PRANIKAH

PRANIKAH
Terbongkar


__ADS_3

"*Wahai Manusia, jadilah orang yang jujur, karena Allah akan menjadi penolong bagi orang-orang yang jujur. Hindari berbohong karena itu akan merusak imanmu. Ketahuilah bahwa orang-orang yang jujur berada di ambang kemuliaan dan kehormatan, sementara para pendusta berada di ambang kehancuran dan kebinasaan."


– Ali bin Abi Thalib*


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Pagi-pagi sekali, Umi Merry memberitahukan bahwa ada seseorang yang mencari Shara.


"Ra, ada yang mencarimu," ucap Umi Merry pada Shara yang tengah berbincang ringan dengan Abinya di halaman belakang.


Dengan penasaran, Shara lekas turun untuk menemui siapa yang bertamu sepagi ini ke rumahnya.


Saat Shara telah sampai di ambang pintu, ia mengernyitkan keningnya menatap seseorang yang kini berdiri di hadapannya.


"Maaf, cari siapa, ya?" Tanya Shara dengan sopan.


Sejenak orang itu menatap Shara penuh kagum, wajah Shara terlihat begitu teduh ketika di pandang.


"Maaf, sa-saya ingin bertemu dengan anda," sahut orang tersebut dengan terbata-bata.


"Saya?" Tanya Shara sembari terheran.


"Emm, masuklah," pinta Shara.


Seseorang itu mengangguk, dan mengikuti Shara masuk ke dalam rumah.


"Maaf, ada keperluan apa? Dan apa sebelumnya kita pernah saling mengenal?" Tanya Shara sembari mengingat kembali, namun memang ia tak pernah tahu siapa orang itu sebelumnya.


Sejenak seseorang itu terdiam, dan matanya mulai berkaca-kaca. Membuat Shara semakin bingung di buatnya.


"Loh, kenapa menangis?" Tanya Shara dengan lembut.


Seseorang itu berhambur dengan cepat memeluk Shara, ia begitu terkejut atas sikap orang tersebut.


"Hey, kau kenapa? Bicaralah," pinta Shara sekali lagi.


Shara berinisiatif untuk mengajak seseorang itu ke dalam kamarnya, mungkin disana bisa lebih leluasa untuk seseorang itu berbicara.


Di dalam kamar, Shara kembali menanyakan pada orang tersebut.


Dengan sabar, Shara perlahan memberi waktu pada orang itu untuk berbicara.


"Begini, Shara..." Seseorang itu mulai membuka pembicaraan.


Dengan tutur kata yang jelas, seseorang itu menceritakan semua permasalahannya pada Shara. Sepanjang cerita, Shara begitu terkejut di buatnya. Setiap apa yang di ucapkan oleh seseorang itu, tak sedikit membuat Shara amat begitu marah.


"Keterlaluan," ucap Shara dengan marah.


Satu jam lamanya seseorang itu berbicara dengan Shara, tak lama suara bel terdengar.


Sayup-sayup Shara mendengar suara seseorang di luar sana yang mungkin tengah bertamu ke rumahnya.


"Assalamuallaikum, selamat pagi, Mer, Fad," sapa Pak Raffi, ayah Adam.


"Wa'allaikumussalam, Raf." Keduanya saling berpelukkan.


"Ada apa pagi-pagi sekali mengunjungi kami?" Tanya Abi Fadlan sembari melirik Adam yang berdiri di belakang ayahnya.

__ADS_1


"Abi, izinkan mereka masuk dulu," ucap Umi Merry.


"Oh iya, maaf. Mari masuklah," ajak Abi Fadlan.


Mereka semua kini berkumpul di ruang tamu, di selingin candaan ringan.


"Begini, Fad. Kedatangan kami kemari itu untuk melamar Shara," ucap Pak Raffi langsung pada intinya.


Orang tua Shara terdiam ketika mendengar penuturan dari ayah Adam, sejenak mereka saling bertukar pandang.


"Emm kenapa mendadak, Raf? Maksud kami, kalau memberitahu terlebih dulu mungkin kami bisa menyiapkan jamuan," ujar Abi Fadlan.


"Iya, maafkan kami karena datang dengan tiba-tiba. Kami merencanakan semua ini juga dengan mendadak," jawab Pak Raffi.


Abi Fadlan mengangguk, ia melirik kilas istrinya. Umi Merry seakan mengerti dengan tatapan suaminya itu.


"Emm saya panggilkan dulu Shara-nya, sekalian saya buatkan minuman terlebih dulu," pamit Umi Merry beranjak dari tempatnya.


Umi Merry mengetuk pintu kamar Shara, dari dalam Shara membuka pintu itu dengan perlahan.


"Kenapa Umi?" Tanya Shara sembari mengeluarkan kepalanya sebagian.


Umi Merry mengernyit, tidak biasanya Shara berprilaku seperti itu.


