PRANIKAH

PRANIKAH
Kejujuran Yang Menyakitkan


__ADS_3

Shara memperhatikan Airin yang sedari tadi menatap kosong kearahnya, ia beberapa kali juga mencoba membuyarkan lamunan Airin.


"Airin, kau melamun?" tanya Shara sembari menepuk pelan tangan Airin.


Airin terhentak, ia kembali memfokuskan dirinya pada Shara.


"Ah maaf, aku sedikit melamun."


"Emm, jadi apa rencanamu?" tanya Shara.


Sejenak Airin berpikir, matanya menelisik memperhatikan pakaian yang di kenakan oleh Shara.


"Apa itu hijrah?" tanya Airin dengan serius.


Shara menghela nafasnya, ia mencoba menjelaskan dengan ringan tetapi jelas agar dapat di pahami oleh Airin.


"Berhijrah bisa bermakna bertekad untuk mengubah diri demi meraih rahmat dan keridhaan Allah SWT. Selain itu, hijrah juga diartikan sebagai salah satu prinsip hidup. Seseorang dapat dikatakan hijrah jika telah memenuhi dua syarat, yaitu ada sesuatu yang ditinggalkan dan ada sesuatu yang ditujunya (tujuan).


Kedua-duanya harus dipenuhi oleh seorang yang berhijrah.


Misalnya dengan meninggalkan segala hal yang buruk, seperti pikiran negatif dan maksiat, dan menuju keadaan yang lebih baik, positif, untuk menegakkan ajaran Islam," tutur Shara.


"Sampai disini apa ada yang tidak dimengerti?" imbuh Shara.


"Apa semua wanita harus menutup auratnya?" tanya Airin.


Untuk hal ini Shara sedikit memilah memilih penggunaan kata yang tepat, agar tidak menyinggung atau bisa menimbulkan kesalahpahaman pada seorang muslimah yang telah berjilbab dan yang belum menggunakannya.


"Islam merupakan agama yang sangat memuliakan dan menghargai wanita. Bukti Islam sangat menjaga wanita adalah turunnya perintah agar Muslimah menutup auratnya. Diantara tujuan utama wanita menutup auratnya adalah agar mereka mudah dikenali dan terhindar dari hal-hal yang tidak baik atau mencelakai dirinya sendiri.


Hal ini sebagaimana telah Allah jelaskan di dalam Alquran Surah Al-Ahzab ayat 59.


"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."


"Aurat disini adalah bagian tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh terlihat dari pandangan-pandangan yang tidak boleh melihatnya dan bagian yang harus ditutupi ketika shalat," tambah Shara.


Airin mendengarkan setiap penjelasan Shara, ia menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Shara.


"Aku ingin berjilbab sepertimu," ucap Airin.


Shara tersenyum tulus, ia tak menyangka Airin akan memutuskan hal itu secepat ini.


"Lakukanlah jika hatimu memang menginginkannya, dan lakukan ini dengan niat karena Allah bukan karena hal lain." Shara memberi saran.


"Kalau kamu mau, aku bisa mengajakmu pergi ke kajian." Shara menawarkan.


"Aku mau," dengan cepat Airin menjawab tawaran Shara.

__ADS_1


"Alhamdulillah, semoga Allah melancarkan niat baikmu," ucap Shara.


"Aamiin," sahut Airin.


Shara juga Airin kembali melanjutkan perbincangan mereka, di sela-sela itu Airin sesekali juga memberanikan diri untuk menanyakan kabar tentang Sakha.


"Bagaimana kabar Sakha?" tanya Airin.


Shara sejenak terdiam, namun ia mencoba bersikap setenang mungkin.


"Alhamdulillah Mas Sakha baik," jawab Shara.


Airin mengangguk, "kau memang pantas untuk Sakha," ucap Airin sembari tertunduk.


Shara menatap Airin, pikirannya kini mulai banyak pertanyaan tentang perasaan Airin pada suaminya.


"Aku minta maaf, aku tidak berniat merebut Sakha darimu. Sungguh, ini diluar dugaan kami," ujar Shara.


"Tidak usah meminta maaf, lagipula orang tua Sakha tidak menyukaiku. Kamu wanita yang baik, dan Sakha juga lelaki yang baik. Kalian sangat cocok," tutur Airin.


"Apa kamu masih mencintai Mas Sakha?" tanya Shara dengan hati-hati.


