
Sesampainya di rumah, Shara langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya. Kedua orang tuanya memperhatikan sikap anak juga menantunya, namun mereka tak berniat ikut campur pada urusan rumah tangga mereka.
"Dek, tunggu." Sakha menghentikan langkah istrinya yang hendak masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Shara menoleh, ia juga menundukkan pandangannya.
"Kenapa, Mas?" tanyanya terdengar lesu.
Sakha berjalan mendekat pada istrinya, ia meraih kedua tangan Shara.
"Mas minta maaf, Mas tidak berniat untuk bersikap seperti tadi," ucap Sakha dengan perasaan bersalah.
"Apa salahnya jika kita mengantarkan dia pulang," sahut Shara masih menundukkan wajahnya.
"Tidak salah, Mas hanya tidak ingin kita terlalu berhubungan lebih jauh dengannya." Sakha berucap sembari menatap lekat wajah istrinya yang tertunduk.
"Tapi kenapa? Apa yang Mas takutkan?" tanya Shara, ia kini menatap balik wajah suaminya.
"Apa Mas takut jika perasaan diantara kalian tumbuh kembali?" imbuh Shara dengan gemetar.
"Astagfirulloh, bukan seperti itu. Mas minta maaf," Sakha memeluk istrinya.
Shara terdiam karena tak mendapat jawaban sesuai keinginannya, tetapi ia mencoba sebisa mungkin untuk tidak berprasangka buruk pada siapapun.
"Sudah Mas, aku mau mandi. Tubuhku rasanya lengket," ucap Shara sembari melepas pelukan suaminya.
Sakha memandang punggung istrinya yang berlalu menuju kamar mandi, ia menghela nafasnya pelan.
"Aku takut Airin memanfaatkan kebaikanmu, Ra." Sakha berucap dalam batinnya.
***
Malam hari selesai makan malam juga salat isya, Shara dan Sakha hendak kembali ke kamar mereka. Sebelum itu, Abi Fadlan meminta Sakha untuk menemaninya berbincang, Sakha pun dengan senang hati menemani mertuanya itu berbincang.
"Kha, bagaimana pekerjaanmu?" tanya Abi Fadlan.
"Alhamdulillah Bi, lancar." Sakha menjawab.
"Alhamdulillah kalau begitu, kapan mau memberikan cucu untuk Abi dan Umi?" goda Abi Fadlan pada menantunya itu.
Sakha terkekeh, ia sedikit menunduk ketika hendak menjawab pertanyaan mertuanya itu.
"In Syaa Allah secepatnya, Bi. Doakan kami selalu agar segera di beri amanah menjadi orang tua oleh Allah," ujar Sakha.
"Aamiin, Abi dan Umi selalu mendoakan kalian. Oh iya, tadi sore kalian habis pulang dari mana?" tanya Abi.
"Aku pulang dari studio langsung menjemput Shara, dia ada urusan dengan temannya," jawab Sakha seadanya.
Abi Fadlan menganggukkan kepalanya, sejenak beliau memberanikan diri untuk bertanya tentang kondisi rumah tangga anak dan menantunya itu.
__ADS_1
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Abi Fadlan.
Sakha mengerutkan keningnya, ia sedikit bingung dengan pertanyaan mertuanya itu.
"Kami baik-baik saja, Bi. Kenapa memangnya, Bi?" tanya Sakha.
"Syukurlah, maaf Abi lancang menanyakan hal ini padamu. Hanya tadi Abi dan Umi melihat raut Shara yang sepertinya tengah memikirkan sesuatu," ujar Abi.
Sakha terdiam, ikatan seorang anak dengan orang tua memang kuat. Wajar jika Abi Fadlan menyadari hal itu.
"Kami baik-baik saja, Bi. Hanya memang ada sedikit kesalahpahaman saja," jawab Sakha.
"Baiklah, selesaikan dengan kepala dingin. Jangan biarkan hal buruk menimpa rumah tangga kalian," ucap Abi Fadlan.
"In Syaa Allah, Bi. Aku akan berusaha untuk selalu menjaga keharmonisan rumah tanggaku," jawab Sakha.
Abi Fadlan menepuk bahu menantunya, ia sepenuhnya memberi kepercayaan pada Sakha atas segala yang menyangkut tentang putrinya.
"Ya sudah, kembalilah ke kamar." Abi menyudahi perbincangan mereka, dan Sakha kembali ke kamarnya, menemui Shara.
***
Sakha menyusul istrinya ke kamar, ia melihat Shara yang tengah membaca buku.
