
"Mas berangkat dulu, kamu jangan banyak beraktifitas yang berat. Jangan bereskan apapun sendirian, tunggu Mas pulang."
Sakha mewanti-wanti Shara agar tidak melakukan pekerjaan rumah tangga, ia juga melarang istrinya untuk membereskan barang-barang yang akan dibawa saat pindahan nanti.
"Iya, Mas. insya Allah," jawab Shara.
"Ya sudah, Mas berangkat. Assalamuallaikum," ucap Sakha sambil mengecup lembut kening istrinya.
"Wa'allaikumussalam," jawab Shara.
Shara memandang motor Sakha yang kini berlalu meninggalkan halaman rumah, setelah tak terlihat ia kembali masuk kedalam rumah.
Kedua orang tua Shara tidak ada di rumah, ia merasa jenuh jika hanya berbaring saja. Shara memutuskan untuk membereskan barang-barang yang akan di bawa pindah nanti, ia melakukannya dengan sangat hati-hati.
"Hanya pekerjaan ringan, lagi pula aku bosan jika hanya diam saja." Shara bergumam. Tangannya dengan lincah memasukkan satu persatu barang yang bisa di masukkan kedalam wadah yang sudah di sediakan sebelumnya.
Sejenak Shara mengedarkan pandangannya, melihat kembali seisi kamar yang sudah ia tempati puluhan tahun lamanya.
Ia mengenang kembali saat pertama kali kedua orang tuanya membuatkan kamar untuknya, ia juga teringat teman-teman kecil yang dulu sering menginap di kamarnya.
"Waktu cepat sekali berlalu, aku tidak menyangka akan menikah secepat ini. Suamiku seseorang yang baik, dan aku pun ingin memperbaiki diri agar pantas berdamping dengannya. Terima kasih ya Allah, Engkau begitu baik melimpahkan kebahagiaan dalam keluarga kecilku."
Shara mengelus perutnya, ia merasa bersyukur dengan apa yang di milikinya saat ini.
***
Di tempat lain, Sakha kembali bergelut dengan pekerjaannya. Ia bekerja dengan fokus, ia juga merasa tidak enak pada Bima karena beberapa hari ini telah merepotkannya.
"Jangan bekerja terlalu keras, santai saja." Bima menepuk bahu sahabatnya.
Sakha melirik sekilas, dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Beberapa hari ini banyak client yang meminta hasil cepat, maaf sudah membuatmu repot."
Bima tersenyum tipis, "alhamdulillah, usaha kita semakin banyak peminat. Aku juga punya kabar bagus untukmu," ujar Bima.
"Kabar bagus apa?" tanya Sakha dengan penasaran.
"Ada Wedding Organizer yang mempercayakan kita untuk menjadi fotografer mereka," ucap Bima.
"Benarkah? Kenapa mereka memilih kita?" tanya Sakha.
__ADS_1
"Entahlah, yang pasti penghasilan kita akan bertambah nantinya."
"Aamiin," ucap Sakha.
Setidaknya ia merasa bersyukur, karena pekerjaannya masih mampu untuk menghidupi istrinya.
"Oh iya, kapan kau pindah?" tanya Bima.
"Nanti malam, kenapa?" tanya Sakha.
"Tidak, aku hanya ingin bantu-bantu sebisa ku saja." Bima menuturkan.
Sakha tersenyum, "terima kasih selalu membantuku."
"Tidak apa, setidaknya aku cukup berguna untuk menjadi seorang sahabat." Bima membanggakan diri.
Sakha tertawa kecil, dalam hatinya ia merasa bersyukur karena memiliki sahabat seperti Bima.
Bima tiba-tiba saja teringat pada Airin, entah kenapa ia merasa kasihan padanya.
"Kau kenapa?" tanya Sakha.
"Kha, apa kau sering terpikir Airin?" tanya Bima.
"Kau ini yang benar saja, mana mungkin aku memikirkan wanita lain, kecuali Shara." Sakha menjawab seadanya.
Bima menghela nafasnya pelan, ia teringat saat beberapa hari lalu tanpa sengaja melihat Airin.
"Dua hari lalu aku tidak sengaja melihat Airin, dia berbeda."
Sakha menghentikan aktifitasnya, ia tengah mencerna perkataan sahabatnya itu.
"Berbeda bagaimana maksudmu?" tanya Sakha.
"Ia merubah jenis jilbabnya, dan sekarang juga ia kembali mengenakan pakaian ukuran pas badan." Bima menjelaskan.
