
Selesai mendirikan salat isya, Shara melipat kembali peralatan salatnya. Ia meraih sebuah buku, Shara berjalan mendekati tempat tidurnya hendak membaca buku yang di ambilnya tadi disana.
Shara mendudukkan tubuhnya, ia membaca buku sembari menyandarkan punggungnya. Lembar demi lembar telah ia baca, tanpa disadarinya Sakha telah kembali dari mesjid. Betapa terkejutnya Shara ketika suaminya telah berdiri di ambang pintu, Shara segera beranjak dari tempatnya dan berjalan mendekati suaminya.
Dengan gugup Shara meraih tangan kanan suaminya, dan ia segera mencium punggung tangan Sakha.
"Assalamuallaikum, dek." Sakha membelai lembut pucuk kepala istrinya yang tengah tertunduk karena mencium punggung tangannya.
"Wa'allaikumussalam, maaf tadi Ara terlalu fokus membaca bukunya." Shara tertunduk didepan suaminya.
Sakha hanya tersenyum, ia benar-benar mendapati sikap Shara yang baru saja diketahuinya.
"Tidak apa-apa. Tapi Adek sudah salat?" tanya Sakha dengan lembut.
"Sudah, Mas." Shara berusaha menghilangkan suasana canggung yang ia rasa.
"Mas, mau dibuatkan teh atau kopi?" tanya Shara.
"Tidak usah, kita istirahat saja." Sakha meraih tangan istrinya, dan membawanya menuju tempat tidur.
Shara mengikuti langkah suaminya, ia ikut duduk disamping suaminya.
"Alhamdulillah, akhirnya Mas benar-benar bisa memilikimu. Terima kasih sudah mau menjadi istri Mas," ucap Sakha sembari menggenggam erat jemari istrinya.
"Tidak perlu berterima kasih, semua sudah Allah atur." Shara berbalik menatap suaminya.
Sakha memeluk tubuh istrinya, sontak membuat Shara terkejut dan membulatkan matanya. Baru kali ini ada seorang pria selain Ayahnya yang memeluknya, perasaanya begitu tak karuan.
Terlebih ketika Sakha mencium bibirnya, Shara benar-benar terkejut.
Sakha merasakan kecanggungan itu, ia menatap istrinya dengan senyuman.
"Dek, apa kamu siap memberikan seluruh hidupmu untuk Mas? Apa Mas boleh meminta hak Mas padamu sekarang?" tanya Sakha.
Shara terdiam, ia tak tahu harus memberi jawaban seperti apa. Sakha mencoba memahami sikap istrinya, ia juga paham perasaan Shara saat ini.
"Kalau kamu belum siap, tidak apa. Mas akan sabar menunggu," ucap Sakha sembari membelai pipi istrinya.
__ADS_1
"Kita istirahat saja," ajak Sakha, ia mulai merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Shara mengikuti suaminya, tetapi ia masih terduduk disamping suaminya.
Shara merasa tidak enak hati pada suaminya, saat ini Sakha telah menjadi suaminya dan ia juga harus menuruti kemauan suaminya.
"Mas," panggil Shara pelan.
"Iya, kenapa dek?" tanya Sakha sembari membuka matanya yang telah terpejam.
"Emm, jika Mas ingin meminta hak Mas sekarang, aku siap." Shara berkata dengan sangat hati-hati.
Sakha memandang raut wajah istrinya, ia tersenyum mendengar pernyataan Shara.
"Tidak apa, jangan memaksakan. Sudah, kamu istirahat saja." Sakha bangkit dari tidurnya, ia meraih lengan istrinya dan menidurkannya.
"Selamat tidur," ucap Sakha sembari mencium kening istrinya. Sakha ikut membaringkan kembali tubuhnya menghadap Shara, ia juga melingkarkan tangannya pada tubuh istrinya.
Shara ikut memejamkan matanya, ia mulai merasakan kenyamanan saat berada didekat suaminya. Shara benar-benar bersyukur, memiliki suami yang amat begitu pengertian.
Membina rumah tangga yang harmonis merupakan kewajiban bagi suami dan istri. Keduanya saling menjaga, saling mencintai, saling menyayangi, saling pengertian, dan peduli satu sama lain. Serta saling percaya bagi setiap pasangan adalah kunci bahagia membina keluarga dalam rumah tangga.
