
"Aku kira diammu adalah pertanda semuanya baik-baik saja, aku kira hal besar ini tak pernah kau tutupi dariku. Aku tak menyangka, di belakangku kau berbuat hal seperti itu. Apa salahku? Kenapa harus seperti ini?"
Shara termenung, memandang kosong keluar jendela kamarnya.
Lamunannya seketika buyar, ketika benda pipih yang tergeletak di atas meja berdering dengan nyaring.
Shara mengangkat panggilan telepon ponselnya, sekilas ia menatap nanar nama yang tertera di layar ponsel.
"Assalamuallaikum, Mas." Shara menjawab dengan lesu.
"Wa'allaikumsalam, Dek kamu sudah pulang?" tanya Sakha.
"Iya," jawab Shara seadanya.
"Kenapa tidak mengabari Mas, pulang naik apa?" tanya Sakha masih tidak merasakan perbedaan nada bicara istrinya.
"Taksi online," Shara masih menjawab dengan singkat.
Sakha mulai merasakan ada hal yang aneh, namun ia tak berniat untuk berprasangka buruk.
"Ya sudah, kamu baik-baik di rumah. Jangan terlalu kecapean," pinta Sakha.
"Hemm."
Rasanya Shara enggan untuk berbicara lebih lama dengan suaminya, hatinya masih sangat sakit untuk mengingat apa yang terjadi sebenarnya.
"Ya sudah, assalamuallaikum."
"Wa'allaikumsalam."
Shara menutup sambungan telepon suaminya lebih dulu, setelah itu ia kembali menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Matanya terpejam, buliran bening menyembul membasahi pipinya.
Sakha menatap penuh tanya, entah apa yang tengah terjadi pada istrinya.
"Woy, kenapa melamun?" tanya Bima.
Sakha terkesiap, ia kembali mengembalikan kesadarannya.
"Kenapa aku merasa ada sesuatu yang beda dari Shara," ujar Sakha.
Bima mengernyitkan keningnya, ia tengah memahami maksud dari perkataan sahabatnya.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" tanya Bima.
"Nada bicaranya beda," ucap Sakha.
Bima menghela nafasnya, "begitu saja sudah berpikir yang tidak-tidak, mungkin bawaan bayi."
Sakha terdiam, ia berusaha menepis pikiran buruk tentang istrinya.
"Kau benar, mungkin memang itu bawaan bayi."
"Ya sudah, kembali bekerja!" seru Bima sembari menyemangati sahabatnya itu.
Sakha mengangguk, ia melanjutkan kembali pekerjaannya.
__ADS_1
***
Shara dengan perasaan gelisah, ia beberapa kali mondar mandir di dalam kamar. Sesekali ia mengelus perutnya yang semakin membuncit, rasa sedih seketika menyeruak di dalam dadanya.
"Ya Allah, aku harus apa?" tanyanya dalam hati.
Tiba-tiba saja, ia teringat pada kedua orangtuanya. Shara segera meraih ponsel, dan berniat untuk menghubungi Umi Merry.
"Assalamuallaikum, Ra?" sapa Umi di balik ponsel.
"Wa'allaikumsalam, Umi apa kabar?" tanya Shara menahan tangis.
"Alhamdulillah, sehat. Abi juga sehat, kamu apa kabar, Ra?" tanya Umi.
"Alhamdulillah, Umi. Ara kangen sama Umi dan Abi," ucap Shara dengan gemetar.
"Umi juga kangen, Ra. Kamu dan Sakha kapan datang mengunjungi Umi dan Abi?" tanya Umi.
"InsyaAllah kalau ada waktu libur Ara main ke rumah," sahut Shara.
Umi Merry mendengar dengan sayup suara isakan, ia mulai merasa khawatir pada putrinya.
"Ra, kamu baik-baik saja?" tanya Umi Merry.
Shara menutup mulutnya, berharap Umi Merry tak mendengar isakannya.
"Ara baik-baik saja, Umi."
"Kamu sedang tidak berbohong pada Umi?" tanya Umi.
"Iya Umi, Ara tutup dulu teleponnya. Assalamuallaikum," ucap Shara. Ia lalu menangis lagi, melepas segala yang mengganjal di hatinya. Ingin rasanya Shara bercerita pada orangtuanya, namun ia tak ingin membuat keduanya terbebani.
"Ya Allah, jaga selalu putri hamba." Umi berucap sembari mengelus dadanya yang entah mengapa terasa sesak.