"Turunlah, ada Adam juga orang tuanya." Umi Merry menepis pikirannya tentang Shara.


Shara terkejut, namun ia tak menampakkannya.


"Ba-baik, Umi. Ara menyusul sebentar lagi," ucap Shara terbata-bata.


"Ya sudah, jangan lama-lama!" Seru Umi.


Umi Merry meninggalkan kamar Shara, kini langkahnya menuju dapur untuk menyiapkan minuman.


Shara menoleh pada seseorang yang masih ada di kamarnya, meminta izin untuk mememui keluarga Adam.


Setelah mendapat persetujuan, ia segera keluar dari kamarnya.


Shara berjalan pelan menuruni anak tangga, setelah sampai ia segera mendudukkan tubuhnya di samping Abi-nya.


Tak lama Umi Merry datang dengan membawa minuman, beliau menaruh minuman itu di meja dan ikut duduk di samping Shara.


"Begini Nak Shara, kedatangan Om, Tante, juga Adam kemari itu untuk melamar Nak Shara," ujar Pak Raffi.


Shara membulatkan matanya, perasaanya begitu campur aduk. Dengan mudahnya Adam melamar wanita lain, di saat ada wanita yang tengah memperjuangkan haknya.


"Bagaimana, Nak Shara?" Tanya Pak Raffi.


Shara menarik nafasnya, dengan tegas ia mulai memberikan jawabannya.


"Maaf, saya tidak bisa menerima lamaran dari Adam," ucap Shara.


Adam terhentak, rahangnya mengeras.


"Kenapa kau menolakku?" Tanya Adam dengan emosi.


"Kenapa? Kau yakin tidak tahu mengapa aku menolakmu?" Tanya Shara dengan tegas.

__ADS_1


Adam mengerutkan keningnya, ia belum mengerti maksud Shara.


"Adam tenanglah," pinta Ibu Adam.


"Nak Shara, boleh Om tahu, apa alasan menolak lamaran Adam?" Tanya Pak Raffi.


"Ada seseorang yang harus Adam berikan haknya," jawab Shara ambigu.


Semua orang bingung di buatnya, terlebih lagi Adam.


"Seseorang siapa maksudmu?" Tanya Adam.


"Aku," ucap seseorang yang kini tengah berdiri di belakang Adam.


Semua mata kini tertuju pada sumber suara, Adam begitu terkejut melihat siapa yang kini tengah berdiri di hadapannya.


"Ka-kamu," ucap Adam terbata-bata. Wajahnya berubah memucat, Adam mengusap tengkuknya.


Keringat dingin mulai bercucuran, Adam tak dapat berkutik.


"Kenapa? Kau terkejut?" Tanya Lyra. Ia berjalan mendekati Adam, di ikuti oleh Shara yang ikut berdiri di sampingnya.


"Kenapa kau bisa disini?" Tanya Adam.


"Kau tidak bisa berbuat seenakmu, Dam. Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu!" Seru Lyra.


"Tunggu sebentar, ada apa ini? Siapa dia, Dam?" Tanya Ibu Adam.


Adam tak langsung menjawab, membuat Pak Raffi mengulang pertanyaan istrinya.


"Adam jawab! Siapa dia? Dan apa maksud perkataannya?" Tanya Oak Raffi.


"Aku hamil anak Adam, Om." Lyra menegaskan perkataanya.


"Apa?" Kedua orang tua Adam juga Shara terkejut mendengar perkataan Lyra.


"Adam, apa yang di katakan olehnya itu benar?" Tanya Pak Raffi dengan tangan terkepal menahan amarahnya.


Adam tak menjawab, ia benar-benar telah terpojokkan saat ini.


"Adam jawab!" Bentak Ibu Adam.


"A-aku tidak tahu, Mah, Pah. Bisa jadi itu bukan anak Adam, bisa jadi dia berbuat hal seperti itu dengan pria lain!" Bantah Adam.


"Keterlaluan! Aku tidak pernah melakukan hal itu dengan pria lain! Ini jelas-jelas anakmu! Aku hanya melakukannya denganmu!" Tukas Lyra dengan air mata yang tak tertahan lagi.


"Halah, bisa jadi kau berselingkuh di belakangku!" Adam masih berdalih.


Plak.


Semua terkejut ketika Pak Raffi melayangkan tamparan pada anaknya itu.


Adam meringis merasakan panas yang menjalar di pipinya, ia menatap ayahnya yang tengah menatapnya dengan penuh amarah.


"Bedebah! Anak kurang ajar!" Umpat Pak Raffi pada Adam.


"Kau tidak punya malu, sudah berbuat salah tapi kau tidak mau mengakuinya!" Bentak Pak Raffi.

__ADS_1


"Papah malu punya anak sepertimu!" Imbuhnya lagi.


Pak Raffi pergi meninggalkan Adam, di ikuti oleh istrinya. Nafas Adam memburu, harapan untuk bisa memiliki Shara kini pupus sudah.


__ADS_2