Sakha terdiam, ia juga melihat Airin tempo hari dengan pakaian yang serupa dengan apa yang Bima lihat.
"Itukan pilihan dia, Bim. Kalau niatnya tidak dari hati, ya begitu." Sakha dengan nada kecewanya.
Bima menatap sahabatnya itu, terlintas satu pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Sakha.
__ADS_1
"Apa tidakkah kau berpikir Airin berubah hanya untuk menarik perhatianmu?" tanya Bima.
Sakha kembali terdiam, rasanya ia enggan untuk memikirkan hal semacam itu.
"Kha, bolehkah aku berkata jujur?" tanya Bima dengan raut khawatir.
"Tentang apa?" tanya Sakha.
"Tentang Kau, Shara, dan Airin."
Sakha mengangguk, ia mengizinkan Bima untuk mengatakan apa yang selama ini mengganjal dalam hatinya.
"Sejujurnya, aku merasa kasihan pada Airin." Bima memulai perkataanya.
Sakha menatap mata sahabatnya itu, "tentang apa?" ucapnya.
Bima menarik nafasnya dalam, lalu melanjutkan kembali perkataannya.
"Jika aku berada di posisi Airin, mungkin aku akan menganggap bahwa aku telah di khianati. Dan wajar saja, jika aku membenci salah satu dari kalian. Bayangkan saja, tiga tahun bersama dan hilang tanpa kabar. Saat kau tahu kabarnya, hatinya tak lagi bersamamu. Ketika kau menunggu kesiapan seseorang, dan setelah ia siap, ia melabuhkan hatinya bukan padamu. Bagaimana perasaanmu?" tanya Bima.
Sakha tak langsung menjawab pertanyaan Bima, ia merenungi apa yang terjadi diantara mereka belakangan ini.
"Aku tidak bisa menjamin pada siapa hatiku akan berlabuh, aku juga tidak berniat untuk mengkhianati Airin. Takdir Allah yang mempertemukan aku dengan Shara, perempuan yang entah dengan cara apa seketika mampu membuatku ingin menjadi pendampingnya. Allah yang membolak-balikan hati manusia, dan salah satunya itu terjadi padaku.
Soal perubahan Airin, aku tidak tahu apa niat dalam hatinya. Beberapa waktu lalu Airin bertemu dengan Shara, bahkan dengan terang-terangan ia meminta istriku untuk berbagi suami dengannya. Tindakan yang sangat bodoh menurutku. Bim, segala sesuatu harus kita pilih dengan penuh keyakinan. Karena hal tersulit itu, bukan memilih. Melainkan bertahan pada pilihan. Kini, hidupku telah aku yakinkan untuk bertahan pada pilihanku."
Dada Sakha bergemuruh, ia merasa sesak ketika berucap perkataan yang membuat hati juga pikirannya kacau.
"Kau juga tahu bagaimana aku pada Airin dulu, kan?" imbuh Sakha.
Bima mengingat kembali, bagaimana hubungan Sakha dengan Airin dulu. Mereka pasangan yang begitu sederhana, jauh dari kaya mewah.
Sakha memperlakukan Airin dengan sangat baik, bahkan ia juga menjaga kehormatan Airin sebagai perempuan. Tidak mungkin jika dengan sengaja Sakha berkhianat pada Airin, semua memang telah Allah gariskan.
"Maaf, sudah membuatmu mengingat kembali masa lalu. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang ada dalam benakku," ujar Bima.
"Tak apa, aku juga tak ingin kau salah paham atau bahkan berprasangka buruk tentang hubunganku dengan Shara. Dia wanita baik-baik, bahkan aku pernah mendapat penolakan darinya." Sakha menjelaskan.
"Lalu bagaimana kalau Airin belum bisa menerima kenyataan? Bagaimana kalau Airin mempunyai niat untuk membuatmu kembali bersamanya?" tanya Bima, ia merasa cemas dengan perubahan Airin. Satu hal lagi yang tak Bima katakan pada Sakha, ia pernah memergoki Airin keluar rumah tanpa menutup auratnya.
"Aku pastikan itu tidak akan terjadi, jangan berburuk sangka dulu padanya. Selagi ia tak menyakiti Shara, aku akan berusaha untuk bersikap baik padanya." Sakha menuturkan dengan penuh tekanan.
__ADS_1
Bima mengangguk paham, benaknya kini tengah memikirkan Airin. Entah mengapa, ia selalu mencemaskan perempuan itu.