
Sakha melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya itu.
"Ya Allah, Dek. Semoga kamu baik-baik saja," ucap Sakha sambil terus melajukan mobilnya dengan cepat.
Di tempat lain, Shara dengan susah payah melangkahkan kakinya menuju ruangan dokter. Ia berusaha sekuat tenaganya untuk mengetahui penyebab perbedaan pada tubuhnya, sampailah ia di depan pintu ruangan periksa.
Shara mengetuk pintu, setelah mendapati sahutan dari dalam ruangan ia segera menekan pegangan pintu dan masuk kedalamnya.
"Silahkan duduk, Mbak." Seorang dokter menunjukkan tempat yang bisa di duduki oleh Shara.
Shara tersenyum tipis, lalu ia mendudukkan tubuhnya di kursi yang di sediakan.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya dokter itu.
"Begini, Dok. Beberapa hari ini rasanya kepala saya pusing, saya juga mual beberapa kali juga saya muntah." Shara memaparkan keluhannya.
Dokter memeriksa tekanan darah Shara terlebih dulu, dan hasilnya normal. Selanjutnya dokter juga memerintahkan Shara untuk menimbang berat badannya.
"Sebelum ini berat badan Mbak berapa?" tanya dokter pada Shara.
"47 kilogram, Dok." Shara menjawab seadanya.
"Berat badan Mbak sekarang 47,9 yah." Dokter menyatakan. Shara sejenak terdiam, ia juga menerima kenaikkan berat badannya.
Setelah itu dokter beranjak dari tempatnya, lalu ia berjalan menuju sisi ruangan.
"Silahkan berbaring dulu, Mbak. Saya akan coba periksa, yah."
Shara mengangguk patuh, dan ia berjalan menuju ranjang yang tersedia dalam ruangan itu lalu berbaring diatasnya.
Beruntungnya dokter yang memeriksa Shara adalah seorang perempuan, jadi Shara dapat dengan tenang memeriksakan dirinya.
Dengan telaten, satu persatu dokter memeriksa bagian tubuh Shara terutama perutnya. Dokter tersenyum tipis, membuat Shara mengernyitkan keningnya.
"Mbak, sekarang kita tespek." Dokter beralih menuju satu rak yang berisi salah satunya alat tes kehamilan.
Shara mengernyitkan keningnya, tetapi tanpa penolakan iapun tetap mengikuti arahan yang diberikan oleh dokter.
Shara masuk ke dalam kamar mandi, untuk menampung urinnya. Selang beberapa menit, ia keluar dengan membawa wadah kecil yang tak lain berisi urin miliknya.
Diberikannya cairan tersebut kepada dokter, dan benar saja alat tes kehamilan mulai dicelupkan kedalamnya.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, hasil sudah dokter dapatkan. Jujur, dalam hati Shara ia merasa sangat gugup.
__ADS_1
Melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh sang dokter, Shara semakin dibuat gugup.
Dokter berjalan mendekati Shara yang tengah duduk di kursi, dengan raut yang tampak bahagia dokter itu menunjukkan hasil dari alat tes kehamilan itu.
"Garis dua," ucap Shara pelan. Ada rasa bahagia campur sedih, bagaimana tidak ketika ia mengetahui kehamilannya tanpa didampingi sang suami.
"Selamat, sebentar lagi Mbak akan jadi seorang ibu." Dokter mengucapkan dengan nada bahagia.
"Alhamdulillah," ucap Shara dengan mata berkaca-kaca.
"Sehat-sehat yah di rahim, Mamah." Shara mengelus perutnya, berharap sang jabang bayi dapat merasakan sentuhannya.
"Saya akan resepkan vitamin untuk menunjang perkembangan janin, di minum secara teratur. Jaga kesehatan yah, Mbak." Dokter menyodorkan selembar kertas berisi nama vitamin yang harus dikonsumsi oleh Shara.
"In syaa Allah, terima kasih dok." Shara meraih kertas itu dan pamit meninggalkan ruangan tersebut.
Sebelum kembali pulang, Shara menuju tempat penebusan obat terlebih dulu. Setelah segala urusannya selesai, Shara bergegas untuk kembali kerumahnya.
Shara berjalan menyusuri koridor rumah sakit, pikirannya kembali pada kejadian sewaktu di mall tadi.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Shara dalam hatinya.