***
Jam menunjukkan pukul lima sore, waktunya Sakha untuk pulang. Ia bergegas untuk kembali ke rumah, Sakha juga menolak ajakan Bima yang mengajaknya untuk minum kopi di sebuah resto.
"Aku duluan, Bim. Assalamuallaikum," ucap Sakha.
"Hati-hati, wa'allaikumsalam."
Bima memandangi motor Sakha yang mulai menjauh, ia juga seger masuk ke dalam mobilnya.
Di tengah perjalanan, Sakha memberhentikan laju motornya. Ia berniat untuk menghubungi istrinya, dan menawari kalau-kalau ada yang ingin Shara makan atau minum saat ini.
"Assalamuallaikum, Dek. Mas sedang di jalan arah pulang, ada titipan tidak? Biar Mas belikan," tanya Sakha.
"Tidak ada," jawab Shara acuh.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Mas jalan lagi," sahut Sakha lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Shara kenapa, yah? Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Sakha dalam hati. Ia kembali menjalankan motornya.
***
Sesampainya di depan rumah, Sakha bergegas masuk menemui istrinya.
__ADS_1
"Assalamuallaikum, Dek Mas sudah pulang." Sakha berjalan mengedarkan pandangannya mencari Shara.
Sakha membuka pintu kamarnya, terlihat Shara yang tengah terduduk sembari menatap kosong ke arah jendela.
"Dek," sapa Sakha pelan sembari menepuk bahu Shara.
Shara terkesiap, dan menoleh ke arah suaminya.
"Kamu melamun?" tanya Sakha.
Shara gelagapan, ia juga merasa tidak enak karena tak menyadari kedatangan suaminya.
"Maaf, Mas. Biar aku siapkan makanan dulu," ujar Shara sembari berlalu meninggalkan Sakha yang masih berdiri di tempatnya.
"Ada apa dengan Shara? Dia bahkan tidak menyambut atau mencium tanganku." Sakha di buat heran oleh sikap istrinya.
Sakha bergegas membersihkan diri, ia ingin segera menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Shara.
Shara tengah mempersiapkan makanan untuk suaminya, di tengah kegalauan hatinya ia tetap berusaha melakukan kewajibannya sebagai istri.
Saat ia tengah menata piring dan gelas di atas meja, tiba-tiba saja sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Shara menoleh ke belakang, ternyata Sakha yang kini tengah menenggelamkan wajahnya pada pundak Shara.
"Mau makan sekarang, Mas?" tanya Shara tanpa melihat ke arah suaminya.
Sakha memperhatikan raut wajah istrinya, memang benar ada yang lain disana.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Sakha tanpa menggubris pertanyaan Shara yang mengajaknya untuk segera makan.
Shara menunduk, ia menghela nafasnya dalam.
"Kenapa apanya?" tanya Shara seolah tidak terjadi apa-apa.
Sakha menyentuh dagu istrinya, ia mengarahkan wajah Shara untuk menatapnya.
Kini mata mereka bertemu, Sakha menatap dalam mata istrinya yang redup.
"Kamu kenapa? Kenapa Mas merasa, kamu sedang menghindari Mas?" tanya Sakha seolah mengintrogasi.
Shara membalas tatapan suaminya, teringat ucapan Airin yang di lontarkan padanya.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Mas." Shara mulai membuka pembicaraan.
Sakha mengangguk, "apa itu?" tanyanya.
"Apa hukumnya jika seorang suami berbohong dan menutupi suatu kebenaran di belakang istrinya?" tanya Shara tak kalah mengintrogasi.
Sakha terkejut, ia mulai mengira-ngira arah pertanyaan istrinya.
"Kenapa kamu bertanya hal itu?" tanya Sakha.
"Pertanyaan di balas dengan jawaban, bukan di balas dengan pertanyaan lagi." Shara menegaskan kalimatnya.
Sakha terdiam, ia mulai memahami arah pembicaraan istrinya.
"Dek, ada yang harus Mas jelaskan." Sakha berucap dengan hati-hati.
"Satu hal lagi, apa yang harus seorang istri yang tengah mengandung mendapati suaminya berkhianat? Dan apakah boleh seorang istri meminta cerai kepada suaminya yang sudah berkhianat?"
__ADS_1
Shara bertanya dengan mata berkaca-kaca, ia seakan tak mampu lagi membendung air matanya.
Sakha begitu terkejut mendengar pertanyaan istrinya, ia tengah menyiapkan diri untuk bisa menjelaskan segalanya kepada Shara. Karena bagaimanapun, ia bersalah telah menutupi kebenaran dari istrinya.