***
"Dek, bangun. Kita salat malam, yuk." Sakha masih menepuk pipi istrinya.
Shara menggeliat, sungguh pemandangan yang tak pernah Sakha sangka akan ia lihat dari Shara. Ia tersenyum, ia memperhatikan istrinya yang tengah mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Dek, bangun." Sakha kembali berucap.
"Iya, Mas." Shara bangkit dari tidurnya.
"Mas ambil wudhu duluan, nanti kamu menyusul," ujar Sakha dan di angguki oleh Shara.
Selesai Sakha mengambil air wudhu, kini giliran Shara yang masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu.
Sakha menggelarkan sejadah miliknya, ia juga tak lupa menyiapkan peralatan salat milik istrinya.
Shara keluar kamar mandi, ia terdiam ketika melihat suaminya menggelarkan sejadah untuknya.
__ADS_1
"Sudah wudhu nya?" tanya Sakha.
"Sudah, Mas." Shara mendekati Sakha.
"Yasudah, segera pakai mukenanya, kita salat berjamaah sekarang." Sakha memerintah dengan nada lembut.
Shara mengangguk patuh, ia segera memakai mukena. Sakha pun mulai melaksanakan salat dan untuk pertama kalinya menjadi imam salat untuk istrinya.
Selesai salat, Sakha memanjatkan do'a.
"Ya Allah. Disepertiga malam ini, izinkan hamba memanjatkan doa. Terkadang aku malu pada-Mu, begitu banyak keinginan dalam hidupku, namun begitu sedikit waktu yang aku luangkan untuk meminta pada-Mu. Terima kasih Ya Allah, Sang Pencipta yang Maha Agung atas anugrah yang berharga ini. Engkau berikan hamba seorang istri yang terbaik untukku, Engkau adalah pemberi semua yang baik dan sempurna. Begitu indah cara-Mu dalam menunjukkan cinta-Mu melalui dia, tuntun aku untuk menghargai pemberian yang luar biasa ini Ya Allah.
Tolong jauhkan istriku dari hal-hal yang sulit dihadapinya, biarkan ia selalu mendapat kemudahan. Beri istri hamba kegembiraan agar ia bisa dengan mudah memanjatkan doa dan rasa syukur kepada-Mu sebagai penjaga iman dihati kami.ย Jagalah rumah tangga kami, dan karuniakanlah kepada kami keturunan yang shaleh dan shalehah. Aamiin."
Shara meng-Aamiinkan setiap doa yang dipanjatkan oleh suaminya, betapa hatinya tersentuh ketika mendengar semua doa yang Sakha panjatkan adalah teruntuk dirinya. Ia juga semakin merasa bersalah, karena belum bisa memberikan hak Sakha atas dirinya. Tak terasa air matanya menetes, dan isakan kecil terdengar jelas ditelinga Sakha. Sontak Sakha berbalik, ia mendapati sang istri yang tengah menutupi wajahnya menahan tangis.
"Dek, kamu kenapa menangis?" tanya Sakha.
Shara mengangkat wajahnya, dengan tanpa ragu ia berhambur memeluk suaminya.
"Maafkan aku, Mas. Seharusnya Mas sudah mendapatkan hakmu atas aku, tetapi aku malah membiarkanmu menunggu kesiapanku. Maafkan aku," ucap Shara masih sambil terisak.
Sakha membalas pelukan istrinya, ia mencoba menenangkan Shara.
"Sayang, tidak perlu meminta maaf. Kamu tidak bersalah, sudah jangan menangis." Sakha mengelus punggung istrinya.
"Tetapi tetap saja, seharusnya aku tidak seperti itu." Shara masih terisak.
"Mas mengerti, masih ada hari lain untuk hal itu. Sudah jangan dipikirkan, Mas memaafkanmu." Sakha menangkup wajah istrinya.
"Benarkah Mas memaafkan aku?" tanya Shara.
Sakha hanya mengangguk, ia kembali memeluk erat istrinya. Subuh pertama, di hiasi isakan pilu dari istrinya.
"Mas mencintaimu karena Allah," ucap Sakha tulus.
"Aku juga mencintaimu, Mas. Karena Allah," jawab Shara.
__ADS_1
ย ๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
"Doa yang dipanjatkan saat tahajud adalah ibarat anak panah yang melesat tepat pada sasaran." __ Imam Syafi'i