Langkahnya tiba-tiba saja terhenti, ketika pandangannya kini tertuju pada seorang wanita yang tengah duduk di kursi roda.
"Airin," ucap Shara pelan.
Shara berjalan mendekati Airin, seperti biasa ia menampakkan raut wajah tenangnya.
"Assalamuallaikum," ucap Shara.
"Wa'allaikumussalam, kamu sedang apa disini?" tanya Airin.
"Hanya periksa biasa, kamu sendiri kenapa? Sakit apa?" tanya Shara dengan ramah.
"Jika aku sakit parah, apa kamu mau mengabulkan keinginan terakhirku?" tanya Airin.
Shara mengernyit heran, ia tak mengerti apa yang dimaksud Airin.
"Maksudmu?" tanya Shara.
"Jujur, aku masih mencintai suamimu." Airin berbicara dengan menatap dalam mata Shara.
"Apa kamu rela, jika berbagi Sakha denganku?" Imbuh Airin.
__ADS_1
"Jika kamu yang berada di posisiku, jawaban apa yang akan kamu beri?" Shara balik bertanya pada Airin.
"Jika memang suamiku mencintai perempuan itu, aku akan lakukan apapun agar dia bahagia," jawab Airin tanpa menoleh kearah Shara.
Baru kali ini Shara tersenyum sinis, ia tak menyangka jika Airin dapat berbicara seperti itu.
"Jangan memaksakan orang lain untuk menuruti keinginanmu, dan jangan berpura-pura ikhlas jika sebenarnya hatimu menolak," sahut Shara.
"Jangan rendahkan harga dirimu, hanya demi nafsu sesaat!" Shara berucap sembari berlalu meninggalkan Airin yang masih mematung ditempatnya.
"Satu hal lagi, jadilah wanita yang tahu diri! Berupayalah menjadi wanita terhormat tanpa mengambil hak milik orang lain, jangan jadi wanita murahan! seru Shara sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Airin.
Airin mengepalkan tangannya, kata-kata Shara begitu menusuk kedalam hatinya. Entah kenapa, kini ia semakin tak bisa benar-benar merelakan Sakha untuk Shara.
"Kamu yang harusnya tahu diri, kau hadir dan dengan mudahnya mengambil seluruh perhatian Sakha!" umpat Airin dalam batinnya.
***
Shara menaiki taksi untuk kembali kerumahnya, sesampainya dirumah ia bergegas masuk dan berjalan menuju kamarnya.
Sapaan dari kedua orang tuanya tak dihiraukannya, ia berjalan dengan perasaan yang tak dapat digambarkan.
Kedua orang tuanya saling bertukar pandang, sebelumnya ia juga melihat Sakha yang menerobos masuk kedalam rumah tanpa menyapa mereka.
"Bi, ada apa dengan mereka?" tanya Umi Merry pada suaminya.
"Entahlah, Abi juga tidak tahu. Sudah jangan ikut campur urusan rumah tangga mereka," ujar Abi Fadlan.
Shara masuk ke dalam kamar, tampak Sakha yang berdiri di samping tempat tidur.
"Dek," ucap Sakha sembari berhambur memeluk istrinya.
"Kamu kemana tadi? Mas panik cari kamu kemana-mana, kenapa kamu tidak bisa di hubungi?" tanya Sakha tanpa jeda.
"Ponselku mati, aku mau ke kamar mandi." Shara melepas pelukan suaminya, dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Sakha hanya terdiam, ia tal mengerti mengapa Shara berubah sikap padanya.
"Dek, kamu baik-baik saja? Ada apa? Mas khawatir padamu," ucap Sakha sambil terus mengetuk pintu kamar mandi.
Shara terduduk lesu dibalik pintu, tanpa sadar air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan.
Sakha dapat mendengar isakan yang berasal dari dalam kamar mandi, ia tambah dibuat panik akan hal itu.
__ADS_1
"Dek, kamu kenapa menangis? Dek, tolong jawab."
Sakha tak mendapat jawaban apapun, tubuhnya seketika melemas. Sakha ikut terduduk lesu, ia menyandarkan punggungnya pada pintu kamar mandi yang menghalangi jarak antara dirinya dengan Shara.