
Wahai para pemimpin rumah tangga, para suami dan para calon ayah.
Lihatlah, lihatlah wanita yang kini tengah terbaring tak berdaya. Tak terdengarkah oleh kalian ringisan yang keluar dari mulutnya, tak melihatkah kalian matanya yang terpejam menahan sakit beserta rasa perih. Tak tampakkah di mata kalian wajahnya yang memucat, peluhnya yang membasahi seluruh tubuh.
Keluh kesahnya saat ini bukanlah sebuah tanda tak bersyukur, tangisannya kini bukanlah sebuah penyesalan.
Lihatlah wanita yang kini tengah bertaruh nyawa, melupakan rasa malunya yang tak berbusana demi melahirkan sosok manusia baru ke dunia.
Lihatlah perjuangannya demi dapat melihat sosok malaikat kecil, yang telah dikandungnya selama sembilan sepuluh hari. Berapa kali lipat rasa sakit yang ia rasakan saat ini, dapatkah kalian para lelaki membayangkan rasa sakit itu?
Proses melahirkan adalah proses perjuangan hidup dan mati. Betapa tidak, sakit yang dirasakan seorang ibu melahirkan tak dapat tergambarkan oleh apapun.
Rahim ibu yang sedang mengandung akan mengembang 500 kali lipat dari ukuran normal untuk menampung kandungannya.
Darah yang hilang melalui proses kelahiran normal adalah 500ml.
Ini sama dengan setengah liter. Badan manusia hanya mampu menanggung rasa sakit hingga 45 Del, tetapi selama bersalin ibu akan mengalami hingga 57 Del, sama dengan rasa sakit akibat 20 tulang yang patah bersamaan.
Pandanglah wajah istrimu, dampingi dia. Bisikan doa-doa untuk menguatkannya, kecuplah ia dengan penuh kasih sayang.
Masih sanggupkah kalian menyakiti hati istri?
Teruntuk engkau para suami, jika tidak bisa memberinya kebahagiaan, setidaknya jangan pernah memberinya kepedihan.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Shara kini tengah berjuang, dengan nafas terengah-engah ia mengeluarkan seluruh tenaganya.
Sakha mendampingi istrinya dengan sabar, bisikan-bisikan doa ia lantunkan pada telinga Shara.
"Dek, kamu bisa. Ayo semangat," pinta Sakha sembari mengusap peluh yang bercucuran pada wajah istrinya.
Shara kembali mengejan, tangannya berpegangan kuat pada tangan suaminya.
Sesekali para petugas medis memberikannya intruksi untuk mengambil nafas, Shara mengikuti setiap arahan yang diberikan.
"Ayo, Bu. Pintar, sedikit lagi, Bu..."
Perintah seorang dokter yang membantu persalinan Shara.
Shara mengejan dengan mengucapkan bismillah, tenaganya kembali ia kerahkan.
"Bismillahirrohmanirrohim," ucapnya dengan suara tertahan.
Shara dan Sakha dapat bernafas lega, ketika lengkingan suara tangis seorang bayi begitu menggema menyeruak ke seluruh ruangan.
"Alhamdulillah, bayinya selamat." Dokter menggendong bayi berjenis kelamin laki-laki dan menyelimutinya dengan selembar kain tebal.
Shara masih mengatur nafasnya, mulutnya tak henti mengucap syukur.
__ADS_1
Sakha tak dapat berbicara apapun, air mata haru kini mengalir deras membasahi wajahnya.
"MasyaAllah, Dek. Selamat, kamu hebat. Kamu sangat hebat," ucap Sakha sembari mengecup kening istrinya.
Dokter berjalan mendekati Shara juga Sakha, beliau kini menaruh bayi di atas pangkuan Shara. Dengan tangan gemetar, Shara meraih bayi kecilnya. Di kecup lembut jari jemari kecil sang bayi, senyumnya merekah.
"Mas, anak kita."
Shara menatap haru pada suaminya, Sakha menganggukkan kepalanya ia begitu bahagia melihat sosok penyempurna keluarga kecilnya.
Dokter kembali mengambil bayi itu dari Shara untuk membersihkannya, mereka juga bersiap untuk memindahkan Shara ke ruang rawat.
"Dek, Mas keluar dulu. Mas ingin mengabari Umi, Abi juga Ibu dan Ayah."
Shara mengangguk, dan setelah itu Sakha pergi keluar untuk menghubungi keluarganya.
Saat hendak menghubungi orangtuanya, dari kejauhan Bima berjalan cepat menghampiri Sakha.
"Kha, gimana?" tanya Bima dengan penasaran.
Sakha menoleh, dan tersenyum pada Bima.
"Alhamdulillah anak dan istriku selamat, Bim."
Bima bahagia mendengar kabar baik itu, ia juga tak lupa berucap syukur akan kebahagiaan yang kini menyelimuti keluarga sahabatnya itu.
"Alhamdulillah, selamat Kha kau kini sudah menjadi seorang ayah." Bima menepuk pelan bahu Sakha.