"Kalau iya, bagaimana?" tanya Airin pada Shara.


Shara terdiam, entah mengapa hatinya begitu sakit mendengar kejujuran Airin. Tetapi ia mencoba memahami, perpisahan itu membuat Airin sangat tersakiti.


"Awalnya seperti itu, aku akan tetap mencintai Sakha walaupun dia sudah beristri. Tapi, itu hanya akan membuang-buang waktuku saja." Airin menuturkan.


Airin menatap Shara yang tengah terdiam mendengar perkataannya.


"Aku minta maaf jika kejujuranku membuatmu tersinggung, tetapi aku menganggap pertemuan kita adalah awal pertemanan kita. Dan aku tidak ingin mengawali hubungan ini dengan kebohongan," imbuh Airin.


Shara tersenyum tipis, ia berusaha menahan hatinya yang terasa perih.


"Iya, aku mengerti."


"Tenang saja, aku tidak akan merebut kembali Sakha darimu," ujar Airin.


Shara terhentak mendengar perkataan Airin, entah apa yang membuat Airin berbicara seperti itu padanya.


"Oh iya, kapan kau akan mengajakku ke kajian?" tanya Airin.


"Nanti aku kabari jadwalnya," jawab Shara.


Shara merogoh ponselnya yang berdering, ia tersenyum menerima panggilan telepon dari suaminya.


"Assalamuallaikum, Mas."

__ADS_1


"Wa'allaikumussalam, sudah selesai? Mas jemput sekarang, yah?" tanya Sakha.


"Iya boleh, sepertinya sudah selesai juga," jawab Shara.


"Baiklah, Mas berangkat sekarang. Assalamuallaikum," ucap Sakha.


"Wa'allaikumussalam, hati-hati." Shara mematikan panggilan teleponnya.


"Sakha menjemputmu?" tanya Airin.


"Eh, iya. Dia sedang menuju kemari," jawab Shara.


"Emm, baiklah. Aku akan menemanimu sampai Sakha datang," ucap Airin.


Shara mengangguk sembari tersenyum tipis, "terima kasih."


***


Sekitar setengah jam sudah Shara menunggu suaminya, dan dari kejauhan tampak seorang lelaki yang tengah berjalan menghampirinya yang tak lain lelaki itu adalah Sakha.


Sakha tersenyum sembari berjalan mendekati istrinya, senyuman itu dibalas Shara juga Airin. Sakha menatap keduanya, Shara memperhatikan tatapan Airin yang tersenyum pada Sakha.


"Maaf Mas lama, yah?" tanya Sakha pada Shara.


"Tidak apa-apa," jawab Shara.


"Kita pulang sekarang?" tanya Sakha.


"Iya, Mas." Shara melirik kearah Airin.


"Airin, mau pulang bareng kita?" tanya Shara.


Sakha terdiam mendengar tawaran yang diberikan istrinya pada mantan pacarnya, sebenarnya ia merasa canggung dengan situasi ini.


"Aku pulang sendiri saja, aku tidak ingin merepotkan Sakha," ucap Airin.


"Ya sudah, kita pulang Dek," ucap Sakha.


Airin sedikit kecewa dengan sikap Sakha, sepertinya memang Sakha tidak ingin jika dirinya menumpang padanya.


"Tapi Airin, ini sudah sore. Mas, kita antar saja Airin pulang," pinta Shara.


"Dek, Airin kan bilang dia ingin pulang sendiri. Jadi biarkan saja, barangkali Airin punya urusan lain juga. Sudah kita pulang sekarang. Kami duluan, Rin. Assalamuallaikum," ucap Sakha dengan nada tidak ramah, ia juga sedikit mengeratkan genggamannya pada Shara. Airin menatap kepergian Shara juga Sakha, lagi-lagi sikap Sakha semakin memperlihatkan bahwa ia tak ingin Shara terlalu dekat dengannya.


Sakha membukakan pintu mobil untuk istrinya, Shara hanya patuh akan perintah suaminya. Ia juga sedikit merasakan takut, ketika Sakha bersikap sedikit keras seperti tadi.


Sakha masuk ke dalam mobil, ia menyalakan mesin mobil dan segera melajukannya.

__ADS_1


Selama di perjalanan pulang, tak ada sepatah katapun terucap diantara mereka. Sakha menyadari sikapnya yang membuat Shara takut, ia juga merasa bersalah karena sudah menarik kasar tangan istrinya.


__ADS_2