kita." Shara memeluk erat suaminya, ia bangga dengan sikap tanggung jawab yang ditunjukkan oleh Sakha terhadapnya.
***
Tak lagi menggantungkan diri pada orang tua, mandiri menjalani peran baru dalam biduk rumah tangga. Meski belum mampu membeli rumah baru, setidaknya masih bisa mencukupi kebutuhan hidup sendiri. Melakukan sesuatu dengan kemampuan sendiri, tak merepotkan orang lain lagi. Itu sudah jadi bentuk rasa syukur dan bahagia sendiri.
__ADS_1
Lebih baik hidup terpisah dengan orang tua, walau hanya tinggal di kontrakan kecil sekalipun.