Sakha mendekati Shara, ia ikut mendudukkan tubuhnya disamping Shara.
"Sudah dulu bacanya," pinta Sakha.
"Ngobrol apa saja sama Abi?" tanya Shara.
"Bukan apa-apa," jawab Sakha seadanya.
Shara mengerutkan keningnya, ia merasa tidak yakin dengan jawaban yang diberikan oleh suaminya itu.
"Benarkah?" tanya Shara lagi.
Sakha mengangguk, "Abi cuma tanya, kenapa putri kesayangannya ini cemberut." Sakha mencubit pelan hidung istrinya.
Shara meringis pelan, ia menepis tangan Sakha dari wajahnya.
"Memangnya Abi tahu aku sedang kesal?" tanya Shara.
"Tentulah, Abi pasti tahu kalau kita sedang baik-baik saja atau kita sedang ada masalah. Makannya lain kali, jangan pernah menunjukkan kalau kita sedang merasa sedih atau sedang ada masalah. Apapun yang terjadi di dalam rumah tangga kita, sebisa mungkin tidak ada orang lain yang tahu sekalipun itu orang tua kita," ujar Sakha.
Shara terdiam mendengar pernyataan suaminya, ia juga merasa bersalah sudah berlebihan pada suaminya.
"Aku minta maaf, Mas. Aku janji tidak akan seperti itu lagi," ucap Shara dengan tulus.
Sakha tersenyum, ia meraih jemari tangan istrinya.
__ADS_1
"Ada kalanya sebuah permasalahan dalam rumah tangga coba diselesaikan bersama terlebih dahulu. Tak perlu diumbar atau dibocorkan ke orang lain, apalagi kalau kamu membocorkannya pada seseorang yang belum tentu bisa menjaga rahasia dengan baik, takutnya nanti keluargamu mendapat pandangan kurang baik dari lingkungan sekitarnya. Terutama orang tua, aku ingin mereka tidak merasa menyesal telah memberikanmu padaku. Mas akan berusaha untuk selalu membahagiakan kamu, Dek."
Shara mengangguk, ia berhambur memeluk suaminya. Ia merasa bersyukur memiliki suami yang penyabar seperti Sakha, Shara menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
"Dek, Mas boleh minta hak, Mas?" goda Sakha.
Ini memang bukan kali pertama, namun Sakha tetap meminta izin sebelum ia menginginkan sesuatu pada istrinya.
Shara tersipu malu, tetapi ia juga dengan senang hati memberikan hak yang memang seharusnya Sakha dapatkan. Suasana malam pun berubah hangat, dan mereka kini tengah menikmati indahnya kenikmatan dunia.
***
Seandainya segala macam keindahan di muka bumi ini berbentuk sebuah barang yang berharga nilainya, Akan kah setiap wanita selalu mempunyai perhiasan tersebut?
Sabda Rasulullah SAW :
Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah Wanita Sholehah. (HR.Muslim).
Sakha terkagum memperhatikan istrinya yang tengah bercermin, ia menatap penuh cinta pada istrinya.
"Mas, kenapa melihatku seperti itu?" tanya Shara sembari melirik Sakha dibalik cermin.
"Kamu cantik," ucap Sakha.
Shara menatap aneh pada suaminya, ia juga membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekati suaminya.
"Gombal kamu, Mas."
Sakha terkekeh, ia senang sekali ketika melihat istrinya tersipu malu.
"Mas libur hari ini, kajiannya biar bareng Mas."
Shara mengangguk, hari ini memang jadwal rutin kajian Shara.
"Ada Airin juga disana nanti," ucap Shara.
"Tidak apa-apa, Mas kan ingin ikut kajian. Bukan untuk bertemu dia," ujar Sakha.
Shara tersenyum tipis, dan ia mengajak suaminya untuk segera berangkat ke kajian.
Sesampainya ditempat kajian, Shara juga Sakha segera masuk kedalam mesjid. Tempat diadakannya kajian.
"Assalamuallaikum, Shara, Sakha," sapa Airin.
Shara dan Sakha berbalik menghadap sumber suara, tatapan keduanya kini tertuju pada seorang wanita yang tampak anggun menggunakan pakaian syar'i.
"Airin," ucap Shara dan Sakha bersamaan.
Sejenak Shara menatap kearah suaminya yang belum juga beralih menatap Airin, ada sedikit rasa sakit dirasakannya.
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa Mas Sakha terus saja menatap Airin." Shara bertanya-tanya dalam batinnya.