***
Setelah menghubungi seluruh keluarga, Sakha kembali menemui istrinya yang sudah di pindahkan dari ruang bersalin.
Ia menatap penuh kasih anak juga istrinya, baru kali ini ia menyaksikan perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya.
Hatinya begitu sakit ketika mengingat hal yang pernah ia lakukan terhadap orangtuanya, terlebih hal yang membuat hati kedua orangtuanya sakit.
"Ini adalah tubuh yang menumbuhkan anak-anak kita, memberi makan anak-anak kita. Tubuh ini menghibur anak-anak kita, membuat hidup.Tubuhmu adalah yang aku cintai setiap hari, terima kasih. Terima kasih sudah melahirkan anak kita ke dunia ya, sayang."
"Terima kasih telah membuatku menjadi pria, suami, dan seorang ayah."
Sakha mengecup kening istrinya, air matanya juga menetes tanda ia sangat berterima kasih atas perjuangan sang istri.
"Sama-sama, Mas. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak kita," ucap Shara. Suaranya masih sedikit terdengar lemah.
Sembari menunggu keluarganya datang, dengan tekun Sakha menyuapi istrinya dengan makanan juga minuman yang mampu mempercepat pemulihan istrinya.
Tak lama, terdengar seseorang membuka pintu. Sakha dan Shara terlihat senang, ketika melihat kedua orangtua mereka datang.
Shara mendapat pelukan hangat dari kedua ibunya, sedangkan Sakha mendapat ucapan selamat juga pelukan dari kedua ayahnya.
__ADS_1
"Selamat sayang, kamu sudah menjadi seorang ibu sekarang."
Umi Shara memeluk putrinya dengan haru.
"Kamu hebat, Nak. Kamu hebat," ucap Ibu Sakha pada Shara.
"Siapa nama anak kalian?" tanya Abi Shara.
Sakha menoleh kearah istrinya, ia seakan meminta izin untuk memberi nama yang sudah disiapkan olehnya. Shara pun menganggukkan kepalanya, ia percaya suaminya telah menyiapkan nama terindah untuk anaknya.
"Namanya, Muhammad Bilal Pratama."
Semua orang menyukai nama pemberian Sakha itu, dan memberikan doa yang terbaik untuk cucu pertama dari kedua keluarga itu.
Di tengah kebahagiaan, mata mereka kini tertuju pada seseorang yang masuk ke dalam ruangan.
Shara dan Sakha menatap seorang itu penuh tanya, dengan bantuan kursi roda seorang itu mulai mendekat pada Shara. Ia tak lain adalah Airin yang di bantu oleh Bima untuk menemui Sakha dan Shara.
"Bima," ucap Sakha.
"Assalamuallaikum, Om, Tante." Bima menyapa kedua orang tua Sakha juga Shara.
"Maaf mengganggu, aku dan Airin ingin melihat kondisi Shara juga anaknya." Bima meminta izin.
Sakha tersenyum tipis, ia mempersilahkan Airin untuk mendekati bayi kecilnya.
"Tampan sekali, selamat Kha, Shara. Kalian sudah menjadi orangtua sekarang," ucap Airin.
"Terima kasih," jawab Shara.
Airin menghela nafasnya, ia terlihat sedang mempersiapkan diri untuk berbicara sesuatu pada Shara juga Sakha.
"Sebelumnya, aku ingin meminta maaf pada kalian. Maaf jika selama ini aku telah menjadi beban untuk kalian, aku sering mengganggu rumah tangga kalian. Aku sangat menyesal untuk hal itu," ucap Airin.
Sakha dan Shara saling bertukar pandang, mereka masih menunggu Airin yang hendak melanjutkan kalimatnya.
"Aku sudah memutuskan untuk berhenti berharap pada Sakha, dan aku juga tidak akan mengganggu kalian lagi."
Sakha terdiam, entah apa yang harus di lakukan olehnya. Berbagai pertanyaan hinggap di kepalanya, apa Airin benar-benar sudah berubah atau berpura-pura seperti sebelumnya.
"Tenang Kha, insyaAllah Airin kali ini benar-benar berubah. Dia juga sudah memutuskan untuk melanjutkan hidupnya," ucap Bima seakan mencoba untuk meyakinkan Sakha juga keluarganya.
Sakha menatap Bima penuh tanya, ia meminta penjelasan lebih pada sahabatnya itu.
Bima tersenyum, ia seakan tahu apa yang di pikirkan oleh Sakha.
"InsyaAllah, aku akan segera melamar Airin."
Sakha terkejut, begitupun dengan Shara. Bagaimana bisa Bima memutuskan hal besar itu dengan cepat.
__ADS_1
"Bim, apa itu benar? Tolong ceritakan semuanya dari awal," pinta Sakha.
Sakha masih meminta kejelasan akan semuanya pada Bima, sedangkan Bima hanya tersenyum menanggapi respon yang diberikan oleh sahabatnya.