
*Terima kasih sudah pernah mau menemaniku selama tiga tahun ini, meski semua itu tidak mampu membuatmu bertahan bersamaku. Nyatanya apa yang ku perjuangkan selama ini, hanya membuatmu pergi perlahan-lahan. Apa yang kau ucapkan dan janjikan dulu, bukan untuk kau buktikan maupun kau upayakan, semua itu hanya sekedar angan. Akan aku usahakan untuk selalu baik-baik saja, bahkan berusaha untuk kembali bahagia setelah kepergianmu.
Awalnya kau sempat membuatku merasa menjadi satu-satunya di hatimu, namun ternyata tidak sama sekali. Setidaknya kini aku tahu, bahwa apa yang dulu pernah kau janjikan sedikit membuatku sadar; apa yang kau bicarakan dan apa yang kau janjikan tidak bisa menjadi bukti atas kesungguhanmu.
Untukmu; jika kau ingin pergi, silahkan pergi tanpa ada kata penyesalan setelah perpisahan ini. Aku sudah memutuskan, untuk tidak lagi mengharapkanmu. Aku memilih untuk lebih mencintai diriku sendiri saat ini, agar aku lebih mengerti siapa yang benar-benar menaruh hati, dan siapa yang hanya ingin singgah lalu pergi lagi.
Selamat tinggal untuk kau yang selalu ada dalam doaku setiap malam, aku akan melepasmu dengan lapang dada. Aku telah merelakanmu seutuhnya, meski aku paham tidak akan secepat itu untuk berdamai dengan luka. Aku akan kembali baik-baik saja, dan tanpamu aku akan lebih bahagia*.
Airin menutup buku hariannya, ia mengusap air mata yang kini telah membasahi wajahnya. Ia telah memutuskan untuk mencoba terbiasa tanpa kehadiran Sakha.
Satu persatu semua foto dirinya dengan Sakha, Airin masukan ke dalam sebuah dus berukuran sedang. Barang-barang pemberian Sakha, ikut masuk ke dalamnya.
"Kau pasti bisa, Rin!" Ucapnya pada diri sendiri.
Saat Airin tengah sibuk membereskan sisa-sisa kenangannya dengan Sakha, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Sekilas Airin melihat layar ponselnya, tertera nama Bima disana.
"Halo?" Ucap Airin ketika panggilan telepon mulai tersambung.
"Halo, assalamuallaikum, Rin?" Sapa Bima dengan sopan.
"E-eh, iya maaf. Wa'allaikumussalam." Airin menjawab salam Bima. Selama ini Airin memang jarang mengucapkan kalimat-kalimat yang seharusnya di ucapkan seorang muslim atau muslimah ketika menyapa seseorang, seperti salam.
Bima sedikit terkekeh, "biasakan ucapkam salam, Rin." Nasihatnya.
"I-iya, Bim. Oh iya, ada apa kau menghubungiku?" Tanya Airin.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin berbincang saja denganmu." Bima menjawab apa adanya. Selama ini ia memang tipikal lelaki yang jarang menjaga image di depan perempuan.
"Oh begitu, tumben. Selama aku pacaran dengan Sakha, kau jarang sekali menyapaku." Airin mengingat kembali sikap Bima dulu.
"Iyalah, aku menghargai sahabatku waktu itu. Oh iya, bagaimana kabarmu?" Tanya Bima.
"Baik, semoga." Airin menjawab dengan ragu.
"Mulailah melupakan Sakha, Rin. Jangan membebani dirimu sendiri," saran Bima.
"Praktik itu tak semudah teori, Bim." Airin berkata lagi.
"Aku tahu, tapi sampai kapan kau akan seperti ini?" Tanya Bima.
"Entahlah," jawab Airin pasrah.
Bima sejenak menghela nafasnya, ia merasa kasihan pada Airin.
"Bersedih itu wajar, tetapi tidak baik juga jika berlebihan. Mungkin cara Allah agar kau lebih dekat denganNya adalah dengan memberikanmu rasa sakit. Allah sedang rindu padamu, Rin. Maka, segeralah mengingat Allah. Perbaiki apa yang membuatmu jauh dari rabb-mu." Bima perlahan menasihati Airin, ia berharap Airin bisa menjadi seorang muslimah yang lebih baik lagi.
Di sebrang sana, Airin merenung mendengar ucapan Bima. Selama ini, ia memang telah lalai dalam melaksanakan kewajibannya sebagai muslimah. Terlebih adalah perintah menutup aurat yang seakan-akan tak berarti untuknya.
"Rin, kau masih disana?" Tanya Bima.
"Eh, iya maaf. Bima, apa kau bisa membantuku?" Tanya Airin.
__ADS_1
"Membantu apa, Rin? Jika aku mampu, aku akan usahakan untuk membantumu," ujar Bima.
"Emm, aku ingin hijrah." Airin berkata dengan mantap.
"Apa?" Bima sontak terkejut dengan ucapan Airin, bukan karena tidak setuju melainkan ia sangat bersyukur akhirnya Airin bisa memiliki keinginan untuk hijrah.
"Emm, kenapa? Apa kau tidak bisa membantuku?" Tanya Airin.
"Bu-bukan seperti itu, hanya saja aku merasa ada orang yang mungkin lebih tepat untuk membawamu ke jalan yang lebih benar," ujar Bima.
"Siapa? Ustadz?" Tanya Airin lagi.
"Itu salah satunya, kita memang harus memiliki guru untuk menuntun kita selama berhijrah. Namun, ada lagi yang mungkin bisa membantumu. Seperti teman untuk sharing," ucap Bima memperjelas.
"Oh, siapa itu? Bisa kau kenalkan aku padanya?" Tanya Airin.
"Dia adalah Shara," jawab Bima sedikit ragu.
Airin terdiam mendengar nama itu, sejenak rasa kesal menelusup ke dalam dadanya.
Bima mengerti mengapa Airin tak langsung menjawab, tetapi Shara memang salah satu orang yang mungkin bisa membantu Airin.
"Kamu harus menghargai orang-orang yang memberimu nasehat dan mengajakmu kepada kebaikan, merekalah sesungguhnya yang mendorong kamu menuju surga." – Abu Maryam
"Bagaimana? Jika kau keberatan, yasudah tidak apa. Kita cari saja yang lain," sahut Bima.
"A-aku mau, tetapi apa Sakha akan menyetujui permintaanku?" Tanya Airin.
"Emmm, kita bicarakan saja terlebih dulu. Mungkin setelah acara tunangan Sakha selesai," ucap Bima.
"Bukankah, acara tunangan mereka sudah berlangsung?" Tanya Airin penasaran.
"Belum, Rin. Ada hal yang membuat acara itu hampir gagal. Tapi, insyaAllah acara akan kembali di langsungkan lusa," jawab Bima dengan jelas.
"Oh, hal apa itu?" Tanya Airin.
"Emm sudahlah, tak usah kita bahas. Kita fokus saja pada niatmu untuk berhijrah," sahut Bima.
"Baiklah, kalau begitu. Terima kasih," ucap Airin dengan tulus.
"Sama-sama, yasudah aku tutup dulu. Assalamuallaikum," ucap Bima.
"Wa'allaikumussalam," jawab Airin.
Sejenak Airin memikirkan perkataan Bima yang menyarankannya untuk bertukar pikiran dengan Shara, bisakah mereka menjadi teman.
***
Sakha tengah berbincang dengan Shara di telefon, ia membicarakan tentang rencananya untuk kembali melamar Shara lusa.
Di tengah-tengah pembicaraan mereka, ada satu panggilan masuk ke ponsel Sakha. Ia melirik penelfon itu, dan ternyata Bima.
"Ra, Bima telefon. Kita sambungkan saja," ucap Sakha.
__ADS_1
"Bima, siapa? Temanmu?" Tanya Shara.
"Iya, bagaimana?" Tanya Sakha.
"Emm, sepertinya tidak. Aku malu," ucap Shara.
"Yah, kenapa? Dia baik, Kok." Sakha membujuk.
"Tidak mau, sudah tutup saja telefon kita. Di lanjut saja nanti," sahut Shara.
"Emm, baiklah kalau begitu. Assalamuallaikum," ucap Sakha.
"Wa'allaikumussalam," jawab Shara.
Sakha beralih menerima telefon dari Bima, ia sedikit menggerutu karena harus mengakhiri pembicaraanya dengan Shara karena Bima.
"Assalamuallaikum, kenapa Bim?" Tanya Sakha.
"Wa'allaikumussalam, kha. Aku menggangu?" Tanya Bima.
"Iya, sangat." Sakha menjawab dengan malas.
"Astagfirulloh, kau ini." Bima mengumpat.
"Lah, aku kan jujur Bim." Sakha terkekeh.
"Ish, kau ini. Oh iya ada hal yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Bima.
"Apa itu?" Tanya Sakha.
"Soal Airin," sahut Bima.
"Airin? Kenapa dengan Airin?" Tanya Sakha.
"Emm, dia ingin hijrah." Bima menjawab.
"Hijrah? Benarkah?" Tanya Sakha seakan tak percaya.
"Alhamdulillah, Kha. Aku ingin meminta bantuanmu," ucap Bima.
"Alhamdulillah, Bantuan apa?" Tanya Sakha.
"Bisakah kau mengenalkan Shara pada Airin?" Tanya Bima.
Sakha terhentak, "kenapa harus seperti itu? Tanyanya.
"Shara bukankah seorang motivator, dia juga terlihat agamis. Mungkin dia bisa membimbing Airin," ujar Bima.
"Tetapi nanti saja, jika acara lamaranmu sudah berlangsung." Bima menambahkan.
"Emm, baiklah. Biar aku bicarakan dengan Shara terlebih dulu," jawab Sakha.
"Baiklah, terima kasih." Bima merasa lega.
__ADS_1
"Sama-sama," jawab Sakha.